.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 21 August 2017

Begini caranya menghadapi HATERS


suka diteror sms nggak jelas, telfon nyasar?
 whatsapp kata-kata mengintimidasi?
Orang-orang kepo yang nyinyir?
Atau suka denger gosip-gosip gaenak tentang kita dari mulut orang lain?

Sebagian besar dari kita pasti pernah bermasalah dengan masalah – masalah seperti di atas. Rentetan kata kata tidak mengenakkan yang tidak bisa dilacak darimana muasalnya. Bahkan yang lebih ngeri lagi kalo sudah merembet membawa-bawa nama keluarga, misalnya ikut ganggu nomor saudara, atau seluruh kehidupan kita dikulik – dikeduk – diselidiki. Menelpon setiap waktu.  Memfitnah tanpa bukti. Dan memancing emosi dengan menghalalkan segala cara, itu adalah keahlian mereka.

Yang paling sering terjadi mungkin adalah selentingan gosip-gosip yang nggak enak dari mulut orang lain tentang kita. Cerita yang awalnya hanya bersumber dari satu mulut yang nggak punya rem, akhirnya merembet ke mulut lain, mulut lain lagi, yang akhirnya sampai juga di telinga kita.

Saya pernah beberapa kali mengalami hal tersebut. Cerita yang bikin telinga pekak, hati sakit, kepala panas saking herannya darimana cerita tersebut bisa bermula. Padahal cerita tersebut bisa dipastikan 80% salah total. SALAH TOTAL. Saya tetap tidak bisa mengerti kenapa orang yang dianugerahi hati untuk merasa dan akal untuk berpikir tega berbuat semacam itu, mengganggu dan membuat muak kehidupan orang lain. Tapi mereka adalah pembenci. Pembenci selalu punya alasan untuk mencari hal-hal yang bisa dibenci, entah rasional atau tidak rasional alasan yang mereka beri.



Kasarnya begini, sekalipun yang saya lakukan benar, atau saya hanya diam saja – para pembenci akan melakukan hal-hal yang membuat orang lain ikut membenci saya. Menyebarkan cerita tidak benar, atau mencari rombongan sesama para pembenci. Tindakan apapun yang saya lakukan akan membuat mereka kebakaran jenggot. Kebaikan sekecil apapun yang saya lakukan menjadi terkesan pamer, dan kesalahan sekecil apapun yang saya lakukan akan dianggap sangat fatal. Jadi, dari sisi manapun, di hadapan para pembenci kita sangat tidak berharga. Lantas apa masih berharga mereka untuk ditanggapi ?

Pembenci akan tetap jadi pembenci.

Dan bukan bagian kita untuk terus peduli pada mereka. Fokus saja pada seseorang yang peduli. Itu jawaban saya.

Dari rangkaian itu, akhirnya, saya menyadari bahwa, mulut di luar sana terlalu banyak untuk bisa kita bungkam. Atau kita yang ternyata tidak punya kapasitas untuk mengendalikan mulut semua orang. Kalau akhirnya kita termakan umpan yang mereka lemparkan, artinya mereka menang, dan kita kalah mengendalikan diri. Kalau fokus kita hanya kepada mereka, artinya misi mereka berhasil untuk membuat kita marah. Padahal kalau hendak dipikir lebih dalam, toh dari  10 orang teman, pasti hanya 2 atau 3 yang memiliki sifat seperti itu. Toh kita selalu punya kendali untuk merespon apapun yang mereka lakukan. Kita, selalu bisa mengambil sisi baik yang mereka punya, meskipun mereka pernah berlaku dan berbicara menyakitkan. Kita memang tidak mungkin bisa mengendalikan mulut dan perilaku semua orang di luar sana, tapi kita, selalu bisa mengendalikan diri sendiri (dengan cara berhati-hati)

Kita selalu bisa memilih untuk terus berkata baik, bercerita yang baik, berprasangka yang baik, memberikan makanan yang baik bagi hidup, meskipun hal tersebut sulit untuk dilakukan dalam situasi kondisi kita sedang dijelek-jelekkan, dicemooh. Tapi apa gunanya sih membalas perlakuan mereka dengan cara yang sama? Itu artinya kita tidak ada bedanya dengan mereka. Kita, sekalipun tidak punya banyak hal yang menyenangkan, setidaknya kita punya amunisi untuk menenangkan dan menyenangkan diri sendiri dengan kata-kata dan kalimat yang baik.

Banyak sekali cerita yang tidak benar, fitnah-fitnah keji, bahkan dari orang-orang yang mengaku dekat dan atau dulu pernah dekat dengan kita. Entah hal tersebut bersumber dari sakit hati, kekecewaan, atau memang dasar si empunya mulut yang bermulut kejam. Tapi saya terlalu ringan menanggapi hal-hal seperti itu. Hidup saya terlalu singkat kalau hendak menanggapi seluruh kata-kata menyakitkan dan menyebalkan itu. Saya yakin, setiap kejadian punya hikmah.

Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk para pembenci ini?

Fokus saja kepada yang peduli.

Setiap kali saya mendapatkan salah satu hal dari beberapa hal di atas, pesan – telfon atau kata-kata tidak enak lainnya, saya hanya akan screenshot pesan tersebut, lantas menghapus pesan aslinya. Saya tidak mau menyimpan hal-hal buruk di handphone saya, apalagi di hati dan kepala saya. Rasanya terlalu menghabiskan waktu dan menyakitkan hati ketika kita tahu hal tersebut tidak baik, tapi memilih untuk terus menyimpannya. Jangan menyimpan bangkai di pikiran apalagi hati.

Beberapa waktu lalu, sejak bulan Juni, bahkan tepat di saat ulang tahun saya, ada yang mengirim pesan whatsapp di nomor saya dan mengirimkan kurang lebih 15 foto beserta editan tulisan yang kurang menyenangkan mengenai utang. Saya tahu itu tipuan. Sangat menipu. Bagaimana bisa orang yang mengaku sudah dipinjami uang oleh saya sejak 8 tahun lalu baru mengirimkan klaim dan mengata-ngatai saya? Dengan alasan yang bahkan sangat tidak rasional. Dia membawa gambar, cerita bohong, bahkan seluruh kata-kata tidak mengenakkan itu untuk dilempar ke kepala saya. Meracuni saya dengan tingkah tidak bermanfaat dari dia, yang menurut saya sangat kekanak-kanakan.

Kali kedua, tidak jauh dari bulan itu, saya mendapat sms dan telfon bernada fitnah lagi. Dari dua nomor yang berbeda. Yang intinya dia selalu mau mengganggu saya dan membuat saya marah. Saya mulai kehabisan akal, siapa orang ini? Apa motifnya? Dia orang terdekatkah yang benci dan kecewa atau sakit hati pada saya? Atau kenapa? Banyak pertanyaan muncul di benak saya, tapi saya tidak sampai pada kesimpulan yang benar-benar bisa saya pertanggungjawabkan yang akhirnya justru membuat saya kewalahan. Hal tersebut membuat saya terus berpikiran negatif kepada beberapa orang. Penyakit hati mulai timbul, dan itu harus sesegera mungkin dienyahkan. Saya tidak mau menyimpan terus menerus prasangka buruk itu.

Kali ketiga, ada pesan lagi dari satu orang yang mengaku saudara saya kepada orang yang sedang bersitegang dengan saya. Mungkin saja maksud dia mengadu domba, dan untuk sepersekian detik saya terpancing marah kepada orang tersebut. Tapi sesaat setelah saya mampu mengendalikan diri, saya berpikir betapa bodohnya saya bisa terpancing. Saya hanya mempertanyakan, kenapa orang yang dikaruniai akal dan kepandaian untuk mengecek suatu kebenaran dari suatu cerita tidak mau melakukannya? Kenapa orang lebih suka berprasangka buruk daripada bertabayyun dan bertanya kepada orang yang jelas-jelas dimaksud?

Kali terakhir, ada skrinsut pesan dari teman dekat saya. Dia berbincang dengan orang yang dulu pernah dekat. Dia sudah beberapa kali menghina dan memberikan kata-kata tidak mengenakkan untuk saya. Dia mengatakan nasib saya jelek karena ini dan itu. Dia mengatakan saya sakit hati karena ditinggal ini itu. Hehe saya tertawa, berusaha menerima kekecewaannya, lantas bercerita kepada ibu saya, betapa mulut diluar sana kadang-kadang sangat jahat. Betapa mulut-mulut di luar sana, kenapa tidak bisa digunakan untuk berkata yang menyenangkan saja tinimbang mencela atau menghardik seseorang yang bahkan sudah 2 tahun tidak bertemu. Bagi saya, hidup dan respon orang lain tentang sesuatu terlalu menarik untuk ditebak.

Saya sempat emosi. Sempat berpikiran pendek dan hendak menyerang orang tersebut, tapi lagi-lagi berpikir “apa gunanya?” itu adalah mulut dia. Hidup dia. Dan hak dia untuk berkata-kata buruk tentang saya. Dan hak saya juga untuk tetap merasa damai dan baik-baik saja. Ternyata membolak balik hati bukan perkara yang menyulitkan.

Dan saya menyerah. Semua itu jelas-jelas di luar kendali saya. Saya, hanya punya kendali atas diri saya sendiri.

Sekali lagi, Pembenci akan tetap jadi pembenci.

Sekalipun kita mengaku telah berbuat salah, telah meminta maaf berulang kali dan mengerahkan semua tenaga untuk memperbaiki segala hal yang telah salah – pembenci akan tetap mendapatkan sisi buruk untuk menyerang kita.

Saya meyakini, saya tidak mungkin disukai semua orang. Dan saya pun tidak berharap untuk disukai semua orang. Hal tersebut sangat wajar dan setelahnya saya menerima bahwa wajar saya jika saya ternyata memiliki banyak haters. ternyata, saya memiliki banyak orang yang sangat benci, bahkan dendam kepada saya dan berniat membuat saya kehabisan kesabaran. Meneror saya dari belakang dan terus menerus menyerang. Tapi sekali lagi itu tidak berlaku bagi saya. Saya tidak mau memenuhi hidup dengan prasangka buruk. Prasangka buruk dan kalimat buruk akan kembali pada diri sendiri – jadi saya ingin hidup yang damai saja.

Di akhir, saya hanya ingin bilang – 3 atau 4 dari pesan-pesan nomor yang tidak diketahui itu ternyata besar pengaruhnya bagi saya. Tapi saya tidak mau terkecoh, di luar hal menyebalkan itu, saya masih punya banyak teman yang mau menerima kekurangan saya – bahkan dengan jujur berkata merindukan saya, saya punya punya keluarga yang begitu lapang dada menerima apa adanya. Saya punya kedamaian hati, kendali diri dan saya punya segala hal yang tidak dipunyai para pembenci. Jadi, kalau bisa mengambil kebaikan dari setiap kejadian, kenapa harus fokus pada yang menyebalkan? hehe.
Salam dangdut.

No comments:

Post a Comment