.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label naskah bebas. Show all posts
Showing posts with label naskah bebas. Show all posts

Friday, 9 June 2017

Dear 25

Dear, dua puluh lima –
Nggak kerasa ya udah setahun.
Padal baru kemaren rasanya baru 24.
Dear 25, Semoga berkah.

*Slamat ulang tahuun, slamat ulang tahuuun,slamat ulang tahun ... slamat ulang tahuuuun*. Ayo dooong tiup lilinnya. Jangan diem aja

Dan kue ulang tahun beserta lilinnya udah tersaji di hadapan saya (sehari tiga kali udah persis kaya minum obat). Senyum lebar, seneng, bungah, bahagia. Di depan saya orang-orang yang saya sayang, dan orang-orang terdekat yang saya harapkan dateng ketawa lebar sambil nyanyiin lagu itu berulang-ulang. Mereka keluargaaaa.

Reka ulang kejadian ini beneran kejadian gais. Bukan sekedar mimpi atau harapan kayak tulisan saya beberapa waktu lalu. Mereka, temen-temen saya, saudara, keluarga, dan orang-orang terdekat itu udah ngebeliin kue – lilin – dan menyempatkan waktu buat makan bareng ngabisin tuh kue donat jco, pizza hut, black forest, dan sebagainya itu. Sambil bersyukur udah disadarkan oleh mereka, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan – “kamu nggak perlu sayang sama semua orang, dan kamu nggak perlu bikin semua orang ngrasa spesial. Cukup orang-orang di sekeliling kamu aja yang kamu sayang”.

Sooo Simplee bangeeet kan?

Awalnya saya mikir, betapa bahagianya bisa bikin semua orang seneng – apalagi bikin semua orang bisa ngrasa kalau dia juga sama spesialnya kayak yang lain. Tapi itu mustahil. Ada penolakan, ketidaksukaan, kebencian, wajah-wajah muak yang saya rasakan sendiri bahkan diantara mereka yang mengaku teman dekat. Perasaan yang tidak bisa dibohongi oleh perasaan kamu sendiri. Membuat semua orang lain senang sama halnya menjerumuskan diri kamu sendiri ke jurang ketidakbahagiaan, atau malah jurang neraka. Tinggal dorong dikit, perasaan tidak nyaman atas paksaan kamu terhadap diri sendiri untuk menyenangkan orang lain itu bakal jadi bumerang buat idup kamu sendiri. Masih mau nyimpen perasaan begitu?

Pahami saja, kamu memang tidak bisa menyenangkan semua orang.

Sunday, 4 June 2017

Critical eleven sebuah review : NOVEL VS FILM

Sebelum bicara pada ranah inti, ada baiknya kita memaklumi dengan jelas bahwa selalu ada perbedaan imajinasi yang dituangkan dalam sebuah buku – dan kemudian diangkat ke dalam layar lebar. Ya, sudah pasti akan ada banyak perbedaan. Entah itu gambaran tokoh ideal, latar, atau jalan cerita itu sendiri. Untuk mendeskripsikan suatu keadaan, atau ekspresi yang terdapat dalam suatu tokoh novel tentu saja tidak akan selalu sama karena lagi-lagi persepsi dan ekspektasi pembaca jauh dari standar. Semua orang punya pikiran. Sehingga dari persepsi dan ekspektasi itu tidak dapat diseragamkan. Jadi saya jelas memahami bahwa kritik dan saran mengenai film yang diangkat dari suatu novel sudah pasti akan menuai banyak komentar, dan tulisan saya ini hendak memberikan review dari kacamata saya sebagai pembaca setia novel ika natassa – dan penonton filmnya.

Saya sungguh mengapresiasi IKA NATASSA sebagai penulis novel ini, gaya bahasanya yang mengalir – kadang saya seperti mengalami perasaan yaaanggg “ini gaya gue banget, bikin ngakak, dan yang paling parah bikin mesam mesem sendiri”, dan sederet kalimat indahnya dia yang simple membuat saya berekspektasi tinggi terhadap film ini.

Apalagi, pemainnya kece-kece bukan? Siapa yang nggak kenal reza rahadian? aktor yang beberapa tahun terakhir mengambil hampir seluruh porsi pemain laki-laki dalam suatu film. Aktor yang berulang kali masuk kategori awards dan bahkan memenangkannya. Sampai setelah saya melihat trailernya di instagram, dalam hati saya berniat begini “SAYA HARUS NONTON FILM INI, BANGET!”

Sudahkah kamu mengerjakan skripsi hari ini?


Eh kamu seangkatan sama dia ya?
sekarang s2 atau udah kerja?
*GLEK. Boro-boro s2, skripsi aja belum kelar.

Bicara soal skripsi, beberapa mahasiswa melewatkan waktu terlalu lama untuk menyelesaikan tugas akhir ini (minoritas). Setahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan bertahun-tahun HANYA untuk menyelesaikan skripsi. Oke, maafkan saya kalau menggunakan kata HANYA. Tapi, skripsi memang HANYA sebagian urusan kecil yang sebenarnya mudah kamu selesaikan dibanding dengan masalah lain di hidup kamu semacam patah hati, atau ditinggal pergi. Wkwk.

Untungnya titik lemah dalam mengerjakan tugas akhir ini akhirnya dapat diminimalisir dengan kebijakan baru dari pemerintah yang mewajibkan bahwa kuliah jenjang strata satu hanya punya batas waktu maksimal 7 tahun, dan sekarang berubah menjadi 5 tahun, kalau lebih – (D.O). Kebijakan ini setidaknya membantu mahasiswa memaksa dirinya sendiri untuk berubah (oke, kalau paksaan dari dalam tidak cukup maka butuh paksaan dari luar bukan? )

Fenomena ini sudah jadi rahasia umum di kalangan mahasiswa. Oke, saya bilang ini fenomena, karena sudah jadi hal yang biasa. Yang sudah biasa ini semoga tidak jadi kebiasaan. Dulunya alasan yang digunakan memang valid karena sebagian besar dosen di jaman dulu memang nomor satu killernya, yang kalau boleh dikatakan intinya adalah lebih ribet (ini kata ibu saya atau alasan ibu saya sebagai pembenaran dari kuliahnya yang lama. wkwk). Dosen-dosen pada jaman dulu kala, era tahun 90 an katanya lebih sempurna daripada Tuhan, yang salah sedikit bisa fatal akibatnya (lebih berwibawa, susah kompromi, dan harus dihormati). Hal tersebut diperparah dengan belum ada internet, komputer jinjing, keyboard seperti jaman sekarang, dan literatur yang sulit ditemukan.

Nah lalu, jika pada era tahun 90 an saja banyak sekali tulisan yang produktif yang bisa dihasilkan orang-orang, kenapa pada zaman sekarang yang kemudahan dan fleksibilitas di elu-elukan (komputer dimana-mana, google mudah diakses, dosen mudah diajak komunikasi), untuk membuat skripsi saja sebegitu lamanya bagi mahasiswa? Kalau sebagian besar bisa tepat waktu, kenapa sebagian kecil ini menunda-nunda menyelesaikan kuliahnya? Apa penyebabnya?

Akhirnya, dari seluruh pengalaman yang saya alami, dengan melihat dan mengamati kondisi sekeliling, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan bahwa – ada 2 prinsip besar yang harus kita pegang teguh untuk mengerjakan sesuatu hal. 2 hal? Apa saja?

Oke here we go.

Thursday, 1 June 2017

5 alasan kamu harus lebih produktif saat puasa

Lah elo kok tidur mulu?
Pahala bro. PAHALA. Orang yang lagi puasa tidurnya sama dengan pahala
Jadi, Tidur banyak sama dengan pahala banyak.
*Nelen liur.

Bulan Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Semua juga tau. Mau ngerjain apa-apa mudah, enak, enteng, banyak temennya, berpahala lagi. Semua hal yang kita lakukan disini akan dihitung pahala dan semoga saja berkah. Tapi, beberapa orang memanfaatkan keberkahan di bulan ini untuk bermalas-malasan dengan dalih, “lah kan tidurnya orang puasa pahala, tidur lama gak masalah dong ya. Nyengir kuda”.

Tidurnya orang puasa memang ber-pahala, tapi bukan berarti seluruh jam yang kita punya dalam 24 jam, atau lebih dari 12 jam sehari digunakan hanya untuk tidur dan bermalas-malasan saja. Badan lemes, bau mulut, lapar, haus, panas sebenarnya bukan alasan yang bisa digunakan terus menerus kalau kita tau keutamaan melakukan hal yang lebih bermanfaat di bulan puasa. Kalau kamu tahu manfaat dan keberkahannya pasti kamu nggak akan tidur terus deh gais.

Nah, ini nih 5 alasan kamu harus beraktifitas waktu puasa biar puasamu nggak cuman sekedar laper aja:
 
1.   NINGKATIN NILAI DAN PAHALA  

Dengan melakukan hal terbaik sebisa kita di bulan Ramadhan (semoga sih nggak cuman ramadhan aja), maka seterusnya kita bisa meningkatkan keimanan – ketaqwaan dan keilmuan kita. Dengan malas-malasan dan tidur sepanjang waktu, hal tersebut menunjukkan ketidaksungguhan kita menyambut bulan Ramadhan, padahal anak kecil aja semangat nyambutnya (pagi saur, solat subuh jamaah lanjut jalan-jalan trus sekolah, nah masak kita mau kalah sama bocah?), sebagaimana hadist di bawah ini:

... Orang puasa jika terus menerus menghabiskan waktunya dengan tidur, pertanda kelemahan darinya. Apalagi bulan Ramadan termasuk waktu mulia, seyogyanya seorang muslim mengambil manfaat darinya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, mengais rizki dan mencari ilmu. (Al-Lajnah Ad-Daimah lilbuhuts Al-Ilmiyyah, 10/212)[1]

Nggak mau kan di cap lemah dan tidak berdaya sama manusia, apalagi sama yang nyiptain kita? Nah ini motivasinya biar kalian jadi semangat bergerak di bulan puasa.

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. DIAMNYA ADALAH TASBIH. DO’ANYA ADALAH DO’A YANG MUSTAJAB. PAHALA AMALANNYA PUN AKAN DILIPATGANDAKAN.[2]

Sunday, 28 May 2017

Temen yang baik?



Temen yang baik?
???

2000 – 2017. 17 tahun. (Sekolah dasar – sekarang)

1998 – 2004, temen yang baik itu yang bisa diajak main setiap pulang sekolah. Yang setiap hari bisa ketemu, main, ketawa bareng, sepedaan bareng sambil nongkrong di rumah Delly atau warung pertigaan jalan. Yang mau diajak beli nasi rames barengan, basket, yang hobi caper ke pak guru atau bu guru sama seringnya, atau cuman yang rela sy contekin pas ujian. 

2004 – 2007, temen yang baik itu yang kamarnya barengan. Yang bisa diajakin gantian baju, peralatan sehari-hari, yang mau dipinjemin duit dan sering jajanin makan, yang nggak pernah ngasih kue bolu waktu ulang tahun, yang mau minjemin walkman waktu dia lagi dengerin lagu hits jaman dulu, yang rela nyuciin baju sambil misuh-misuh cuman karena lecek, yang mau diajak nyuci piring barengan, yang rela nganterin ke kamar mandi waktu ketakutan, yang minjemin novel dan mau berbagi piring makanan, dan satu lagi – yang bisa diajak kabur barengan naik taksi atau sekedar bus omprengan. 


Saturday, 15 April 2017

Perjalanan

Setiap orang melakukan perjalanan, itu kata kuncinya, setiap hari, setiap saat – dari rumah ke kantor, dari rumah ke kampus, di jalan, di toko, semua orang bergerak.

Lalu, dalam perjalanan tersebut, saya mengamati – baik bus, kereta, atau pesawat, hampir di setiap terminal tunggu dan atau kursi di dalam kendaraan yang membawa ke suatu daerah atau lokasi selalu penuh diisi orang hendak menuju tujuannya masing-masing. Puluhan, ratusan. Hampir selalu penuh dan tidak meninggalkan satu kursi kosong, kecuali beberapa keadaan di luar kebiasaan. Siapa yang harus didahulukan? Tidak ada bukan? Semua sama –

Lantas apa yang menarik?  

Saya akhirnya mengambil makna bahwa sejak dalam proses pembuahan kita memang selalu melakukan perjalanan. Tidak terkecuali sampai detik ini. Kita semacam air yang bergerak menuju muaranya, dari hulu ke hilir, mengikuti arus apa yang kita tuju. Dalam proses menuju tujuan yang hendak kita tuju dari suatu perjalanan, kita bertemu banyak orang, banyak budaya, banyak kondisi, dan banyak hikmah yang dapat dipetik – mengajarkan pada kita lebih dari yang sekedar diajarkan oleh bangku sekolah, kesabaran, ketenangan, kerendahan hati dan syukur.



Monday, 3 April 2017

Fokus saja ke depan


Jadi pemenang, siapa sih yang nggak mau? 

Pertanyaan saya klise banget kan ya? 

Selalu tampil terdepan. Unggul. Dominan. Dibangga-banggain, dipuji, disanjung. Banyak yang nge fans. Dan segala keuntungan yang mengekor di belakangnya yang pasti menimbulkan iri dengki di hati orang lain.



Tapi, untuk tampil terdepan selalu butuh usaha bukan? Tidak ujuk-ujuk atau tiba-tiba dapat kita wujudkan. Yang aneh, sebagian orang kadang menjadi terdepan dengan cara menjatuhkan, merendahkan, dan menjelekkan temannya. Akhirnya, disadari atau tidak disadari, focus kita untuk menjadi terdepan menjadi tidak murni lagi – niat kita justru berubah bagaimana caranya untuk bisa mengalahkan orang lain. Padahal, untuk jadi tinggi kita tidak perlu merendahkan orang lain bukan? 

Bagi saya, menjadi pemenang adalah ketika kita focus mengalahkan diri sendiri. Bukan orang lain. Mengalahkan malas, alasan-alasan, mengalahkan kesombongan, dan ketidakkonsistenan yang kita punya. 

Menjadi terdepan adalah ketika kita berfokus pada perbaikan diri sendiri. Bukan malah focus terhadap kelebihan atau celah yang bisa dijatuhkan dari musuh atau lawan kita. 

Tuesday, 19 July 2016

Nyinyir (Part 1)

Kenapa kok dia gitu banget sih?
Gak diajarin apa sama org tuanya?
*kemudian hening.

Bicara soal orang lain emang nggak pernah ada abisnya. Nyela, nyacat, nyindir, nyinyir, nggosip, dan sebagainya yang biasa kita lakuin sehari-hari. Udahlah nggak usah pada munafik dengan nggak ngakuin penyakit yang satu ini. Saya juga ngakuin kok kalo kadang saya kebawa lingkungan, kadang karena sebel, dan lebih banyak karena kepancing penasaran. Apalagi yang namanya PEREMPUAN. wkwk

Kita ini udah ketularan penyakit lingkungan, suka nyela apa yang orang lakuin, suka aja komen apa aja yang bisa kita komen, gatel nih mulut kalo nggak komen. Tetangga naik haji komen, tetangga sakit komenin lagi. ada yang nikah komen, ada yang jadi janda duda komenin lagi. herannya, produksi kata-kata untuk mengomentari hidup orang lain nggak akan pernah habis, apalagi kalo ketemu sama biangnya gosip. Udah kayak botol ketemu tutup. Nggak bakal selesai, cucok. Padal apa sih salah mereka ke kita? Sampe harus sebegitunya ngomenin pedes ke mereka? Kita itu sebenernya iri, marah, atau cuman kurang kerjaan aja?

Gini ya, seandainya idup mereka ketimpa musibah dengan cerai dari suaminya, sakit karena terlalu sibuk, kekurangan uang, gabisa kuliah dan harus kerja keras dan semua alasan yang bisa kita komenin itu – idup mereka udah cukup susah untuk nanggung itu semua. Udah cukup berat ngrasain perpisahan, nangisin kenangan, kerja keras buat makan atau hal apapunlah yang sebenernya kita sama sekali nggak ngerti. Kita, cuman ngabisin waktu buat mencoba jadi benar sementara mereka nggak ngrasa ada yang salah sama mereka. Idup mereka doang lagi nggak sesuai harapan, tapi mereka bisa bangkit. Dan kita? Cuman jadi komentator sinis padal belum tentu bahagia juga.

Pertanyaannya adalah, apa kita ini udah jadi orang bener sampe boleh nyalahin orang?

Friday, 1 July 2016

Selamat Tinggal


Di jalan. Tangan-tangan memeluk pinggang.
Aku bercerita. Ditemani angin & daun gugur berserakan

Peluk erat. Seperti esok tak bertemu lagi
Ceritamu panjang. Tak habis ku sela. Seperti tau waktu akan menipis.

Semakin intim bahasa semakin habis waktu
Di ujung pemberhentian. Berjanji bertemu esok lagi

Tapi angan. Janji hanya sekedar janji.
Waktu kemaren ternyata sudah usang.

Dan pertemuan hanya akan jadi angan.
Kita sudah pada persimpangan jalan.
Selamat tinggal ...

Pagi. Ajakmu makan bersama. Di kedai opor di dekat lapangan.
Kita bertemu di simpang desa.
Mobilmu menunggu di ujung gang. Berwarna merah, wajahmu tersenyum dari balik kaca.

Kaca bergeser pelan, kau melambaikan tangan.
Lesung pipitmu nampak bersemu.
Duduk bersama. Bercengkerama.

Tangan kanan di kemudi mobil, dan tangan kiri di sela jariku. Hangat.
Seperti tak ada lagi esok nikmati jalan berdua.

Tapi kenangan tinggal dikenang.
Selamat tinggal ... 

                                                         suatu waktu, Mei, 2016. 
                                                                   

Tuesday, 7 June 2016

Dua Puluh Empat

Ngomong-ngomong soal umur, dua hari lagi, umur saya dua puluh empat. Bayangin, dua puluh empat, kalau dari kecil saya udah produktif soal duit, ibadah dan karya, sudah bisa dapet apa ya sebenernya kita? Sudah bisa apa ya kita sekarang?

Dua puluh empat.

Dikali dua belas bulan, kali tiga puluh hari, ketemunya delapan ribu enam ratus empat puluh hari, dua ratus tujuh ribu tiga ratus enam puluh jam dan saya ngrasa belum punya pencapaian apa-apa. Saya masih kuliah, semester tiga, masih jadi anak dari bapak ibuk saya yang bahkan nge haji in mereka belum bisa, masih suka minta duit, masih ndompleng nama mereka, belum juga ketemu jodoh, belum manfaat buat lingkungan, belum bisa manfaat buat sekeliling apalagi keluarga, nabung buat dunia belum, nabung buat akhirat apalagi. Saya masih mbrangkang buat jadi baik, saya masih musti disuapin banget. Duh gusti, saya baru sadar, umur saya kemaren buat apa aja ya? Apa yang bisa saya pamerin ya?

Dua puluh empat tahun saya itu ngomong-ngomong buat apa aja ya?

Beberapa lawakan sodara saya begini, “ibukmu lho dek, umur dua puluh empat udah punya anak dua, mbah uti lho dek apalagi – anaknya udah banyak, lha nikah aja umur belasan tahun”. Nah kita? Gandeng jodoh aja belum mbak. Yakan lagipula ini bukan soal balapan motor? Siapa yang di depan yang menang. Gitu kan ya?
Oke, ini kegelisahan saya yang kesekian yang sebenernya nggak perlu dirisauin karna jodoh urusan Tuhan, dan yang penting kita mau doa dan usaha aja. Di umur yang segini nih, pertanyaan yang paling sering muncul ya itu, kapan nyusul? Nggak bosen sendiri terus? Lah elo kataa kita mau begini-begini terus, kita juga pengen punya keturunan kalik, tapi ya emang belum dikasih waktunya, mau gimana lagi?

Dua puluh empat.

Seharusnya, kalau liat rumput tetangga, saya udah bisa nyicil ngebangun rumah, mbeliin mobil, beli simpenan buat diri sendiri dan orang tua, daftar haji atau minimal umroh deh ya, kayak anak-anak yang lain yang pada kerja di perusahaan bonafide – bisa cuti tahunan, liburan ke luar negeri. Tapi? Yang seharusnya itu belum tentu sebagamaimana adanya to? Ngimpinya bertahap aja deh ya. Perbandingan itu selain nggak baik buat diri sendiri juga nggak baik buat orang lain. Sukses menurut kacamata kita beda sama sukses di kepala orang lain. Asal ada kegiatan yang bisa bikin kita selalu tambah baik dan nge upgrade diri sendiri udah cukup kan ya?

Monday, 6 June 2016

PULANG

Yaaah, udahh ramadhan aja ya. Nggak berasa banget.
Alhamdulillah bisa ketemu ramadhan lagi.
*nyimak.

Ada dua golongan orang yang punya sikap berbeda nyambut bulan puasa. Oke whatever ya kalian mau nyebut bulan puasa atau ramadhan. Atau, bisa jadi malah ada lebi banyak golongan sebenernya. Golongan pertama golongan yang biasa aja nyambut ramadhan, malah terkesan males sebenernya, itu bisa diliat dari komen awal dia pas udah ada iklan sirup marjan. Gini nih, “yaaaah gabisa makan siang lagi deh besok. Puas-puasin deh sekarang makannya”.

Golongan kedua, yaaang excited banget sama puasa, dia udah beli mukena, nyiapin kurma, marjan, gula tropicana slim, stok beras – gandum – lauk sampe sebulan berikutnya. Yang nggak lupa pasti persiapan hatinya. Saya sih mau ketemu sama golongan mana aja bodoamat, yang jelas saya suka aja ketemu ramadhan. Itu berati saya masih dikasih umur sama Allah, masih dikasih kesempatan nebus dosa, masih dikasih kesempatan ngrasain nikmatnya bareng keluarga. Duh, saya jadi sadar kalo Ramadhan, selain proses mbersihin ati – juga sebagai proses mendekatkan diri sama orang lain. Dekat silaturahmi lho yaa.

Kenyataan lain yang saya sadari, ternyata saya lebih suka menghitung progress idup saya dari ramadhan ke ramadhan berikutnya, karena dengan begitu saya tau Allah masih sayang sama saya dengan diizinin memperbaiki diri bareng-bareng sama orang banyak. Waktu dari ramadhan ke ramadhan adalah nikmat Allah yang nggak ada duanya.

Kalian lebih suka yang mana? Tahun baru masehi atau ramadhan aja? Saya nggak tau apa yang musti saya introspeksi in kalau tahun baru masehi, progressnya nggak keliatan, aktifitasnya juga nggak keliatan, kegiatan saya cuman tidur-tiduran doang nunggu pada nyalain terompet sama petasan. Atau, bikin acara bakar-bakaran sama sodara – temen deket – gebetan dan udah. Nggak ada kegiatan bermanfaat lain yang saya kerjain, misalnya tadarus – iktikaf atau apalah. 

Saturday, 4 June 2016

Aku kangen.


Perjalanan 1000 kilometer. Aku. Duduk manis di kursi mobil.
Pemandangan sawah. Gundukan pasir. Buku kumpulan cerpen eka kurniawan.
Judulnya perempuan patah hati yang menemukan cinta dari sebuah mimpi. Apa aku boleh masuk di dalamnya? Ikut bermimpi dapat cinta lagi?

Dari balik kaca kuamati kakek nenek bercengkrama.
Ibu dan anak saling menggenggam tangan, menyeberang.
Anak-anak sekolah berlari, tertawa, lantas saling mengejek.
Sederhana.
Dua orang di depanku sibuk menyambung kata.
Katanya di Madura tak ada gereja. Orang di sebelahnya mengerutkan kening.
Bertanya? Sambil sesekali menunjukkan raut muka tidak percaya. Apa benar?
Dunia orang dewasa memang kadang tak bisa dimengerti.
Raganya sibuk disana, tapi hatinya enggan.
Matanya melihat kesana, tapi hatinya menuju tempat jauh.
 
Aku sibuk mengamati. atau entah mencari.
banyak kejadian yang terlampau asik untuk diamati.
Tapi kepalaku sedang tidak disini.

Aku kangen.



Thursday, 2 June 2016

Apa sih yang kita cari?

Apa sih yang sebenernya kita cari?
Kesibukan ? Duit banyak?
Pengalaman? Pahala?
Apa?

Flashback deh kegiatan kita sehari-hari

Bangun tidur, ngecek hape, senyum senyum sendiri ada yang ngucapin met pagi, abis itu mandi, sarapan, kerja, dan tau-tau waktu udah muter sampe malem lagi. Sampe kita nggak sadar betapa waktu cepet banget ganti, pagi ke malem, malem ke pagi. Sampe kita nggak sadar, manfaat nggak sih idup kita ini?

Coba lagi deh tanya sama diri sendiri.

Apa sih yang sebenernya kita cari?

Kesibukan?

Bukannya kalo cuman nyari kesibukan, kamu tinggal wara-wiri aja seenak kamu, gangguin orang seenak udel, numpang di kost orang, ngegosip sama tetangga, ngaji, tadarusan, ikut pengajian, kerja bakti, beresin rumah, mbantuin orang tua, nyari duit kek, proyekan apa diserobot semua kek. Kenapa harus atas nama uang kamu mau kerja dan giliran disuruh orang tua kamu males-malesan? Bukannya semua itu kesibukan?

Yang kamu cari pengalaman?

Bukannya pengalaman itu bisa didapet dimana aja? Kenapa kamu ngebatesin itu semua cuman buat jalan-jalan di tempat wisata, nongkrong di kafe hits, nyobain segala macem makanan yang bikin ngiler di instagram. Kenapa nggak ngedalemin diri kamu sendiri dan ngeluarin semua potensi yang ada? Beli buku, silatuhahmi keluarga – guru – tetangga, syukuran ke anak yatim, jadi relawan, Ikut pelatihan apa kek. Ikut majelis yang bagus kek. Kamu yakin yang kamu kejar pengalaman? Bukan sekedar pengakuan orang kan ?

Tuesday, 31 May 2016

KERJA? APA ENAKNYA COBAA?

Eh, kerjaan lo enak ya? Bisa maen gitu mulu.
Bos lo enak juga, diminta izin buat kuliah dikasih. Ngapa-ngapain dikasih.
Enak bangeeet yeee idup lo.

*haree geneee seuus, mana ada kerja yang enak?
Nelen liur.

Haha, saya sih ketawa aja kalo ada yang bilang gitu.
Saya maen dibilang enak, liat enaknya doang sih kalian. Padal sih kalo diomongin?
Enak juga. Wkwk.

Nah dia ngajak bercandaannya suka kelewatan. Gimana nggak bercanda sih ya, tadinya dia cuman nyinggung dengan bilang, enak ya bisa kerja, enak ya bisa dapet gaji dan maen pake duit simpenan sendiri. Abis gitu dia cerita betapa nestapanya dia pas lagi nganggur gini. Padal ya, padahal nih, kalo kerja dia ngeluh, pas resign dia ngeluh juga. Bingung juga saya nanggepinnya, kalo ada orang begitu ya saya senyumin aja.

Iya sih enak saya dapet bos yang begitu, yang saya bisa ngatur waktu sesukanya sesuai jadwal kuliah saya. Enak banget pokoknya mah. Ga penting juga kan nyeritain nggak enaknya idup kita? Apa orang lain bakal peduli. Tapi apa ya dia pikir saya cuman bakalan maen dan maen doang. Saya dikasih enak juga harus mikir ngasih gampang juga doang buat yang saya ikutin. Saya dipercaya, ya saya harus ngasih feedback yang bagus buat si bos, minimal semua kerjaan beres, cepet, dan bisa diandalkan. Kita kerja harus ngeluarin semua yang kita punya. Tenaga oke, otak oke, waktu oke. Semua itu aturable, iya kan?

Saya puas, si bos puas. *kedengerannya agak salah ya? wkwk

Buat kalian yang baru aja bilang kerja itu enak, pasti nggak mikir deh, bahwa segala sesuatu yang enak itu pasti hasil upaya dan jerih payah dengan waktu yang lama.  Semua orang yang kerja ngikut orang bagi saya itu gaenak. Kalo minjem istilahnya si ika natassa ya semua yang jadi karyawan cuman statusnya cungpret. Kacung kampret. Mau dipanggil jam berapa aja oke, walaupun gaji puluhan jeti juga statusnya tetep ngekor kan ya? Daaan, yang harus kalian tahu adalah, semua butuh pengorbanaan.
Pertanyaannya adalah, enakan kerja atau nganggur males-malesan?

Sekalipun kerja itu kadang-kadang harus ngumpulin niat seribu watt buat bangun pagi, harus masang alarm tiap lima menit, harus ndomblong di kamar mandi dulu pas mau mandi, harus nyetrika buat nyiapin baju, buat nyiapin segala berkas ini dan itu, macet di jalan, dan segala hal yang harus kamu siapin buat kerja dan sampai di tempat kerja, saya bakalan tetep milih ... KERJA.

Kenapa gitu?

Nah loh, kita dikasih tenaga, fleksibilitas, otak dan banyak anugrah dari Tuhan itu buat mikir. Buat usaha. Buat kerja. Buat menghasilkan sesuatu. Nggak cuman ngejogrok doang males-malesan, yang abis bangun tidur, makan, tidur lagi. Semua hal punya konsekwensi besar buat idup kita ke depan, dan walaupun secapek dan sepusing apapun yang saya rasain waktu kerja, saya bakalan tetep milih buat, KERJA.

Apa ya kalo kita dikasih sehat, badan fisik sempurna, otak pinter cerdas, dan kendaraan buat mobile kemana-mana, kita cuman mau ngorok ngejogrok doaang? (sadis)*maluuuu mas mbak sama imam-imam jaman dulu yang tujuh taun aja udah apal qur’an. Maluuuu sama atlet renang yang maaf* cacat ituuu tapi bisa berkarya, maluuu sama anak kecil yang jadi pianist di luar negeri itu. Kita nih,  kita yang sempurna secara akal fisik malah nganggurin semua fasilitas Tuhan yang kita punya itu. Masih nggak mau mikir juga?

Secara manusiawi ya, dipikir pake rasio, setiap orang selalu pingin punya karya. Punya hasil. Punya pencapaian. Itu yang normal lho ya, nggak tau deh kalo yang otaknya agak kesrimpet kabel kaset lama, jadinya mikir kalo idupp itu ya cuman go with thee floooow. Yang jalanin aja kayak air mengalir. Heeeh, air itu mengalir juga punyaa tujuaan mbaak. Bukan tanpa tujuan. Jadi lucu aja kalo denger orang yang nggak punya tujuan, tapi cuman plongah plongoh gitu aja. Secara 24 jam kita itu sama, dan buat yang lain bisa sukses pake 24 jamnya itu, kita masih gini-gini aja? Malu nggak sih? 

Friday, 27 May 2016

Apa yang kalian rindukan dari pandanaran? (1)

 Kenapa bisa masuk pandanaran?

Tahun 2004 lulus sd.
Awalnya saya nggak mau banget. Saya sudah di ultimatum sama embah, ibu, dan semua budhe bulek kalo lulus sd ya harus mondok. Temen-temen saya yang lain? Ah mereka sibuk nyari smp favorit dulu, ya kalo boleh sombong saya sepuluh besar dulu di sd. Dan buat masuk smp bagus kayanya juga memungkinkan banget. Tapi pilihannya cuman dua waktu itu, mau di gontor apa di pandanaran? Alasannya cuman dua, karna satu sodara saya yang satu di gontor dan satunya lagi di pandanaran.
Apa boleh buat?

Kenapa harus mondok?

Itu diwajibin sama mbah saya. Saya nggak punya jawaban lain.
Keluarga saya emang agamis banget, semuanya hampir mondok, semuanya hampir dijodohin, dan semuanya harus manut sama tradisi mondok itu. Katanya mondok itu bagus. Dan waktu itu, saya yang nggak punya pilihan harus mau nggak mau masuk kesana. Kalo nggak mondok suruh angon kambing katanya.

Penilaian orang lain tentang pondok? Minus.
Mereka selalu bilang pondok itu identik dengan buangan. Buangan anak nakal lah, buangan anak broken home lah, dan sebagainya.

Padahal, menurut saya, pondok itu tempat anak-anak kece bersarang. Iya nggak sih?

Apa kesan kamu di pandanaran?