.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label duniakebalik. Show all posts
Showing posts with label duniakebalik. Show all posts

Sunday, 4 June 2017

Critical eleven sebuah review : NOVEL VS FILM

Sebelum bicara pada ranah inti, ada baiknya kita memaklumi dengan jelas bahwa selalu ada perbedaan imajinasi yang dituangkan dalam sebuah buku – dan kemudian diangkat ke dalam layar lebar. Ya, sudah pasti akan ada banyak perbedaan. Entah itu gambaran tokoh ideal, latar, atau jalan cerita itu sendiri. Untuk mendeskripsikan suatu keadaan, atau ekspresi yang terdapat dalam suatu tokoh novel tentu saja tidak akan selalu sama karena lagi-lagi persepsi dan ekspektasi pembaca jauh dari standar. Semua orang punya pikiran. Sehingga dari persepsi dan ekspektasi itu tidak dapat diseragamkan. Jadi saya jelas memahami bahwa kritik dan saran mengenai film yang diangkat dari suatu novel sudah pasti akan menuai banyak komentar, dan tulisan saya ini hendak memberikan review dari kacamata saya sebagai pembaca setia novel ika natassa – dan penonton filmnya.

Saya sungguh mengapresiasi IKA NATASSA sebagai penulis novel ini, gaya bahasanya yang mengalir – kadang saya seperti mengalami perasaan yaaanggg “ini gaya gue banget, bikin ngakak, dan yang paling parah bikin mesam mesem sendiri”, dan sederet kalimat indahnya dia yang simple membuat saya berekspektasi tinggi terhadap film ini.

Apalagi, pemainnya kece-kece bukan? Siapa yang nggak kenal reza rahadian? aktor yang beberapa tahun terakhir mengambil hampir seluruh porsi pemain laki-laki dalam suatu film. Aktor yang berulang kali masuk kategori awards dan bahkan memenangkannya. Sampai setelah saya melihat trailernya di instagram, dalam hati saya berniat begini “SAYA HARUS NONTON FILM INI, BANGET!”

Sudahkah kamu mengerjakan skripsi hari ini?


Eh kamu seangkatan sama dia ya?
sekarang s2 atau udah kerja?
*GLEK. Boro-boro s2, skripsi aja belum kelar.

Bicara soal skripsi, beberapa mahasiswa melewatkan waktu terlalu lama untuk menyelesaikan tugas akhir ini (minoritas). Setahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan bertahun-tahun HANYA untuk menyelesaikan skripsi. Oke, maafkan saya kalau menggunakan kata HANYA. Tapi, skripsi memang HANYA sebagian urusan kecil yang sebenarnya mudah kamu selesaikan dibanding dengan masalah lain di hidup kamu semacam patah hati, atau ditinggal pergi. Wkwk.

Untungnya titik lemah dalam mengerjakan tugas akhir ini akhirnya dapat diminimalisir dengan kebijakan baru dari pemerintah yang mewajibkan bahwa kuliah jenjang strata satu hanya punya batas waktu maksimal 7 tahun, dan sekarang berubah menjadi 5 tahun, kalau lebih – (D.O). Kebijakan ini setidaknya membantu mahasiswa memaksa dirinya sendiri untuk berubah (oke, kalau paksaan dari dalam tidak cukup maka butuh paksaan dari luar bukan? )

Fenomena ini sudah jadi rahasia umum di kalangan mahasiswa. Oke, saya bilang ini fenomena, karena sudah jadi hal yang biasa. Yang sudah biasa ini semoga tidak jadi kebiasaan. Dulunya alasan yang digunakan memang valid karena sebagian besar dosen di jaman dulu memang nomor satu killernya, yang kalau boleh dikatakan intinya adalah lebih ribet (ini kata ibu saya atau alasan ibu saya sebagai pembenaran dari kuliahnya yang lama. wkwk). Dosen-dosen pada jaman dulu kala, era tahun 90 an katanya lebih sempurna daripada Tuhan, yang salah sedikit bisa fatal akibatnya (lebih berwibawa, susah kompromi, dan harus dihormati). Hal tersebut diperparah dengan belum ada internet, komputer jinjing, keyboard seperti jaman sekarang, dan literatur yang sulit ditemukan.

Nah lalu, jika pada era tahun 90 an saja banyak sekali tulisan yang produktif yang bisa dihasilkan orang-orang, kenapa pada zaman sekarang yang kemudahan dan fleksibilitas di elu-elukan (komputer dimana-mana, google mudah diakses, dosen mudah diajak komunikasi), untuk membuat skripsi saja sebegitu lamanya bagi mahasiswa? Kalau sebagian besar bisa tepat waktu, kenapa sebagian kecil ini menunda-nunda menyelesaikan kuliahnya? Apa penyebabnya?

Akhirnya, dari seluruh pengalaman yang saya alami, dengan melihat dan mengamati kondisi sekeliling, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan bahwa – ada 2 prinsip besar yang harus kita pegang teguh untuk mengerjakan sesuatu hal. 2 hal? Apa saja?

Oke here we go.

Monday, 3 April 2017

Fokus saja ke depan


Jadi pemenang, siapa sih yang nggak mau? 

Pertanyaan saya klise banget kan ya? 

Selalu tampil terdepan. Unggul. Dominan. Dibangga-banggain, dipuji, disanjung. Banyak yang nge fans. Dan segala keuntungan yang mengekor di belakangnya yang pasti menimbulkan iri dengki di hati orang lain.



Tapi, untuk tampil terdepan selalu butuh usaha bukan? Tidak ujuk-ujuk atau tiba-tiba dapat kita wujudkan. Yang aneh, sebagian orang kadang menjadi terdepan dengan cara menjatuhkan, merendahkan, dan menjelekkan temannya. Akhirnya, disadari atau tidak disadari, focus kita untuk menjadi terdepan menjadi tidak murni lagi – niat kita justru berubah bagaimana caranya untuk bisa mengalahkan orang lain. Padahal, untuk jadi tinggi kita tidak perlu merendahkan orang lain bukan? 

Bagi saya, menjadi pemenang adalah ketika kita focus mengalahkan diri sendiri. Bukan orang lain. Mengalahkan malas, alasan-alasan, mengalahkan kesombongan, dan ketidakkonsistenan yang kita punya. 

Menjadi terdepan adalah ketika kita berfokus pada perbaikan diri sendiri. Bukan malah focus terhadap kelebihan atau celah yang bisa dijatuhkan dari musuh atau lawan kita. 

Friday, 24 March 2017

Definisi Memberi

Definisi memberi, bagi saya bukan persoalan dia kaya atau miskin, dia anak pejabat atau pedagang biasa pinggiran, atau dia kerja kantoran bonafit dan yang lainnya kerja jadi jongosan. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan materi. Give. Memberi. Share. Berbagi. Bagi saya sama saja memiliki arti dan filosofi yang lebih dalam dari sekedar “nih gue kasih”, atau “gue ada kado nih buat elo”. Memberi disini juga nggak dibatasin persoalan barang, atau obyek yang bisa dilihat – tapi segala sesuatu yang bisa di apresiasi. Dirasa, dihargain, dinilai.  

“Memberi adalah cara lain menerima”. Itu kalo kata saya.



Memberi adalah persoalan kerelaan, dan tentu saja tindakan yang menunjukkan seberapa besar kasih sayang kamu buat seseorang. Contohnya saja, bagi orang yang lama pacaran dan atau teman karib bertahun-tahun, sudah pasti nggak mikir beribu kali buat ngasih gift sama mereka yang dianggap special. Tapi saya bukan mau bahas soal kerelaannya. Saya mau mbahas soal kesungguhan. Kasih sayang. Behind the storynya. Kenapa bisa gitu ya?

Kado yang harganya 35 ribu aja bagi saya adalah hal spesial yang merupakan akumulasi tindakan hebat dari orang lain. 35 ribu aja kata saya? Kecil banget dih.  Oke, dari segi harga mungkin semua bisa beli, kamu juga pasti yakin bisa beli itu bahkan berlipat-lipat. Tapi apa kamu tahu apa saja kejadian di balik pemilihan si barang itu? Apa pengorbanan dan story di balik kado buat kamu itu?

Dan disini, 3 alasan bahwa orang yang mau ngasih kamu kado adalah orang yang sangat sayang sama kamu, here we go:

1.   Setiap pemberian membutuhkan niat

Oke, boleh aja bilang semua orang bisa beli kado. Tapi cuman yang bener-bener niat yang bisa ngelaksanain niatan itu. Kenapa harus niat? Yaiyalah, karena ini bukti awal kepedulian mereka. Entah celetukan ke temen dengan ngomong, aku mau beliin dia ini ah. Aku mau nyurprise in dia ini juga deh, dan lain sebagainya. Hal-hal begini cuman bakal dilakuin sama orang-orang yang sayang, berhati besar, dan ngerelain sedikit pikiran dan hatinya buat mikirin kamu.

Lah, emang kalo nggak baik, nggak kenal, nggak deket, atau nggak ada modus apapun masih ada nih orang mau ngasih Cuma-Cuma. Kalaupun ada, itu juga 90 banding 10 kan ya? Ini baru niat aja nih, niat kan kudu dipikirin mateng-mateng juga. Saya percaya, setiap orang yang sayang – pasti selalu pingin ngasih hal terbaik yang bisa diusahain dari dia.

So, persoalan niat baik aja udah bisa jadi awalan yang hebat kan?

Saturday, 7 January 2017

5 Hal penting sebelum utang dan ngutangin

Ih mba, mas, duitnya udah ada belum ya?
Aku lagi butuh banget ni. Bisa ngga dikembaliin sekarang?
*aduh sori lagi ga ada. Kamu bisa minjem ke orang lain dulu ga?
#salto kayang.



Ada banyak alasan yang perlu kamu pikirin ketika seorang temen, atau siapapun yang kenal kamu udah berani minjem sesuatu dari kamu, barang, kendaraan, dan apapun itu macamnya, terutama duit. Jaman sekarang, orang udah nggak pake basa/basi lagi dan nggak punya malu kalo emang lagi butuh duit. Dikit-dikit utang, ga peduli deket atau jauh, ga peduli kesannya nodong atau minjem, dan ga peduli itu sering ketemu atau enggak. Termasuk saya. Tapi eits, jangan gampang dilepas gitu aja uang yang kamu punya itu. Karena setelah kamu nglepas tuh duit, akan ada banyak konsekwensi yang harus kamu tanggung dan kamu perlu mastiin gimana respon kamu setelah semuanya kejadian gitu aja.

5 alasan kenapa kamu harus berhati-hati ketika mau ngasih pinjeman duit ke orang lain. Oke here we go :

1.   Bener-bener orang yang kamu percaya

Minjemin duit tuh gak se-enteng nglepas temen di kelas waktu SMP atau SMA yang mau minjem pulpen atau penghapus kita. Ini tarafnya udah di atas itu. Pulpen, pensil, penghapus, atau penggaris adalah hal murah yang mudah kita dapetin. Paling juga cuman seribu dua ribu juga udah bisa beli lagi. beli dimana aja juga dapet. Toko kecil atau gede. Nah masalahnya adalah, Duit itu, dewa. Duit itu bisa jadi rejeki, bisa juga jadi penyakit, bisa ngrusak silaturahmi.

Duit. Siapa sih yang jaman gini gak butuh duit? Gak ada kan?