.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 3 September 2017

The Power of Habit Charles Duhigg : Resensi Buku

Judul : The power of habit 

(Dahsyatnya kebiasaan. Mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan dalam hidup dan bisnis) – Charles Duhigg


Tebal : 370 halaman / 60 k

“Sewaktu anda bangun tadi pagi, apa yang anda lakukan pertama kali? Bergegas mandi, memeriksa handphone, menyambar air putih dari meja, mengecek jam, atau merapikan selimut? Anda menyikat gigi sebelum cuci muka atau setelahnya? Apakah anda mengambil air di gayung dengan menggunakan tangan kanan atau kiri? Apa yang anda katakan kepada teman-teman anda ketika bertemu dan setelah selesai bertemu? Rute mana yang kalian tempuh ketika hendak ke kantor atau pulang ke rumah? Minuman apa yang anda pesan ketika berada di suatu tempat makan? Apa yang anda kenakan ketika akan bertemu orang lain, sandal jepit atau flat shoes rapi? “

Menurut William James pada 1892, “seluruh hidup kita, sejauh memiliki bentuk yang pasti, hanyalah sekumpulan kebiasaan”.

Anda pasti menyadari bahwa seluruh pertanyaan yang saya ajukan di atas telah menjadi serangkaian pola yang sama setiap harinya. Anda sudah pasti menghafal seluruh gerakan yang anda lakukan tiap hari, bahkan tanpa berfikir. Terus menerus berulang, dan menjadi kebiasaan. Memulai hari, mandi, rute yang kamu pilih, respon yang kamu berikan, dan kebiasaan lain.

Buku ini berisi tiga bagian, yang pertama kebiasaan perorangan, kebiasaan organisasi yang sukses, dan yang terakhir kebiasaan komunitas. Salah satu cerita menarik yang hendak saya kutip sebagai berikut :

Lisa Allen, umur tiga puluh empat tahun, pecandu rokok dan minuman keras sejak umur 16 tahun, obesitas, memiliki banyak hutang, tak pernah bertahan lama dalam sebuah pekerjaan dan bahkan ditinggalkan suami terkasih. Dia menjadi orang yang paling frustasi dan kehilangan kontrol selama berbulan-bulan.

Lima tahun kemudian, Lisa Allen, orang yang sama, berhasil merubah dirinya secara keseluruhan. Dia berubah menjadi perempuan bertubuh langsing dan ceria, tak lagi merokok dan minuman keras, tidak memiliki utang, mulai memperbaiki hidup dan menabung, gemar berolahraga dan bahkan telah memenangkan rekornya bekerja di suatu perusahaan desain grafis selama lebih dari 39 bulan.

Apa yang merubah Lisa Allen dalam waktu-waktu terpuruk di atas?

Dalam perjalanan hidupnya setelah perasaan kacau berbulan-bulan. Lisa Allen memahami ia perlu merubah sesuatu, sesuatu yang bisa ia kontrol. Ia telah kehilangan banyak hal dan tidak mau berdiam diri dengan keadaan yang sangat memalukan tersebut. Ia memerlukan tujuan dalam hidup untuk dikejar. Namun ia memerlukan sesuatu sebagai fokus dan memberikan waktu bagi dirinya sendiri untuk berubah. 1 tahun waktu yang dia tetapkan.

Dalam perjalanannya ke Kairo, Lisa telah menetapkan satu tujuannya, ia mau berhenti merokok. Ketetapan hatinya bahwa ia harus berhenti merokok pada akhirnya memicu serangkaian perubahan lain dalam hidupnya. Ia menggantikan merokok dengan kegiatan lain yang lebih positif, lari pagi. Satu kebiasaan tersebut merubah pola pikir dan hidupnya. Ia merubah seluruh kebiasaannya - cara makan, menyusun jadwal kerja, merencanakan masa depan, dan sebagainya. Lisa memilih berfokus terhadap satu kebiasaan saja, namun ternyata hal tersebut merupakan kebiasaan kunci yang membantunya merubah segala aspek dalam hidupnya.

Peneliti kemudian menemukan di dalam otaknya bahwa, seperangkat pola kegiatan saraf kebiasaan-kebiasaan lama Lisa telah berubah, ditindih oleh pola-polanya yang baru. Peneliti menemukan pindaian otak yang sangat mengagumkan dalam otak Lisa. Penelitian mengenai Lisa Allen dan kebiasaan pemicunya membantu para dokter memahami bagaimana satu keputusan dapat berubah menjadi perilaku otomatis.

Kata kunci dalam buku ini adalah – kebiasaan kebiasaan tersebut jika dilihat dalam gambar pindai otak tidak pernah hilang, namun dapat digantikan dengan pola-pola kebiasaan yang baru yang lebih sering digunakan. Intinya kebiasaan buruk yang ada dalam hidup kita memang tidak bisa dihilangkan, tapi bisa dibelokkan. Penelitian terhadap gambar otak Lisa mengatakan bahwa serangkaian kebiasaan hidup makhluk hidup dapat dirubah dengan kebiasaan pemicu.

Penelitian selanjutnya bahkan tidak hanya melibatkan manusia, tetapi juga tikus. Pindaian pada otak tikus, dan manusia yang mengalami penyakit kehilangan ingatan ternyata menunjukkan lingkar kebiasaan yang sama. Kebiasaan dan respon makhluk selalu berulang tiap kali mengalami kejadian yang sama meskipun tidak dapat diungkap. Jangan khawatir, semua kebiasaan buruk itu bisa dirubah perlahan.

Tertarik untuk mempelajari kebiasaan dan merubah kebiasaan buruk ? Temukan kebiasaan pemicu kamu dalam buku ini.

Rekomendasi : Bintang 4 (****)

No comments:

Post a Comment