.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Wednesday, 14 June 2017

DUA LELAKI


02.00 WIB, Suatu tempat. 

Dua lelaki itu saling melempar botol kaca. Berteriak. Memaki. Menghajar. Matanya merah, penuh amarah. Mereka abaikan kerumunan orang yang sedang asik masyuk bergoyang, berdansa, menikmati hentakan musik dari DJ yang kelewat keras. Tapi siapa peduli, mereka asik dengan dunianya sendiri. Yang lain juga. Mungkin hal seperti ini sudah biasa.

Sepertinya aku mengenalnya, dua lelaki itu, yang sedang saling melempar gelas itu, tapi hentakan musik di ruangan ini terlalu pekak, mataku samar. Mungkin aku mabuk. Atau mungkin halusinasi. Kulangkahkan kaki mendekat – ingin sekali melerai dan bilang hei buat apa berkelahi? Apakah gara-gara wanita? CIIH. Aku meludah sendiri. Tapi aku terjatuh menabrak meja. Lelaki tua di sebelahku membantuku kembali duduk. Kuurungkan niatanku melerai, biarkan sajalah, kunikmati saja sisa gelasku.  

PYAARRR! 

Lelaki berkacamata itu memecahkan botol kaca di kepala lelaki hitam manis berkemeja. Pelipis lelaki itu berdarah. Tawa lelaki berkemeja semakin sinis, beringas, ia berdiri – menyerang balik, menghajar sekenanya, sebisanya. Dari jauh perkelahian itu semakin asik. Kudengar mereka meneriakkan namaku, satu kali, dua kali, entahlah. Musik disini terlalu keras. Aku tak ingat. 

Dari balik kerumunan orang itu kulihat petugas keamanan klub datang. Satu dua orang melerai, petugas keamanan berteriak memaksa berhenti. Tapi mereka terlanjur asik dengan pesta mereka. Mereka terlanjur asik dengan ego mereka. 

Kepala mereka sudah terlanjur bersimbah darah. 


Wednesday, 8 March 2017

Mengubah energi negatif menjadi positif



Begitu banyak energi yang ada di sekeliling kita, entah itu termasuk dalam golongan negatif atau positif, yang jelas seluruh energi tersebut mengelilingi kita setiap waktu, setiap saat, setiap hari. Mau tidak mau, sebagai seorang yang diberikan kelebihan oleh Allah hati dan akal, seluruh energi tersebut harus dapat dikendalikan, harus dapat diolah, karena disadari atau tidak, pengaruh energi lingkungan dapat menular kepada siapapun – tidak terkecuali kepada kita. 

Energi negatif itu termasuk makian, kata-kata kotor, umpatan, cacian, hinaan, ejekan, dan segala macam hal yang menimbulkan perasaan tertolak, tidak diterima, dan semacamnya. Sedangkan energi positif biasanya menimbulkan perasaan bangga dan penerimaan. Persoalan yang baik-baik pasti tidak akan menimbulkan masalah. Kedua energi tersebut bergantung kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, teman-teman, keluarga, saudara, dan rekan kerja, jika energi di sekeliling kita lebih dominan positif maka pola pikir dan energi yang kita ambil juga akan sama positifnya, dan sebaliknya. Lantas kangen termasuk emosi yang mana

Tergantung bagaimana respon kalian terhadap seluruh emosi tersebut. Apabila dari emosi tersebut dapat dirubah, maka segala sesuatunya menjadi tidak penting. Semua hal dalam perasaan anda menjadi sepenuhnya kendali anda. Ingat, seluruh yang ada pada anda – khususnya perasaan, adalah kendali anda. Jadi jangan mudah dikendalikan oleh orang lain.
 
Lantas bagaimana keadaannya jika sedikit saja energi negatif merusak kegiatan sehari-hari, semangat dan bahkan hubungan sosial manusia? Lantas apa yang harus dilakukan kita sebagai manusia yang bijak untuk mengubah energi negatif yang ada menjadi energi positif kepada orang lain?

Kita seringkali mengalami peristiwa seperti di atas, ada seseorang yang tiba-tiba merusak mood, atau merubah energi yang tadinya sudah positif menjadi berubah jelek. Istilah kasarnya adalah kita sudah tercemar emosi negatif oleh mereka, padahal, kendali perasaan ada pada kita sendiri. Kalau begitu, apakah artinya kita yang mudah di remote/kontrol/kendalikan oleh mereka? Ya, bisa jadi. 


Saturday, 7 January 2017

5 Opsi Nabung di bawah 2 jutaan buat kalian

Bing beng bang
Yuk kita ke bank
Bang bing bung
Yuk kita nabung
Tang ting tung hey
Jangan dihitung
Tau tau kita nanti dapat untung
(mari nyanyi, wkwk)

Ini lagu nge hits jaman saya kecil dulu, yang anak 90 an pasti tau lagu ini. Yang nyanyi Titiek Puspa sama artis cilik kayak trio kwek kwek dan banyak. Betapa senengnya kalau anak jaman sekarang juga dikasih lagu-lagu khusus kayak begini, yang buat konsumsi anak kecil juga – syarat sama nasihat, bukan kayak lagu jaman sekarang yang cuman cinta-cintaan. *abaikan curhat saya. Lagipula judul tulisan saya bukan soal lagu anak-anak yang hilang dari peredaran.

Oke back to theme deh ya, saya nulis lagu itu karna mau nge flashback waktu saya ngedenger lagu itu. Lagu yang nyuruh kita nabung, nyemangatin nabung. jaman kecil saya dulu, waktu TK sama SD, kita udah dibiasain nabung dengan sistem bulanan atau harian yang nanti disetor ke guru. Entah jumlahnya lima ribu atau berapapun, yang penting per hari nabung. bentuk bukunya kayak buku SPP, warna kuning buluk, merah muda buluk, atau ijo buluk. (maap, jaman dulu percetakan belum sebagus sekarang. Wkwk)

Nabung udah jadi hal krusial di idup semua orang. Kalau mau apa-apa ya kalau bisa dengan sistem nabung. bukan dengan sistem kredit, walaupun kedua-duanya sama aja setor bulanan dengan jumlah yang sama. Nabung harus dibiasain dari kecil, biar anak atau sepupu, ponakan kita termasuk orang yang menghargai proses. Bukan orang yang cuman fokus sama hasil. Orang-orang yang nabung adalah orang yang tau dan mau ngupayain sesuatu dengan usaha yang jelas – kontinuitas, konsisten, sabar, menikmati upaya, usaha, dan habis itu menuai hasil. Cuman orang yang nabung dan berusaha kan yang bisa menuai hasil dari jerih payahnya?

Nabung, kalau mau dilihat spesifik dari artinya adalah menyisihkan, bukan menyisakan. Tapi orang jaman sekarang suka lupa definisi sesungguhnya dari menabung itu sendiri. Mereka nabung setelah menghitung seluruh kebutuhan, atau kalau udah sisa uang kebutuhannya. Disimpen belakangan. Padahal mah kan ya, menabung itu menyisihkan. Sekali lagi, menabung itu menyisihkan. Jadi selalu ada pada nomor dan urutan awal.

Banyak macam tabungan yang udah saya coba dari dulu. Mulai dari kelas receh sampe kelas agak berat. Saya mengakui taraf saya yang belum bisa nabung lebih dari dua jutaan karena penghasilan saya yang bisa disisihin segitu. Tapi saya selalu usaha biar tiap bulan bisa nyisihin duit tabungan. Kalau kalian emang belum punya mimpi bikin rumah, beli motor atau mobil, dan atau target yang lebih gedean – minimal kita bikin mimpi yang paling rasional buat dicapai. Kayak slogan nabung, dikit-dikit lama-lama jadi bukit, beli sepatu, jalan-jalan atau apapun pake duit tabungan sendiri kece kan?

Kalau kita bukan orang super kaya raya yang bisa beli apapun sekali kepengen, salah satu cara paling rasional adalah dengan nabung kan? Oke, lantas gimana dong caranya?



Caranya buat nabung adalah? Ya mulai aja. Mulailah menabung. Berapapun nominalnya.  Pengen tau pilihan apa aja yang bisa buat nabung orang-orang dengan penghasilan di bawah dua juta?

 Here we gooo ----

Saturday, 4 June 2016

Lelaki di ujung pintu (eps 1)

Aku selalu bermimpi punya kekasih bernama Dio. Tinggi. Manis. Berlesung pipit seperti sahabatku Anya karena lesungnya selalu membuatku ikut tersenyum. Kuceritakan semua mimpiku pada Anya, si mulut comel yang tak pernah berpikir bagaimana lawan bicaranya akan merespon apa yang keluar dari mulutnya. Dia hanya tertawa ketika kubilang tentang mimpiku. Dia bilang, hari gini masih aja ngimpi. Syukur dapet laki baik. Lagian, ngapain juga harus nama itu, apalah arti sebuah namaaa sih Raaa? *aku yang kali itu tak begitu peduli apa yang dikatakan Anya hanya tersenyum kecut.
Kupikir ia tak pernah benar-benar mengingat ucapanku itu.

10  tahun lalu.
Di halaman belakang sekolah, sebelah sungai dan jembatan menuju makam, kita dulu sering mencuri-curi pandang. Kau menungguku tiap bel istirahat berdentang, dan aku menunggu tanda itu dari perpustakaan seberang tempatmu berdiri. Aku menangkap senyummu. Sembari menyelipkan surat kepada tumpukan dedaunan, kau mengerlingkan mata. tanda sampai jumpa. Aku berpamitan pada ibu perpustakaan, dan diam-diam nakal mengambil suratmu. Ada bekas kecup bibirmu. Yang kubalas dengan kecupan lagi di tempat yang sama. 

Masih bangeeeet yee surat-suratan? Siti nurbaya banget deh eloo *terngiang ejekan sahabatku itu. 

Gak aneh kan punya sahabat yang mulutnya comel banget gitu? 

Tuesday, 5 January 2016

Fantasimu

Ada pada suatu masa nanti, dia yang kamu bilang tiada apa-apanya, yang tiada pernah kamu indahkan – akan kamu lihat kembali. Bukan sekedar melirik, tapi ragamu seutuhnya menoleh padanya. Tawanya, wibawanya, seluruhnya. Kau terpesona pada yang pernah kau anggap tiada. Mendadak kau lupa segala kata yang dulu pernah melukai harapannya. 

Dia bukan lagi sebagaimana dahulu, tetapi telah berubah menjadi idealmu. Yang baik, pandai, tampan, dan rupawan. Tidak semata karena fisik, hanya saja, kemapanan dan tanggung jawab yang kau pandang sebagai hal pokok untuk melihat seorang lelaki telah ada disana. Dan kau mulai berimajinasi lagi pada suatu waktu, dulu ...

“Katamu kau tak suka masa lalu.”
 “Harus dibuang jauh agar tak mengganjal langkahmu.”

Tapi jawaban pun mengenal waktu. Ingatan kita terbatas untuk menyangkal segala sesuatu yang pernah lewat, dan tak selalu dibantu untuk mengenangnya penuh. Kamu menyangkal segala yang dulu pernah kau ucapkan.

Lucu bukan? kini hidup terlalu lucu bagimu, mungkin juga baginya.  

Namun kini kau kembali pada titik itu. tidak tidak, bukan hanya kau – tapi semua orang mengalaminya. Belamu sendiri pada egomu yang muncul.

Kau menyalaminya. Berharap dia masih melihatmu utuh. Sebagaimana dia yang dahulu mengejarmu, memujamu, dan mengharapkanmu. Dia tersenyum, amat manis. Yang karena idealnya itu telah merubah kusutnya dulu menjadi manismu kini. Lucu bukan? Mungkin karena baju perlente dan dasi kupu-kupunya itu.

            Tangannya menyalamimu, masih hangat. Matanya tajam. Seperti ada binar. Tak bisa kau bedakan yang dulu dan kini.
Tapi dia melihatmu sebelah mata sekarang. Hanya tersenyum, sedikit. Hanya menoleh, sedikit. Wanita yang tetap cantik, dulu, bahkan sampai sekarang. Bertanya kabar, dan pada akhir pertanyaan itu – seorang wanita yang cantiknya mengalahkan keangkuhanmu datang menggelayut manja di lengannya. 

Monday, 31 August 2015

"I Love Youuu ... "

Afaf tertidur lelap di kursi mobil, setelah hampir 10 jam nonstop mengendarai rute jogja-jakarta. Aku yang sejak satu jam lalu tertidur akhirnya bangun karena ritme roda terus diam, dan ada yang aneh dengan segala macam yang hening. Aku tak suka keheningan, karena ia mengingatkanku pada segala macam yang tak ingin aku pikirkan. Perhatianku beralih padanya.

Dia tampak Lelah. Pulas. Dalam batas itu, ada beberapa yang diam-diam berdesir di dalam hati. Afaf terlalu aneh bisa sampai sejauh ini masuk ke kehidupanku. Datang dan sok kenal menyapa, duduk berdua di teras toko, menawarkan semangkuk jagung coklat hangat, dan perkenalan itu berjalan. Afaf tiba-tiba, entah ada darimana, selalu muncul di sekeliling mata. Aku mengambil kursus di satu tempat yang direkomendasikan teman, dan tiba-tiba datang di kelas pertama perkenalan.

“Hai semua, maaf terlambat. Nama saya Arfa Bayanata.”

Dan Afaf melangkah percaya diri duduk di sampingku.

“Hai.. “

Selanjutnya, kau tau yang terjadi – pertemuan terus menerus itu berubah menjadi sepasang perbincangan yang tiada henti. Dia menelponku setiap malam, bicara soal rindu, dan tiap kali dia tak menelpon di jam-jam itu, akulah yang kemudian dilanda rindu. Betapa Tuhan menganugerahinya mengambil hati dengan secepat itu. Padahal sebelumnya, aku tak pernah dengan sengaja meladeninya.
           
             Afaf masih pulas di tempatnya .

Kulit coklat. Alis tebal. Mata lebar. Dan senyum yang menghadirkan sepasang gigi gingsul serta lesung pipit itu kesan pertama yang bisa dia hadirkan, selain kenyataan bahwa dia adalah makhluk menyebalkan, yang tak bisa dipungkiri, dia memang menarik.  Namun begitu, semenarik apapun itu – aku yang baru saja selesai dengan menutup buku kisah lama tak bisa menyembunyikan bahwa dia jauh dari kriteria itu. Apapun itu. Tapi melupakan cinta lama membutuhkan cinta yang baru kan? 

Dia yang menyebalkan, sok kenal, sok aktif, dan kaku ketika memulai perdebatan. Dia yang mengkritikku sepele soal foto yang ditampilkan di profil whatsapp, dia yang mengajakku berdebat soal anjing, dan dia yang menolak idealismeku. Tak ada tanda-tanda dia sedang gencar melakukan pendekatan yang kurasakan, dan karena itu, dulu – aku begitu benci padanya. sampai akhirnya, ketika dia sudah berada jauh berseberangan kota, kami kembali bersapa, bicara hangat dan mengalir semua yang ada. Kami kembali pada ritme nada, kadang syahdu, kadang sedikit sumbang. Aku mulai memberikan perhatianku padanya.
         
Dalam diamnya berkelana di alam mimpi, sekelebat tentangnya masuk, menyelinap sembarangan, berkata bahwa kita telah sejauh ini. Afaf yang tak suka berkirim pesan singkat, dan aku yang tak suka berbicara panjang lebar berlama-lama dengan telepon genggam. pada kenyataannya kami tetap bertahan sampai detik ini. Aku mengalah untuk terus Afaf recoki dengan semua panggilan sayangnya itu, dan dia yang menurunkan ego demi membalas pesanku. Sekalipun dia tak menyukai itu. Kenyataan berkata bahwa, segala macam cinta adalah soal memahami yang terlebur antara dua menjadi satu. Hanya sesepele itu. sekalipun kami berusaha menekan ego sekuat tenaga, kenyataannya tak pernah sesepele apa yang terlihat.

                Dia baru saja pulang dari tempatnya yang jauh, mengambil cuti panjang hanya untuk bertemu denganku. Membicarakan segala yang tak pernah tersampaikan lewat telepon genggam, dan aku bernafas lega bahwa di matanya masih ada aku.

                “jam berapa yang? Aku tidur lama banget ya?”

Afaf mengolat panjang. Mengucek mata. Tersenyum seolah lelahnya telah sirna seusai tidurnya.

                “baru bentar kok, yang”

                “Love you ...” Aku tersenyum mengucapkannya. 

Monday, 6 April 2015

Goresan di selembar kertas

El memandangi kembali tumpukan buku lamanya di rak, buku yang kini hampir nampak seperti warisan tetua, usang, dan berdebu karena lama ia tinggalkan di kamar kostnya, buku-buku yang ia beli sejak dulu – sekaligus kenangan yang masih tersisa bersama Ai. Tak terhitung berapa kali ia kembali ke kota itu, kota kenangan – sekaligus kota yang ingin sekali dienyahkannya dari kepala. Setipis beda antara takut dan suka, kota itu – semakin ia merasa butuh untuk membencinya, justru semakin menariknya kembali kesana.

Tiap kali ia datang, tiap inci jalan yang ia lewati membawanya kembali ke masa lampau. Berputar. Seolah ia adalah manusia yang hidup di masa lalu. Sesampainya di rumah, ingatan itu bukan semakin berhenti, malah semakin menjadi-jadi. Ia hanya akan memandangi jejeran buku itu, lama. Sesekali sambil mengusap kaca-kaca bening di matanya. Dan hanya perlu sedetik untuk memutar kembali kenangan bersama...

“Sore itu, selepas kuliah Pengantar Hukum ia menjemput Ai di depan gedung kampusnya – awan terlihat mendung. Gelap. Beberapa kali petir menyambar. Tapi segelap apapun langit di atas sana, kebalikannya, hati El cerah sekali. Ia lupa membawa mantel untuk Ai, hanya ada satu mantel kecil yang robek di beberapa bagian yang selalu bertempat di jok motor tuanya. Ia hanya ingat janjinya pada Ai, dan benar, hujan turun. Deras. Ai justru tertawa lepas menerima tetes demi tetes dari langit menerpa wajah manisnya. Dari balik spion, El tersenyum – lebih lebar, seperti tahu kebahagiaan macam apa yang dirasakan Ai, ia biarkan mantel itu tetap di tempatnya semula. 

Jarang-jarang ia menemukan Ai selepas itu.

Ia tahu ia sedang rindu, selalu rindu, meski hanya berperantara setumpuk buku. 

Ia tahu. ia amat mencintai wanita itu.
 
El tersenyum getir. 

... di atas vespa tuanya Ai masih terus menangkap air di atas tangannya, El seketika tersadar bahwa mereka berdua tak mengenakan pelindung apapun. El merapatkan motornya di depan toko. Ai kembali menyunggingkan senyum. Manis sekali. 

“kenapa berhenti? Ai bertanya sambil mengarahkan pandangan ke jalanan.

Tanpa banyak berkata, keduanya tersenyum. "Kita berteduh sebentar". Kembali menatap ke arah jalan, menunggu hujan reda.

Sore itu mereka terlambat ke toko buku, hujan menahan mereka di depan toko itu. Lama. Hujan menyediakan waktu lebih lama untuk El dan Ai untuk berbincang.

***

Tangannya lincah mengambil satu buku, dibukanya perlahan - kertasnya yang mulai lapuk teroksidasi, warnanya yang mulai kekuningan – seperti kenangannya yang telah lama dimakan usia. El berdiri dengan buku itu di tangannya, selembar kertas terjatuh tanpa sengaja. Ia tersenyum lagi, mencoba berdamai dengan kenangan - foto Ai yang sedang tertawa melambaikan tangan padanya. 

Foto itu foto terakhir yang ia ambil sebelum Ai pulang ke kampung halamannya. Ai hanya bilang ia akan kembali lagi kesini, dan foto itu Ai gunakan sebagai tiket kepulangan untuknya.

Simpan ini, ini tiketmu menungguku”. Tawanya mengembang diantara puluhan orang di terminal. 

Foto itu ia selipkan bersama buku terakhir yang dibelinya, yang baru kali ini berani dibuka El. 

Dibukanya lembar demi lembar buku kenangan itu. Sebelumnya, ia tak pernah berani membuka buku itu. Ia takut akan kembali membayangkan Ai di hadapannya, El takut kembali berharap - walaupun tanpa membuka buku itu, El tetap membayangkan Ai. Kenangan tentang Ai tidak berhasil ia enyahkan,  tak seperti refleks tangan menepuk nyamuk yang menghisap darah. Ia tak bisa secepatnya mengenyahkan perasaan tak menyenangkan itu. 

Satu bulan berlalu.

Ai masih rajin berkirim kabar, bercerita kegiatannya sehari-hari disana. Ia bilang, ayah ibunya sedang sibuk mempersiapkan kejutan untuknya, Ai pikir hal itu adalah hal membahagiakan karena sebentar lagi hari ulang tahun Ai. El berpikir hal yang sama, tak sabaran memberikan kado untuk Ai sekembalinya Ai dari kampung halaman. Kabar gembira yang ia simpan erat-erat sejak lama. Kabar gembira yang semakin meresahkan harinya. Tak satupun hal luput dari cerita El kepada Ai, atau Ai kepada El, hanya perasaan mereka yang erat-erat disembunyikan. Seperti yakin waktu akan terus memihak pada mereka.

Dua bulan.

Tiga bulan.

Ai semakin jarang membalas surat El. Ulang tahun Ai sudah dekat. Tak pernah henti El bertanya kapan Ai akan kembali kesini? Apa ia sudah tak peduli dengan kuliahnya? Dan, pertanyaan itu - Apa ia tak rindu padanya? Sayangnya pertanyaan itu hanya ada dalam hati El, yang tak pernah berani ia tuliskan. 

Satu tahun. 

Ulang tahun Ai sudah terlewati beberapa bulan, dan tak pernah ada kepastian bagi El kapan Ai kapan kembali. 

Setidak pasti kapan hatinya akan mendapat jawaban atas pertanyaan pernyataan itu.

***

El girang mendapati tukang pos berhenti di halaman rumahnya, ia pikir surat itu adalah balasan dari Ai yang akan membahagiakan hatinya, seperti – “Aku akan kembali dalam waktu dekat, maafkan aku lama membiarkanmu bertanya-tanya, aku masih menunggu kado ulang tahun darimu”.

Berbulan-bulan ia tak lelah berharap pada Ai yang kembali datang padanya. Tapi kadang ia lelah, ia dihantui pikirannya sendiri, seperti terus menerus dikikis kepercayaannya bahwa ia akan kembali. 

Tapi pertanyaan itu, pernyaaan itu, bahkan tak pernah mendapat tempat sampai detik ini. Hanya seperti udara yang halus, pelan, terus menyelinap dalam pikiran. Merasuk ke darah perlahan. Tak bisa ia enyahkan.

Tepat ketika ia membuka lembar halaman di tengah buku itu, ia menemukan beberapa halaman kosong, beberapa baris kata. El mengenalnya, amat mengenalinya. Itu tulisan Ai. Seseorang yang ia tunggu sejak lama.

Tak perlu kata, diammu lebih dari jelas
Tak perlu tawa, senyummu lebih dari cukup
Satu kata “ya”, cukup
Satu kata “kita”, lebih dari cukup.
Airlangga ...
Juni, 2013.

El tertegun. Lama. Matanya penuh kaca-kaca, ia bahagia, lega – sekaligus berduka.

Ia tak tahu harus bicara apa. Egonya luruh.

Sebaris kata itu mampu memberikan penjelasan lebih dari cukup.

Buku yang terakhir diberikan Ai itulah jawabannya. Ia meminta penjelasan padanya.
Ia pikir waktu yang sedang mempermainkan hatinya. Tetapi ternyata bukan. Ia sendiri yang pengecut mengakui isi hatinya. 

Ia pikir ia sendiri yang lelah menunggu kepastian, ternyata di ujung sana ada orang lain yang lebih lelah menunggunya jujur pada diri sendiri. Tapi waktu kadang jahat ... rela menyembunyikan kebenaran lebih lama ...

El menangis dalam diam. Cukup untuk meruntuhkan segala macam pertanyaan dan ego yang dia simpan bertahun-tahun untuk Ai yang entah ada dimana sekarang. Tapi itu dulu ...

El sigap mengambil pena. Tepat di bawah tulisan Ai, ia menuliskan sesuatu. Sesuatu yang amat ingin dikatakan El.

Aku masih menyimpan tiket pulangmu.
Semoga waktu berbaik hati membawamu kembali untukku.
Aila ... “

Ia sadar ia amat terlambat, wanita selalu butuh kepastian. Dan selama itu, Ai tak pernah mendapatkan penjelasan itu dari El. El pikir, segala sesuatunya cukup hanya dengan penerimaannya terhadap apapun yang diminta Ai. El pikir, segala sesuatunya cukup tanpa harus ia utarakan. El pikir, segalanya cukup terang. Tetapi sekalipun terlambat, El tahu – rasa sakit itu, tidak sebanding dengan cintanya. Setidaknya ia masih bersyukur bisa mencinta.

Dan kenangan itu, ia beri nama – Aila.

Monday, 15 September 2014

Dendam Mince


/1/

Mince masuk ke kamar melati di hotel berbintang lima itu. Menenteng tas bermerk, mengenakan baju yang menampakkan kutang berwarna kemerah-merahannya. Sementara itu, di sampingnya lemah gemulai Pak Broto merangkulkan tangan di pinggang Mince. Pikirannya kemana-mana, memperhatikan lekuk badan Mince yang sungguh aduhai. Melihat rona merah bibir Mince, mengawasi terus menerus gunungan menjulang di balik dada Mince, sintal- padat - berisi, seperti jantan yang sedang mengawasi betinanya.

Sore ini, jam empat mereka janji bertemu di sebuah hotel. Pak Broto namanya, langganannya sejak lama. Jika harus diceritakan benar-benar fisiknya, sesungguhnya ia sudah tak bisa dikatakan muda lagi, mungkin hampir menjelang senja. Tapi mengingat uang yang akan dia dapat dari lelaki tua bangka itu dan segala upayanya membalaskan benci, Mince memilih mengiyakan ajakannya.

Tiba-tiba ia jijik melihat lelaki tua botak di sampingnya itu. Ia teringat ayahnya.

“Aku kangen kamu, Mince.!”

Tak kurang tiga butir pil kuat sudah diminum pak Broto. Bahkan hingga campuran madu dan telur mentah bersedia diminumnya setiap kali hendak bertemu dengan Mince. Mince tak perduli itu semua. Sambil melepas kancing bajunya satu persatu, Mince gemulai menghampiri. Melangkah perlahan ke arah pak Broto. Melihatnya dari jauh, pak Broto menarik paksa Mince mendekat. Memaksanya bulat-bulat memuaskan hasratnya. Hasrat yang hanya bisa bangkit karena Mince, mungkin karena usia, mungkin karena istrinya yang sudah sama rentanya. Kisut, dan tidak se sintal dulu.

Siapa yang tak kenal Mince? Gadis cerdas, elegant, dan tak suka keterikatan.

Maka itu dia memilih melakukan apapun yang jadi obsesinya. Termasuk menjadi perek simpanan om-om sekalipun.

/2/

Siapapun yang berkenalan dengannya, tak akan menyangka bahwa Mince punya cerita kelam dalam hidupnya, seorang penjaja seks, dan wanita yang tak pernah percaya bahwa pria punya ketulusan. Yang ia tahu, semua lelaki hanya punya nafsu di kepalanya. Dan lelaki-lelaki itu ia ibaratkan seperti kucing yang tak pernah bosan menanam benih ke banyak betina. Mince selalu sinis berbicara tentang lelaki, apalagi lelaki yang sudah memperkosa ibunya hingga lahir Mince ke dunia.

Dia benci lelaki! Terutama ayahnya yang bahkan tidak pernah dia lihat di dunia!

Ia tidak pernah merasa ia memiliki trauma. Ia waras, katanya. Tapi ibunya hampir selalu mengejeknya demikian. “Wanita pendendam”, itu kata ibunya selalu sebelum ibunya meninggal dunia. Mince masih ingat betul kalimat itu.

Pendendam?

Tidak. Dia hanya merasa dia perlu membalas semua tingkah ayahnya dulu yang membuat dia dan ibunya terlunta-lunta. Dan dia ingin melakukan apapun untuk bisa melampiaskan itu. mungkin dengan menjadi simpanan om-om itu, menaklukkan mereka.

Dengan bakat kecerdasan dan kecantikannya itu, ia masuk ke dalam lingkungan terlarang. Mince tahu caranya mengalihkan tatapan. Dia tahu bagaimana caranya menaklukkan orang di hadapannya hanya dengan sekali bicara. Dia punya argument yang mengagumkan. Sekali mendengar bicaranya, banyak lelaki akan tergila-gila padanya.

Pernah suatu ketika Mince didatangi lelaki soleh yang ingin melamarnya. Berdalih ingin meluruskan jalannya hanya karena melihat Mince yang berpakaian seksi dan begitu terbuka. Walau sebenarnya lelaki itu juga tersihir pesona Mince, dan dalih pertobatan itu dijadikan jalan mempermudah niatnya. Menggunakan ayat Qur’an, dalih dosa, neraka, taat, salah, setan dan berbagai ragam tipu daya lelaki soleh yang berkicau seperti burung Beo di depan rumahnya yang dipelihara Mamang Diman.

Ibunya juga pernah bilang tentang dosa. Tapi ia tak mengindahkan itu. dosa hanyalah hal absurd yang tidak bisa dia raba. Tentang dosa, neraka, balasan Tuhan. Siapa bilang Mince tidak takut? Sesungguhnya Mince teramat takut. Hingga hampir separuh dari penghasilannya ia sumbangkan ke panti yang dibuatnya, mendidik mereka, mengentaskan mereka dari kemiskinan, mengajarkan pribadi yang jangan sampai mau bergantung pada orang. Barangkali saja dosanya akan berkurang sedikit demi mengurusi anak fakir, yatim piatu di jalanan. Barangkali saja …

Hanya itu yang Mince bisa. Selebihnya, Mince akan kembali menjadi wanita penuh gairah nan menggoda. Mince, tanpa sadar tumbuh menjadi gadis yang terus menerus dibayangi dendam.

Ia belum berniat mengakhirinya.

Ia masih ingin membalaskan sakitnya.

Saturday, 28 September 2013

Morat-Marit



/1/
Remang-remang kuamati wajah anakku yang tertidur lelah di dipan kayu kamar gubuk ini. Bibirnya yang pasi, mengguratkan betapa banyak masa kanaknya yang belum mampu kupenuhi. Uang masuk taman kanak-kanak, susu bergizi dan bukan sekedar tajin, pakaian layak, atau mainan-mainan seperti milik Jujun anak tetangga depan rumah. Di sampingnya tidur meliuk mas Warso, keringat mengalir dari dahi-dahi lebarnya. Aku tepekur menatap mereka berdua, sayup-sayup perbincangan itu menggema di ujung-ujung gendang telingaku. 

Seharusnya kau berangkat dari dulu, nok! Itu si Minah, Woro, sama Uun udah bisa bangun rumah. Mbokyo kamu ikut-ikutan mereka juga, mbantu-mbantu aku nyari duit”  Ucap mas Warso seminggu yang lalu. 

“Tapi nanti Ipul siapa yang jagain, mas? Dia kan masih butuh aku” sembari melihat Ipul yang masih asyik berlarian kesana kemari bermain gobak sodor di depan rumah. Kubayangkan banyak hal, Ipul yang masih menyusu. Ipul yang tak bisa tidur tanpa mencium bau ketekku, Ipul yang tiap dinakali temannya selalu berlari ke rumah meneriakkan namaku dan aku akan tergopoh mengelap tanganku yang basah di daster lusuh turun temurun dari simbok sembari menenangkan Ipul. 

Urusan Ipul biar aku yang nanggung, aku kan bapaknya. Wes, kamu nggak usah khawatir. Yang penting kamu mau berangkat apa ndak? Kalau ndak biar aku nyari bini yang kayak mereka, yang bisa bantuin bikinin rumah” . 

Tomat dan Cabai Busuk

Sesampainya aku di rumah, tak kutemui bapak dan ibu yang biasanya sedang asyik bercengkerama di ruang tamu. Sepi, dan itu menambah kemarahanku karena bertengkar dengan Dino di sekolah tadi. Aku benci pada mereka semua; pak Dodi, Bu Dian, teman-teman sekelas, semua. Mereka bukan malah membelaku, tapi justru menyalahkanku karena Dino. 

Padahal aku yang benar, Dino mengejekku lebih dulu. 
 
Karena terpancing emosi, aku refleks mendorongnya keras, Dino jatuh. Kepalanya terbentur meja. Dino dibawa ke UKS, sementara aku dibiarkan sendirian di ruang kelas dengan tatap sebal. Dan untuk pertama kalinya; tak ada yang peduli padaku. 

Bu guru memarahiku, katanya tidak seharusnya aku berbuat hal seperti itu. kalaupun iya, harusnya ejekan dibalas dengan ejekan. Teriakan dibalas teriakan, dan yang lebih baik lagi adalah tidak memberinya balasan. Bukan dengan mencelakai Dino dengan mendorongnya. 

“Tapi Dino yang salah Bu!” Aku bersikeras membenarkan perbuatanku, lagipula ini sudah sering terjadi. biasanya aku hanya akan diam mendengar ejekan Dino.

Saturday, 14 September 2013

Bukan Timun Mas


Tengah malam itu kudengar sayup-sayup tangis bayi dari teras depan. Tak ada siapapun di rumah, hanya aku dan bunyi televise sembari menunggu mas Rinto pulang. Berulang kali kuintip dari balik jendela kamar tamu, tak ada siapapun yang sedang menggendong bayi di depan, di jalanan utama yang persis ada di hadapan rumahku, hanya suara jangkrik dan samar-samar bayi menangis.
Aku dililit cemas, sementara suara tangis itu makin lama terdengar makin keras.

Ah tidak tidak! Tidak mungkin suara hantu atau apapun yang ghaib sedemikian kerasnya berbunyi. 

Kuberanikan diri membuka pintu depan, berjalan mengendap-endap, memastikan dimana bunyi itu berasal. Semakin melangkah ke depan, semakin suara itu terdengar jelas. Suara itu  pasti berasal dari samping semak, di bawah pohon mangga yang ditanam mas Rinto beberapa tahun lalu.

Hembusan angin yang meliukkan ranting-ranting pohon itu membuatku sedikit jirih. Dan sedetik kemudian aku hanya bisa tertegun memandang bungkusan kardus mie instan dengan kain kusam di hadapanku. 

Bayi mungil lelaki yang menangis kedinginan. 

***

Mas Rinto mengetuk pintu sambil berucap salam. Di tanganku masih kunina-bobokan bayi itu dengan alunan lagu timang-timang. Mas Rinto masuk dengan tatap heran. Dahinya yang berkerut menyiratkan banyak pertanyaan, ia duduk merebahkan badan di hadapanku.

“Siapa, Rin?”

“Tadi aku denger suara bayi dari depan, pas tak cek ke depan ada bayi beneran mas dibungkus kardus. Aku bawa aja masuk, kasihan masih kecil.”

Mas Rinto hanya mengangguk-angguk mengiyakan. Sambil melepas dasi dari kemejanya, kurasai matanya yang terus mengawasi kami. Aku tahu, mungkin dia berpikiran kalau dia seperti timun mas yang tiba-tiba saja terdengar menangis di dalam buah besar. Dan Kalau benar, berarti bayi ini membawa konsekuensi besar dalam kehidupan kami. Entah dikejar raksasa, atau pengganggu lainnya.

Walau masih sedikit kebingungan dengan kehadiran bayi yang tiba-tiba ada di depan rumah, walau masih sibuk bertanya siapa ibu dari anak ini, tetap saja aku merasa bahagia bisa menimang-nimang bayi. Lihatlah! Betapa menyenangkan memiliki keturunan, penerus. Harapan yang sudah lama kusimpan dalam hati, harapan yang hampir musnah tersebab ibu mas Rinto yang terus-terusan bertanya kapan bisa punya anak.

Sudah hampir lima tahun kami menikah. Tinggal terpisah dengan orang tua mas Rinto. Namun dalam kurun waktu yang tak bisa dihitung sebentar itu, kami belum juga dikaruniai seorang anak. Setahun dua tahun, orang tua mas Rinto masih memaklumi; mungkin kami memang belum berniat direpotkan urusan anak karena kesibukan kami di kantor. Tapi, bergerak tiga tahun; ibu mas Rinto mulai ikut campur urusan apapun yang kami konsumsi. Mulai dari makanan, kegiatan, hingga cara-cara yang dulu pernah diberitahukan oleh nenek moyangnya disampaikan juga pada kami.

Dari praktek tradisional, datang ke dokter kandungan professional, sampai urusan mengikuti tanggal dan hari baik yang dianjurkan tetua di desa ibu. Sudah kulakukan rutin penanggalan ovulasi[1]-ku seperti yang dibilang dokter kemarin. Katanya aku dan mas Rinto harus menyesuaikan tanggalan masa subur rahimku. Dan untuk itu, tak pernah lepas almanac [2]di kamar dari hitungan-hitungan yang diajarkan dokter. 

Mas Rinto beranjak dari duduk. Mendekat padaku yang masih menggendong bayi lelaki itu. Sejenak kuamati, mata itu mirip mata mas Rinto. Atau, ah segera kubuang bayangan itu- barangkali hanya kebetulan saja. Tuhan memang menciptakan banyak kemiripan diantara manusia.
Mas Rinto menatap wajah bayi lelaki itu, memintaku untuk mengajarkan cara menggendong bayi. Kuberikan bayi mungil yang tertidur itu di lengannya. Tiba-tiba lelah yang tadi tersirat di wajahnya menyurut. Mungkin semua tersebab bayi itu. 

“Lucu ya, Rin. Bikin capeknya ilang” Tukas mas Rinto padaku. Wajahnya berubah sumringah, mengajak bayi di hadapannya bicara. 

Aku mengangguk lemah. Ya, bayi itu memang lucu- sekaligus tidak sengaja melukaiku bahwa aku belum bisa memberikan keturunan baginya. Aku menunduk lemas, menjatuhkan badan di sofa.
“Lho, kenapa gantian kamu yang cemberut, Rin? Apa mas salah ngomong?”

Aku menggeleng. Diam. Menyembunyikan mata. 

***