.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label Fiksi.. Show all posts
Showing posts with label Fiksi.. Show all posts

Monday, 3 April 2017

Fokus saja ke depan


Jadi pemenang, siapa sih yang nggak mau? 

Pertanyaan saya klise banget kan ya? 

Selalu tampil terdepan. Unggul. Dominan. Dibangga-banggain, dipuji, disanjung. Banyak yang nge fans. Dan segala keuntungan yang mengekor di belakangnya yang pasti menimbulkan iri dengki di hati orang lain.



Tapi, untuk tampil terdepan selalu butuh usaha bukan? Tidak ujuk-ujuk atau tiba-tiba dapat kita wujudkan. Yang aneh, sebagian orang kadang menjadi terdepan dengan cara menjatuhkan, merendahkan, dan menjelekkan temannya. Akhirnya, disadari atau tidak disadari, focus kita untuk menjadi terdepan menjadi tidak murni lagi – niat kita justru berubah bagaimana caranya untuk bisa mengalahkan orang lain. Padahal, untuk jadi tinggi kita tidak perlu merendahkan orang lain bukan? 

Bagi saya, menjadi pemenang adalah ketika kita focus mengalahkan diri sendiri. Bukan orang lain. Mengalahkan malas, alasan-alasan, mengalahkan kesombongan, dan ketidakkonsistenan yang kita punya. 

Menjadi terdepan adalah ketika kita berfokus pada perbaikan diri sendiri. Bukan malah focus terhadap kelebihan atau celah yang bisa dijatuhkan dari musuh atau lawan kita. 

Friday, 8 April 2016

Novel Dee Lestari


Saya Lupa tepatnya tahun berapa, tapi buku pertama yang saya baca karya dee judulnya filosofi kopi. Kumpulan cerpen yang menurut saya, wow, orisinil, nggak sok drama banget – lagipula, setahu saya, cuman dee satu-satunya penulis wanita yang tulisannya liar. Bebas. Lepas. Dan ritmenya enak. Nggak mau terbatas sama issue manusia.  semua yang ditulis di bukunya hampir menyentuh seluruh aspek. Dalam salah satu cerpennya di buku yang sama, dia justru membahas dari sisi kecoak – atau tentang sikat gigi. Saya suka bagian itu. itu sihirnya dia. Saya bersyukur mengenal tulisan dee dari dulu. 

     Untuk pemula, yang nggak begitu suka mempelajari “bahasa dan kosakata”, tulisaan dee memang identik dengan asing dan rumit. Ada inggris lah, kimia lah, fisika kuantum, dan apalah apalah. Dee mencampuradukkan seluruh istilah yang dia pengen masukin. Tapi itu justru yang bikin saya tertarik sejak dari judul pertama itu. hebatnya, yang dia masukin mah nyambung-nyambung aja. Nggak terkesan sok pintar atau dipaksakan.

Saya berasa lagi baca buku kuliah, karna setiap ada istilah asing saya justru tertantang buat tahu – dan saya catet, saya garis bawahin. Itu awal ketertarikan saya sama dee. Tulisannya segar, peduli amat dia beragama apa – atau latar belakangnya gimana. Saya hanya mencintai karyanya. 

Lantas dari filosofi kopi itu saya mulai menunggu karya-karya dia yang lain. Saya tunggu postingan blognya, saya follow dia. Tapi sayangnya, dee nggak begitu aktif di sosial media, terutama blognya. Rectorverso, madre, supernova, perahu kertas, hampir semuanya mengejutkan. Bikin saya larut banget bacanya, dan nggak mau diduain. 

Buku terakhir yang bikin saya kayak gila, harap-harap cemas kayak mau nungguin pacar balik dari pangakalan, senyum-senyum sendiri karna udah mau rilis – Supernova inteligensi embun pagi. Heboh banget saya waktu ditandain temen saya buku itu mau rilis, senyum, teriak, dan langsung pasang badan nyiapin duit. Saking hebohnya, mulai dari waktu malem pre order bisa dibuka saya langsung pesen. Itu langka banget saya lakuin, apalagi dengan riwayat saya pernah ketipu sama pesen online gitu. Tapi saya udah nggak sabar. 

Inteligensi embun pagi.

Setelah saya dibuat senyum sendiri sama si etra di seri petir, kagum sama zarah di seri partikel, dan semua lingkaran yang membingungkan itu. IEP muncul dengan 600 an halaman, yaaaang sayaaa selesaikan dalam waktu sehari. Ngebut.

Setelahnya?