.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 4 June 2017

Ramadhan, 2017

2017. Ramadhan kedua di bulan Juni. Bulan kelahiran saya.

Rasanya syukur, nikmat dan rindu jadi satu. Saya tidak bisa menghindari banyak syukur dari Allah, karena, lagi-lagi saya masih diizinkan untuk menikmati Ramadhan bersama keluarga, orang-orang terdekat, dan dengan kesehatan berlimpah. Saya ingat hari pertama shalat tarawih, mungkin bukan hal yang penting untuk banyak orang, tapi penting untuk mengingatkan saya. Sesaat sebelum shalat tarawih dimulai, mata saya mengedar pandang ke sekeliling masjid. Penuh. Jamaah tumpah ruah. Laki-laki perempuan. Muda tua. Kanak kanak atau dewasa.

Dan hati saya tiba-tiba buncah oleh haru. Mata saya panas.

Mata saya tiba-tiba berkaca-kaca. Saya merindukan pemandangan itu. Orang banyak. Orang-orang penuh semangat untuk beribadah bersama. Silaturahmi. Kenikmatan rohani yang tidak ada tandingannya. Dan saya menyadari, tiba-tiba dari sudut mata saya mengalir airmata/ saya menangis. 

Mungkin kedengarannya cengeng, tapi begitulah yang saya rasakan. Yang perlu digarisbawahi, itu sama sekali bukan tangis lebai –hati saya damai. Rokaat pertama sholat tarawih saya menangis sebentar sebelum saya menyadari bahwa tidak boleh berlebihan bahkan dalam merasakan kebahagiaan, saya hanya diminta untuk belajar istiqomah.

Jika Tuhan masih mengizinkan saya mencecap nikmat beribadah, itu artinya Tuhan masih sayang pada saya.

Dan ya Allah ...

Terima kasih atas nikmat haru yang masih terasa
Jika bukan karena izin-MU, tidak ada yang akan terjadi di dunia

Semoga atas pertambahan umur dan nikmat hidup yang masih diberikan sampai saat ini selalu bermanfaat. Berkah. Dan KAU ridhoi.

Dan ya Allah ...
Selamat bekerja.                                                     
Jogjakarta, 30 Mei 2017

No comments:

Post a Comment