.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }
Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts

Sunday, 4 June 2017

Sudahkah kamu mengerjakan skripsi hari ini?


Eh kamu seangkatan sama dia ya?
sekarang s2 atau udah kerja?
*GLEK. Boro-boro s2, skripsi aja belum kelar.

Bicara soal skripsi, beberapa mahasiswa melewatkan waktu terlalu lama untuk menyelesaikan tugas akhir ini (minoritas). Setahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan bertahun-tahun HANYA untuk menyelesaikan skripsi. Oke, maafkan saya kalau menggunakan kata HANYA. Tapi, skripsi memang HANYA sebagian urusan kecil yang sebenarnya mudah kamu selesaikan dibanding dengan masalah lain di hidup kamu semacam patah hati, atau ditinggal pergi. Wkwk.

Untungnya titik lemah dalam mengerjakan tugas akhir ini akhirnya dapat diminimalisir dengan kebijakan baru dari pemerintah yang mewajibkan bahwa kuliah jenjang strata satu hanya punya batas waktu maksimal 7 tahun, dan sekarang berubah menjadi 5 tahun, kalau lebih – (D.O). Kebijakan ini setidaknya membantu mahasiswa memaksa dirinya sendiri untuk berubah (oke, kalau paksaan dari dalam tidak cukup maka butuh paksaan dari luar bukan? )

Fenomena ini sudah jadi rahasia umum di kalangan mahasiswa. Oke, saya bilang ini fenomena, karena sudah jadi hal yang biasa. Yang sudah biasa ini semoga tidak jadi kebiasaan. Dulunya alasan yang digunakan memang valid karena sebagian besar dosen di jaman dulu memang nomor satu killernya, yang kalau boleh dikatakan intinya adalah lebih ribet (ini kata ibu saya atau alasan ibu saya sebagai pembenaran dari kuliahnya yang lama. wkwk). Dosen-dosen pada jaman dulu kala, era tahun 90 an katanya lebih sempurna daripada Tuhan, yang salah sedikit bisa fatal akibatnya (lebih berwibawa, susah kompromi, dan harus dihormati). Hal tersebut diperparah dengan belum ada internet, komputer jinjing, keyboard seperti jaman sekarang, dan literatur yang sulit ditemukan.

Nah lalu, jika pada era tahun 90 an saja banyak sekali tulisan yang produktif yang bisa dihasilkan orang-orang, kenapa pada zaman sekarang yang kemudahan dan fleksibilitas di elu-elukan (komputer dimana-mana, google mudah diakses, dosen mudah diajak komunikasi), untuk membuat skripsi saja sebegitu lamanya bagi mahasiswa? Kalau sebagian besar bisa tepat waktu, kenapa sebagian kecil ini menunda-nunda menyelesaikan kuliahnya? Apa penyebabnya?

Akhirnya, dari seluruh pengalaman yang saya alami, dengan melihat dan mengamati kondisi sekeliling, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan bahwa – ada 2 prinsip besar yang harus kita pegang teguh untuk mengerjakan sesuatu hal. 2 hal? Apa saja?

Oke here we go.

Wednesday, 8 March 2017

Mengubah energi negatif menjadi positif



Begitu banyak energi yang ada di sekeliling kita, entah itu termasuk dalam golongan negatif atau positif, yang jelas seluruh energi tersebut mengelilingi kita setiap waktu, setiap saat, setiap hari. Mau tidak mau, sebagai seorang yang diberikan kelebihan oleh Allah hati dan akal, seluruh energi tersebut harus dapat dikendalikan, harus dapat diolah, karena disadari atau tidak, pengaruh energi lingkungan dapat menular kepada siapapun – tidak terkecuali kepada kita. 

Energi negatif itu termasuk makian, kata-kata kotor, umpatan, cacian, hinaan, ejekan, dan segala macam hal yang menimbulkan perasaan tertolak, tidak diterima, dan semacamnya. Sedangkan energi positif biasanya menimbulkan perasaan bangga dan penerimaan. Persoalan yang baik-baik pasti tidak akan menimbulkan masalah. Kedua energi tersebut bergantung kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, teman-teman, keluarga, saudara, dan rekan kerja, jika energi di sekeliling kita lebih dominan positif maka pola pikir dan energi yang kita ambil juga akan sama positifnya, dan sebaliknya. Lantas kangen termasuk emosi yang mana

Tergantung bagaimana respon kalian terhadap seluruh emosi tersebut. Apabila dari emosi tersebut dapat dirubah, maka segala sesuatunya menjadi tidak penting. Semua hal dalam perasaan anda menjadi sepenuhnya kendali anda. Ingat, seluruh yang ada pada anda – khususnya perasaan, adalah kendali anda. Jadi jangan mudah dikendalikan oleh orang lain.
 
Lantas bagaimana keadaannya jika sedikit saja energi negatif merusak kegiatan sehari-hari, semangat dan bahkan hubungan sosial manusia? Lantas apa yang harus dilakukan kita sebagai manusia yang bijak untuk mengubah energi negatif yang ada menjadi energi positif kepada orang lain?

Kita seringkali mengalami peristiwa seperti di atas, ada seseorang yang tiba-tiba merusak mood, atau merubah energi yang tadinya sudah positif menjadi berubah jelek. Istilah kasarnya adalah kita sudah tercemar emosi negatif oleh mereka, padahal, kendali perasaan ada pada kita sendiri. Kalau begitu, apakah artinya kita yang mudah di remote/kontrol/kendalikan oleh mereka? Ya, bisa jadi. 


Saturday, 7 January 2017

5 Opsi Nabung di bawah 2 jutaan buat kalian

Bing beng bang
Yuk kita ke bank
Bang bing bung
Yuk kita nabung
Tang ting tung hey
Jangan dihitung
Tau tau kita nanti dapat untung
(mari nyanyi, wkwk)

Ini lagu nge hits jaman saya kecil dulu, yang anak 90 an pasti tau lagu ini. Yang nyanyi Titiek Puspa sama artis cilik kayak trio kwek kwek dan banyak. Betapa senengnya kalau anak jaman sekarang juga dikasih lagu-lagu khusus kayak begini, yang buat konsumsi anak kecil juga – syarat sama nasihat, bukan kayak lagu jaman sekarang yang cuman cinta-cintaan. *abaikan curhat saya. Lagipula judul tulisan saya bukan soal lagu anak-anak yang hilang dari peredaran.

Oke back to theme deh ya, saya nulis lagu itu karna mau nge flashback waktu saya ngedenger lagu itu. Lagu yang nyuruh kita nabung, nyemangatin nabung. jaman kecil saya dulu, waktu TK sama SD, kita udah dibiasain nabung dengan sistem bulanan atau harian yang nanti disetor ke guru. Entah jumlahnya lima ribu atau berapapun, yang penting per hari nabung. bentuk bukunya kayak buku SPP, warna kuning buluk, merah muda buluk, atau ijo buluk. (maap, jaman dulu percetakan belum sebagus sekarang. Wkwk)

Nabung udah jadi hal krusial di idup semua orang. Kalau mau apa-apa ya kalau bisa dengan sistem nabung. bukan dengan sistem kredit, walaupun kedua-duanya sama aja setor bulanan dengan jumlah yang sama. Nabung harus dibiasain dari kecil, biar anak atau sepupu, ponakan kita termasuk orang yang menghargai proses. Bukan orang yang cuman fokus sama hasil. Orang-orang yang nabung adalah orang yang tau dan mau ngupayain sesuatu dengan usaha yang jelas – kontinuitas, konsisten, sabar, menikmati upaya, usaha, dan habis itu menuai hasil. Cuman orang yang nabung dan berusaha kan yang bisa menuai hasil dari jerih payahnya?

Nabung, kalau mau dilihat spesifik dari artinya adalah menyisihkan, bukan menyisakan. Tapi orang jaman sekarang suka lupa definisi sesungguhnya dari menabung itu sendiri. Mereka nabung setelah menghitung seluruh kebutuhan, atau kalau udah sisa uang kebutuhannya. Disimpen belakangan. Padahal mah kan ya, menabung itu menyisihkan. Sekali lagi, menabung itu menyisihkan. Jadi selalu ada pada nomor dan urutan awal.

Banyak macam tabungan yang udah saya coba dari dulu. Mulai dari kelas receh sampe kelas agak berat. Saya mengakui taraf saya yang belum bisa nabung lebih dari dua jutaan karena penghasilan saya yang bisa disisihin segitu. Tapi saya selalu usaha biar tiap bulan bisa nyisihin duit tabungan. Kalau kalian emang belum punya mimpi bikin rumah, beli motor atau mobil, dan atau target yang lebih gedean – minimal kita bikin mimpi yang paling rasional buat dicapai. Kayak slogan nabung, dikit-dikit lama-lama jadi bukit, beli sepatu, jalan-jalan atau apapun pake duit tabungan sendiri kece kan?

Kalau kita bukan orang super kaya raya yang bisa beli apapun sekali kepengen, salah satu cara paling rasional adalah dengan nabung kan? Oke, lantas gimana dong caranya?



Caranya buat nabung adalah? Ya mulai aja. Mulailah menabung. Berapapun nominalnya.  Pengen tau pilihan apa aja yang bisa buat nabung orang-orang dengan penghasilan di bawah dua juta?

 Here we gooo ----

Monday, 19 December 2016

Belajar dari kehilangan (Part 1)

Apa yang ngebedain kamu sama hewan?
*hewan gabisa mikir dan ngambil hikmah
Kalo kamu apaan?


Setelah tragedi ketipu sama barang online, dan dompet ilang gara-gara ketinggalan itu - saya pikir saya belajar banyak. Bahwa semua yang punya kita itu cuman titipan. Jangan dianggep semua itu kekal, sehingga pas akhirnya barang itu hilang – atau nggak ada di sekeliling kita lagi, kita nggak perlu sedih atau kecewa berlebihan. Apalagi ngaku itu punya kita/milik kita? Enggak.

Semua itu titipan. Yang suatu saat bakal diminta lagi.

Terlepas dari kita udah ngerawat dan ngejaga titipan itu dengan baik atau enggak, segala yang ada di planet bumi ini emang nggak ada yang punya kita. Badan aja kita cuman minjem. Sebut aja semua itu fasilitas kasih sayang Tuhan biar kita sadar buat bersyukur. Saya pikir dari dua pelajaran tadi saya udah cukup dikasih pelajaran, dan ngarti, nggak perlu diulang ada barang atau sesuatu yang ilang lagi. Saya pikir saya udah bisa ngambil hikmah dan lebih bijak ngadepin semuanya, eh ternyata belum.

Seminggu yang lalu, gara-gara keburu-buru pergi, hape saya jatuh. Reka ulangnya saya persingkat, hape saya taruh di saku jaket samping, saya berangkat ke kantor, dan hape itu jatuh entah kemana. Sejam setelah saya sadar. Dua nomer yang ada di kartu udah gabisa ditelpon semua. Reka ulang ini semacam ngingetin saya, kalau nggak perlu lagi kecewa atau sedih berlebihan sama barang yang ilang. Saya pikir awalnya hape itu ketinggalan di rumah, tapi sorenya pas saya balik lagi – yang kebayang di bayangan saya cuman yaudah deh ya, saya juga yang salah. Mau apalagi dong ya selain ikhlas? Yang udah ilang yaudah deh. Bukan rejeki kita aja kali.

Saya ditegur sekali lagi sama barang ilang gara-gara buru-buru.

Ini persis sama yang ditulis Ajahn Brahm di bukunya cacing dan kotoran. Kebanyakan manusia masih membuat perlekatan dengan harta bendanya, sehingga pas hilang – mereka lupa sama kasih sayang TUHAN yang lain. Mereka cuman inget kehilangan satu biji, tapi lupa rejeki sembilan puluh sembilan yang lain. Semacam kita cuman fokus sama sebulat tinta di tengah kertas putih. Kita terlalu fokus sama yang buruk, bukan kebaikannya. Padahal semua itu tergantung mindset kita, pola pikir, respon kita. Seharusnya kita fokus sama hikmah ke depannya, toh percuma juga kan kita nyesel sama yang di belakang? gabisa keulang lagi kan? percuma ngabisin waktu buat sesuatu yang bukan jd kewenangan kita. udah lewat, yang bisa kita upayain cuman idup ke depan - buat lebih baik dan aware sama hal yang pernah terjadi. itu baru namanya belajar.

Apa saya sedih? Haha itu pertanyaan yang gampang banget dijawab. Ya paasti sedihlah. Tapi sebentar doang. Setelah beberapa kehilangan yang saya alami, kehilangan yang ini doang ngga begitu berasa. Saya masih bisa beli hape lagi kalo ada rejeki berlebih. Badan saya masih seger buger, yang artinya – rejeki yg lebih besar yang dikaruniakan Tuhan belum dicabut dari sekeliling saya. Saya idup bahagia, keluarga dan temen-temen saya sayang sama saya. Itu cuman secuil dari idup saya yang kalo dicabut gak berasa apa-apa. Cuman hape doang inih kan ya? Apa gunanya dipikir terlalu dalem dan nangis bombay?  Tapi apa jadinya coba kalau saya ngebut dan saya yang jatuh?