.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 4 June 2017

Ini urusanku, itu urusanmu

Begini, soal undangan buka bersama yang akan kamu terima atau tidak itu bisa kau sikapi dengan dingin dingin saja. Tidak usah repot, tidak usah gusar, apalagi ribut mendengarkan kata orang. mereka mau bilang kau sombong, sok sibuk atau pelit biar saja jadi urusan mereka. Sirik itu melelahkan bukan? Jadi biarkan saja mereka yang kelelahan. Itu hidupmu, ibadahmu, kegiatanmu, dan kebebasanmu. Menerima atau menolak itu sungguh kewenanganmu dan orang lain tidak berhak ikut campur, jadi ini soal pilihanmu, bukan pilihan orang lain.

Yang kedua, soal tarawih yang cuman sebelas atau dua puluh tiga rokaat ini juga bukan tentang orang lain. Jadi orang lain mau bilang apapun, mau membeberkan dalil apapun, ini adalah soal yang kau yakini. Soal yang turun temurun kau alami. Soal yang kau tau sendiri bagaimana baiknya. Jadi percuma berdebat soal ini, kamu, Cuma tinggal yakin dengan keyakinanmu, dan urusan keyakinan orang lain bukan lagi urusanmu.

Yang ketiga, soal ibadah dan berbuat kebaikan itu adalah urusanmu dengan Tuhanmu. Bukan urusanmu sama manusia-manusia yang kadang berisik itu. Jadi mau diam-diam atau koar-koar ke sepenjuru desa biar semua orang tau, biar itu jadi hitungan amalmu sama Tuhan. Cukup biarkan malaikat yang mengurus persoalan dosa dan pahala itu, jangan lagi kau campuri dengan berkata mereka berdosa sedangkan yang paling pantas masuk surga.

Yang terakhir, soal ghibah – nggosip – fitnah – dan sebagainya yang sepersaudaraan dengan nyinyir itu juga bukan urusanmu. Ringkaskan hidupmu untuk mengurus hal-hal yang kau perlu. Itu mulut orang, bukan mulutmu. itu lidah orang yang sama-sama tidak bertulang. Yang harus kau jaga hanya mulut dan lidahmu. Bagaimana mungkin kau akan mengendalikan lidah orang yang sama sekali bukan jadi bagianmu itu? Urusanmu hanya mengingatkan, dan selebihnya – biarkan saja Tuhan yang memberikan teguran.

Dan sudah memang begitu saja.

Lagipula, apa mau seluruh omongan di dunia kau masukkan ke telinga?

Pintar-pintarlah mengurus urusan yang memang penting untuk kau pikirkan. 

No comments:

Post a Comment