.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 14 June 2017

DUA LELAKI


02.00 WIB, Suatu tempat. 

Dua lelaki itu saling melempar botol kaca. Berteriak. Memaki. Menghajar. Matanya merah, penuh amarah. Mereka abaikan kerumunan orang yang sedang asik masyuk bergoyang, berdansa, menikmati hentakan musik dari DJ yang kelewat keras. Tapi siapa peduli, mereka asik dengan dunianya sendiri. Yang lain juga. Mungkin hal seperti ini sudah biasa.

Sepertinya aku mengenalnya, dua lelaki itu, yang sedang saling melempar gelas itu, tapi hentakan musik di ruangan ini terlalu pekak, mataku samar. Mungkin aku mabuk. Atau mungkin halusinasi. Kulangkahkan kaki mendekat – ingin sekali melerai dan bilang hei buat apa berkelahi? Apakah gara-gara wanita? CIIH. Aku meludah sendiri. Tapi aku terjatuh menabrak meja. Lelaki tua di sebelahku membantuku kembali duduk. Kuurungkan niatanku melerai, biarkan sajalah, kunikmati saja sisa gelasku.  

PYAARRR! 

Lelaki berkacamata itu memecahkan botol kaca di kepala lelaki hitam manis berkemeja. Pelipis lelaki itu berdarah. Tawa lelaki berkemeja semakin sinis, beringas, ia berdiri – menyerang balik, menghajar sekenanya, sebisanya. Dari jauh perkelahian itu semakin asik. Kudengar mereka meneriakkan namaku, satu kali, dua kali, entahlah. Musik disini terlalu keras. Aku tak ingat. 

Dari balik kerumunan orang itu kulihat petugas keamanan klub datang. Satu dua orang melerai, petugas keamanan berteriak memaksa berhenti. Tapi mereka terlanjur asik dengan pesta mereka. Mereka terlanjur asik dengan ego mereka. 

Kepala mereka sudah terlanjur bersimbah darah. 




ANGGI 

Kepalaku pusing. Mual. Perutku seperti diremas-remas. Masih tersisa semalam sisa-sisa alkohol itu. Bayangan-bayangan aneh itu. Sepertinya ada Arik dan Gilang semalam. Tapi, bukankah mereka tak suka bertandang ke klub malam? Ah masa bodo. Mungkin sekedar halusinasi. Aku tak tau siapa yang membawaku pulang, mungkin Abigail, mungkin Haris, atau mungkin aku sudah memesan taksi online sampai rumah. Siapapun itu aku tak perduli. 

Perutku mual. Aku berlari ke kamar mandi memegangi perut. 

Aku hanya ingin memuntahkan isi perut ini.

ARIK

4 tahun kami bersahabat. Tak kusangka hanya karena perempuan, aku rela membuat wajahku babak belur di tangan sahabatku sendiri. Haha betapa lucunya hidupku, hanya punya dua orang teman, tapi berakhir seperti ini. Kukira aku bisa bersabar dan merelakan Gilang terus menerus menceritakan niatannya ingin menyatakan perasaannya pada Anggi, tapi rasanya panas disini. Aku tidak terima. 

Aku tau Gilang sudah punya Bela, Kia, Lucia, Tiara, dan sederet nama perempuan simpanannya itu. Kuterima bahwa dia memang lebih tampan dan menarik dibanding aku yang hanya kutu buku dan peduli Anggi di sampingku. 

Tapi soal Anggi, kalau Gilang berani mempermainkan dan menjadikannya salah satu boneka mainannya? Langkahi dulu mayatku.

GILANG

Hish. Aku tertawa meringis. Luka di bibir dan merah lebam ini masih terasa. Ternyata Arik jago juga menghajar. Perih yang dia sisakan lumayan membuatku kesakitan semalaman. Aku kembali berdiri di depan cermin, mulutku robek, yah – ternyata peringatan Arik tak bisa kuremehkan. Wajah hitam manisku sedikit luntur gara-gara tangan Arik.

Kukira dia hanya bisa bilang iya pada Anggi dan segala kemanjaan Anggi padanya. Tapi apa salahku? Aku hanya ingin bilang pada Anggi aku sayang padanya, tidak lebih. Lagipula, Bela, Lucia, Sinta, dan semuanya itu menyerahkan diri sendiri padaku. Aku tak suka pada mereka. Mereka yang mengejarku. Jadi apa salahku? Perkara ini memang benar-benar sial melelahkan.

ANGGI

Yeah well, Monday is baaack

Saatnya memasang muka penuh bahagia. Setumpuk pekerjaan, dan kopi manis buatan Mang Rudi. Lupakan Reza yang sudah bersama pacar barunya dan mari kembali ke kehidupan masing-masing. Mari menjadi karyawan yang baik, teman yang baik, dan kehidupan yang baik.

Tapi by the way, kenapa Arik dan Gilang tak mampir ke ruanganku dan seperti biasanya memberi coklat selamat datang? Dan kenapa tadi muka mereka selintas tampak seperti lebam? 

Kusimpan pertanyaan ini sampai jam makan siang dan berharap mereka akan bercerita sendiri tentang muka mereka yang berubah jadi jelek seperti itu. Aku tertawa dalam hati. Arik, dengan kacamata nya itu, sesungguhnya dia manis. Beberapa anak baru bahkan sempat memperlihatkan ketertarikannya pada Arik. Dan itu berulang kali kukatakan padanya yang selalu dia tolak dengan gerakan lembutnya mengelus rambutku atau cukup tersenyum membalas pujianku. 

Tapi sayangnya, dia terlalu baik, semua yang selalu ia dekati tak pernah berhasil karena ia bahkan tak punya inisiatif memperlakukan wanita. Ia tak ubahnya lelaki manis yang tak membuat penasaran, kurang bikin gregetan, lalu, apa masih mungkin lelaki itu punya tempat selain dikenalkan oleh pak Ustadz dengan perempuan yang sama baiknya saking terlalu baiknya? Aku? Haha aku tertawa lagi dalam hati. 

Kurasa aku mendadak gila karena tiba-tiba memikirkan dua lelaki bodoh dan sinting itu. Aku memang bahagia dan nyaman berada diantara mereka berdua, jalan bersama, curhat, dan kadangkala memutuskan liburan hanya bertiga. Tapi urusan hati? Mereka bahkaan tau aku tak bisa lepas dari namanya Rezaaaaa. Lelaki sialan yang sudah bersamaku selama 4 tahun dan sekaligus rela melepas cincin yang dia sematkan sendiri ke jariku gara-gara perempuan lain. Hebat bukan? 

Ah baiklah. Lelaki itu tak penting lagi kupikirkan. 

Dan ya Gilang. Dia teman SMA ku. Sederet nama teman-teman baikku sudah jadi bekas observasinya soal cinta. Lucia, Sintya, Sherly, Alia, ah sudahlah, terlalu banyak nama itu dan aku tidak bisa mengingatnya. Lagi-lagi aku tertawa mengingat kelakuan bodoh dua lelaki itu. Arik yang baik, dan Gilang yang malang. Setiap kali aku mengingat dua lelaki itu, kesedihanku soal Reza yang masih sedikit pahit di kenangan itu sirna. Mereka rela jadi tempat sampah pribadi, menelpon setiap waktu, bahkan mengabaikan perempuan-perempuan lain selain aku. Baiklah. Harusnya mereka sadar aku ini memang paling spesial. Jadi jangan berani-berani menomorduakanku.

Dan stopped. Jam makan siang sudah datang. Aku hanya perlu datang ke basement dan makan biasanya dengan dua lelaki itu. Membicarakan mereka langsung, tanpa harus tersenyum sendiri di meja kerja membayangkan dua lelaki aneh yang sudah menemaniku selama hampir 4 tahun ini. 

Tapi perasaanku mendadak tidak enak. Kupelankan langkah kakiku ketika di balik pintu ruangan kamar mandi laki-laki, kudengar suara Arik dan Gilang saling menghardik.
Lo kira lo lebih baik dari gue mentang-mentang lo belum pernah punya pacar? Hah? Hei ngaca. Dia juga sama aja nganggep lo cuman kayak tempat sampah yang dia gunain pas dia butuh pelampiasan. Jangan ngimpi” dari balik pintu kudengar suara Gilang pelan. Ingin rasanya menyangkal kata-kata itu untukku. Tapi seluruh percakapan mereka mengarah pada kejadian sabtu malam di klub. Kata-kata itu, terlalu menyakitkan. 

Kata-kata itu, sama sekali bukan yang ingin ia dengar di hari Senin yang ia harap akan lebih baik daripada Sabtu malamnya di klub malam. Jadi benarkah mereka berdua yang ada di klub kemarin malam? Dan bekas lebam itu benarkah gara-gara aku? Lantas tiba-tiba ingatan itu kembali. Semuanya berputar seperti anak panah yang siap menusukku pelan-pelan, tepat sasaran.

Dua lelaki itu. 

Ternyata sahabatku.  





No comments:

Post a Comment