.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label teruntuk kamu. Show all posts
Showing posts with label teruntuk kamu. Show all posts

Wednesday, 30 November 2016

Nggak malu sama yang tua?

                                                                                                               Itu masih kuat, muda, seger –
kok jadi pengemis ya?
Malu dih sama embah-embah yang jualan itu
Senyum sirik.

Di perempatan jalan gejayan, ke arah utara menuju terminal condong catur, pas lagi lampu traffic merah – saya dihadapkan sama pemandangan yang bikin trenyuh. Bikin saya istighfar berulang kali. Duh, saya ini liat America’s Got Talent aja bisa nangis karna terharu pas tombol merah diteken (yang artinya dia lolos ke pertunjukkan langsung), apalagi soal yang beginian. Banyak orang yang jualan di perempatan jalan, apalagi pas jam pagi berangkat kerja sama waktu pulang kantor nanti (yang anak-anak, bapa-bapa, yang “maaf” kaki tangannya kurang normal tapi tetep usaha juga ada), tapi ngliatin orang tua yang udah sepuuuuh pake banget – musti panas panasan jalan kaki, dan jualan – itu beneran bikin yang ngliat mata nggak tega.

Saya masih inget raut muka embahnya, bawa koran tribun jogja – keliling dari mobil satu ke mobil yang lain. Nawarin korannya. Dari ujung ke ujung. Padahal tadi pas saya berangkat cuacanya lagi lumayan panas, si embah cuman pake kaos pendek, rok di bawah lutut, topi semacam jilbab yang ngga nutupin kuping, dan muka nahan panas – sama sekali enggak senyum. Itu muka embahnya udah keliatan bener capek dan sepuhnya. Saya jadi sedih musti ngebayangin lagi posisi itu. Hiks.

Saturday, 4 June 2016

Aku kangen.


Perjalanan 1000 kilometer. Aku. Duduk manis di kursi mobil.
Pemandangan sawah. Gundukan pasir. Buku kumpulan cerpen eka kurniawan.
Judulnya perempuan patah hati yang menemukan cinta dari sebuah mimpi. Apa aku boleh masuk di dalamnya? Ikut bermimpi dapat cinta lagi?

Dari balik kaca kuamati kakek nenek bercengkrama.
Ibu dan anak saling menggenggam tangan, menyeberang.
Anak-anak sekolah berlari, tertawa, lantas saling mengejek.
Sederhana.
Dua orang di depanku sibuk menyambung kata.
Katanya di Madura tak ada gereja. Orang di sebelahnya mengerutkan kening.
Bertanya? Sambil sesekali menunjukkan raut muka tidak percaya. Apa benar?
Dunia orang dewasa memang kadang tak bisa dimengerti.
Raganya sibuk disana, tapi hatinya enggan.
Matanya melihat kesana, tapi hatinya menuju tempat jauh.
 
Aku sibuk mengamati. atau entah mencari.
banyak kejadian yang terlampau asik untuk diamati.
Tapi kepalaku sedang tidak disini.

Aku kangen.



Thursday, 12 November 2015

Kamu.


“Dari sekian banyak pilihan, kenapa kamu milih aku? aku kan nggak cantik kayak temen-temen kamu. aku juga nggak kaya kayak temen-temenmu. ”

Pertanyaan itu lagi, itu lagi yang kamu lontarkan. Seolah dari ribuan kejadian di dunia ini, hanya itu yang menggugah nuranimu. Hanya itu yang ingin kamu tahu. Tidakkah kamu bosan mengulang pertanyaan itu? aku hampir bosan mendengar pertanyaanmu itu. 
 
Aku menggeleng, tersenyum tipis. "Kamu kan udah berulang kali tanya itu, yang".

Aku sedang malas berkata-kata

“apa susahnya sih jawab”, itu katamu. 

Kalau semua pertanyaan dari kamu selalu kujawab, aku justru takut kamu bakal pergi. Aku tidak bisa memuaskan seluruh pertanyaanmu. aku nggak jago gombal atau bikin kata-kata bagus yang bisa bikin kamu percaya. Kadang-kadang tidak semua yang kita rasakan disini, di hati, bisa diterjemahkan. Kalau milih kamu butuh alasan, aku nggak tau seberapa banyak alasan yang bisa kamu terima dan bikin kamu percaya. Jangan-jangan. itu malah bikin kamu tambah nggak yakin sama aku. 

Kamu hanya butuh tahu, aku sayang kamu. Itu saja. 

Tolong, stop berpikir lagi tentang pertanyaan konyol itu. 

Wednesday, 4 November 2015

Ada Aku

Dia bercerita tentang hidupnya. Impiannya. Kesukaannya. Kebenciannya. Dan semua tentang dia. Sementara kamu di sudut sana hanya jadi pendengar. Kadang tersenyum, kadang mengerutkan kening, meskipun lebih banyak menyimak. Membandingkan. Mengamati dalam diam. Beranggapan bahwa setiap orang layak kau dengarkan. Beranggapan bahwa setiap orang harus kau bahagiakan. Beranggapan bahwa setiap orang tak boleh kau kecewakan. Pada kenyataannya, kau kesulitan dengan prinsipmu sendiri. Kamu kelelahan. Kamu kecapekan mendapati kamu tidak menjadi dirimu sendiri, dan mengabaikan diri sendiri itu termasuk kepura-puraan.

Tidak ada hal yang abadi. Termasuk kepura-puraan itu sendiri. Sekalipun kamu pandai menyembunyikannya. Mengubahnya dari tangisan menjadi senyuman palsu. Mengubah kekecewaan yang kamu rasa menjadi biasa saja. Atau aku saja yang terlalu bodoh menangkap tanda? Aku melihat ada yang aneh di matamu, ada bening-bening halus disana, yang ingin tumpah, tapi sengaja kau tahan. Ada sesuatu yang masih ingin kau pertahankan, predikatmu yang katanya kuat itu. Tidakkah bisa kau lepaskan sejenak topeng itu? Menangislah sebentar. Atau lama sekalipun. Aku akan tetap di hadapanmu, menunggumu selesai menumpahkan amarah yang telah berubah menjadi butir airmata di pipimu. Egomu terlalu lama kau tahan, itu yang kubilang. Kau tak perlu menyembunyikan apapun disini. Dunia terlalu luas untuk secuil masalahmu. Kau tak perlu banyak berpikir lagi.

Menangislah sebentar. Atau lama sekalipun. Tidak apa, tidak ada yang salah dengan itu semua. Banyak orang melakukannya. Aku juga.

Thursday, 29 October 2015

Dear ~~~ dua

Aku belajar menulis karena kata pepatah, mereka yang belajar menulis adalah mereka yang belajar jujur pada dirinya sendiri. Dan aku sedang berusaha jujur menyampaikan apa yang kurasakan, terlebih beberapa hari ini aku terlampau banyak diam. Banyak yang alpa kuceritakan, dan aku takut itu tidak akan lagi menjadi spesial. 

Aku belajar menulis karena tahu, kamu benci sesuatu yang terlalu berbelit-belit. Katamu, itu semua mengganggu konsentrasimu, termasuk membalas pesan-pesanku.  Aku tau, suatu waktu nanti kamu pasti membacanya, sekalipun kamu tak suka membaca drama katanya. Tapi ini untukmu. Tulisan yang kadang-kadang tidak bernama ini memang tidak tahu apa maksudnya, tapi ini jelas dari hati – dan yang kupikirkan memang hanya kamu. Tapi aku tak hendak merayumu. 

Beberapa hari yang lalu kita sudah bertemu, katamu melepas rindu. Katamu ini waktu kita. Rindu yang entah bagaimana bentuknya, tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak terlihat mata, tapi kamu pasti tahu aku merasakannya – semoga kamu juga. Menunggu tiga bulan untuk tiga hari ternyata tidak mudah. Mungkin bagimu biasa saja, karena bagimu waktu hanyalah putaran pundi-pundi uang dan semua impian yang hendak kau wujudkan, dan mungkin juga – ada aku dalam daftar impianmu.
Tapi bagiku, yang selalu bertemu banyak orang – menerima kenyataan aku harus menunggu bukan hal yang mudah, dan sama sekali tidak menyenangkan. Aku jadi, serba salah. Banyak hal yang ingin disampaikan, banyak teman ingin kukenalkan, terlebih orang tuaku – tapi sepertinya kamu baru punya waktu untukku. Entah apa namanya tapi semua itu mendadak merebut semua nafsu makanku. Sekalipun aku makan di hadapanmu, keinginan untuk makan itu sirna, dan aku merasa kenyang seketika.

Dear, sampai bertemu di lain waktu.

Tidak ada tempat yang menyenangkan selain apa yang selalu membuatmu merasa nyaman. Dan kalau kau tanya dimana? Aku masih duduk disitu. Di kursi depan kolam ikan lengkap dengan bebatuan alam yang dibuat sedemikian rupa. Tempat duduk di pinggir rak buku bagian drama yang selalu aku cari setiap kali hendak datang kesana. 

Lantai keramik berwarna putih. Ikan koi berwarna putih orange. Hiasan burung merak. Dan gemerecak air. Dan satu lagi, lalu lalang orang. Menikmati mereka aku seperti sejenak melupakan kesendirian.

Dan kau disana apa kabar? 

Aku selalu ingin mengajakmu kesana, melihat rak-rak yang berjejer rapi yang selalu menjadi hobiku – sekaligus impian terpendamku. Kursi rotan di pojok kafe yang remang-remang, dan beberapa kenangan.

Kau tahu kenapa?

Karena hanya disitu aku tidak malu dan tidak risih sibuk dengan kesendirian. Karena hanya disitu aku tidak perlu merasa harus ditemani siapapun, entah mereka, atau kamu yang lebih sering meninggalkanku. Aku yang bisa menerima diri sendiri sebagaimana adanya. Tidak dikungkung malu dan gengsi.  

Wednesday, 1 April 2015

Seperti iya, tapi tidak

Jika hati adalah rasionalitas sempurna, terkadang hati saya bekerja tidak pada lelakunya. Tidak sama seperti perintah. Kepala – tangan – hati – pikiran, dan beberapa yang lain bekerja sebaliknya. Seperti tidak, namun iya. Seperti iya, namun tidak. Tidak ada kesesuaian lagi yang mampu diterjemahkan dari sekedar kata-kata, atau perbuatan. Semuanya menjadi satu rangkaian yang bekerja saling. Ada tarik menarik kutub di dalam hati yang dirasakan sendiri, aneh, sesuatu yang dinamai rindu itu ... kadang-kadang indah – namun lebih sering menyiksa.

Seperti ingin sekali bilang “iya”, tapi ternyata yang keluar justru “tidak”. Lidah seperti ikut menolak bahwa hal tersebut bukan pada lelakunya. Atau, itu bukanlah kita. Hingga pada suatu waktu, kita yang dulu saling menemukan– kini telah saling menemukan lagi berbeda. Tidak lagi sama. Karena waktu membawa kita pada ketidaktahuan, yang tidak sengaja atau justru disengaja, menyembunyikan berbagai hal yang sangat ingin kita tanya namun tersumpal ego masing-masing.

Kadang diam yang bekerja - seperti tanya yang beruntun, cemburu, marah, rindu, hadir dalam pertanyaan namun tak sempat ada penjelasan.

Apa yang dulu masih sama, baik-baik saja?” tanyaku, seperti pertanyaan yang lalu – yang hampir berulang.

Tidak” jawabmu. Yang juga berulang

“Tidak ada lagi yang sama”

 ... bahkan meskipun sampai detik ini aku tetap berharap padamu. Semua tidak lagi sama”. 

Aku diam. Tertegun. Sesungguhnya jawaban itu lebih terang dari apapun. Entah penolakan, penerimaan berjangka, atau penegasan bahwa di dekatku hanya semacam ujian bagimu. Kau sudah tidak mau memulai apapun – bahkan untuk sekedar dimengerti, olehku. Atau memang sudah ada yang lain disana. 

Jika hati adalah rasionalitas sempurna, sekalipun mata telah mampu menangkap kata – bibir sudah sepenuhnya menerima – dan kepala mengamini alasannya. Tetap ada hati yang masih ingin tinggal, menyemai harapan bersama, walau sekedar berucap ...

“selamat malam, sayang”

Sepertiku kali ini, adakah kata lain yang ingin kau sampaikan?

Jogja, 24 Maret 2015

Monday, 30 March 2015

Retak

Ada paradoks yang seringkali susah untuk aku siasati. Yaitu ketertarikanku pada masa lalu dan kegemaranku merangkai hari depan.  Orang memang terkadang aneh. Berharap perubahan satu sisi, tapi memegang erat masa lampau di sisi lain.

Malam itu, untuk sesaat aku terbisu. ingin mengatakan sesuatu tapi ketika kuraba, tak ada kata-kata dalam benakku. Setelah sedikit merenungkan, tampaknya aku butuh waktu yang lebih luang untuk menyambungkan ingatan dan kenyataan kemarin. Ini sebab kegemaranku mengenang, dalam waktu sejenak itu banjir ingatan melanda, otakku loading lama untuk merangkai kata dari runtuhan kenangan ketersinggungan kita dulu. 

Bagaimana tidak. Setelah sekian waktu, tiba-tiba kau mengontakku, kemudian bertemu. Hal itu seperti Tsunami datang, kita melihatnya tapi tak mampu mengungkapkan apa-apa. Sebenarnya, saat menuju Seturan waktu itu aku tak banyak ambil pikir. Aku ke rumahmu, ambil makanan lalu pulang. Kebetulan sekali aku belum makan.

Tapi apa mau dikata. Perasaan memang kadang aneh datangnya. Orang butuh mengambil jarak untuk dapat menjelaskan kondisi yang ada di dalam “sini”. Tak heran orang teriak-teriak gak jelas saat jatuh cinta atau frustasi. Dan begitulah adanya manusia, susah mengontrol pikiran kala emosional.

Semakin ke sini, aku merasa semakin banyak kesalahan yang baru kusadari. Dan dengan itu semua, aku jalani kehidupan sekarang. Dengan menyimpan dan menindas rasa sesal. Meski kadang-kadang rasa itu mampu merembes ke luar, terutama saat pemantik datang. Ya kamu itu.

Bukan berarti aku hendak kembali ke masa lalu. Aku cukup paham kok kalau itu tak realistis. Dan untuk orang yang senantiasa “menjadi”, perubahan adalah hal yang mendasar dalam dunia dan diri manusia. 

Manusia memang selalu tercancang paradoks. Serba salah dan terbelah. Mengharap “esok” yang lebih baik dari sekarang atau “kemarin” mengada dalam “kini”. Dan kita diharuskan terus berada dalam kungkungan dua arus itu. 

Dalam dua arus ini aku teringat bagaimana cara berenang. Seorang yang ingin berenang hendaknya menyerahkan diri dalam arus. Sebab, jika berusaha sekuat tenaga melawan arus justru akan tenggelam. Dengan berusaha tenang dan mengikuti arus, orang bisa mengambang. Lalu berusaha sedikit mengarah pada tujuan. Jadilah berenang.

Dunia ini memang seperti kolam renang raksaa. Di mana orang menjalani hidup dengan berenang di dalamnya. Ada yang suka berenang di dalam, ada juga di permukaan. Ada yang pakai tabung, juga pelampung. Banyak yang tenggelam, juga menyiasatinya dengan kapal. Pilihan itu ada di masing-masing.

Bagi orang yang suka menyelam, seringkali punya keindahannya sendiri. Menyelam tak dimaknai sekedar sebuah perjalanan untuk sampai tujuan. Lebih dari itu, menyelam adalah menikmati perjalanan, yang kadang tujuannya adalah untuk menyelam itu sendiri. Menikmati panorama ikan dan karang, beserta sunyinya, juga tekanannya. 

Menyelam lebih ribet, butuh banyak alat dan ketrampilan daripada berenang di permukaan. Dengan tekanan udara yang kuat, dibutuhkan pakaian yang mampu menahan. Untuk menjaga agar tetap bernafas, diperlukan tabung udara. Sebab minimnya cahaya diperlukan penerang atau semacamnya. Dan peralatan itulah yang akan menunjang ketahanan tubuh, kecerdasan menyiasati arus dasar, ketajaman mata dan lain.

Berbeda halnya dengan berenang di permukaan. Orang bisa bertahan hanya berbekal pelampung. Bahkan dengan kemampuan renang saja. Tak perlu ribet. Tapi di sanalah perbedaan yang menurutku menarik. Berenang untuk tujuan, menyelam punya panorama. 

Tentu saja orang yang menyelam lebih mencintai samudra dibandingkan sungai atau kolam. Kedalaman dan kebebasan yang sebenarnya. samudra memang luas dan dalam. Dengan segala perbedaan dan perihal di dalamnya orang bebas memilih yang mana. Sebab itu juga, mungkin, orang mudah berbeda tujuan. Satu saat orang bisa bersama dalam perjalanan tapi juga bebas ke mana saja. Paradoks yang indah. 

Sampai sekarang, aku tak bisa mengerti banyak apa yang hendak kukatakan waktu dulu. tulisan ini hanya secuil pemahamanku dari sudut pandang sekarang yang aku yakin tak bisa menjelasakan semuanya. Banyak orang bilang, pada kondisi sekarang –dengan deras arus serta keruwetannya- tak ada “aku” yang tak retak.  Begitu juga kita.

Jamaludin A.
 24-march-15

Tuesday, 11 June 2013

Kangen


# Teng. Teng. Teng! Jam di sudut kota berdentang.
Sudah pukul dua belas. Kulihat layar di telpon genggamku, hanya gelap. tak ada kerlip lampu, tak ada getar, tak ada apapun.
Tak ada siapapun yang kuharap datang, sekalipun sekedar lewat kata.
Dia … ?

# Pukul satu malam.
Mataku terus berkedip, menjaganya agar tidak terlelap. Barangkali saja dia ketiduran, kelewatan, atau dia terlalu lelah hanya untuk sekedar mengirim pesan. ayolaaah, sudah hampir sejam kurelakan waktu tidurku untuk sekedar menunggu ada doa darimu.
Kapan muncul namamu di layar henpon-ku?                                    

# Pukul sepuluh malam.
Bahagia, banyak yang berkirim doa. Banyak yang mengirimkan suka.
Tapi, sepi …                                                           
seperti kurang garam, hambar.  

Tuesday, 5 February 2013

Cinta Sebatas Kata


kau selalu berkata “maaf” dalam setiap luka yang kau simpan bersama cintamu. dengan dalih cinta itu kau terus membuatku merasa terpojokkan. tiap kali menghianati janji cinta kita berdua, hanya maaf yang kau ucapkan. aku tak tahu itu benar atau sekedar gombal. tapi dalih cintamu itu membuatku kembali memaafkan.
aku tak tahu bagaimana aku bisa berlaku sebodoh itu, kembali memaafkan untuk menerima kesakitan. kembali memaafkan untuk lagi-lagi menerima pengkhianatan. aku tak hendak menghitung berapa luka yang sempat kau torehkan. berapa bekas paku yang kau cabut dan tancapkan kembali dalam lubang hatiku yang tidak transparan.
tiap kali berulah dan aku berkata cukup. kau menyesali itu sambil bersandiwara agar terlihat meyakinkan. bagiku kau tak berbeda dengan artis dan politisi di luar sana, penuh dengan kebohongan. meski dalih cintamu itu membuatku sedikit lega mendengarnya, tapi ulangan luka itu akhirnya membuatku berpikir untuk menyudahi saja.
kalau hidup memang harus bergerak zig-zag, luka, sembuh, kemudian luka lagi. rujuk, bertengkar, kemudian rujuk lagi berulang-ulang, aku harus dengan berbesar hati menerima bahwa kesabaranku ini memang sebuah kebodohan. sedang aku tak tahu kapan kau akan sungguh-sungguh berkata maafkan, dan kapan kau berbohong sambil bersujud mencium lututku merajuk meminta diijinkan.
            aku tak tahu ada berapa kesempatan yang sudah kuhadiahkan, atas dalih cintamu yang sedemikian besar. tapi tak bisakah kau melihat maaf dari cintaku yang teramat besar dan telah kau sia-siakan?
cintamu mungkin hanya sebatas kata, berulang kali cinta, namun luka pula yang kau bungkus rapi bersamanya.