.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label project novel. Show all posts
Showing posts with label project novel. Show all posts

Wednesday, 30 November 2016

Nggak malu sama yang tua?

                                                                                                               Itu masih kuat, muda, seger –
kok jadi pengemis ya?
Malu dih sama embah-embah yang jualan itu
Senyum sirik.

Di perempatan jalan gejayan, ke arah utara menuju terminal condong catur, pas lagi lampu traffic merah – saya dihadapkan sama pemandangan yang bikin trenyuh. Bikin saya istighfar berulang kali. Duh, saya ini liat America’s Got Talent aja bisa nangis karna terharu pas tombol merah diteken (yang artinya dia lolos ke pertunjukkan langsung), apalagi soal yang beginian. Banyak orang yang jualan di perempatan jalan, apalagi pas jam pagi berangkat kerja sama waktu pulang kantor nanti (yang anak-anak, bapa-bapa, yang “maaf” kaki tangannya kurang normal tapi tetep usaha juga ada), tapi ngliatin orang tua yang udah sepuuuuh pake banget – musti panas panasan jalan kaki, dan jualan – itu beneran bikin yang ngliat mata nggak tega.

Saya masih inget raut muka embahnya, bawa koran tribun jogja – keliling dari mobil satu ke mobil yang lain. Nawarin korannya. Dari ujung ke ujung. Padahal tadi pas saya berangkat cuacanya lagi lumayan panas, si embah cuman pake kaos pendek, rok di bawah lutut, topi semacam jilbab yang ngga nutupin kuping, dan muka nahan panas – sama sekali enggak senyum. Itu muka embahnya udah keliatan bener capek dan sepuhnya. Saya jadi sedih musti ngebayangin lagi posisi itu. Hiks.

Saturday, 11 August 2012

Di batas ke-aku-an (12)


Latifa Mstfda

rasa-rasanya, kabar baik akhir ini selalu mengekor di belakangku. dan aku sangat bersyukur karena itu.
dua jam menunggu, menjadi penonton setia. bahkan harus seharian pun, atau berhari-hari menyemangatinya pun aku tak menolak (tapi mungkin jimbo yang akan melontarkan protes padaku). babak akhir digelar juga. entah karena sudah sangat letih, atau faktor apa yang membuatnya terlihat lemas. di putaran pertama, dia terlihat sangat lambat. selisih jauh dengan mega, dan itu membuatnya harus mengejar ketinggalan itu sebisa mungkin.
tadi, sewaktu istirahat. aku sempat menemuinya di ruang istirahat (aku menerabas, pura-pura jadi anggota klub. padahal aku hanya ingin bertemu shilla).
“selamat ya?” aku berdiri tepat di belakangnya. shilla sedang mengeringkan rambut. mengenakan baju panjang, mantel macam kimono seperti itu. tapi ini mantel untuk mengeringkan badan. “eh, iya” shilla tersenyum. menghentikan kibasan rambutnya.
“kau hebat!” aku kagum padamu” mengulurkan tangan padanya. dan selalu, adegan seperti ini membuat hatiku beku seketika. mati rasa.
mau tersenyum terlihat gugup, tidak tersenyum pun wajahku sudah terlihat seperti kepiting rebut. merah merona, sempurna!
“jadi yang terbaik semampu kau! aku di belakangmu selalu” dia mengangguk mantap. aku keluar dari ruangannya. tersenyum berulang kali kalau mengingat adegan di dalam tadi.
dan putaran terakhir pun dimulai. sebelum peluit disemprit tadi, kusuruh jimbo berteriak kencang lagi. dan hal yang sama terulang. shilla menoleh ke arahku. kuacungkan dua jempol-ku ke arahnya. ia mengangguk lagi, lebih mantap, lebih meyakinkan. sepertinya perhatianku memberi tambahan semangat untuknya. sama seperti senyumnya tadi.
dia bergerak cepat, mengalahkan rekor tahun lalu untuk pemenang lomba renang jarak 50 meter gaya katak. seluruh ruangan berteriak kegirangan. makin lantang meneriakkan nama shilla. aku turun ke tempat dimana shilla berdiri. kerumunan orang sudah berkurang, tinggallah aku yang belum mengucapkan selamat untuknya. disaksikan jimbo di belakangku, sambil menatap terpana. tanpa diduga, tanpa diharap dan dibayangkan sebelumnya. tiba-tiba shilla mendekapku. bilang berterima kasih banyak kali, berulang-ulang kali. (dan payahnya, badannya masih sangat basah. meski sudah mengenakan mantel).
jimbo melongo. kaget, heran, bingung. apalagi aku.
“trima kasih zaka! kau sudah datang. ini semua karna kau, makasih zaka sekali lagi!” shilla belum melepaskan tangannya dari punggungku. aku tak bisa bergerak. benar-benar gugup. dan yang bisa kulakukan hanya mengangguk. (ingin pingsan rasanya).
jimbo menepuk tangan shilla. “hey! bukannya apa-apa. tapi kasihan temanku, tak bisa bernafas” jimbo menegur shilla.
shilla melepaskan tangannya. meringis, pelan menyadari kalau aku tak bisa berkutik.
“eh maaf maaf, aku terlalu senang zaka!” shilla meringis lagi. diikuti aku yang hanya bisa meringis pula melihatnya. “maaf, tapi terima kasih.”
aku mengangguk lemas, sempoyongan, pipi memerah, mata buram, dada berdegup kencang (melebihi tabuhan beduk waktu malam hari raya). dan tanda-tanda tak wajar lainnya.
“heh! enak sekali kau dapat bonus dari wanita cantik macam dia” jimbo meninju badanku. bersungut-sungut sebal. “he .. “ aku masih meringis, tak menyadari kalau badanku masih basah karna dipeluk oleh shilla tadi.
***
“Bu, ibuuuuuuuu!” aku menggedor pintu rumah. ingin lekas bertemu ibu dan makan siang bersama di rumah. akhir-akhir ini, aku dan ayah selalu menyempatkan diri pulang lebih awal. kalau aku, bila sudah tak ada kelas, dan tak ada apapun yang harus dikerjakan di rumah, aku lebih memilih pulang dulu ke rumah. baru kemudian membantu ayah di toko (ah iya, sudah beberapa bulan aku tidak bekerja dari tempat satu ke tempat lainnya. ibu yang memintaku mengembangkan toko ayah saja, dan juga belajar seserius mungkin.)
“iya iya sebentar!” ibu membukakan pintu perlahan, menyambutku dengan senyuman. masih dengan celemek kebesarannya. bau wangi masakan ibu menyeruak di sekeliling rumah. membuat hasrat ingin makanku bergejolak. “ibu masak apa siang ini? wangi sekali bu?” hidung dan mulutku sempurna mengendus. mengira-ngira masakan apa yang dihidangkan untuk makan bersama kali ini.
“tebak apa?” memancing rasa ingin tahuku. “kenapa baju kau basah seperti itu?” ibu mengamatiku dari atas sampai bawah. heran. tak mendung apalagi hujan, cuaca sedang sangat cerah. kenapa baju-ku bisa basah pula.
aku memamerkan gigi putihku. “tadi berenang bu!” berbohong (sebenarnya menemani orang berenang lebih tepatnya, malas diberondong banyak pertanyaan. sudah keburu lapar) ibu percaya saja pada alasanku. lumayan masuk akal mungkin.
“sebentar-sebentar! biar kucium dulu biar lebih jelas” ibu tersenyum kecil. lama tak melihatku seperti ini.
“aku tau bu!” berteriak girang. “iya, ini pasti tumis kesukaanku ya?” berlari menuju dapur. tak sabaran melihat tebakanku benar atau tidak. makin lama baunya makin membuatku kelaparan.
cacing di perutku berdemo, berteriak kencang-kencang minta diisi.
keroncongan.
***
semester ketiga, pengumuman seleksi beasiswa itu diumumkan. ditempel di mading dekat lantai 1 fakultas. jimbo yang memberitahukannya padaku. berteriak girang, berlarian mengejarku.
“zaka! zak! berhenti zak!” menerabas lalu lalang mahasiswa yang berada di lorong. memanggil namaku dari kejauhan. (aku belum dengar. jaraknya masih terlalu jauh!)
“ZAK! stop zak! “ jimbo berhenti, mengatur nafas, berlari lagi mengejarku. tinggal selangkah lagi. “heh  budek! berhenti !” jimbo berteriak keras. tepat di samping telingaku.
kutinju bahunya. mengaduh “apa-sih? berisik!” terus saja kuabaikan. berjalan menuju halaman.
“kau harus tahu ini zaka! ayo cepat .. “ jimbo menarik lagi lenganku. berbalik arah. masuk lagi ke lorong fakultas. kukebaskan tangannya. “apa hah?” aku terburu-buru pulang, jimbo! kalau  tak penting lebih baik aku pulang saja.” mendengus sebal di hadapannya.
“sini! ayo .. tak usah berisik kau!” jimbo kembali menarik tanganku lagi. lebih kasar, lebih cepat jalannya. menuju mading di lantai satu.
aku pasrah saja kali ini. malas berdebat banyak dengan jimbo yang sudah terkenal seantero kampus kalau-lah dia selalu punya beribu, berkarung-karung alasan untuk mendebat orang. termasuk aku, sohib kentalnya.
***
aku dihadapkan pada dua keadaan yang sangat membingungkan. tak ada yang benar-benar kuinginkan , seluruhnya. di sela harapanku untuk selalu jadi yang pertama.
baru beberapa bulan keluargaku kembali utuh. sejak kejadian dulu. sejak bahagia yang sempat terenggut dari masa mudaku.
kini, ibu dan kak indah sudah berada di rumah bersama aku dan ayah. tinggal bersama lagi dan bahagia. dan shilla? dia membantu cukup banyak mengisi hatiku untuk lebih cepat bersemi.
kabar itu menghadapkanku pada situasi yang harus kujalani. ada banyak hal yang harus kupertimbangkan. tentang aku yang akan meninggalkan lagi keluargaku, dan terlebih lagi, yang paling berat adalah, aku harus berpisah dengan shilla.
aku dinyatakann lolos dalam seleksi beasiswa luar negeri itu. hanya aku, dan jimbo berbesar hati menerima kekalahan sementaranya itu. mengakui memang aku yang lebih layak daripadanya sekarang.
awalnya memang aku bahagia melihat namaku tertera di papan memanjang itu. bangga sekali rasanya menjadi diri yang selalu lolos dalam tiap masalah dan apapun yang hadir dalam kehidupan, silih berganti. seperti kali ini. sejak awal, aku memang tak se-serius jimbo yang ingin mendaftarkan diri tulus dari hati. aku hanya sekedar menemaninya dan juga karna izin dari ibu.
atau mungkin, izin ibu itulah yang memudahkan segalanya? entahlah, separuh hatiku bilang, tak usah pergi. aku masih ingin tetap di Negara ini.
***
“aku lolos seleksi bu .. “ dengan langkah gontai kuberitahukan kabar gembira ini pada ibu. tertunduk lemas. kabar bahagia yang menghadapkanku dengan perpisahan lagi dengan orang-orang yang kusayangi.
mana tega? aku masih ingin bermanja-manja pada ibu, juga mendapat petuah segar dari kak indah yang jago sekali bermain kata itu. kak indah yang jago sekali diajak berdiskusi itu. termasuk tentang shilla.
awalnya memang aku ragu hendak bercerita.
“kak ! aku mau Tanya .. “ pelan masuk ke kamarnya, mengetuknya perlahan. takut menganggu aktifitas menulisnya.
kak indah menoleh sekilas. “apa zaka? sini, masuk!” kak indah halus mempersilahkanku masuk. menutup buku hariannya.
“mmmh ,,, tapi jangan ketawa ya?” aku masih ragu hendak meneruskan pertanyaan.
“apa?” kak indah mengacungkan dua jarinya, janji jari.
“cewek suka kado apa kak?” tanpa ekspresi, sedikit gugup.
kak indah meringis. sudah menduga pertanyaan itu yang akan keluar dari mulutku.
tak ada yang salah. aku lelaki berumur dua puluh tahun. sudah wajar sekali merasakan apa itu namanya suka. merasa ada yang berbeda ketika melihat seorang wanita yang berhasil menggugah hatinya. benar-benar tak ada yang salah, kak indah memahami benar siklus hidup yang sedang mampir di hidupku.
dan berceritalah panjang lebar tentangnya pada kak indah. kak indah sabar mendengar, sesekali tersenyum, menggeleng senang. bergumam kalau adik lelakinya sudah dewasa sekarang.
tak ada yang alfa kuceritakan. sejak awal mula, sampai detik akhir aku menerima daftar lolos seleksi itu.
kak indah yang paling mengerti bagaimana menenangkan hati yang sedang gundah gulana sepertiku. meski separuh hidupnya dihabiskan di rumah rehabilitasi, toh pemahamannya justru lebih baik dariku. tak ada sisa trauma dan kesempitan pola pikir yang ada dalam benaknya.



Friday, 10 August 2012

Di batas ke-aku-an (11)

Latifa Mstfda



senin, 01.30 . Tarian kupu-kupu
“sudah sampai mana ya mas?” bapak tua di sebelahku bangun. sedikit mengoap, langsung banyak bertanya. seperti tadi sebelum pulas tertidur.
aku mendengus. “kenapa pula harus bangun di jam ini” mendesis halus.
“sampai temanggung pak, jalanan macet.” ketus menjawab. sedikit malas.
“loh, bener mas? mosok daritadi baru sampai temanggung. bohong ya mas?” bapak tua itu memberondongku dengan banyak pertanyaan. mengataiku berbohong pula. benar-benar menyebalkan orang tua di sebelahku ini.
“kok bisa macet gimana mas? bukannya kalau malem itu malah cepet ya mas?”
“pak, ini malam tahun baru. maklumlah jalanan masih ramai anak-anak muda. portal ditutup.
sedikit banyak kita yang harus bersabar. lagipula tak ada salahnya juga bukan, bapak tua itu sedari tadi hanya tertidur. nah aku yang sejak tadi terjaga, gelisah, cemas jadi satu. harusnya aku yang lebih tak sabaran. bukan malah bapak tua itu. otakku sedang tidak mampu berbaik hati detik ini.
“oalah, bilang to mas daritadi kalau macetnya begitu. tak kira saya ada apa” aku menghela nafas panjang. dua kali, lebih panjang. bersabar. bagaimanapun juga, dia sudah tua. mungkin malah seumuran ayah.
ah iya ayah? bagaimana kabarnya.           
ibu, kak indah? kalian baik-baik saja bukan.
semoga kalian sudah mengikhlaskan dan memaafkan zaka.
***
berjam-jam. berhari-hari, berminggu-minggu kami berempat hidup seperti biasa. sudah tak perlu lagi ada yang pergi dari rumah. tinggal serumah lagi bersama ayah, ibu, dan juga kak indah.
“zaka, tolong bantu siapkan piring di meja!” ibu berteriak dari dapur. memanggilku dengan keras, tanpa perlu mencari dulu dimana aku. ibu pastilah tau kalau jam segini aku hanya akan di depan rumah, duduk di teras sambil membaca majalah atau Koran. apa saja. asal judulnya sama, membaca.
kepulangan ibu dan kak indah otomatis membuatku dan ayah tak perlu banyak mengirit pengeluaran lagi untuk mengumpulkan uang kiriman. untuk berobatlah, untuk biaya macam-macam, bla bla bla. sekarang, bendahara rumah sudah dialihkan kepada ibu lagi. multi talent dalam mengurus apa saja.
hebat bukan? memang selalu begitu wanita yang disebut ibu itu.
bisa melakukan banyak hal. kalau punya anak kecil, hebat sekali bisa memasak sekaligus menyusui, sekaligus menyapu, sekaligus bekerja. semua dilakukan sendirian. dan banyak dari itu, sama sekali tak pernah mengeluh. beruntung sekali kalau-lah aku punya istri macam itu. pasti akan damai keluargaku kelak.
dan shilla? hubunganku dengannya makin baik saja. sering berkirim kabar lewat email. kadang pun mengobrol santai lewat skype. atau hanya bertukar pesan, saling mengingatkan lewat sms. tak ada yang perlu kucemaskan. rasa-rasanya, dia pun menikmati hubungan ini. dan akupun begitu.
perlombaan yang dulu sempat kubicarakan itu benar-benar kudatangi. aku datang bersama jimbo. sengaja benar ingin mengenalkan gadis bermata biru yang sudah sukses menambat hatiku itu.
“ini kita sebenarnya mau kemana, hah?” jimbo sudah tak sabaran. panas menyengat tiap-tiap kulit manusia. benar-benar menaikkan tensi emosi.
“aku juga belum paham, jimbo. sabarlah sebentar!” berulang kali aku berhenti. bertanya pada orang sepantaran jalan, belum ketemu juga alamat yang kutuju.
terhitung sudah lima kali aku bertanya. sampai pegal dan kebas wajahku pura-pura tersenyum, memperhatikan dengan seksama berharap cepat paham alamat yang ditunjukkan, tapi tetap saja. aku belum benar mengerti, hanya mengangguk iya-iya saja, lantas berterima kasih dan pergi.
dan untuk ke tujuh kalinya. akhirnya kutemukan juga hotel yang dituju. yang ternyata sudah kelewat jauh dari rute yang kulewati dengan jimbo. “makanya, kalau apa-apa itu dipertimbangkan dulu! jangan sok tahu!” jimbo berseru ketus. mulai terpancing emosinya. aku meringis. “maaf .. “
hotel besar berbintang tujuh. hebat sekali terlihat dari luar. mewah bukan main.
lantainya saja ada berapa puluh. kepala-ku mendongak pun belum tentu aku bisa menghitung berapa banyaknya. yang ada justru leherku pegal-pegal mendongak terus.
yang tertera di pesan dari shilla. hotel ini di lantai dua puluh. alamak, tinggi sekali ini. jimbo kutarik, berjalan agak terburu-buru. tergesa.
dan pas sekali ketika aku masuk. shilla bersiap berdiri di atas garis. siap meluncur.
aku mengelus dada. berjalan lagi mencari tempat duduk yang strategis. melewati kerumunan orang yang berdiri bersorak ramai. biar shilla bisa melihatku datang, barangkali menambah semangatnya.
“heh!” jimbo meninju bahuku pelan. “apa?” aku menoleh, sebal. kembali memperhatikan shilla.
“yang mana?” dia meninjuk bahuku lagi. “yang mana apanya, hah?” masih tetap membelakanginya.
“yang mana gadis yang kau bicarakan kemarin itu, bodoh!” kali ini jimbo bukan lagi meninju bahuku. tapi sedikit menjambak rambutku. aku mengaduh kesakitan.
“itu! yang berdiri di tengah. rambutnya sebahu.” jimbo yang kutunjukkan berangguk-angguk mengelus janggut. “oh, yang itu”. pura-pura mengerti daripada kubalas tinju.
yang tidak begitu kusadari. di depan sana, peserta yang berambut sebahu tak terlihat. mana bisa terlihat kalau kepalanya saja ditutupi. jimbo pelan lagi menyenggol, “kau bodoh atau buta, zaka? itu pakai penutup kepala semua”. jimbo melotot sambil menunjuk-nunjuk.
dan aku tertohok. terkekeh menahan malu.
***
hari itu benar-benar tak bisa kulupakan. rasanya ingin membekukan jalannya waktu. biar saja hari seperti ini terus. tapi manalah bisa? mau aku berusaha sekuat tenaga, mengeluarkan semua-muanya ide yang ada di kepala. waktu akan terus bergerak. tak bisa dihentikan.
dag dig dug aku duduk di kursi penonton menjadi penyemangat untuknya. hanya sekedar bisa meneriakkan namanya tanpa bicara langsung di depannya. berharap dia sudah melihatku tadi. teriakan menggema menyebutkan namanya. benar-benar bising ruangan ini. seperti bising di dalam hati.
berdebar, cemas, khawatir, dan apalah itu. semuanya bercampur jadi satu.
melihatnya yang mengikuti perlombaan tingkat nasional seperti ini. tentu saja aku bangga, apalagi aku diundang langsung olehnya (bagaimana aku tidak melayang dibuatnya). dan ini yang membuatku bertambah kagum padanya. selain fakta yang kutahu, kalau dia begitu pandai. beberapa bahasa asing dikuasainya. alat music seperti piano dan gitar dia juga bisa. aku yang lelaki saja malah minder karna kalah cerdas darinya (kadang-kadang).
dia diikutsertakan jadi satu-satunya perwakilan kontingen kota. dalam perlombaan renang, dan inilah finalnya. hanya ada lima orang peserta yang masuk final. ini sudah dua kali putaran, dan dia kalah tipis dalam hitungan waktu dari dua orang saingannya.
putaran ketiga. tinggal tiga orang saja yang tersisa, termasuk shilla. makin berdebar saja rasanya aku ini, lemas menopang kaki sendiri.
“ayo shillaaaa!” jimbo berteriak sekencang mungkin. mengalahkan supporter dari klub shilla malah. “Shilla! S-H-i-L-A! Shila .. shilla..! prok prok .. prok prok prok!” jimbo makiin heboh meneriakkan nama shilla.
suaraku sudah habis sejak lima menit lalu. berulang kali berteriak, shilla belum menengok juga kea rah tempat dudukku sekarang, di tribun penonton.
panggilan peserta sudah terdengar, tanda harus bersiap. shilla berdiri di posisinya. meregangkan badan. jimbo masih semangat empat lima meneriakkan namanya. dan tepat itu juga! beberapa detik sebelum wasit meniup peluit tanda dimulai.
shilla menoleh. DEG!
aku tergugu. mataku bersitatap dengannya. dan hatiku cessss! dingin saja rasanya.
energiku seketika terisi penuh. sudah macam game di computer saja, yang di klik beberapa kali sudah langsung full. karena senyumnya tadi, sukses menambah semangatku. mengembalikan suaraku yang hampir habis gara-gara berteriak dan diabaikan tadi (mungkin lebih tepatnya karna dia sedang konsentrasi dan mengumpulkan tenaganya sendiri).
aduhai! dia tersenyum lagi. mengangguk manis. sungguh manis sekali yang membayang di pelupuk mataku.
PRIIIIIT!” wasit lantang meniup peluitnya. shilla dan kedua pesaingnya menceburkan diri ke dalam kolam. dengan gaya sesuai aturan. juri sudah menghitung waktu sejak pertama kali mereka menceburkan diri. putaran ketiga ini lebih ketat lagi pastinya. dua perwakilan dari kota lain begitu fit, badannya saja lebih besar dari shilla. meski tak menjamin akan lebih kuat dan hebat dari shilla.
dua kali bolak-balik, dari ujung ke ujung kolam renang sepanjang berpuluh meter. shilla muncul pertama kali. disusul mega dari perwakilan klub lain. dan mereka berdua jadi finalis yang akan bertanding di babak final. pertandingan sementara dihentikan, istirahat.
aku menghela nafas lega, untuk sementara.

bersambung ---

Thursday, 9 August 2012

di batas ke-aku-an (10)

Latifa Mstfda



masalah yang datang mendewasakan pemikiranku. membuatku lebih cepat matang dalam menghadapi situasi kondisi. dan aku tak pernah melupakan janjiku dulu. untuk  terus belajar, dan terus berusaha menghormati ibu. wanita nomor satu di hidupku.
shilla? ah iya, satu minggu saat aku melupakan agenda wajibku itu. ganti aku yang dibuat panic karenanya. satu minggu kemudian, saat aku hendak mengajaknya berkunjung ke rumah, ingin kuperkenalkan pada ibu. dia justru yang tak datang ke perpustakaan.
dua jam aku menunggunya. tapi memang nyatanya dia tak datang.
kabar atau pemberitahuan? sama sekali tak ku dapatkan.
bagaimana bisa dapat?. sejak dulu, saat pertama kali mengenalnya. pengetahuanku hanya sebatas nama dan rutinitasnya datang ke perpustakaan. aku tak terlalu berani banyak bertanya. bisa jadi itu malah akan membuat tak nyaman dirinya.
maka sekarang, tinggallah aku yang dibuat bingung sendirian. ingin bertanya pada petugas perpustakaan, tapi urung kulakukan. sudah maju mundur aku di depan mejanya. dia yang melihatku seperti itu justru acuh. sesekali memperhatikan, tapi tak mau banyak berkomentar.
dua minggu kemudian, di hari yang sama, jadwal bertemu-ku dengan shilla. dia tak ada lagi. 
entah apa namanya ini. tapi dalam hatiku terlalu banyak dugaan, persangkaan, dan macam-macam perasaan lain.
kadang, saat aku sedang mencoba menenangkan diri. suara di kepalaku bilang, “mungkin dia marah padamu zaka!” cobalah Tanya pada petugas, dimana alamatnya. tak ada salahnya bukan ..? “
dan kadang lagi, satu sisi kepalaku yang lain bicara yang berkebalikan. “sudahlah, siapa pula dia harus kau cemaskan! mungkin dia memang tidak suka pada kau.”
dan satu bulan tepat sejak itu. aku mendapat pesan khusus dari petugas perpustakaan. itu pun kulihat wajahnya yang berat hati memberikan padaku. di dalamnya hanya berisi nomor telpon dan alamat YM serta skype-nya (ah, semoga kau tahu itu). 
aku menghela nafas lega. bergumam bahagia, kalau akhirnya dapat juga kabar darinya.
maka, malam harinya. sejak pesan itu kudapat, aku pergi ke warnet. mencoba mengirimkan kabar padanya. jari-jariku lincah bergerak. diperintahkan otak secara tak sadar, dan hatiku pun mengiyakan. mengalirlah kata demi kata, paragraph demi paragraph yang menunjukkan betapa aku bingung ketika dia tak pernah ada lagi di perpustakaan. duduk di bangku tengah sambil membaca buku tebal, -oh ya, itu buku kamus bahasa asing yang sedang dipelajarinya-.
malam itu, kulihat profilnya sedang aktif. (lampu mengerjap-ngerjap)
mungkin dia sedang mengerjakan apa. beruntung sekali aku online di jam yang tepat. sekali datang dia langsung ada.
zaka.sarjanamuda        : “kau kemana saja shilla?”
zashilla                        : hey! apa kabar?
zaka.sarjanamuda.       :
                                    (hanya berkedip-kedip, bingung hendak menjawab apa. 
                                    enter kutekan tak sengaja) 

zashilla                        : kau apa kabar zaka?
zaka.sarjanamuda        : eh, aku baik. kau ke … mana saja? (setelah lama berpikir)

lama sekali kuperoleh balasan. sampai akhirnya aku lelah menunggu. ternyata dia sudah sign out sejak tadi. aku yang tidak memperhatikan.
aku lemas keluar dari warnet. berharap besok bisa bertemu dengannya. 

hari kedua.
aku sedang banyak beruntungnya. namanya ada di list.
zaka.sarjanamuda        : haiii -emot senyum-
zashilla                        : eh, kau lagi. -emot,senyum- juga
zaka.sarjanamuda        : sibuk-kah?
zashilla                        : memangnya kenapa, zaka? he.he
zaka.sarjanamuda        : eits! tak ada pertanyaan dibalas pertanyaan shilla. jawab dulu pertanyaanku .. J
kursor berkedip-kedip. agak lama. 

zashilla                        : aku sedang giat berlatih. dekat-dekat ini ada perlombaan ..
tuh kan! benar dugaanku. dia memang sedang sibuk, tak ada yang perlu dikhawatirkan. dia jelas tak marah padaku. memangnya siapa aku harus dipikirkan terlalu dalam olehnya.
aku menghela nafas lega. bersyukur ternyata hanya pikiran negative ku saja. 

zaka.sarjanamua          : lomba apa?
zashilla                        : jawab gak ya? nggak usah aja deh :p
zaka.sarjanamuda        : baiklah .. no problemo shilla. good luck ya!
semangat! J

meskipun sebenarnya aku agak kecewa membaca balasannya. tapi tak apalah, lagipula aku bukan siapa-siapanya (ini kata-kata paling menyesakkan dan fakta yang memang harus kuterima). dan kalau di chatting-an ku kali ini lebih banyak emot senyumnya, itu karna aku berharap dia banyak tersenyum ketika melihat tulisanku. walau hanya sekedar tulisan.
zaka.sarjanamuda        : kau tak akan berkunjung lagi ke perpustakaan fakultasku, shilla?
zashilla                        : iya, maaf belum sempat berpamitan.
zaka.sarjanamuda        : tak apa .. masih bisa bertemu di lain waktu J

walaupun lagi-lagi aku mendengus kecewa. 
kabar buruk, benar-benar akan jadi kabar buruk kalau bertahan seperti ini terus.
tapi, berpura-pura biasa saja pasti akan membuat suasana lebih kondusif kelihatannya. 

zashilla                        : tapi, eh?
zaka.sarjanamuda        : kenapa, shilla?
zashilla                        : kalau kau bisa, datang waktu aku lomba ya? kalau bisa saja. aku tak memaksa.
dan tanpa panjang kata. aku langsung saja menyanggupinya.
hanya dengan mengobrol beberapa patah kata dengannya seperti ini saja hatiku sudah bahagia bukan kepalang. tak sabar menunggu perlombaan itu (meski tak tau benar apa yang mau kusaksikan itu), dan melihat lagi wajahnya yang menyejukkan.
aku menikmatinya. meski tak pernah tau bagaimana isi dalam hatinya.
dia, gadis bermata biru yang membuat kalang kabut hatiku. 
yang mampu menghadirkan rasa membelenggu yang terus saja membuatku bisa tiba-tiba tersipu malu saat duduk sendiri, saat berjalan di keramaian, saat apa saja.
dan dia itu, membuatku candu berkepanjangan. ya, namanya zashilla, gadis pemilik mata biru itu.

bersambung --

Wednesday, 8 August 2012

Di batas ke-aku-an (bagian - 9)

Latifa Mstfda





setiap minggu. aku selalu punya jadwal bertemu dengannya. jadwal yang kuingat dan kubuat sendiri. tanpa kesepakatan dan perjanjian darinya.
ya, tiap hari selasa aku selalu rutin datang ke perpustakaan. dan dia pun begitu. penelitiannya belum selesai. dan aku selalu senang menyambut hari itu. menyambut senyumnya tiap kali aku datang dan langsung duduk di depan bangkunya. mencari perhatian sedikit darinya.
“kau sudah lama shilla?” dia mengangguk, meneruskan lagi mengetik. sambil sesekali pandangannya terarah ke buku referensinya.
“sudah sarapan?” shilla mengangguk lagi, kali ini dengan sesungging senyum. tetap mengetik.
“laporannya sudah sampai mana?” aku heboh merusuhinya. dia tetap sabar mengangguk, untuk ketiga kalinya. tak lupa dengan senyum menyenangkannya itu.
“aku menganggu kah?” aku belum selesai bertanya. ingin terus melihat senyumnya itu. dan untuk ke-empat kalinya ia mengangguk. lagi.
anggukan yang lebih mantap, lebih bertenaga.
“EH?” balik aku yang melongo. “benar begitu?” dia justru tersenyum lebih lebar.
“sedari tadi kau memang menggangguku zaka! tadi aku hanya sibuk memperhatikan dua hal. hanya dengan dua mata dan dua tangan. nah sekarang ditambah lagi aku harus mengaktifkan telingaku untuk mendengar pertanyaanmu yang tak ada habisnya itu. aku jujur bukan? dia tergelak, tanpa suara. tak mau mengganggu pengunjung lainnya.
aku menggaruk rambut. malu. tapi setidaknya, kedatanganku tak membuat jenuh kegiatannya, meski menganggu.
hari selasa, dua jam setiap minggu. aku selalu punya waktu menyenangkan bersamanya. meski selalu aku yang banyak bertanya, selalu aku yang banyak menunggu jawaban dengan anggukan manis itu. tetap saja aku tak sabar menunggu hari itu datang.
rutinitas baru yang begitu menyenangkan.
hari selasa selanjutnya. ia lebih santai, aku menyapanya riang. “selamat pagi juga zaka” dia balas menyapaku. itu tandanya dua jam ke depan aku akan dapat jawaban asli, bukan sekedar anggukan atau gelengan. pembuka yang bagus.
sejak malam sebelumnya, aku sudah punya cara jitu untuk mengajaknya makan bersama. “kau sudah makan?” sambil membereskan buku yang kupinjam.
dia menggeleng. menatapku tajam. “baik, kalau begitu aku makan dulu ya? kalau mau bareng aku di kantin biasanya!” aku beranjak meninggalkan perpustakaan, berharap dia akan mengikutiku ke kantin. dan rutinitas mingguan ku akan berubah lebih santai di kantin.
dan benarlah dugaanku.
tepat ketika aku berbalik hendak duduk membawa makanan pesananku. dia sudah berdiri tegap di belakangku. tersenyum, eh bukan, malah meringis sepertinya. ikut memesan makanan yang sama dan kemudian duduk di tempat yang sama denganku. berhadap-hadapan. dulunya, aku memang gugup bukan kepalang. tapi lama kelamaan, aku tak perlu lagi membiarkan rasa ini merusak suasana. lama-lama aku terbiasa juga.
lagipula dia bukan hal menyeramkan yang harus dibiasakan, malah dia begitu menakjubkan. mempesona bagi tiap mata yang memandang.
“kenapa harus bertele-tele?” dia bertanya pelan, sambil mengunyah makanannya.
“apanya yang bertele-tele? dahiku berkerut. heran ditodong.
“kalau mau mengajakku makan bilang saja, tak usah meninggalkanku di perpustakaan seperti tadi!”’ dia mengelap ujung bibirnya dengan tissue makan. aku tersedak, buru-buru menyeruput air putih yang kubawa tadi. berusaha senormal mungkin menanggapi.
“ah, perasaanmu saja shilla. aku memang hanya basa-basi mengajakmu. kalau kuajak kau nanti uangku berkurang banyak karna harus mentraktirmu makan!” aku mengeles. mulutnya berubah manyun, “pintar sekali mengejekku kau, zaka!” bersungut-sungut sebentar. aku terkekeh. melihatnya dengan wajah seperti itu beberapa detik.
“enak saja! makanku tak banyak! kau ini yang makannya macam kuli bangunan saja” dia balas mengejekku. sedetik kemudian tertawa. melemparku lagi dengan tissue-nya.
ini sarapan merangkap makan siang yang begitu mendebarkan, juga membuat kenyang sebelum habis makananku.
ibu … namanya shilla, gadis yang membuat posisi ibu dan kak indah bergeser sementara waktu dari kepalaku.
***
pelan aku mengangkat pergelangan tangan. melihat jam.
sudah tepat satu jam aku duduk di bangku bus ini sendirian. menuju rumah dimana orang tuaku tinggal. aku makin resah saja dibuatnya. kenapa bus ini berjalan lelet sekali? kenapa pula tak ada bibi yang memberi kabar padaku? dan kenapa di ujung sana, ujung sini, seperti tak ada yang memperhatikan gelisahku.
aku memang hanya seseorang. setitik kecil bayangan di dunia yang begitu luas, begitu besar, begitu hebat. terlalu banyak tumpukan permasalahan, kebahagiaan, kebencian, kesedihan dan ke-ke lain yang merupakan perwujudan hidup manusia. dan semua orang pasti merasakannya. bukan hanya aku saja.
maka siapalah aku yang ingin diperhatikan seluruh dunia? siapalah aku yang hanya merasa gelisah karna istriku yang sulit melahirkan bayinya? tak ada yang perduli. semua sibuk dengan rutinitas dan dunianya sendiri.
sama seperti pak tua tadi. yang beberapa menit lalu sibuk merecoki-ku dengan beberapa pertanyaan yang membuatku merasa terganggu. dan sekarang sudah tertidur pulas. mengorok pula. pak tua ini lebih beruntung, bisa menikmati malam ini dengan anugrah mengantuk yang diselipkan Tuhan malam ini. tapi tidak denganku. aku tak bisa mengantuk, tak bisa pula merasa nyaman dengan kursi empuk bus mahal ini.
sedari tadi, sejak awal perjalanan ini aku sempurna menatap langit. menemukan kedamaian kala melihatnya. sambil mengingat masalah yang timbul tenggelam, pasang surut, datang dan pergi menghampiriku.
bulan masih berbentuk sempurna. bahkan cerahnya belum mau menghilang dari pandangan. masih ingin menemani gundah dan gelisahku mungkin.
bulan ke tujuh setelah interview itu. saudara ayah yang berada di luar negeri bekerja sekaligus memantau keadaan ibu menelpon. heboh kalau ibu sudah dinyatakan sehat, bebas dari kanker yang menggerogoti tubuhnya. ayah melonjak kegirangan, begitupun waktu aku mendengar kabar itu dari ayah. kak indah pun bereaksi sama, meski aku lagi-lagi hanya bilang sepertiga beritanya. “ibu besok pulang kak .. !” aku memeluk badan ringkih kak indah.
tak henti-hentinya aku berucap syukur. itu artinya, keluarga kami akan berkumpul sempurna lagi. tak ada lagi yang perlu terpisah.
hari itu aku membolos dari rutinitas pergi ke perpustakaan. bahagia karna menunggu kedatangan ibu melupakan segalanya, pun dengan gadis berwajah menyenangkan itu. aku, ayah, dan kak indah sibuk kesana-kemari. mencari taksi, memesan makanan kesukaan ibu, membereskan rumah sebelum jam-jam kami harus berangkat ke bandara menjemput ibu. semuanya siap satu jam sebelum waktu kedatangan.
kami sudah berdebar cemas, menunggu kepala dan wajah ibu yang muncul dari pintu kedatangan. sudah hampir sepuluh menit kami menunggu. om rizal bilang kemarin, katanya ibu mendarat pukul sebelas siang. maka sejak pukul sepuluh kami sudah terburu-buru naik taksi, menyuruh sopirnya mengebut sebisanya. kadang malah kami suruh menyalip, saking tak sabarannya.
dua puluh menit kami berdiri menunggu. mondar-mandir. mulai membuat gelisah diri sendiri, mulai khawatir kalau ibu tak jadi pulang hari ini. sibuk membuat dugaan.
ayah sibuk melihat layar telpon genggamnya. sedari pagi om rizal belum menelpon lagi. desah pelan mulai keluar dari mulut ayah, berulang kali menoleh ke kanan kiri. memperhatikan satu persatu wajah yang muncul dari pintu.
dan ketika itulah seorang wanita berkerudung biru melambaikan tangannya dari jauh. yang meski badannya sudah mengurus, terlihat masih pucat. tapi kami selalu mengenalinya. ya, itu ibuku. sedikit berlari untuk menghampiri kami. aku memeluk ibu pertama kali, menangis tertahan. lama tak mencium bau harum tubuh ibu. sudah lupa malah.
“sudah besar kau sekarang le ..!” ibu mencium keningku berulang kali. menyeka airmatanya yang deras mengalir.
ayah ganti mendekap erat tubuh ibu. bergantian. dan setelah itu, ibu malah berdecak takjub. “ini kau nduk?” kau sudah sembuh?” tangis ibu makin deras. menyadari kalau kak indah sudah sembuh dan bisa berkumpul lagi bersama.
“ini benar kau nduk? in-dah?” dan untuk kedua kalinya kak indah mengangguk mantap. memeluk erat tubuh ibu seperti tak mau berpisah lagi.
suasana haru menyelimuti ramainya pintu kedatangan di bandara itu. dan aku selalu jadi saksi tangis haru itu. 

bersambung --

Tuesday, 7 August 2012

Di batas ke-aku-an (bagian delapan)

Latifa Mstfda



“boleh bu?” mataku membulat.
dari jauh kulihat ibu mengedipkan matanya. tersenyum agak berat. tapi meski begitu aku sangat lega melihatnya. (dan aku berjanji akan mengerahkan segala tenaga untuk membuat ibu-ku bangga).
belalai panjang masih melilit tubuh ibu, alat bantu pernafasan, infuse, alat penindai jantung. dan satu lagi yang membuatku trenyuh. di akhir pembicaraan, ibu masih sempat bilang “ibu rindu kau le .. baik-baik saja disana. jaga bapak!” haru mendengar suara yang dulu penuh kekuatan, penuh kasih sayang, kini harus terkulai lemah di ranjang, dengan berbagai macam alat bantu yang dipasang di sekeliling tubuhnya. ringkih.
“baiklah, jimbo!”  aku menghampirinya, langsung berkata maksud tujuanku.
“baiklah? maksudnya? baiklah apa, hah? dahinya mengkerut. bingung.
“ya, aku mau menemani kau mendaftar”
heh, benarkah? kau mau z-a-k-a?” mulut jimbo persis membentuk huruf o ketika pertama kali mendengar jawabanku.
aku mengelak. “ingat, bukan karna kau! itu karna ibuku!” aku mempertegas lagi kalimatku. tetap saja jimbo melonjak-lonjak kegirangan. memelukku. aku malu, mengibaskan tangannya yang hampir lagi mengangkat badanku.
hari itu aku sudah berpakaian necis sekali, macam orang akan melamar pekerjaan saja. mengenakan jas hitam dengan rangkap kemeja putih di dalamnya, sepatu pantofel hitam mengkilat (baru saja aku semir malam harinya) dan tak lupa dipasangkan dasi di dalamnya. ah, kalau kau lihat pasti akan berdecak kagum melihatnya. ayah saja takjub melihatku, entah untuk menyenangkan atau karna aku memang terlihat begitu tampan.
aku diberi nomor urut, begitupun dengan jimbo dan peserta lain. ah iya, disini aturan mainnya sangat mudah. jawab apa yang ada di kepalamu, tapi jujurlah. itu saja.
maka, ketika namaku dipanggil bagian interview, aku sudah memasang muka meyakinkan. bukankah yakin dulu maka segalanya akan lancar kemudian?
“Zaka!” seorang lelaki kulit putih memanggilku dari dalam, memegangi map berisi data-ku mungkin. dan tepat ketika aku membuka gorden yang membatasi ruangan itu. ruangan yang sudah mirip seperti ruang periksa dokter. mataku bersitatap dengannya lagi.
aku berjalan gugup. semua keyakinan dan kepercayaan diriku sirna seketika.
“nama?” dia bertanya menunduk
“zaka Sutama”
“umur?” masih menunduk sambil membaca map yang di pojok kanannya tertempel rapi fotoku. untung saja foto yang lumayan berseri. sempat mengelus dada.
“menuju Sembilan belas” aku menjawab mantap.
ia mendongak tajam. “eh, menuju?” aku tersenyum. “hampir Sembilan belas tahun maksudku”. dia tersenyum manis. dan sesi gugup itu berubah menyenangkan ketika dia berubah pula bertanya dengan santai.
keluar ruangan, aku menghela nafas panjang. berharap semoga semuanya lancar.
***
lagi-lagi semua hal terasa berlalu cepat sekali.
satu bulan sejak interview itu aku masih kerapkali bertanya kapan pengumumannya keluar? harap-harap cemas kalau aku salah satu peserta interview yang akan ditelpon untuk menerima kabar gembira. dua bulan, tiga bulan, dan sempurna enam bulan kemudian aku bahkan tak ingat kalau aku pernah ikut program itu. banyak tugas dan pekerjaan yang harus kulakukan membuatku lupa.
dan memang selalu begitu. waktu selalu berbaik hati membuat diri tak terlalu lama dibuai emosi. kadang harapan, kadang rasa sayang, dan kebencian bisa hilang perlahan.
“ayo ikut bapak le .. “ ayah sudah bersiap menghidupkan motor sejak tadi. lima menit memanaskan mesin. aku yang masih berkalung sarung, duduk mengangkat kaki sebelah di teras hanya bisa menatap bingung. “kemana?” begitu maksud wajahku.
ayah tersenyum simpul. “ayo ikut saja!” aku malas beranjak. ini hari minggu. sebenarnya akan lebih baik kalau aku bersantai mengistirahatkan badan. tapi tak apalah, mungkin akan lebih menyenangkan ayah kalau aku menyanggupinya. lagipula, aku terlampau sibuk sampai jarang sekali berbincang dengan ayah akhir-akhir ini. hanya sesekali bertanya, itupun kalau sedang perlu, dan kebetulan sedang bertemu sebelum tidur.
lebih banyak diam yang kulakukan di sepanjang jalan. aku suka sekali menikmati ritual ini. mengawasi jalan, lalu lalang orang, ramai klakson kendaraan, orang-orang berjualan, asap yang kadang mengepul tepat di depanku (yang ini baru menyebalkan, kenapa pula masih ada mesin tua yang merusak pernafasan seperti itu)
kadang, aku berharap. dengan membiarkan pikiranku berkelana bersama udara seperti ini, yang terlintas di kepalaku. semoga masalahku ikut terbang bersama debu, menyatu dengan udara yang semerbak memenuhi rongga dadaku. dan sepertiga harapanku sedikit terkabul. karna faktanya seperti ini, entah disadari atau tidak, ketika memutar ulang semua masalah yang ada dengan hati lebih lapang (dan mungkin efek dari banyak udara segar yang masuk ke saluran pernafasanku) maka masalah itu makin lama makin kecil kelihatannya. selalu seperti itu, dan menyenangkan sekali rasanya, melihat kalau situasi dan kondisi yang kita alami sekarang hanya lewat sekelebat saja. sesuai kadar kemampuan kita menyikapinya.
aku mulai mengenal kemana jalan yang sedang kami tuju ini. puskesmas kecamatan, tempat observasi perikanan, barak pengungsian. “yah, mau kemana sebenarnya kita?” aku yang mulai curiga banyak bertanya.
ayah hanya tersenyum, diam tak menanggapi.
kutinju pelan punggung ayah. “kemana yah?” yah! mau kemana ini .. “ aku gemas ingin segera tahu.
“nanti kau tau sendiri le .. sudah duduk manis saja!” ganti ayah yang sebal dirusuhi olehku.
nah, benar saja. ketika sudah hampir mendekat tempat yang kucurigai. ayah malah berbelok ke halaman tempat itu.
“bukankah dua minggu lalu ayah sudah kesini kalau tidak salah?” aku berusaha mengingat-ingat dua minggu yang lalu. saat ayah kerepotan membawa se-koper besar berisi baju ke rumah.
dan sama seperti kali ini. aku pun sibuk bertanya, sibuk merangkai jawaban yang sama mencurigakannya seperti sekarang. yang katanya banyak baju yang sudah tak muat lagi, lemarinya sudah tak cukup menampung semua baju yang dibawanya itu, dan lagi alasan kalau rumah sakit tidak memperbolehkan kalau berlebihan membawa baju.
dan jawaban menyenangkan sekaligus melegakan itu kudapat. “sini, peluk kakak!” aku takjub melihatnya. kakakku berdiri tegak sambil kedua tangan diulurkan ke depan, menunggu aku bergerak mendekat. dia tersenyum maniiiis sekali, senyuman yang sudah lama tak kulihat, senyuman yang menentramkan, sama seperti milik ibu.
aku pelan mendekat, menyambut pelukan hangatnya. aku terharu, benar-benar terharu. kudekap erat tubuhnya. “selamat datang kak indah .. “
dari balik peluknya, kuseka airmata yang mengambang di pelupuk mata.
***
kak indah pulang ke rumah (Rumah yang kecil dan berbeda jauh dari sebelumnya) dan kami, aku dan ayah maksudnya, terpaksa harus pindah dan mencari rumah yang jauh lebih layak untuk kami tinggali bertiga. rumah yang sekarang hanya ada dua kamar, dan tak mungkin kalau kak indah harus tidur bersama dengan salah satu diantara aku dan ayah.
“apa saja yang sudah kak indah lewatkan zak? lalu dimana ibu?” sesampainya di rumah kak indah dibuat bingung. jelas saja bingung, beberapa tahun sempurna trauma dan tak tahu kejadian apapun yang menimpa kami. bahkan tentang ibu yang sedang sakitpun kak indah belum diberitahu, takut hanya akan semakin lama membuatnya pulih dari trauma kepanjangan tentang kecelakaan itu.
sejak dulu, sampai sekarang, yang berusaha disadarkan dari kak indah adalah karna kak ayu yang sudah tiada. tak lebih tak kurang.
“ibu sedang keluar negeri kak .. “kubuat suaraku seriang mungkin. tadinya ayah bingung hendak menjawab apa, terlalu banyak diam akan membuat kak indah curiga. lagipula aku berkata jujur, hanya saja aku menutupi dan mengurangi keterangan yang ada.
“iya nak .. ibu sedang ke rumah pamanmu disana” ayah menimpali. ikut tersenyum mengelus rambut kak indah.
kak indah mengangguk takzim. senang bisa berkumpul lagi bersama.
maka, setelah dua hari aku harus tidur di kasur sempit berdua dengan ayah. kabar baik dibawa ayah siang itu. “mari berkemas!” ayah tegas menyuruh aku dan kak indah yang sedang sibuk di dapur. menoleh bersamaan.
kak indah yang masih clemongan dengan celemek berwarna terang miliknya itu sigap bertanya, “kemana yah?” kemudian berbalik lagi. menghadap wajan. takut gorengannya gosong.
“kita pindah rumah!” ayah berseru keras. senang.
“pin-dah?” aku dan kak indah lagi-lagi bertanya bersamaan. bersitatap. kompak sekali rasanya. mata kami membulat sempurna, pupil mata bergerak membesar 45 persen. sejenak kemudian tertawa riang, bahagia mendengar kabar ini.
kak indah cepat-cepat menyelesaikan masakannya. mengepaknya ke dalam rantang. segera setelah bersiap dan membereskan semua yang ada di rumah ini, pasti kami bertiga akan kelaparan. dan inilah bekal special pertama yang dibuat kak indah sejak kepulangannya.
dalam keadaan apapun, bahagia dan ikhlas menerima itu selalu membuat riang menjalani segalanya. mengalahkan sakit, beban dan masalah yang datang.
“enak sekali kak .. “ ayah memuji masakan kak ayu.
“tetap saja lebih pas di lidah masakan ibu,” aku menambahi. membuat senyum kak indah selepas dipuji berubah jadi cembetut. tissue bekas mengelap mulutnya dilempar sembarangan ke wajahku. aku mengeles. dan tawa bahagia memenuhi seisi rumah baru kami sekarang. dengan satu personil baru yang sudah sekian lama ditunggu, kak indah. 

bersambung --