.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label syair. Show all posts
Showing posts with label syair. Show all posts

Sunday, 28 June 2015

Kita

Suatu saat kita akan kembali kesana
Pada tempat duduk di ujung sana
Atau tetap pada kursi yang masih sama

Kembali Menatap dedaunan kering
Hamparan awan, angin bergemerisik
Jalanan ramai. Pekak bunyi kendaraan
Dan kepala ikut mengamin semua kenangan

Kita yang kemudian tertawa
lantas menghela nafas lega
Melepas resah. Membuang dendam. 

Sampai pada titik itu ..
Kitalah masa lalu.

Sebiji Dzarrah


Jangan menyembunyikan apa-apa yang bukan sekedar milikmu
Dalam tubuhmu mengalir darah orang lain
Barangkali ibumu
Barangkali ayahmu
Jangan menahan apa-apa yang bukan hanya bagianmu
Dalam hartamu terdapat harta mereka
Dalam udaramu terdapat kebutuhan nafas mereka
...
Sebiji dzarrah pun akan kembali
Mungkin dalam bentuk yang lain
Mungkin di waktu  yang lain
Mungkin dari tangan yang lain
Atau mungkin ...
Dari keindahan yang lain

Seperti jalan misterius yang kamu sukai dan ingin selalu kamu kenali
Maka, Nikmat Tuhan mana lagi yang mau kamu dustai?

Thursday, 20 December 2012

Bila masih waktuku


kalau masih ada waktuku. aku ingin terus mendekapmu, meski sekedar semu. menyaksikan kau yang menggeliat lemah dan lanjutkan hari baru. meski bau mulut yang tercambur kelambu itu telah lelah memenjarakan warasku.
            kalau masih ada waktuku. aku ingin terus mencecap manismu, juga pahitmu. dalam detak detik denyut nadi jam itu. karena hanya dengan begitu aku bisa memilikimu. dalam balut cerita bersamamu. mengejar lembar baru dan tinggalkan lalu.
            kalau masih ada waktuku.
            semoga masih ada kamu …
            sampai habis hela-ku memimpikanmu …

Sunday, 9 December 2012

# satu waktu

satu waktu menyadari
sakit seperti halnya gerak roda dan bumi
naik turun siap menyakiti
bersiap meluluhlantakkan pemilik hati yang tak mau digerus dendam dan emosi
tapi gengsi memenjara diri
hingga tak satu pun terucap penyesalan, sekalipun dalam hati.

satu waktu tersiksa gelora
tafsir beda yang begitu banyak rupa
disana-sini mencuat luka
tak sengaja membuatnya muncul dan tampakkan muka.
mungkin tak sengaja

satu waktu ingin pergi
sejenak tak kuasa dan kembali
memadu madankan setan dan malaikat jadi saksi
terhenyak ...
boleh aku menangis detik ini?

Saturday, 3 November 2012

Sepertinya, Cinta



Banyak tumpah ruah pertanyaan berjejal di kepala. Sayangnya semakin banyak waktu yang kita lalui bersama, segalanya terlihat makin samar saja. Kau yang tak pernah mau menyapa … kau yang tak pernah mau menatap mata, walau sedetik saja … kau yang diam dalam ketidak jelasan rasa … dan segala hal tentang kau selalu menimbulkan prasangka.

Entah apa yang kusuka, kau dengan sederhananya. Atau aku memang mendamba sosok dengan sifat yang menyerta. Ingin sekali menghapusnya, membuang jauh-jauh angan untuk bersama. Tapi tak bisa! Atau mungkin aku yang tak mampu berusaha mengenyahkannya. Siapa bilang aku tak rasakan duka? Siapa bilang hanya kau yang bisa jadi istimewa? Tapi sayangnya rasaku sudah mengejawantah menjadi denyut nada. Entah bagaimana mengikisnya …

Friday, 28 September 2012

Elegi jiwa

Separuh hatiku ingin sekali pergi. Meninggalkan ragumu yang tak kunjung berakhir pasti. Tapi separuh lagi tak bisa berlari. Sempurna terhenti karna barangkali kau akan segera sadari ada cinta disini.
meski entah kapan, entah bagaimana caramu mengerti.

aku hanya butuh kalimat dan perhatian nyata. Bukan sekedar istimewa dalam maya. Bukan pula sekedar cemburu yang terhadir dalam kata dari rangkuman cerita. Masihkah ku harus bertahan dalam damba? Meski dia tak pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda bahwa ia bahagia?

berulang kali kutarik ulur benang beserta umpannya, tapi kau tak jua bisa menangkapnya. Hanya menerima lantas sekedar menikmatinya. Lagi-lagi tanpa pikirkan bahwa aku disini lelah merasa. Aku bukan boneka ...

mungkin aku salah satu wanita yang kukuh bertahan dalam damba. Damba yang masih abstrak adanya. Karna katamu hatimu pun abu-abu jua. Bagaimana bisa? Sedangkan tiap malamnya selalu kau ucapkan kalimat penutup yang membuat debar di dada.
sedangkan tiap detiknya, selalu kau biarkan hatiku sampai jengah dalam asa. Asa untuk menunggu jawabmu yang entah dimana ujungnya.
asa untuk melapangkan rasa bahwa masih ada ragu yang mencemari cinta.
tapi sampai kapan harus kucerna?

sedangkan tiap kali kusinggung rasa yang kau punya. Kau selalu punya jurus ampuh untuk menghindar darinya. Lalu harus bagaimana hati ini kutata?
semoga tak harus dengan pergi kita menyelesaikan keegoisan ini.
semoga tak harus dengan menyakiti kita memutuskan berhenti.
obsesi .. Elegi .. Ironi .. Entah apa yang bergumul dalam hati. Tapi sejatinya, aku tak ingin berhenti disini. Dan meninggalkanmu pergi
hanya karna kita yang sama-sama tak tahu caranya mengerti bagaimana hati berotasi.

Aku hanya butuh kamu bilang, kamu cinta. Kamu ingin bersamaku adalah bahagia. Sederhana saja, seperti indahmu yang misterius dan membuatku sibuk menerka-nerka.

Entah kamu yang tak peka menerjemahkan tanda yang kuberi dalam sela kebersamaan kita,
atau mungkin. Justru aku yang sibuk merek-reka damba yang kupunya. Entahlah ..
menunggu sadarmu seperti menunggu hujan di kemarau panjang. Dan jengahku datang tak terhindarkan

Thursday, 23 August 2012

Cermin itu sudah retak


Bagiku, segalanya memang hanya ukiran kenangan masa lalu.
yang berkelebat hebat tanpa tau kapan waktu tepat.

bagiku, meski kau pernah membuat luka yang begitu lekat.
tak ada salahnya mengingat semua resah dan risau yang bagai pisau diasah agar tajamnya tetap

bagiku, harimu adalah masa lalu.
dan duka yang kau bawa karna sempat tenggelam dalam pusaran rasamu itu tak perlu kukenang slalu.

bagiku, segalanya bisa saja kembali seperti dulu.
meski cermin tak pernah kembali satu setelah jatuh dan retaknya merusak wajahku.

dan luka lalu itu ..
biar saja jadi ratapan sakit hatiku.
tak perlu lagi gunakan tuas pengungkit
agar baret lukanya tak kembali terungkit

Diantara beribu hati


Dari beribu hati dan jalur yang harus kulalui
kusuka bertengger di lintasan kecil ini
karna tak banyak janji-janji bertebaran disini
karna hanya renungan abadi yang kau setujui.

dari potongah hati yang mampir silih berganti.
hanya di lintasan ini aku mampu terinspirasi
memberiku banyak arti
karna tak sekalipun kau menyakiti, apalagi mendustai
kau hanya suka mengingkari
bahwa hatimu memang sudah bertempat disini.

diantara potongan tempat singgah yang beribu kali harus beradaptasi
hanya di rumahmu aku mau bertahan dalam sepi
meski jawabanmu entah kapan pasti

karna kau mengajarkanku tulus mencintai
bukan membesarkan emosi
karna kau mengajarkanku ikhlas melepasnya pergi
bukan mengikatnya kencang dengan temali.

dan diantara potongan hati yang ingin kubuang lari
hanya milikmu lah yang ingin kusimpan dalam hati.

karna potongan hatimu yang sejatinya kuingini