.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 23 June 2017

Pilihan apa yang kamu buat hari ini?

Setiap hari, persis ketika membuka mata, kita selalu membuat pilihan hendak jadi apa hari ini? Hari yang menyebalkan, membahagiakan, atau memberi tambahan semangat. Hendak menjalani hari diawali dengan senyuman, ibadah yang baik, membantu orang tua atau mulai dengan sepanjang keluhan yang melelahkan – seperti, “ah ini hari Senin pasti kerjaan numpuk! Dan atau, yes sudah hari Senin, mari bersemangat kerja lagi. Waktunya menjadi produktif (ucapkan sembari tersenyum dan membayangkan keajaiban apa yang bisa didapat hari ini”

Setiap hari, kita selalu punya pilihan, hendak bersyukur atas hari yang masih dikaruniakan sampai detik ini dan menjalani apapun dengan harapan (tersenyum pada diri sendiri dan berterima kasih atas kerjasamanya), atau berkutat pada keluhan karena belum dapat pekerjaan yang menyenangkan, keluarga yang menyebalkan, atau teman yang tidak pengertian.  

Setiap hari, kita selalu punya pilihan, hendak mencoba apa-apa yang belum sempat kita lakukan, atau mengeluhkan keterbatasan yang membuat kita tidak berani melakukan apa-apa yang sempat kita impikan. Memilih mencoba memasukkan lamaran pekerjaan baru atau sekedar membayangkan “pasti aku tidak akan diterima disana”.



Setiap hari, kita selalu punya pilihan, hendak bersyukur atas nasi dan telur yang terus tersedia di meja makan, atau mengumpat mengapa aku hanya makan itu saja – tidak seperti teman yang lain yang bisa menikmati segala makanan dan orang tua yang pandai memasak beraneka ragam makanan. Bersyukur atas baju yang bertumpuk di meja karena masih ada yang bisa kita gunakan, atau mengeluhkan kenapa belum ada yang menyetrika bajuku. Bersyukur atas orang tua yang mengomel sepagian karena kita masih punya orang tua, atau mengeluh mengapa usia membuat mereka tak berhenti bicara. Bersyukur atas waktu yang masih ada karena itu berarti kita masih hidup, atau  mengumpat sejak pagi kenapa hari hanya berlalu seperti itu itu saja. Bersyukur atas rumah yang kecil karna berarti kita punya tempat pulang, atau mengeluh kenapa rumahku tak bisa lebih besar dan lengkap seperti teman-teman. memilih menjadi teman yang baik atau menyalahkan mereka yang selalu mengecewakan kita. 

Semua pilihan itu, milik kita. 

Setiap hari, bahkan setiap waktu, Tuhan memberikan kita pilihan – hendak menjadi manusia yang terus bersyukur atas apa-apa yang sudah dimiliki, atau terus menerus menyalahkan situasi dan kondisi. Menjadi manusia yang terus memperbaiki diri dan menyemangati nikmat Tuhan, atau sekedar merutuk dan tidak berupaya mengubah diri. Yang pasti seluruh pilihan itu seperti jalanan yang menuntun kita ke depan. Peta kehidupan yang suatu saat akan kalian runut lagi, dan bertanya atau mensyukuri pilihan yang pernah kita buat. 

Jadi, pilihan apa yang buat hari ini?


Jangan lupa tersenyum setiap hari, sertakan syukur sejak dini :D

No comments:

Post a Comment