.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 31 August 2017

Kado untuk ibuk

Awal membuat blog ini, saya benar-benar tidak punya rencana apapun. Saya jarang menuliskan perasaan ke dalam sebuah tulisan rapi dan dengan bahasa yang baik, saya bukan penulis apalagi seseorang yang telah dan sedang belajar menulis, saya juga tidak punya background pernah mengikuti pendidikan menulis. Saya, sama sekali tidak punya pengalaman dalam hal tulis menulis, sangat amatir.

Saat itu, niat saya pertama kali hanya untuk belajar, dan bisa menghasilkan uang dari sebuah tulisan. Tujuan utama saya waktu itu? Kado untuk ulang tahun ibu. 

Minggu pertama mencoba menulis cerpen, saya bisa menuliskan beberapa cerita. Yang kalau dibaca saat ini mungkin membuat saya tertawa, aneh, kenapa dulu bisa menuliskan hal-hal kekanakan semacam itu. Dua minggu, satu bulan. Banyak sekali yang saya coba kirimkan ke media, majalah, web blog. Hasilnya? Nihil. Tapi sayangnya saya masih penasaran sampai mana kapasitas saya dalam menulis. Saya tidak akan tahu seberapa jauh kemampuan saya jika berhenti. Saya tetap terus menulis, mencoba mengirim terus menerus tulisan itu meskipun berulang kali ditolak, dan terus menambah koleksi buku dan novel untuk referensi bacaan saya.

Lantas apakah keinginan saya tentang kado ibuk terpenuhi? Belum. Bahkan sampai detik ini. Banyak sekali yang ingin saya beri, tapi tiap kali bertanya - ibu saya selalu menolaknya. Saya memahami, orang tua hanya ingin selalu memberi - tapi tak ingin merepotkan anak-anaknya, sekalipun itu tanda sayang anaknya pada mereka. Mungkin setiap ibu memang begitu. 

BEST (Part 2)

Siapapun yang datang di hidupmu adalah bagian dari hidupmu



Tuesday, 29 August 2017

Hastag pinjamkan bukumu

Katanya membaca adalah jendela dunia
katanya sebaik-baik teman sepanjang waktu adalah buku
kata desi Anwar, “buku, pesta dan cinta”. Itu kesenangan anak muda

Ada ratusan buku di rak saya. Mulai dari novel teenlit, sastra pop, sampai terjemah, komik, buku hukum, psikologi, islami, birografi dan motivasi.  Seluruh genre yang saya sukai sebagian besar adalah yang saya sebutkan tadi, selebihnya jika ada genre lain – biasanya itu buku pinjaman dan saya lakukan ketika sedang bosan. Katanya obat mujarab untuk menghilangkan kebosanan adalah melakukan sesuatu di luar kebiasaan.

Membaca. Itu kata kuncinya. Selain bernyanyi, menulis, jalan-jalan, mendengarkan lagu, dan doing nothing di hari libur – hobi saya adalah membaca. Bagi saya, membaca seperti berusaha mengenal pikiran dan Karakter orang lain. Membaca seperti diberikan kesempatan menyelami isi hati orang lain tanpa harus kenal dekat, dari tutur katanya, dari jalan pikirannya, dari imajinasinya, dari pengalamannya. Membaca memberikan kita dimensi yang berbeda dari apa yang biasanya kita pikirkan. Mudahnya, dengan membaca kita sedang melakukan interaksi dengan penulisnya, bertukar pikiran. Hebatnya lagi, hanya dengan membaca ringkasan singkat hidup seseorang dan menuliskannya dalam selembar kertas, pakar psikologi dapat membaca kepribadian seseorang. Itulah salah satu pentingnya membaca.

Nah, masalahnya adalah, sebagian orang kesulitan menyalurkan - menularkan hobi ini kepada orang lain. Membaca merupakan kesenangan pribadi yang tidak bisa dipaksakan kepada orang lain, murni keinginan pribadi. Membaca bisa membunuh waktu, menghentikan kebosanan, atau sekedar menghilangkan kikuk karna kebingungan membuka percakapan dengan orang lain. Jauh di luar itu, sebenarnya buku punya banyak manfaat bagi perkembangan pengetahuan manusia. Buku punya segudang informasi dan ilmu.

Yang jadi salah satu masalah adalah, setiap buku berpotensi untuk hanya dibaca satu kali setelah dibeli. Padahal, tiap kali membaca buku yang sama, pengetahuan dan makna yang kita dapat akan berubah seiring waktu. Yang lebih masalah, buku tersebut kadang teronggok tidak bermanfaat bagi empunya dan tidak juga bagi orang lain. Beberapa orang kadang hanya membeli buku untuk memenuhi nafsu, karena sedang trendbooming – laris - rame, karena biar keliatan pintar dan berpendidikan. Beli buku setumpuk yang akhirnya tidak pernah dibaca. Atau membeli buku hanya untuk dibaca halaman awal, selebihnya, malas meneruskan. Bukankah tidak ada bedanya hal tersebut dengan menyia-nyiakan uang dan kesempatan dari hikmah yang bisa dipetik dari sebuah buku?

Saturday, 26 August 2017

Sangka baik sama Allah

Seorang kawan lama saya tiba-tiba datang, bercerita, dia baru saja diputuskan pacarnya. 4 tahun menjalin hubungan, berjanji akan melamar dan menikahi, tiba-tiba dibuang begitu saja. Seperti sampah katanya. Mendengarnya, dari sisi manapun, saya jelas menyatakan turut berduka cita – meskipun saya tidak tau harus bagaimana memberikan respon dan mengekspresikan kesedihan saya atas kabar tersebut.

Lantas dia bercerita panjang lebar. Matanya berbicara banyak. Raut wajahnya tidak dapat disembunyikan. Saya tau, dia sedang berduka dalam waktu yang lama. Saya, ibu saya, saudara saya dengan seksama mendengarkan ceritanya. Bagaimanapun juga seseorang yang sedang marah, terluka, selalu menggunakan kata-kata yang kurang enak di telinga, mereka akan terus membela diri, menjelekkan pihak lain, mengatakan segala macam aib yang dia tahu – tapi di situasi seperti ini kita tidak bisa banyak berkomentar. Teman saya hanya ingin bercerita, dan didengarkan. Dan oke baiklah, ketika marah saya juga hanya ingin melampiaskan dan didengarkan. Selebihnya mungkin akan banyak kalimat omong kosong dari kami sebagai pendengar yang tidak bisa banyak membantu kehidupan percintaannya itu.

Lantas apa yang ingin saya bagi disini?
Ya, cara kita memberikan respon terhadap kehidupan.




Dia bercerita dia sakit. Dia terdzolimi. Oke abaikan pihak mana yang benar atau salah. Tapi berasumsi bahwa dia yang jadi korban, dia yang telah berkorban banyak, dia sudah banyak berdoa dan berupaya, tapi merasa dan memposisikan diri sebagai dia yang tersakiti hanya akan menyakiti diri sendiri. Perasaan  kalah, kekecewaan yang tidak dapat disembunyikan, harapan yang tidak terwujud. Menyalahkan orang lain atau diri sendiri adalah perasaan destruktif yang bisa kita rubah dan kendalikan.

Saya, lebih suka menjadikan diri sendiri di posisi yang mendzolimi. Saya tidak suka memposisikan diri sebagai pihak yang lemah, kelemahan tidak berarti bagi pembenci, kelemahan lebih banyak membawa kekalahan, karena bagaimanapun kita punya kendali atas kehidupan dan perasaan kita sendiri. Tapi lagi-lagi saya tahu, dia bukan saya, dia tidak bisa seperti saya.

Itu yang terus menerus saya bilang kepada diri saya sendiri.

Saya berulang kali ingin menangis, marah, kecewa, membalas perlakuan orang lain yang menyakitkan. Jika ada yang meninggalkan, berkhianat, menjelek-jelekkan, menghina, merendahkan, ingin sekali rasanya menghajar – membalas – atau menghina dia di depan orang lain. Ingin sekali hal tersebut bisa dilakukan. Lantas beberapa saat kemudian saya sadar, apa gunanya? Apakah membuat tenang hati saya? Apakah banyak kebaikan disana? Apakah hal tersebut memperbaiki masalah? Apakah hal tersebut membuat hidup saya nyaman nantinya? Dan dari seluruh pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya sendiri tersebut, seluruh jawabannya mengatakan, TIDAK. Tidak ada gunanya melakukan itu semua pada orang lain. Balasan. Kalimat balasan. Perlakuan balas membalas. Dendam tidak akan ada habisnya. Jadi benar bahwa ikhlas dan berlapang dada adalah jawabannya.

“Mukmin yang baik tidak mencela, tidak melaknat, tidak keji, dan tidak jorok omongannya”. Begitu kata hadist HR. Tirmidzi. Dan sekalipun pengetahuan agama saya tidak begitu banyak, saya jelas memahami, bahwa kata-kata dan kalimat menyakitkan tidak pantas diberikan untuk siapapun. Itu menyakitkan. Dan saya tau rasanya disakiti dengan kata-kata.

Alih-alih merasa marah, kadang-kadang ketika mendengar selentingan kabar jelek dari mulut orang lain, saya berusaha tersenyum. Karena senyum membuat kepala saya lebih dingin. Sadar betapa sulitnya mengendalikan amarah, saya harus bisa melawannya. Saya harus menahan diri untuk hal-hal yang bisa saya kendalikan.

Kembali lagi pada teman saya. Lantas bagaimana respon saya jika saya dalam keadaan seperti teman saya tadi?

Ketika seseorang meninggalkan atau menjauh, saya hanya akan berpikir sederhana, mungkin dia bukan yang terbaik, atau kita yang kurang baik memperlakukan orang tersebut hingga akhirnya mereka pun merasakan kita bukan yang terbaik bagi mereka.  Ada kalanya kita diberikan pelajaran ketika bertemu orang. diberikan hikmah. Dan saya yakin, yang mereka bawa tidak sekedar sakit dan keburukan – banyak sekali kebaikan jika mau diingat. Jika ingin marah, marahlah sebentar, kecewalah sebentar, menangislah sebentar, tapi jangan menyakiti diri sendiri - berbuat yang tidak bermanfaat, atau membalas. 

Saya punya kalimat andalan yang bisa menentramkan, “Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.” Begitu kata Umar Bin Khattab. Jadi, mereka yang pergi sudah jelas tidak pernah ditakdirkan bagi kita bukan?

Saya mungkin terdengar sok bijak dengan mengatakan tidak pernah marah dan memperlakukan orang lain dengan buruk. Ya, saya berbohong jika berkata tidak pernah. Di waktu lampau, saya pernah dalam keadaan marah dan merutuk orang lain – tapi itu menyakiti diri saya sendiri. Saya sakit, marah, benci, dan saya sadar itu menghabiskan tenaga. Di waktu yang lain, saya pernah kecewa dan diabaikan, lantas saya terus menerus meminta penjelasan, kenapa, kenapa dan kenapa? Tapi saya tidak lantas mendapatkan penjelasan. Saya tahu dia mulai tidak nyaman dengan desakan saya. Sampai akhirnya saya merasakan sendiri posisi tersebut. Terus menerus didesak penjelasan, disalahkan, dituduh, sama sekali bukan jadi akhir yang baik. Saya tau perasaan itu sama sekali tidak mengenakkan. Hingga saya berkesimpulan, ternyata memang tidak menyenangkan di posisi itu – yang meninggalkan atau ditinggalkan, setiap perpisahan selalu membuat kedua pihak sakit. Dan tidak semua orang suka memberikan penjelasan, biar waktu saja yang membuat jelas.

Ketika seseorang berbuat hal yang tidak menyenangkan– saya belajar memahami bahwa disakiti tidak pernah menyenangkan. Maka saya bertindak hati-hati. Ketika seseorang mengandalkan mulut jahatnya untuk menyebarkan fitnah, saya belajar bahwa kata-kata bisa jadi senjata mematikan dan meninggalkan luka sangat dalam, maka saya berusaha mati-matian menjaga kalimat saya agar tidak berdampak buruk di kemudian hari. Ketika seseorang pergi menjauh, saya belajar memahami bahwa dia bukan yang terbaik bagi saya – ada yang terbaik bagi dia dan kita untuk tidak bersama, mungkin Allah di waktu yang akan datang akan memberikan jawabannya.

Penutup tulisan ini, saya hanya ingin mengutip kata-kata KH. Khalid Bassalamah, Sangka baik sama Allah. Terus sangka baik sama Allah. Pasti selalu ada kebaikan atas sakit dan sedih yang kita rasakan. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Hidup tanpa sosial media?

Hidup tanpa social media?
Apa susahnya?

Sebagian orang bertanya pada saya, bagaimana susahnya hidup tanpa social media? Pasti nggak tau perkembangan dunia, pasti terkucil dari peredaran, sulit berkomunikasi, dan bla bla bla. Muasal pertanyaan mereka adalah, karena sudah lebih dari 3 minggu saya menghapus berbagai macam akun pribadi, log out dari beberapa aplikasi, dan mengganti nomor pribadi. Ya, saya memang sedang ingin menghilang sejenak dari peredaran (biar nggak ditagihin utang). Wkwk

Pertanyaan demi pertanyaan datang setiap kali saya bilang, akun pribadi saya sudah saya hapus. Bukan deactivated. Delete. Artinya, nama saya sudah tidak ada di mesin search instagram dan fesbuk. Secara kasat mata, saya aman (meskipun google masih menyimpan saya, hehe).

Lantas, apakah kesulitan yang saya rasakan tanpa akun pribadi itu?

Oke, Bayangkan kehidupan jaman dulu yang tanpa social media, tetap baik-baik saja bukan? Saya benar-benar dalam keadaan yang sangat baik-baik saja. Lebih baik-baik saja.

Wednesday, 23 August 2017

BEST (Part 1)

Ketika menuliskan ini saya tersenyum. Terkenang. Bayangan sekumpulan orang tertawa, banyak canda, berjanji hari esok akan terus bertemu lagi, berbagi cerita masing-masing, berbagi rahasia dan aib tak tertahankan.








Kenangannya persis jelas ketika melihat foto-foto lama




Monday, 21 August 2017

Begini caranya menghadapi HATERS


suka diteror sms nggak jelas, telfon nyasar?
 whatsapp kata-kata mengintimidasi?
Orang-orang kepo yang nyinyir?
Atau suka denger gosip-gosip gaenak tentang kita dari mulut orang lain?

Sebagian besar dari kita pasti pernah bermasalah dengan masalah – masalah seperti di atas. Rentetan kata kata tidak mengenakkan yang tidak bisa dilacak darimana muasalnya. Bahkan yang lebih ngeri lagi kalo sudah merembet membawa-bawa nama keluarga, misalnya ikut ganggu nomor saudara, atau seluruh kehidupan kita dikulik – dikeduk – diselidiki. Menelpon setiap waktu.  Memfitnah tanpa bukti. Dan memancing emosi dengan menghalalkan segala cara, itu adalah keahlian mereka.

Yang paling sering terjadi mungkin adalah selentingan gosip-gosip yang nggak enak dari mulut orang lain tentang kita. Cerita yang awalnya hanya bersumber dari satu mulut yang nggak punya rem, akhirnya merembet ke mulut lain, mulut lain lagi, yang akhirnya sampai juga di telinga kita.

Saya pernah beberapa kali mengalami hal tersebut. Cerita yang bikin telinga pekak, hati sakit, kepala panas saking herannya darimana cerita tersebut bisa bermula. Padahal cerita tersebut bisa dipastikan 80% salah total. SALAH TOTAL. Saya tetap tidak bisa mengerti kenapa orang yang dianugerahi hati untuk merasa dan akal untuk berpikir tega berbuat semacam itu, mengganggu dan membuat muak kehidupan orang lain. Tapi mereka adalah pembenci. Pembenci selalu punya alasan untuk mencari hal-hal yang bisa dibenci, entah rasional atau tidak rasional alasan yang mereka beri.

Mari membuat rencana

Seberapa pentingnya memasang target? Pencapaian pencapaian yang kita inginkan, baik jangka pendek maupun jangka panjang? Menuliskannya dalam suatu memo kecil bulanan? Menyampaikannya kepada orang-orang terdekat? Mengulangnya dalam doa tiap malam dan di setiap menengadahkan tangan? 

Target jangka pendek saya seperti lulus tahun ini, lanjut s2 tahun ini, wisuda s2 tahun ini, magang, kerja, liburan, sebagian besar sudah terpenuhi. Hampir tidak pernah meleset jauh dari target dan rencana yang saya tuliskan di memo kecil harian saya (terima kasih Tuhan) – yang selalu berganti tiap tahunnya. Sedangkan target jangka panjang saya seperti terus jadi lebih baik dalam ibadah (tidak perlu diperjelas bukan? Hehe ), menunaikan rukun islam yang ke-5 bersama dengan saudara dan orang tua, punya izin untuk membuka kantor dan memiliki kantor pribadi yang sangat layak, punya mobil dan rumah yang baik dan menenangkan dan sederet rencana rasional lain yang saya punya sedang dalam perjalanan untuk dilaksanakan dan dikabulkan oleh Tuhan. 

Lantas seberapa besar andil target target tersebut untuk hidup saya? 

Dua manusia

Dua macam tipe manusia,

Yang pertama – manusia yang dari segi financial sudah tidak perlu banyak berfikir harus mencari kemana- menyisihkan sedemikian rupa – bekerja berapa jam perhari – makan nabung bahkan rumah sudah disediakan orang tua. Tipe manusia yang sepertinya isi atm nya tidak pernah habis, saldo yang tanpa bekerja pun akan selalu bisa memenuhi apa yang dia mau, yang dalam hati bikin kita mikir “nih orang duitnya gak ada limitnya ya? Tiap hari ngajak kesini kesitu. Makan enak, nge mall, belanja.” Sialnya, dia hanya perlu menuruti saja apa kata orang tuanya. Dia tidak perlu bekerja keras karena orang tuanya, tanpa dia minta akan memberikan segala yang mereka punya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Saya bilang sial karena, itulah sisi yang tidak mengenakkan dari dia. (maafkan jika bahasa saya kurang pas)