.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label cermin. Show all posts
Showing posts with label cermin. Show all posts

Friday, 23 June 2017

Pilihan apa yang kamu buat hari ini?

Setiap hari, persis ketika membuka mata, kita selalu membuat pilihan hendak jadi apa hari ini? Hari yang menyebalkan, membahagiakan, atau memberi tambahan semangat. Hendak menjalani hari diawali dengan senyuman, ibadah yang baik, membantu orang tua atau mulai dengan sepanjang keluhan yang melelahkan – seperti, “ah ini hari Senin pasti kerjaan numpuk! Dan atau, yes sudah hari Senin, mari bersemangat kerja lagi. Waktunya menjadi produktif (ucapkan sembari tersenyum dan membayangkan keajaiban apa yang bisa didapat hari ini”

Setiap hari, kita selalu punya pilihan, hendak bersyukur atas hari yang masih dikaruniakan sampai detik ini dan menjalani apapun dengan harapan (tersenyum pada diri sendiri dan berterima kasih atas kerjasamanya), atau berkutat pada keluhan karena belum dapat pekerjaan yang menyenangkan, keluarga yang menyebalkan, atau teman yang tidak pengertian.  

Setiap hari, kita selalu punya pilihan, hendak mencoba apa-apa yang belum sempat kita lakukan, atau mengeluhkan keterbatasan yang membuat kita tidak berani melakukan apa-apa yang sempat kita impikan. Memilih mencoba memasukkan lamaran pekerjaan baru atau sekedar membayangkan “pasti aku tidak akan diterima disana”.

Friday, 9 June 2017

Dear 25

Dear, dua puluh lima –
Nggak kerasa ya udah setahun.
Padal baru kemaren rasanya baru 24.
Dear 25, Semoga berkah.

*Slamat ulang tahuun, slamat ulang tahuuun,slamat ulang tahun ... slamat ulang tahuuuun*. Ayo dooong tiup lilinnya. Jangan diem aja

Dan kue ulang tahun beserta lilinnya udah tersaji di hadapan saya (sehari tiga kali udah persis kaya minum obat). Senyum lebar, seneng, bungah, bahagia. Di depan saya orang-orang yang saya sayang, dan orang-orang terdekat yang saya harapkan dateng ketawa lebar sambil nyanyiin lagu itu berulang-ulang. Mereka keluargaaaa.

Reka ulang kejadian ini beneran kejadian gais. Bukan sekedar mimpi atau harapan kayak tulisan saya beberapa waktu lalu. Mereka, temen-temen saya, saudara, keluarga, dan orang-orang terdekat itu udah ngebeliin kue – lilin – dan menyempatkan waktu buat makan bareng ngabisin tuh kue donat jco, pizza hut, black forest, dan sebagainya itu. Sambil bersyukur udah disadarkan oleh mereka, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan – “kamu nggak perlu sayang sama semua orang, dan kamu nggak perlu bikin semua orang ngrasa spesial. Cukup orang-orang di sekeliling kamu aja yang kamu sayang”.

Sooo Simplee bangeeet kan?

Awalnya saya mikir, betapa bahagianya bisa bikin semua orang seneng – apalagi bikin semua orang bisa ngrasa kalau dia juga sama spesialnya kayak yang lain. Tapi itu mustahil. Ada penolakan, ketidaksukaan, kebencian, wajah-wajah muak yang saya rasakan sendiri bahkan diantara mereka yang mengaku teman dekat. Perasaan yang tidak bisa dibohongi oleh perasaan kamu sendiri. Membuat semua orang lain senang sama halnya menjerumuskan diri kamu sendiri ke jurang ketidakbahagiaan, atau malah jurang neraka. Tinggal dorong dikit, perasaan tidak nyaman atas paksaan kamu terhadap diri sendiri untuk menyenangkan orang lain itu bakal jadi bumerang buat idup kamu sendiri. Masih mau nyimpen perasaan begitu?

Pahami saja, kamu memang tidak bisa menyenangkan semua orang.

Sunday, 4 June 2017

Critical eleven sebuah review : NOVEL VS FILM

Sebelum bicara pada ranah inti, ada baiknya kita memaklumi dengan jelas bahwa selalu ada perbedaan imajinasi yang dituangkan dalam sebuah buku – dan kemudian diangkat ke dalam layar lebar. Ya, sudah pasti akan ada banyak perbedaan. Entah itu gambaran tokoh ideal, latar, atau jalan cerita itu sendiri. Untuk mendeskripsikan suatu keadaan, atau ekspresi yang terdapat dalam suatu tokoh novel tentu saja tidak akan selalu sama karena lagi-lagi persepsi dan ekspektasi pembaca jauh dari standar. Semua orang punya pikiran. Sehingga dari persepsi dan ekspektasi itu tidak dapat diseragamkan. Jadi saya jelas memahami bahwa kritik dan saran mengenai film yang diangkat dari suatu novel sudah pasti akan menuai banyak komentar, dan tulisan saya ini hendak memberikan review dari kacamata saya sebagai pembaca setia novel ika natassa – dan penonton filmnya.

Saya sungguh mengapresiasi IKA NATASSA sebagai penulis novel ini, gaya bahasanya yang mengalir – kadang saya seperti mengalami perasaan yaaanggg “ini gaya gue banget, bikin ngakak, dan yang paling parah bikin mesam mesem sendiri”, dan sederet kalimat indahnya dia yang simple membuat saya berekspektasi tinggi terhadap film ini.

Apalagi, pemainnya kece-kece bukan? Siapa yang nggak kenal reza rahadian? aktor yang beberapa tahun terakhir mengambil hampir seluruh porsi pemain laki-laki dalam suatu film. Aktor yang berulang kali masuk kategori awards dan bahkan memenangkannya. Sampai setelah saya melihat trailernya di instagram, dalam hati saya berniat begini “SAYA HARUS NONTON FILM INI, BANGET!”

Sudahkah kamu mengerjakan skripsi hari ini?


Eh kamu seangkatan sama dia ya?
sekarang s2 atau udah kerja?
*GLEK. Boro-boro s2, skripsi aja belum kelar.

Bicara soal skripsi, beberapa mahasiswa melewatkan waktu terlalu lama untuk menyelesaikan tugas akhir ini (minoritas). Setahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan bertahun-tahun HANYA untuk menyelesaikan skripsi. Oke, maafkan saya kalau menggunakan kata HANYA. Tapi, skripsi memang HANYA sebagian urusan kecil yang sebenarnya mudah kamu selesaikan dibanding dengan masalah lain di hidup kamu semacam patah hati, atau ditinggal pergi. Wkwk.

Untungnya titik lemah dalam mengerjakan tugas akhir ini akhirnya dapat diminimalisir dengan kebijakan baru dari pemerintah yang mewajibkan bahwa kuliah jenjang strata satu hanya punya batas waktu maksimal 7 tahun, dan sekarang berubah menjadi 5 tahun, kalau lebih – (D.O). Kebijakan ini setidaknya membantu mahasiswa memaksa dirinya sendiri untuk berubah (oke, kalau paksaan dari dalam tidak cukup maka butuh paksaan dari luar bukan? )

Fenomena ini sudah jadi rahasia umum di kalangan mahasiswa. Oke, saya bilang ini fenomena, karena sudah jadi hal yang biasa. Yang sudah biasa ini semoga tidak jadi kebiasaan. Dulunya alasan yang digunakan memang valid karena sebagian besar dosen di jaman dulu memang nomor satu killernya, yang kalau boleh dikatakan intinya adalah lebih ribet (ini kata ibu saya atau alasan ibu saya sebagai pembenaran dari kuliahnya yang lama. wkwk). Dosen-dosen pada jaman dulu kala, era tahun 90 an katanya lebih sempurna daripada Tuhan, yang salah sedikit bisa fatal akibatnya (lebih berwibawa, susah kompromi, dan harus dihormati). Hal tersebut diperparah dengan belum ada internet, komputer jinjing, keyboard seperti jaman sekarang, dan literatur yang sulit ditemukan.

Nah lalu, jika pada era tahun 90 an saja banyak sekali tulisan yang produktif yang bisa dihasilkan orang-orang, kenapa pada zaman sekarang yang kemudahan dan fleksibilitas di elu-elukan (komputer dimana-mana, google mudah diakses, dosen mudah diajak komunikasi), untuk membuat skripsi saja sebegitu lamanya bagi mahasiswa? Kalau sebagian besar bisa tepat waktu, kenapa sebagian kecil ini menunda-nunda menyelesaikan kuliahnya? Apa penyebabnya?

Akhirnya, dari seluruh pengalaman yang saya alami, dengan melihat dan mengamati kondisi sekeliling, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan bahwa – ada 2 prinsip besar yang harus kita pegang teguh untuk mengerjakan sesuatu hal. 2 hal? Apa saja?

Oke here we go.

Thursday, 1 June 2017

5 alasan kamu harus lebih produktif saat puasa

Lah elo kok tidur mulu?
Pahala bro. PAHALA. Orang yang lagi puasa tidurnya sama dengan pahala
Jadi, Tidur banyak sama dengan pahala banyak.
*Nelen liur.

Bulan Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Semua juga tau. Mau ngerjain apa-apa mudah, enak, enteng, banyak temennya, berpahala lagi. Semua hal yang kita lakukan disini akan dihitung pahala dan semoga saja berkah. Tapi, beberapa orang memanfaatkan keberkahan di bulan ini untuk bermalas-malasan dengan dalih, “lah kan tidurnya orang puasa pahala, tidur lama gak masalah dong ya. Nyengir kuda”.

Tidurnya orang puasa memang ber-pahala, tapi bukan berarti seluruh jam yang kita punya dalam 24 jam, atau lebih dari 12 jam sehari digunakan hanya untuk tidur dan bermalas-malasan saja. Badan lemes, bau mulut, lapar, haus, panas sebenarnya bukan alasan yang bisa digunakan terus menerus kalau kita tau keutamaan melakukan hal yang lebih bermanfaat di bulan puasa. Kalau kamu tahu manfaat dan keberkahannya pasti kamu nggak akan tidur terus deh gais.

Nah, ini nih 5 alasan kamu harus beraktifitas waktu puasa biar puasamu nggak cuman sekedar laper aja:
 
1.   NINGKATIN NILAI DAN PAHALA  

Dengan melakukan hal terbaik sebisa kita di bulan Ramadhan (semoga sih nggak cuman ramadhan aja), maka seterusnya kita bisa meningkatkan keimanan – ketaqwaan dan keilmuan kita. Dengan malas-malasan dan tidur sepanjang waktu, hal tersebut menunjukkan ketidaksungguhan kita menyambut bulan Ramadhan, padahal anak kecil aja semangat nyambutnya (pagi saur, solat subuh jamaah lanjut jalan-jalan trus sekolah, nah masak kita mau kalah sama bocah?), sebagaimana hadist di bawah ini:

... Orang puasa jika terus menerus menghabiskan waktunya dengan tidur, pertanda kelemahan darinya. Apalagi bulan Ramadan termasuk waktu mulia, seyogyanya seorang muslim mengambil manfaat darinya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, mengais rizki dan mencari ilmu. (Al-Lajnah Ad-Daimah lilbuhuts Al-Ilmiyyah, 10/212)[1]

Nggak mau kan di cap lemah dan tidak berdaya sama manusia, apalagi sama yang nyiptain kita? Nah ini motivasinya biar kalian jadi semangat bergerak di bulan puasa.

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. DIAMNYA ADALAH TASBIH. DO’ANYA ADALAH DO’A YANG MUSTAJAB. PAHALA AMALANNYA PUN AKAN DILIPATGANDAKAN.[2]

Sunday, 28 May 2017

Temen yang baik?



Temen yang baik?
???

2000 – 2017. 17 tahun. (Sekolah dasar – sekarang)

1998 – 2004, temen yang baik itu yang bisa diajak main setiap pulang sekolah. Yang setiap hari bisa ketemu, main, ketawa bareng, sepedaan bareng sambil nongkrong di rumah Delly atau warung pertigaan jalan. Yang mau diajak beli nasi rames barengan, basket, yang hobi caper ke pak guru atau bu guru sama seringnya, atau cuman yang rela sy contekin pas ujian. 

2004 – 2007, temen yang baik itu yang kamarnya barengan. Yang bisa diajakin gantian baju, peralatan sehari-hari, yang mau dipinjemin duit dan sering jajanin makan, yang nggak pernah ngasih kue bolu waktu ulang tahun, yang mau minjemin walkman waktu dia lagi dengerin lagu hits jaman dulu, yang rela nyuciin baju sambil misuh-misuh cuman karena lecek, yang mau diajak nyuci piring barengan, yang rela nganterin ke kamar mandi waktu ketakutan, yang minjemin novel dan mau berbagi piring makanan, dan satu lagi – yang bisa diajak kabur barengan naik taksi atau sekedar bus omprengan. 


Thursday, 20 April 2017

Apa yang sudah kamu lakukan buat hidupmu hari ini?


Apa yang udah kamu lakuin,
buat kamu dan hidupmu hari ini?




Semua orang sewajarnya ingin selalu membahagiakan dan membanggakan orang-orang yang dikasihinya, orang-orang tersayang. Entah itu ibu, bapak, pacar, suami anak, dan siapapun. Lazimnya, tidak pernah ada orang yang mau mengecewakan orang tuanya, dan sebaliknya, tidak ada orang tua yang mau mengecewakan anaknya. Tapi, apa saja langkah konkrit yang sudah kalian lakukan untuk membuat orang di sekeliling kalian bangga dan bahagia? 

Saya pribadi bukan orang yang suka berkata-kata manis, suka berjanji, dan atau hal lain yang mungkin tidak dapat saya lakukan di kemudian hari. Saya typical yang lebih suka menunjukkan cinta dan perhatian saya dengan perbuatan. Yang lebih tegas dan jelas. Bagi saya hal tersebut lebih konkrit dibanding uang dan atau hal apapun di dunia. Meskipun di zaman sekarang, ingin membahagiakan orang lain tanpa memiliki uang adalah hal yang mustahil. Tapi kalau hanya soal uang, itu bisa diwujudkan bukan ? 

Sekarang saya merasa masih menjadi beban orang tua. Hidup dan makan bersama orang tua. Kadang uang bensin pun masih minta, lebih dari itu semua, saya belum bisa rutin memberi sebagian dari penghasilan saya kepada orang tua. Kalau ditanya sedih atau tidaknya, saya sangaat sedih karena tujuan hidup saya memang membahagiakan mereka. Untuk apa kita bekerja dan lain sebagainya kalau tidak yang ingin kalian wujudkan? Maka tujuan terbesar saya memang keluarga.

Mungkin kalian merasakan hal yang sama sampai pada akhirnya membandingkan pencapaian diri sendiri dengan teman-teman yang lebih nampak sukses dan bahagia. Tapi pertanyaannya, apakah mereka seperti apa yang kita sangka kan kepada mereka? Sudah cukupkah mereka merasa membanggakan orang tuanya? 

Ternyata tidak juga. 

Monday, 3 April 2017

Fokus saja ke depan


Jadi pemenang, siapa sih yang nggak mau? 

Pertanyaan saya klise banget kan ya? 

Selalu tampil terdepan. Unggul. Dominan. Dibangga-banggain, dipuji, disanjung. Banyak yang nge fans. Dan segala keuntungan yang mengekor di belakangnya yang pasti menimbulkan iri dengki di hati orang lain.



Tapi, untuk tampil terdepan selalu butuh usaha bukan? Tidak ujuk-ujuk atau tiba-tiba dapat kita wujudkan. Yang aneh, sebagian orang kadang menjadi terdepan dengan cara menjatuhkan, merendahkan, dan menjelekkan temannya. Akhirnya, disadari atau tidak disadari, focus kita untuk menjadi terdepan menjadi tidak murni lagi – niat kita justru berubah bagaimana caranya untuk bisa mengalahkan orang lain. Padahal, untuk jadi tinggi kita tidak perlu merendahkan orang lain bukan? 

Bagi saya, menjadi pemenang adalah ketika kita focus mengalahkan diri sendiri. Bukan orang lain. Mengalahkan malas, alasan-alasan, mengalahkan kesombongan, dan ketidakkonsistenan yang kita punya. 

Menjadi terdepan adalah ketika kita berfokus pada perbaikan diri sendiri. Bukan malah focus terhadap kelebihan atau celah yang bisa dijatuhkan dari musuh atau lawan kita. 

Friday, 24 March 2017

Definisi Memberi

Definisi memberi, bagi saya bukan persoalan dia kaya atau miskin, dia anak pejabat atau pedagang biasa pinggiran, atau dia kerja kantoran bonafit dan yang lainnya kerja jadi jongosan. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan materi. Give. Memberi. Share. Berbagi. Bagi saya sama saja memiliki arti dan filosofi yang lebih dalam dari sekedar “nih gue kasih”, atau “gue ada kado nih buat elo”. Memberi disini juga nggak dibatasin persoalan barang, atau obyek yang bisa dilihat – tapi segala sesuatu yang bisa di apresiasi. Dirasa, dihargain, dinilai.  

“Memberi adalah cara lain menerima”. Itu kalo kata saya.



Memberi adalah persoalan kerelaan, dan tentu saja tindakan yang menunjukkan seberapa besar kasih sayang kamu buat seseorang. Contohnya saja, bagi orang yang lama pacaran dan atau teman karib bertahun-tahun, sudah pasti nggak mikir beribu kali buat ngasih gift sama mereka yang dianggap special. Tapi saya bukan mau bahas soal kerelaannya. Saya mau mbahas soal kesungguhan. Kasih sayang. Behind the storynya. Kenapa bisa gitu ya?

Kado yang harganya 35 ribu aja bagi saya adalah hal spesial yang merupakan akumulasi tindakan hebat dari orang lain. 35 ribu aja kata saya? Kecil banget dih.  Oke, dari segi harga mungkin semua bisa beli, kamu juga pasti yakin bisa beli itu bahkan berlipat-lipat. Tapi apa kamu tahu apa saja kejadian di balik pemilihan si barang itu? Apa pengorbanan dan story di balik kado buat kamu itu?

Dan disini, 3 alasan bahwa orang yang mau ngasih kamu kado adalah orang yang sangat sayang sama kamu, here we go:

1.   Setiap pemberian membutuhkan niat

Oke, boleh aja bilang semua orang bisa beli kado. Tapi cuman yang bener-bener niat yang bisa ngelaksanain niatan itu. Kenapa harus niat? Yaiyalah, karena ini bukti awal kepedulian mereka. Entah celetukan ke temen dengan ngomong, aku mau beliin dia ini ah. Aku mau nyurprise in dia ini juga deh, dan lain sebagainya. Hal-hal begini cuman bakal dilakuin sama orang-orang yang sayang, berhati besar, dan ngerelain sedikit pikiran dan hatinya buat mikirin kamu.

Lah, emang kalo nggak baik, nggak kenal, nggak deket, atau nggak ada modus apapun masih ada nih orang mau ngasih Cuma-Cuma. Kalaupun ada, itu juga 90 banding 10 kan ya? Ini baru niat aja nih, niat kan kudu dipikirin mateng-mateng juga. Saya percaya, setiap orang yang sayang – pasti selalu pingin ngasih hal terbaik yang bisa diusahain dari dia.

So, persoalan niat baik aja udah bisa jadi awalan yang hebat kan?

Wednesday, 8 March 2017

Mengubah energi negatif menjadi positif



Begitu banyak energi yang ada di sekeliling kita, entah itu termasuk dalam golongan negatif atau positif, yang jelas seluruh energi tersebut mengelilingi kita setiap waktu, setiap saat, setiap hari. Mau tidak mau, sebagai seorang yang diberikan kelebihan oleh Allah hati dan akal, seluruh energi tersebut harus dapat dikendalikan, harus dapat diolah, karena disadari atau tidak, pengaruh energi lingkungan dapat menular kepada siapapun – tidak terkecuali kepada kita. 

Energi negatif itu termasuk makian, kata-kata kotor, umpatan, cacian, hinaan, ejekan, dan segala macam hal yang menimbulkan perasaan tertolak, tidak diterima, dan semacamnya. Sedangkan energi positif biasanya menimbulkan perasaan bangga dan penerimaan. Persoalan yang baik-baik pasti tidak akan menimbulkan masalah. Kedua energi tersebut bergantung kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, teman-teman, keluarga, saudara, dan rekan kerja, jika energi di sekeliling kita lebih dominan positif maka pola pikir dan energi yang kita ambil juga akan sama positifnya, dan sebaliknya. Lantas kangen termasuk emosi yang mana

Tergantung bagaimana respon kalian terhadap seluruh emosi tersebut. Apabila dari emosi tersebut dapat dirubah, maka segala sesuatunya menjadi tidak penting. Semua hal dalam perasaan anda menjadi sepenuhnya kendali anda. Ingat, seluruh yang ada pada anda – khususnya perasaan, adalah kendali anda. Jadi jangan mudah dikendalikan oleh orang lain.
 
Lantas bagaimana keadaannya jika sedikit saja energi negatif merusak kegiatan sehari-hari, semangat dan bahkan hubungan sosial manusia? Lantas apa yang harus dilakukan kita sebagai manusia yang bijak untuk mengubah energi negatif yang ada menjadi energi positif kepada orang lain?

Kita seringkali mengalami peristiwa seperti di atas, ada seseorang yang tiba-tiba merusak mood, atau merubah energi yang tadinya sudah positif menjadi berubah jelek. Istilah kasarnya adalah kita sudah tercemar emosi negatif oleh mereka, padahal, kendali perasaan ada pada kita sendiri. Kalau begitu, apakah artinya kita yang mudah di remote/kontrol/kendalikan oleh mereka? Ya, bisa jadi. 


Saturday, 7 January 2017

5 Opsi Nabung di bawah 2 jutaan buat kalian

Bing beng bang
Yuk kita ke bank
Bang bing bung
Yuk kita nabung
Tang ting tung hey
Jangan dihitung
Tau tau kita nanti dapat untung
(mari nyanyi, wkwk)

Ini lagu nge hits jaman saya kecil dulu, yang anak 90 an pasti tau lagu ini. Yang nyanyi Titiek Puspa sama artis cilik kayak trio kwek kwek dan banyak. Betapa senengnya kalau anak jaman sekarang juga dikasih lagu-lagu khusus kayak begini, yang buat konsumsi anak kecil juga – syarat sama nasihat, bukan kayak lagu jaman sekarang yang cuman cinta-cintaan. *abaikan curhat saya. Lagipula judul tulisan saya bukan soal lagu anak-anak yang hilang dari peredaran.

Oke back to theme deh ya, saya nulis lagu itu karna mau nge flashback waktu saya ngedenger lagu itu. Lagu yang nyuruh kita nabung, nyemangatin nabung. jaman kecil saya dulu, waktu TK sama SD, kita udah dibiasain nabung dengan sistem bulanan atau harian yang nanti disetor ke guru. Entah jumlahnya lima ribu atau berapapun, yang penting per hari nabung. bentuk bukunya kayak buku SPP, warna kuning buluk, merah muda buluk, atau ijo buluk. (maap, jaman dulu percetakan belum sebagus sekarang. Wkwk)

Nabung udah jadi hal krusial di idup semua orang. Kalau mau apa-apa ya kalau bisa dengan sistem nabung. bukan dengan sistem kredit, walaupun kedua-duanya sama aja setor bulanan dengan jumlah yang sama. Nabung harus dibiasain dari kecil, biar anak atau sepupu, ponakan kita termasuk orang yang menghargai proses. Bukan orang yang cuman fokus sama hasil. Orang-orang yang nabung adalah orang yang tau dan mau ngupayain sesuatu dengan usaha yang jelas – kontinuitas, konsisten, sabar, menikmati upaya, usaha, dan habis itu menuai hasil. Cuman orang yang nabung dan berusaha kan yang bisa menuai hasil dari jerih payahnya?

Nabung, kalau mau dilihat spesifik dari artinya adalah menyisihkan, bukan menyisakan. Tapi orang jaman sekarang suka lupa definisi sesungguhnya dari menabung itu sendiri. Mereka nabung setelah menghitung seluruh kebutuhan, atau kalau udah sisa uang kebutuhannya. Disimpen belakangan. Padahal mah kan ya, menabung itu menyisihkan. Sekali lagi, menabung itu menyisihkan. Jadi selalu ada pada nomor dan urutan awal.

Banyak macam tabungan yang udah saya coba dari dulu. Mulai dari kelas receh sampe kelas agak berat. Saya mengakui taraf saya yang belum bisa nabung lebih dari dua jutaan karena penghasilan saya yang bisa disisihin segitu. Tapi saya selalu usaha biar tiap bulan bisa nyisihin duit tabungan. Kalau kalian emang belum punya mimpi bikin rumah, beli motor atau mobil, dan atau target yang lebih gedean – minimal kita bikin mimpi yang paling rasional buat dicapai. Kayak slogan nabung, dikit-dikit lama-lama jadi bukit, beli sepatu, jalan-jalan atau apapun pake duit tabungan sendiri kece kan?

Kalau kita bukan orang super kaya raya yang bisa beli apapun sekali kepengen, salah satu cara paling rasional adalah dengan nabung kan? Oke, lantas gimana dong caranya?



Caranya buat nabung adalah? Ya mulai aja. Mulailah menabung. Berapapun nominalnya.  Pengen tau pilihan apa aja yang bisa buat nabung orang-orang dengan penghasilan di bawah dua juta?

 Here we gooo ----

5 Hal penting sebelum utang dan ngutangin

Ih mba, mas, duitnya udah ada belum ya?
Aku lagi butuh banget ni. Bisa ngga dikembaliin sekarang?
*aduh sori lagi ga ada. Kamu bisa minjem ke orang lain dulu ga?
#salto kayang.



Ada banyak alasan yang perlu kamu pikirin ketika seorang temen, atau siapapun yang kenal kamu udah berani minjem sesuatu dari kamu, barang, kendaraan, dan apapun itu macamnya, terutama duit. Jaman sekarang, orang udah nggak pake basa/basi lagi dan nggak punya malu kalo emang lagi butuh duit. Dikit-dikit utang, ga peduli deket atau jauh, ga peduli kesannya nodong atau minjem, dan ga peduli itu sering ketemu atau enggak. Termasuk saya. Tapi eits, jangan gampang dilepas gitu aja uang yang kamu punya itu. Karena setelah kamu nglepas tuh duit, akan ada banyak konsekwensi yang harus kamu tanggung dan kamu perlu mastiin gimana respon kamu setelah semuanya kejadian gitu aja.

5 alasan kenapa kamu harus berhati-hati ketika mau ngasih pinjeman duit ke orang lain. Oke here we go :

1.   Bener-bener orang yang kamu percaya

Minjemin duit tuh gak se-enteng nglepas temen di kelas waktu SMP atau SMA yang mau minjem pulpen atau penghapus kita. Ini tarafnya udah di atas itu. Pulpen, pensil, penghapus, atau penggaris adalah hal murah yang mudah kita dapetin. Paling juga cuman seribu dua ribu juga udah bisa beli lagi. beli dimana aja juga dapet. Toko kecil atau gede. Nah masalahnya adalah, Duit itu, dewa. Duit itu bisa jadi rejeki, bisa juga jadi penyakit, bisa ngrusak silaturahmi.

Duit. Siapa sih yang jaman gini gak butuh duit? Gak ada kan?

Monday, 19 December 2016

Belajar dari kehilangan (Part 1)

Apa yang ngebedain kamu sama hewan?
*hewan gabisa mikir dan ngambil hikmah
Kalo kamu apaan?


Setelah tragedi ketipu sama barang online, dan dompet ilang gara-gara ketinggalan itu - saya pikir saya belajar banyak. Bahwa semua yang punya kita itu cuman titipan. Jangan dianggep semua itu kekal, sehingga pas akhirnya barang itu hilang – atau nggak ada di sekeliling kita lagi, kita nggak perlu sedih atau kecewa berlebihan. Apalagi ngaku itu punya kita/milik kita? Enggak.

Semua itu titipan. Yang suatu saat bakal diminta lagi.

Terlepas dari kita udah ngerawat dan ngejaga titipan itu dengan baik atau enggak, segala yang ada di planet bumi ini emang nggak ada yang punya kita. Badan aja kita cuman minjem. Sebut aja semua itu fasilitas kasih sayang Tuhan biar kita sadar buat bersyukur. Saya pikir dari dua pelajaran tadi saya udah cukup dikasih pelajaran, dan ngarti, nggak perlu diulang ada barang atau sesuatu yang ilang lagi. Saya pikir saya udah bisa ngambil hikmah dan lebih bijak ngadepin semuanya, eh ternyata belum.

Seminggu yang lalu, gara-gara keburu-buru pergi, hape saya jatuh. Reka ulangnya saya persingkat, hape saya taruh di saku jaket samping, saya berangkat ke kantor, dan hape itu jatuh entah kemana. Sejam setelah saya sadar. Dua nomer yang ada di kartu udah gabisa ditelpon semua. Reka ulang ini semacam ngingetin saya, kalau nggak perlu lagi kecewa atau sedih berlebihan sama barang yang ilang. Saya pikir awalnya hape itu ketinggalan di rumah, tapi sorenya pas saya balik lagi – yang kebayang di bayangan saya cuman yaudah deh ya, saya juga yang salah. Mau apalagi dong ya selain ikhlas? Yang udah ilang yaudah deh. Bukan rejeki kita aja kali.

Saya ditegur sekali lagi sama barang ilang gara-gara buru-buru.

Ini persis sama yang ditulis Ajahn Brahm di bukunya cacing dan kotoran. Kebanyakan manusia masih membuat perlekatan dengan harta bendanya, sehingga pas hilang – mereka lupa sama kasih sayang TUHAN yang lain. Mereka cuman inget kehilangan satu biji, tapi lupa rejeki sembilan puluh sembilan yang lain. Semacam kita cuman fokus sama sebulat tinta di tengah kertas putih. Kita terlalu fokus sama yang buruk, bukan kebaikannya. Padahal semua itu tergantung mindset kita, pola pikir, respon kita. Seharusnya kita fokus sama hikmah ke depannya, toh percuma juga kan kita nyesel sama yang di belakang? gabisa keulang lagi kan? percuma ngabisin waktu buat sesuatu yang bukan jd kewenangan kita. udah lewat, yang bisa kita upayain cuman idup ke depan - buat lebih baik dan aware sama hal yang pernah terjadi. itu baru namanya belajar.

Apa saya sedih? Haha itu pertanyaan yang gampang banget dijawab. Ya paasti sedihlah. Tapi sebentar doang. Setelah beberapa kehilangan yang saya alami, kehilangan yang ini doang ngga begitu berasa. Saya masih bisa beli hape lagi kalo ada rejeki berlebih. Badan saya masih seger buger, yang artinya – rejeki yg lebih besar yang dikaruniakan Tuhan belum dicabut dari sekeliling saya. Saya idup bahagia, keluarga dan temen-temen saya sayang sama saya. Itu cuman secuil dari idup saya yang kalo dicabut gak berasa apa-apa. Cuman hape doang inih kan ya? Apa gunanya dipikir terlalu dalem dan nangis bombay?  Tapi apa jadinya coba kalau saya ngebut dan saya yang jatuh?

Wednesday, 30 November 2016

Nggak malu sama yang tua?

                                                                                                               Itu masih kuat, muda, seger –
kok jadi pengemis ya?
Malu dih sama embah-embah yang jualan itu
Senyum sirik.

Di perempatan jalan gejayan, ke arah utara menuju terminal condong catur, pas lagi lampu traffic merah – saya dihadapkan sama pemandangan yang bikin trenyuh. Bikin saya istighfar berulang kali. Duh, saya ini liat America’s Got Talent aja bisa nangis karna terharu pas tombol merah diteken (yang artinya dia lolos ke pertunjukkan langsung), apalagi soal yang beginian. Banyak orang yang jualan di perempatan jalan, apalagi pas jam pagi berangkat kerja sama waktu pulang kantor nanti (yang anak-anak, bapa-bapa, yang “maaf” kaki tangannya kurang normal tapi tetep usaha juga ada), tapi ngliatin orang tua yang udah sepuuuuh pake banget – musti panas panasan jalan kaki, dan jualan – itu beneran bikin yang ngliat mata nggak tega.

Saya masih inget raut muka embahnya, bawa koran tribun jogja – keliling dari mobil satu ke mobil yang lain. Nawarin korannya. Dari ujung ke ujung. Padahal tadi pas saya berangkat cuacanya lagi lumayan panas, si embah cuman pake kaos pendek, rok di bawah lutut, topi semacam jilbab yang ngga nutupin kuping, dan muka nahan panas – sama sekali enggak senyum. Itu muka embahnya udah keliatan bener capek dan sepuhnya. Saya jadi sedih musti ngebayangin lagi posisi itu. Hiks.

Saturday, 26 November 2016

BALI : Parasailing

 Itu foto kamu yang lagi naik balon terbang itu?
Wuh, keceeee.
*sayangnya bukan. (sambil nglipet muka)

Hal yang paling bikin saya excited sambil nahan mules pas lagi ke Bali adalaaaah – yes, PARASAILING nya. Kalian tau nggak sih rasanya kepingin, yang kepingin banget, tapi nggak kesampean? Sayang yang sayaaaang banget, tapi nggak bisa jadian? Duuuh itu rasanya gaenak banget pemirsah. Semacam itu lah rasanya pas saya cuman bisa ngeliatin temen-temen saya naik parasailing, antri sambil berdebar, dan turun sambil senyum kayak abis pup yang udah dikelarin, dan saya cuman bisa ndongak dari bawah, gabisa memutuskan apapun.

CEMEN. MENTAL TEMPE.




Friday, 21 October 2016

Nyinyir (part 3)


Ih kalian lagi ngapain sih ketawa/i sendiri gitu?
Ngobrol keeek, kan lagi barengan. Jangan asik sama hapeee
*ngomong sama tembok.

Begono noh contohnya. Pada sibuk sendiri sama gadgetnya.

Di rumah. Di kampus. Di kantor (kadang-kadang). Di tempat makan. Di mall. Di perkumpulan. Semuanya sibuk sendiri. Asik sama dunianya sendiri. Kita kayak kehilangan ruh buat ngobrol. Kehilangan waktu buat ngedeketin batin sama orang-orang yang seharusnya bisa kita rangkul barengan, bisa share cerita, curhat, pengalaman, dan banyak. Kita kehilangan moment buat nyiptain moment. CATET!

Nah gimana tuh?

Selfie. Wasap. Bbm. Line. Video call. Instagram. Nge path. Snap gram. Snapchat.

Aduuuh, kita ini diracunin banget ya sama yang namanya gadget. Iya, kita. Saya juga termasuk. Sama sosial media. Addict banget sama yang gituan. Yang satu belum kelar, belum bosen, udah muncul deh aplikasi lainnya. Sampe penuh itu tuuuuh hape sama aplikasi gapenting.

Itu sedih yang pertama.

Thursday, 21 July 2016

Unlimited

Apa yang di dunia ini nggak terbatas? Unlimited?
Umur? Duit? Tenaga? Waktu?
Apa dong?
*mikir



Beribadahlah seolah-olah kamu akan mati esok hari,
Dan bekerjalah seolah-olah kamu akan hidup selamanya”.

Kalo diliat dari komposisi kalimatnya, itu hadist bagus banget.  Berseberangan kata tapi artinya sama, kita disuruh kerja keras. “KERJA – KERAS. KERJA – CERDAS”. Kita disuruh memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Lagi-lagi urusannya sama waktu, dan menurut saya – di balik dua kalimat itu harusnya dilengkapi sama, “dan berkeliling dunialah selagi kamu bisa, atau carilah pengalaman sampe ke ujung dunia”. Wkwk modus

24 jam. 1440 menit. 86400 detik.

Semua orang dikasih waktu sama buat berusaha. Buat berdoa. Buat bekerja.

Umur saya 24 tahun, deadline mati nggak tau kapan, deadline nikah – punya keluarga, anak, dan tanggung jawab lain yang lebih besar udah menanti. Saya harus punya planning dong ya buat ngelakuin segala sesuatunya. Planning buat nabung, buat jalan-jalan, hadiah buat temen, kado ke orang tua, dan banyak. Mungkin semua yang keliatan disini cuman soal materi, tapi di luar itu semua – banyak banget yang bisa kita capai cuman dengan planning se-dini mungkin. Biar kita bisa akhirnya lebih berpengalaman dari sekarang.

Waktu nggak bakalan balik lagi, moment bagus nggak bakal keulang lagi, dan orang baik nggak dateng dua kali. So, masih mau ngebuang waktu berharga ini sama hal sia-sia? Enggak kan. 10 tahun dari sekarang kita cuman bakal menyesal sama hal-hal yang belum pernah dan nggak pernah berani kita pilih. Contohnya, ngambil resiko buat keluar kerja, merantau, atau soal destinasi wisata.

Soal ini sering jadi perdebatan karena nggak semua orang punya visi misi dan hobi yang sama. Ada beberapa orang yang nggak pernah mau kerja karna ngrasa idup bakalan adil terus sama dia. Ada beberapa orang yang terpaksa ngerantau karna harus mencukupi idup, belajar, atau kerja. Ada beberapa orang yang pengen ngerantau tapi nggak dibolehin sama orang tuanya. Dan ada lebih banyak orang yang menganggap bahwa liburan dan jalan-jalan itu adalah pemborosan dan pamer kekayaan. Lagi-lagi, boleh kan setiap orang ngimpi dan punya rencana?

Ngomong-ngomong soal planning. Salah satu hal yang nggak kebatas buat kita adalah, NGIMPI. Ngimpi adalah bagian terbesar dari suatu planning. Kita butuh berimajinasi, meng-sinkron-kan bagian satu dengan yang lain, mengkalkulasi kebutuhan sekarang dan masa depan pake ilmu kira-kira, dan kemudian mengeksekusi mimpi itu tadi.

Sebenernya, betapa enak bin mudahnya persoalan ngimpi itu buat semua orang. Semua orang bebas mimpi jadi apa aja (dokter kek, arsitek, seniman, artis, bla bla bla) jadi siapa aja (* jadi superman, makibao, atau apapunlah ya), dan jadi gimana aja. Semua orang bebas ngimpi dimana aja. Apa ada batesannya? Enggak kan? Kita sendiri yang justru ngebatesin itu semua. Saya yakin sebenernya pikiran kita jauh lebih hebat dari yang bisa kita bayangin.

Galileo galilei, newton, alva edison, chairul tanjung, andrea hirata, dan masih banyak teladan lagi yang bisa diambil dari pengalaman orang - kalo mau sukses ya harus berani ngimpi. Harus berani berkorban sedikit buat apa yang dipengenin, entah waktu, duit, atau tenaga. Ternyata, persoalan ngimpi ini juga butuh nyali. Butuh konkrit. Buat bisa jalan-jalan sampe sekarang ke banyak negara dan banyak tempat, sejak kuliah TRINITY (penulis buku naked travelller) udah kuliah nyambi kerja dan uang jajannya disisihin buat kebutuhan dia yang emang doyan banget travellingan.

Daripada nyesel kemudian, mending direncanain dari sekarang kan?