.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 21 August 2017

Dua manusia

Dua macam tipe manusia,

Yang pertama – manusia yang dari segi financial sudah tidak perlu banyak berfikir harus mencari kemana- menyisihkan sedemikian rupa – bekerja berapa jam perhari – makan nabung bahkan rumah sudah disediakan orang tua. Tipe manusia yang sepertinya isi atm nya tidak pernah habis, saldo yang tanpa bekerja pun akan selalu bisa memenuhi apa yang dia mau, yang dalam hati bikin kita mikir “nih orang duitnya gak ada limitnya ya? Tiap hari ngajak kesini kesitu. Makan enak, nge mall, belanja.” Sialnya, dia hanya perlu menuruti saja apa kata orang tuanya. Dia tidak perlu bekerja keras karena orang tuanya, tanpa dia minta akan memberikan segala yang mereka punya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Saya bilang sial karena, itulah sisi yang tidak mengenakkan dari dia. (maafkan jika bahasa saya kurang pas)




Yang kedua, tipe manusia yang harus me-manage sedemikian rupa uang tersebut. Mau pergi liburan nabung sendiri, mau kondangan sisihkan sendiri, mau makan enak kudu ngirit beberapa hari – dan dia harus memutar otak  bagaimana hidup untuk satu hari – satu bulan – dan kehidupan dia di masa mendatang. Dia tidak sebagaimana orang pertama yang terus berkecukupan. Kadangkala makan harus ditunda sedemikian rupa agar hidupnya esok hari masih ada sedikit simpanan.  Dia harus selalu berpikir bagaimana caranya menghasilkan uang lebi h banyak untuk mencukupi hidupnya, lebih lebih mengharmoniskan hidupnya. Naif bukan? Bekerja satu bulan untuk menghematnya sedemikian rupa namun masih belum berlebih juga.

Kalau kalian jadi dua macam manusia itu, kalian akan memilih tipe manusia yang mana?

Oke, simpan dulu jawaban kalian dari pertanyaan pertama.

Mungkin mayoritas dari kalian akan berfikir lebih menyenangkan pada posisi manusia yang pertama. Enak, nyaman, dan nggak perlu banyak usaha. Ya, saya sepakat bagian tersebut. Kehidupan yang nyaman tanpa banyak berusaha di satu sisi memang menyenangkan, sepertinya akan enak kalau tidak perlu menggunakan otak dan pikiran lebih banyak untuk menghasilkan uang. Tinggal duduk ongkang kaki semua tersedia. Tapi tunggu dulu. Di balik kenyamanan yang disuguhkan tersebut, ada beberapa perangkap yang mengintai orang tersebut. 

Yang pertama, orang yang hidup selalu dalam kenyamanan lupa caranya untuk berfikir menyiasati hidup. Lupa bersyukur bahwa kadang-kadang kesederhanaan dan ketiadaan yang bikin kita mensyukuri segala sesuatu ketika ada. Mereka hanya tau bagaimana menghabiskan, bukan memutar – atau bahkan menghasilkan lagi kenyamanan yang sama di masa mendatang. Bahasa kasarannya adalah konsumtif. (abaikan jika pendapat ini terlalu subyektif, tapi pada fase ini – orang yang terdesak kondisi ekonominya biasanya lebih berpikir kreatif dan manajemen waktunya lebih terarah serta produktif, atau dalam beberapa keadaan – orang tipe pertama tahu caranya memanage uang, tapi untuk menghasilkan lebih banyak lagi. Mempertahankan kekayaannya karna paksaan turun temurun dari orang tua).

Yang kedua, segala kenyamanan selalu berbanding lurus dengan banyaknya aturan. Tipe orang pertama tadi, meskipun dimudahkan dengan urusan finansial, kehidupan pribadinya sangat dibatasi oleh orang tuanya. Segala hal mengenai dia mau berbuat apa, dia mau bekerja apa, dan bahkan dia hendak memutuskan hidup dengan siapa menjadi kuasa penuh orang tuanya. Dia, tidak punya kebebasan untuk mengutarakan keinginannya. 

Hemat kata, kita mungkin hanya melihat satu sisi yang menyenangkan dari setiap orang – melihat bahwa tipe orang pertama mungkin memang bisa menghabiskan uang dan memiliki banyak uang yang bisa dibelanjakannya kapan saja – tapi kita lupa, dia tidak memiliki kebebasan berpendapat bahkan kebebasan menentukan jalan hidupnya sendiri seperti yang tipe orang kedua punya. 

Mana yang lebih penting bagi kalian, kebebasan berekspresi atau sekedar kemudahan finansial? Oke, saya tidak akan melupakan betapa pentingnya urusan finansial bagi sebagian orang. tapi pada pokoknya, urusan finansial bukanlah satu-satunya. Satu-satunya yang dapat memberikan kehidupan yang menyenangkan bagi orang adalah kehendaknya yang terarah. Kehendaknya yang dapat diekspresikan. Dan sayangnya, tipe manusia pertama yang saya contohkan tadi kehilangan kebebasan untuk menunjukkan kehendaknya sendiri.
 
Intinya, kehidupan setiap orang tidak selalu menyenangkan. Jangan melihat rumput tetangga sebagian mata saja. Setiap kehidupan manusia punya kelebihan dan kekurangannya. Mungkin akan lebih banyak tipe orang lagi yang kalian temukan dalam kehidupan, dan untung saja ini bukan kesimpulan final. Dalam beberapa keadaan, orang yang terdesak ekonominya juga sering menggunakan alasan miskin sebagai pembenaran dia berbuat tidak menyenangkan – atau justru alasan untuk menyalahkan keadaan, dan khususnya Tuhan. 

Jadi, setelah penjelasan tadi, kalian memilih tipe manusia yang mana? Kalau saya sih maunya yang kaya dan tetap punya kebebasan menjalani hidup sebagaimana kepinginnya saya. Wkwk



No comments:

Post a Comment