.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label essay. Show all posts
Showing posts with label essay. Show all posts

Tuesday, 8 July 2014

Salam Jempol ID

Besok tanggal 9 juli. pemilu pilpres untuk 5 tahun kemudian.

Saya ingin ikut berpartisipasi merayakan euforia demokrasi dengan menulis di blog ini. Kurang dari 60 menit tanggal akan berganti, dan saya pikir semua sudah siap dengan pilihannya masing-masing. Nomor urut 1, atau nomor urut 2.

Kedua pilihan tadi sama memiliki kelebihan dan kekurangan, kebaikaan – keburukan, di luar itu semua kewajiban kita hanya satu, meyakinkan diri sendiri – untuk lantas memberikan suara agar tanggung jawab negara berpindah kepada salah satu dari mereka. Soal kelebihan dan kekurangan, mungkin ada baiknya hanya Tuhan dan jejak rekam sesungguhnya yang tahu. Walaupun kita tidak dapat melepaskan semua hal itu untuk sebuah penilaian.

Beberapa hari lalu ...

Saya sempat muak dan enek dengan berbagai macam status membela capres cawapres pilihan orang lain yang bernada menjelekkan, merendahkan, bahkan mengkafirkan. Hal tersebut juga terjadi di dalam rumah saya sendiri (oke saya masih numpang :D). Perasaan tersebut mungkin dialami oleh beberapa orang dari saya, atau mungkin malah sebagian besar. Jika diamati di seluruh media sosial, kampanye besar-besaran sedang terjadi. Ya, saya tahu, demokrasi terjadi di semua lini. Hingga akses/sarana untuk refreshing saya ikut-ikutan dimasuki untuk berdebat hal yang setiap harinya sama. Facebook rame saling sindir, twitter apalagi, portal berita online lebih gila lagi. Semua berita serasa tidak segar kalo tidak membahas prabowo, atau jokowi.

Ya, sebagai seseorang yang memahami betul kebebasan berpendapat, saya menghargai pendapat seseorang terhadap keyakinannya. Alasan-alasan kenapa harus memilih si dia, atau apapun juga di dalam opininya. tapi, bagi saya pribadi, menuliskan pilihan dan sederet alasannya di media sosial bukanlah tempat yang tepat untuk demokrasi – apalagi dengan bau nyinyir saling menjelekkan dan merendahkan. Status atau tulisan apapun yang berbau politik di waktu yang sekarang akan sangat sensitif bila dikaitkan dengan pemilu kali ini. Lebih khusus lagi, tulisan seseorang tentang siapa yang dia sukai/tentang siapa yang dia pilih selalu berpotensi mengarah terhadap ajakan atau himbauan agar memilih si orang ini dan mengabaikan orang itu. ya, itu wajar, mengingat tulisan menjadi salah satu langkah paling efektif untuk meracuni pikiran orang. Hal tersebut dapat dilihat dari menjamurnya berita, opini, bahkan surat menyurat terbuka dari satu pihak ke pihak yang lainnya. bahkan saya tidak tahu sudah berapa teman pena yang mereka dapat dengan saling berbalas surat dan menjelekkan satu sama lain itu. 

Menulis status merupakan salah satu bentuk karakter seseorang. Kamu, adalah apa yang kamu tulis. Bahasa yang kamu gunakan, pemilihan kosakata yang dipilih menunjukkan bagaimana level seseorang dan karakternya. Maka jika ada seseorang yang berani berkata kasar/merendahkan orang lain, bisa jadi suatu gambaran bahwa – orang tersebut menjelekkan dan mengasarkan bentuknya sendiri di hadapan orang lain. Padahal, kita dapat menahan diri di berbagai situasi yang lain - tapi akhirnya harus kalah pada situasi yang mudah terpancing seperti sekarang ini.

Negatifnya, menurut saya, hal tersebut bahkan dilakukan oleh orang yang seharusnya dapat mengerem dan menjaga tingkah polahnya. Hal tersebut dilakukan oleh orang yang seharusnya bisa dijadikan panutan untuk siswanya. Oke, abaikan sikap ini. Semua orang mungkin berpeluang menjadi kekanakan dalam satu keadaan, dan berubah menjadi dewasa di keadaan lainnya. Dan saya tidak berhak ikut mengejudge siapapun yang telah melakukannya. Kedewasaan mungkin tidak berkaitan dengan usia, apalagi strata. Kedewasaan murni karena tempaan lingkungan dan teman. Apalagi hal tersebut sudah dibumbui dengan perasaan dan fanatik, kita tidak akan bisa menjamah argumennya karena hal tersebut mutlak didasari pada suka dan tidak suka, bukan fakta/opini. Maka jelas, disini berlaku hukum – siapapun yang disukai akan nampak baik, dan yang tidak disukai akan nampak buruk.

Semua bermula dari kesukaan, keyakinan, kesubyektifan seseorang memberikan suaranya. Disadari atau tidak, perasaan suka atau tidak suka itulah yang membuat kita memberikan asumsi buruk bagi yang lainnya, walaupun tidak seharusnya kita bersikap kekanak-kanakan ketika menyukai seseorang lantas menjelekkan pihak yang satunya lagi. Issue-issue buruk mulai menyerang kedua belah pihak, yang sejujurnya hanya berkutat pada hal yang itu-itu saja. Prabowo dengan issue pelanggaran ham nya, dan jokowi – dengan bonekanya mega. Yang saya sesali lagi adalah issue agama yang menyerang salah satu pihak dan hal tersebut justru dimulai oleh kalangan kita sendiri. Dengan mudahnya mengharamkan atau menghalalkan padahal mereka menjadi panutan. Inilah yang kemudian membuat saya berhati-hati, karena saya tidak tahu bagaimana cara mengkafirkan – dan mengharamkan seseorang. 

Jujur, saya malah jadi bingung untuk memilih siapa, ketika dua belah pihak justru berbalas saling menjelekkan. Menjadi tidak jelas siapa yang tidak jelek jika kedua belah pihak saling menjelekkan. Belum lagi berita semakin simpang siur. Saling meledek dalam sesi debat. Satu kesalahan menjadi fatal padahal kita adalah makhluk yang tidak pernah tidak salah. Seolah, kita menginginkan seseorang yang sangat sempurna untuk dipilih, padahal kita pun tidak akan sempurna. Maka hal yang baik di situasi demikian adalah, cukup menunjukkan kesungguhan dan niat baik, lantas seluruh warga negara indonesia akan memberikan suaranya. Masyarakat kita sudah cukup cerdas untuk memilih mana yang baik atau buruk, memilih mana yang pantas mana yang belum. Kesalahan di masa lalu mungkin pernah dilakukan salah satu pihak, tapi bukan berarti pihak lain akan menjadi lebih unggul dengan mengungkit aib masa lalu pihak lainnya. kita membutuhkan pemimpin yang saling menghargai dalam berbagai keadaan. Yang menerima dan mau berbesar hati dalam kemenangan atau kekalahan.

9 juli hanya beberapa menit lagi ...

Lakukan dengan santun untuk membela dan memilih seseorang yang kalian yakin akan membawa perubahan. Seperti ladya cheryl yang ikut membersihkan sampah setelah konser salam 2 jari untuk perubahan. Seperti ustadz salim A. Fillah yang memberikan surat demikian indahnya untuk prabowo tanpa merendahkan pihak lain, seperti darwis tere yang memilih diam untuk tidak membuat orang lain teryakinkan dengan pilihannya karena ketidaktahuan, dan beribu orang lainnya lagi yang memilih diam – namun tetap yakin untuk memilih, tanpa harus saling menjelekkan. tunjukkan kedewasaan dalam sebuah pilihan.

Kita saudara. Mau siapapun presidennya, kita tetap harus berjuang bersama.

Sunday, 16 March 2014

Jokowi, gaya ndeso yang dielukan

            Jokowi, beberapa hari yang lalu telah menyatakan kesiapannya diusung menjadi capres dari salah satu partai, PDIP. Ia mengumumkan kesiapannya setelah diperbolehkan oleh ketua umum PDIP, bu Mega. Semua heboh, heboh semua. Taruhlah santai tulisan yang hendak saya tulis ini. Saya hanya hendak ikut memberikan pendapat sebagai warga Negara Indonesia. Tak hendak protes, atau akan  ikut melayangkan gugatan atas wacananya yang akan meninggalkan ibukota sebelum janjinya dahulu terealisasi – ini bukan bagian saya. 

            Saya piker semua sepakat menyatakan bahwa ada “perbedaan” antara gaya kepemimpinan jokowi dengan aparat pemerintahan lain. Dan kebanyakan orang akan ikut berpendapat sama, bahwa prestasi jokowi di  politik sangat cepat. Naik signifikan setelah menjadi walikota solo, gubernur Jakarta – yang kesemuanya belum selesai, kini hendak dicalonkan menjadi presiden.

            Siapa sangka? 

            Sosok sederhana yang jauh dari kesan  pintar dan pantas itu adalah seorang yang ternyata diidolakan  banyak orang? Dielu-elukan banyak masyarakat? Mau bukti? Oke, kita lihat survey sebelum jokowi menyatakan kesiapannya menjadi capres. Semua survey terus memasukkan nama jokowi menjadi kandidat teratas, tidak peduli siapapun pasangannya, atau tidak peduli atas dasar apa – survey jokowi untuk menjadi capres selalu menjadi tingkatan teratas.

            Lalu apa yang menjadi daya tarik dari seorang Jokowi yang terkesan – biasa biasa saja?
            Sebuah uji coba perlu dilakukan berkaitan dengan hal ini. Jika anda seorang pengamat, maka ketiklah nama jokowi – dan berita apa saja yang mengelilinginya. Semua berita tersebut hamper menjadi trending topic di medsos dan topic utama di portal berita yang dinikmati pembaca, abaikan berita lain yang lebih hot dibanding politik seperti gossip artis.  

            Saya masih curiga bahwa justru karena kesederhanaannya itulah yang menjadikan semua orang seperti terpana pada Jokowi. Kalo bahasa jawanya, kesirep. Bahkan, beberapa tokoh menyatakan dan mengingatkan agar kiranya masyarakat Indonesia tidak terlalu memuja Jokowi. Dia- sama manusia biasa seperti yang lainnya. Dan harapan yang terlalu tinggi akan menimbulkan kekecewaan. Perbandingan mulai dibuat oleh para tokoh tersebut, dan yang dijadikan contoh adalah … SBY. 

            Kembali lagi pada pesona Jokowi. Gaya pemerintahan yang Bossy sudah terkenal dimana-mana.  Mereka punya bawahan yang siap disuruh melakukan apapun. Mereka punya ruangan nyaman dan fasilitas serba waw untuk duduk bersantai dengan AC tanpa perlu kepanasan. Mereka punya tunjangan dan kendaraan mewah yang bisa mengantarkan mereka plus status keren yang dibawanya, dan sederet kebiasaan bonafide para petinggi Negara dengan segala macam fasilitasnya. 

            Tapi … 

            Jokowi memilih tetap menggunakan baju biasa, jauh dari kesan mahal – bahkan beberapa berita dan pernyataan beliau lugas mengatakan bahwa baju yang ia kenakan hanya seharga 35.000 rupiah. Wajahnya yang ndeso, aksennya yang “gitu kok repot”, atau ekspresinya yang jauh dari kesan sombong menjadi cirri khasnya. Gaya kepemimpinannya yang blusukan – meninjau setiap hari lokasi yang perlu dibenahi juga menjadi favorit masyarakat Indonesia kali ini. Entah apa alasannya, entah masyarakat yang terlalu fanatic hingga untuk melihat jokowi secara langsung sudah langsung berbahagia – atau hanya dengan didengar keluh kesahnya dengan gayanya yang bersahaja mereka sudah menangkupkan sejuta harapan pada si pembawa pembaharuan ini. 

            Ya, harapan.

Semua orang suka pada harapan. Tidak terkecuali saya. Kesan  tulus dan  ikhlas. yang ditampilkan jokowi sepertinya membawa harapan pada semua aspek masyarakat Indonesia yang kian lama kian semrawut. Tidak usahlah panjang lebar kata, intinya – Jokowi datang dengan niat membenahi, tidak untuk korupsi, atau  popularitas semata. Itu yang saya lihat. Tidak peduli apa kata orang, atau dikatakan terlalu memuja – saya hanya melihat ada secercah harapan yang dibawa Jokowi.

            Sudah banyak contoh petinggi Negara yang menampilkan kesan glamour, sosialita, sok keren, angkuh dan terlalu mengikuti gaya. Yang akhirnya terlalu menimbulkan kesenjangan antara si miskin dan si kaya.  Banyak yang sudah muak dengan strata miskin dan kaya. Wakil rakyat, adalah wakil dari rakyat. Yang menyampaikan aspirasi rakyat. Bukan berada dia atas tingkatan rakyat karena kekuasaan, atau karena hartanya. 

            Mungkin ini yang perlu diwaspadai sebagian dari mereka, wajah-wajah ndeso yang tidak nyleneh dan bersahaja mau mendengar keluh masyarakat inilah yang ternyata menjadi harapan baru masyarakat Indonesia.
           
           


Monday, 23 September 2013

Kita dan Pekerja Rumah Tangga (bagian dua)



Versi Pemerintah Kota Yogyakarta dan Propinsi DKI Jakarta dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Libur Mingguan Bagi Pekerja Rumah Tangga, menggunakan definisi, yang dimaksud dengan PRT adalah, “orang yang tidak termasuk  anggota keluarga yang bekerja pada seseorang atau beberapa orang dalam rumah tangga untuk melakukan pekerjaan kerumahtanggan dengan memperoleh upah”.

Sedangkan pengertian lainnya, PRT  adalah “orang yang bekerja pada seorang atau beberapa orang dalam rumah tangga untuk melakukan pekerjaan kerumahtanggaan dengan memperoleh upah”[1]

Berdasarkan kedua definisi di atas setidaknya ada 4 elemen pokok yang terdapat dalam pengertian PRT. 

Pertama, adalah orang yang bekerja, dalam hal ini adalah PRT.
Kedua, orang yang mempekerjakan atau yang kemudian disebut sebagai majikan.
Ketiga, melakukan pekerjaan kerumahtanggan.
Keempat, mendapatkan upah. [2]

Atau kepanjangan dari istilah PRT , Pembantu rumah tangga, atau  pekerja rumah tangga. Dapat kita bandingkan kedua pengertian di atas, jika indonesia – atau lingkup yang lebih kecil lagi, kita sebagai manusia yang beradab dan mengerti hak asasi satu sama lain, mana pengertian yang lebih cocok dan manusiawi diantara kedua hal tersebut?

PRT : adalah pekerja rumah  tangga, bukan lagi sebuah singkatan yang mendiskriminasikan kehadiran atau pekerjaan mereka dengan menyebut pembantu rumah tangga. Ada perbedaan signifikan dari kata “pekerja” dan “pembantu” disini. Sudah jelas dong yaa?                     

Kita dan Pekerja Rumah Tangga

Pembantu rumah tangga dekat sekali dengan kehidupan wanita, dan kita. Pekerjaan yang nampak sepele namun sesungguhnya membutuhkan stamina dan tenaga yang tidak sedikit. Waktu yang panjang, dan keikhlasan. Misalkan saja, mencuci baju, mengepel, menyetrika, membersihkan segala macam  rumah dan segala macam perabotnya, berbelanja kebutuhan sekaligus memasak, hal ini masih dapat ditambah dengan aktifitas mengurus anak majikan, mengurus orang tua si majikan yg sudah tua renta bahkan sampai pada taraf disuruh melayani tamunya majikan. Wwaw!

Seharusnya, pekerjaan yang sangat rumit bin rempong ini mendapatkan perhatian lebih banyak tinimbang pekerjaan lain yang jamnya lebih jelas dan gaji yang jelas juga. 

Indonesia merupakan pemasok “tenaga kerja” dalam tanda kutip pembantu terbesar di asia, dan sebagai penyumbang devisa terbesar akibat pengabdian mereka ini - mereka sama sekali belum diberi jaminan untuk dapat bernafas lega bekerja di rantau sana. Seminim-minimalnya adalah gaji yang dua arah dalam pembuatan kesepakatan yang diesuaikan dengan beratnya tanggungan dan jam kerja.

Belum lagi hal ini juga berlaku di negeri sendiri, tidak adanya penghargaan dan penghormatan bagi mereka yang sesungguhnya sudah meringankan pekerjaan kita. (Lumayan kan kita jadi nggak perlu ngepel, nguras, dan bla bla bla setelah capek kuliah, maen atau kerja?) harusnya kita memberikan apresiasi semacam hari libur, tambahan gaji, atau seminim-minimalnya adalah keramahtamahan kita menjadikan mereka bagian dari keluarga. Atau mungkin dengan kata lain “kehangatan”. Ouch! Kata ini sungguh sangat tidak seksi.
  

Wednesday, 3 July 2013

Bangsa yang lembut

tergelitik dengan pernyataan Prie GS yang menyatakan bahwa negara ini sungguh negara yang lembut. hanya karena satu kalimat yang membuat saya berpikir lantas mengiyakan argumennya tersebut. saya rasa, saya mulai dihipnotis oleh pola pikirnya.
jika mau dilihat kejadian beberapa tahun silam, datangnya masalah silih berganti di indonesia - memang cukup jadi bukti bahwa negeri ini adalah negeri yang benar-benar menjunjung adat ketimuran. ramah sekali pada orang-orang, pemaaf, berbesar hati menerima kekalahan, dan semua hal dianggap sederhana (sangat legowo). bahkan sekalipun itu adalah hal yang membahayakan bagi keselamatan dan kesejahteraan banyak orang.

saya berikan contoh :
"air seni". betapa hebatnya indonesia menyebut dan memberikan wibawa bagi air kencing manusia. sekalipun, ada benarnya, bahwa seni disini bisa saja diartikan sebagai proses alamiah organ manusia yang memproduksi sesuatu. toh nyatanya air kencing memang berguna kan? 

lanjut lagi. kasus pak harto, kasus ariel, kasus sumanto, dan kasus bla-bla-bla yang menyerang kesejahteraan indonesia. bayangkan hujatan yang dilontarkan beberapa tahun lalu dengan sekarang? saya pikir inilah bentuk kelembutan masyarakat indonesia. terlalu mudah menyimpulkan, terlalu mudah menghujat, dan di satu sisi kemudian - kemudian hari, dia menjilat ludahnya sendiri dengan mengelu-elukan mereka. jujur, saya malu. untuk pribadi saya sendiri, bukan lingkup masyarakat luas. ketegasan pola pikir memang menuntut manusia untuk menjadi berbeda. mungkin ada benarnya juga kalimat yang pernah saya dengar, saya lupa sumbernya : bencilah sifatnya, bukan membenci orangnya

dan kemudian saya menjadi tersadar. saya sudah tertarik kuat pada kumparan lingkaran ini. mudah memaafkan dan menganggap biasa hal-hal yang dulu dipegang teguh untuk menjaga wibawa manusia. rasa malu, ewuh pekewuh, kesopanan dalam bicara dan bersikap, kini sudah jarang ada diantara kita. untuk konteks kasus di atas, saya pikir semua manusia memang bisa berubah dan butuh dimaafkan. tapi maaf inilah yang kemudian disalahartikan, ada sekian banyak manusia yang belajar dari kesalahan. dan ada sebagian kecilnya yang justru memanfaatkan keadaan.

jadi, negeri yang penuh dengan seni ini. saya masih bangga, dan masih yakin, masih ada segelintir orang yang bisa dianut dan dipanut. tidak semua kebobrokan membuat mentalitas rakyatnya ikut bobrok. tapi mempertegas jati diri, tak ada salahnya. negeri yang lembut jelas bukan berarti negara yang mudah dimanfaatkan.


Saturday, 22 June 2013

"Tahi" Cantik

“Ya ampuuuun, lalat sering banget ya nemplok di muka kamu?”

Saya mengerutkan kening refleks, bingung. Lalat? Apa ada hubungannya dengan nama saya latifa?

“itu, tahi lo banyak banget.” Dia ketawa mangap. Saya menepuk jidat. Tambah bingung. dia ngomong jorok? ngatain saya juga? * double notes.  

Aduh aduh, sejak kapan itu nama tahi lalat jadi arti sesungguhnya? Itu  kan cuman istilah, dan istilah itu nggak pernah sesuai sama yang namanya kenyataan. Kalau toh iya itu emang asli tahi lalat yang nemplok di muka saya, emang lalat pernah buang “tahi” ya? tapi beneran deh, saya belum pernah lihat “tahi” nya. (sori ngomong jorok, piiiip ****** sensor).

Tuesday, 14 May 2013

Pengaruh Televisi dan Jam Malam


Dengan menonton televise, ada dua hal yang bisa saya dapat. Kebaikan yang disebarluaskan, lantas yang kedua adalah; keburukan yang diajarkan tanpa sadar. 

Berita-berita yang marak di televise saat ini lebih didominasi dengan berita buruk yang dianggap sebagai suatu hal wajar. Korupsi, seks bebas, pergaulan yang kelewat batas, narkoba, aborsi, geng motor, penistaan agama, pelecehan seksual dan apapun itu yang benar-benar di luar adat ketimuran dan juga syariat keagamaan. Tak ada agama yang mengajarkan demikian (kalau toh memang dikaji dari segi agama). Tidak ada adat yang memerintahkan hal yang demikian, meskipun dalam praktek, kelonggaran budaya barat yang mulai mendominasi sedikit menggeser ketimuran yang kita banggakan, hingga yang tersisa – kita benar-benar mendapat stigma bangsa yang mudah sekali dipengaruhi oleh perkembangan zaman.

Tidak ada yang bisa kita andalkan terhadap kinerja pemerintah sekalipun ada ganjaran atau hukuman atas pelaku-pelaku kejahatan di atas. Karena pengupayaan pemerintah dalam efek jera tak bisa dijadikan jaminan, apalagi landasan keberhasilan mengurangi kejatahan. Tapi lagi-lagi, semua kembali pada diri sendiri. Sangat tidak efektif hanya dengan mengandalkan boneka seks untuk mengurangi perselingkuhan, perzinahan; perda/undang-undang yang melarang PNS mempraktekkan poligami. Apalagi mengandalkan sepatu anti perkosaan untuk menghindari pelecehan seksual dari para wanita yang memang berhati-hati menjaga auratnya, meskipun saya apresiasi kepandaian saudara smp saya tersebut dengan inovasinya untuk melindungi para wanita Indonesia- mungkin juga dunia. 

Dan belum lagi, rasa kuasa yang dimiliki para lelaki berkantong tebal untuk melecehkan wanita dari segi (kebendaan) dengan memberikannya iming-iming uang, sekalipun wanita memang mudah sekali dirayu dengan hal-hal berbau kemewahan. Geng motor yang beralibi di balik kumpulan nama motornya untuk melancarkan aksi bejatnya; memperkosa, membunuh, mencelakai banyak orang tidak berdosa. Bukankah hal tersebut termasuk dalam klasifikasi pengecut? Bersembunyi di balik kegagahan uang dan motor besar? Di luar itu semua, manusia yang baik memang tidak harus menanggalkan nama pribadinya sendiri untuk jadi orang lain agar lebih dikenal eksistensinya. Menjadikan uang dan barang mewah sebagai subyek, dan mereka sendiri – sebagai obyek.

Ada beberapa saran yang bisa saya berikan terkait dengan segala macam hal yang terjadi di atas. Dan semoga kita bisa belajar bersama, sekaligus mematuhinya bersama-sama. 

1.      Peraturan tentang jam malam sangat berguna disini. Tidak ditujukan untuk semua kalangan, tapi untuk mendidik para generasi yang sebenarnya tak punya kepentingan untuk lebih baik mendekatkan diri pada keluarga, memperdalam skill positif, dan menghabiskan waktu yang bermanfaat. Memberi izin pada anak yang tidak berkepentingan juga dapat diduga menjadi sebab timbulnya geng motor, karena pada faktanya; belum pernah ditemui geng motor yang aktif beraksi di pagi-siang- atau bahkan sore. Sekalipun ada, mungkin itulah geng motor yang dalam tanda kutip bersih dari maksud jahat di baliknya.

2.      Hidupkan lagi tradisi dan adat ketimuran. Bukankah zaman dahulu semua Nampak baik-baik saja dengan hidup sederhana, katrok, dan lugu-nya? Tidak pamer, tidak perlu kemana-mana menggandeng pacar, atau yang lebih menyulut permusuhan dan permasalahan adalah pola pikir yang mendarah daging bahwa dengan kaya semua orang bisa bahagia. pada akhirnya, semua menghalalkan cara – karena orientasi yang dikejar manusia hanya mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.

3.      Pacaran- adalah salah satu hal yang amat banyak membawa dampak positif dalam hal ini. fitrah manusia adalah berkasih sayang, seperti sifat Tuhan manusia yang Maha Pengasih dan Penyayang. Maka positif yang akan saya sebutkan adalah, pacaran sungguh membawa positif dua manusia yang sedang jatuh cinta menerobos batasan-batasan yang sudah ditata oleh nenek moyang. Dalam cerita pewayangan pun, akan anda dapati bahwa perjodohan banyak ditemukan di dalamnya, jadi menurut saya perjodohan bukan sesuatu yang buruk; bisa jadi malah alternatif terbaik yang serupa dengan pemberitahuan di supermarket/toko-toko besar "pecah wajib ganti". 

Seperti perjodohan sri rama dan sinta putra janaka. Maka positif dari pacaran adalah, mengundang mara bahaya yang lebih besar yakni seks bebas, perkosaan, hamil di luar nikah, dan konsekwensi terburuk yang dijatuhi hukuman adalah aborsi. 

4.      Ajarkan pada orang-orang terdekat kita saling peduli, empati. Hingga saling iri dan permusuhan itu diminimalisir.

5.      Ubah pola pikir kebanyakan, bahwa orientasi kehidupan adalah uang, dengan kasih sayang. Maka segala macam yang diawali dengan niat baik dan tidak ambisius tidak akan menutup mata serta hati kebanyakan manusia.  

Dan sudah saatnya kita, memberi contoh dan mengajarkan pada saudara, teman, tetangga untuk saling berbuat baik juga bermanfaat. ada baiknya juga mungkin kita merubah nama geng motor menjadi Geng-Gong. Yang berarti, geng untuk menabuh gong kebaikan. Bukan sebaliknya.