.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 9 June 2017

Dear 25

Dear, dua puluh lima –
Nggak kerasa ya udah setahun.
Padal baru kemaren rasanya baru 24.
Dear 25, Semoga berkah.

*Slamat ulang tahuun, slamat ulang tahuuun,slamat ulang tahun ... slamat ulang tahuuuun*. Ayo dooong tiup lilinnya. Jangan diem aja

Dan kue ulang tahun beserta lilinnya udah tersaji di hadapan saya (sehari tiga kali udah persis kaya minum obat). Senyum lebar, seneng, bungah, bahagia. Di depan saya orang-orang yang saya sayang, dan orang-orang terdekat yang saya harapkan dateng ketawa lebar sambil nyanyiin lagu itu berulang-ulang. Mereka keluargaaaa.

Reka ulang kejadian ini beneran kejadian gais. Bukan sekedar mimpi atau harapan kayak tulisan saya beberapa waktu lalu. Mereka, temen-temen saya, saudara, keluarga, dan orang-orang terdekat itu udah ngebeliin kue – lilin – dan menyempatkan waktu buat makan bareng ngabisin tuh kue donat jco, pizza hut, black forest, dan sebagainya itu. Sambil bersyukur udah disadarkan oleh mereka, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan – “kamu nggak perlu sayang sama semua orang, dan kamu nggak perlu bikin semua orang ngrasa spesial. Cukup orang-orang di sekeliling kamu aja yang kamu sayang”.

Sooo Simplee bangeeet kan?

Awalnya saya mikir, betapa bahagianya bisa bikin semua orang seneng – apalagi bikin semua orang bisa ngrasa kalau dia juga sama spesialnya kayak yang lain. Tapi itu mustahil. Ada penolakan, ketidaksukaan, kebencian, wajah-wajah muak yang saya rasakan sendiri bahkan diantara mereka yang mengaku teman dekat. Perasaan yang tidak bisa dibohongi oleh perasaan kamu sendiri. Membuat semua orang lain senang sama halnya menjerumuskan diri kamu sendiri ke jurang ketidakbahagiaan, atau malah jurang neraka. Tinggal dorong dikit, perasaan tidak nyaman atas paksaan kamu terhadap diri sendiri untuk menyenangkan orang lain itu bakal jadi bumerang buat idup kamu sendiri. Masih mau nyimpen perasaan begitu?

Pahami saja, kamu memang tidak bisa menyenangkan semua orang.




Kamu ngiyain permintaan si dia, eh dianya pas kamu butuh nggak ada. Kamu ngebela-belain ngasih surprise dan pengen bikin dia bahagia, eh giliran kamu yang pengen dibela dia lebih milih temen yang lainnya. Kamu selalu ngeluangin waktu buat dia, eh giliran kamu kesepian – dia lagi sibuk sama urusan dia juga. Hidup terlalu misterius kan? Jadi yaudahlah buka mata aja, jangan ngimpi buat nyenengin semua orang. apalagi yang ngakunya teman. Wkwk. manaaa orang-orang yang ngakuuuu sayaaang? wkwk nyengir double

Kita seringkali mengabaikan yang dekat hanya untuk mencari kebahagiaan yang jauh. Membahagiakan teman-teman di luar sana yang hanya datang ketika kamu bahagia, dan meninggalkan keluarga yang dekat dan selalu peduli hanya karena alasan mereka membuat kamu merasa tidak bahagia, sementara teman-temanmu (katanya) bisa sedikit meringankan bebanmu. See, siapa yang memutuskan tidak bahagia bersama keluarganya? Kamu sendiri. Padahal kesenangan yang kamu rasakan dari bersama teman itu hanya sementara, karna mereka tidak tahu burukmu – dan belum tentu mau menerima burukmu.

Padahal, seburuk apapun perlakuan kamu terhadap keluarga – yang akan membantu kamu, yang selalu membantu kamu, dan yang akan selalu sayang kamu cuman keluarga.

JUNI 2017. Ramadhan hari ke-13.

Saya diam-diam menyadarkan diri sendiri dengan berkata, hei – yang mengingatmu hari ini, mungkin tahun depan akan berkurang. Yang mengingatmu hari ini mungkin saja esok akan lupa karena digantikan dengan teman baru yang lebih sabar dan pengertian. Yang lebih hebat, dan tidak moody-an. Yang mengingatmu hari ini, satu-tahun lalu, dua tahun lalu, bahkan bertahun-tahun lalu - pasti sungguhlah teman yang begitu sayang pada keberadaan dan kebahagiaanmu – hingga memberikan ucapan selamat bertambah umur tidak pernah dia lupakan. Dan yang mengingatmu hari ini serta mau memberikan ucapan, pasti sungguhlah orang yang berhati besar yang terus-terusan mau membuat kamu merasa spesial (sekalipun itu hari berkurangnya umurmu di hadapan Tuhan). Tapi yang mengaku keluarga tidak mungkin nglupain dan bikin kamu kecewa kan? CATET!

Malam lalu, pas pergantian hari – saya sengaja menunggu siapa yang pertama kali bakal ngucapin. Masih ada teman-teman lama yang mengingat saya dengan baik bahkan sampai detik ini. Temen mts, aliyah, kuliah, dan teman-teman lain di luar sana yang mungkin dibantu diingatkan dengan notification di media sosial. Hamdalah masih ada. Yang menyempatkan waktu mengingat saya walaupun Cuma sedikit. yang menelpon hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Yang bertemu hanya untuk memberikan kado. Yang membuat kenangan dan mengirimkannya tepat di hari jadi lahir saya. Yang memberikan doa dan semangat terbaiknya.

Tapi kita kadang fokus kepada yang hilang bukan? Sebagaimana bahagia saya atas masih adanya sebagian perhatian mereka, saya juga bersedih atas hilangnya sebagian yang lain dari mereka. Beberapa orang yang tidak tercapai maksudnya – yang sakit hatinya – yang telah jauh raganya - yang dulu manis kini sudah berlalu pergi karena yang manis pasti sadar selalu ada pahit mengekor di belakang. Tuhan seperti menyaring semua yang pantas kamu bahagiakan bukan? Tulisan ini sama sekali bukan bermaksud untuk menyindir segolongan orang, murni untuk mengingatkan diri sendiri bahwa seseorang yang datang di hidup kamu itu datang dan pergi. Selalu berganti. Selalu menyesuaikan diri.

Jadi, Sadar nggak sih kalian temen itu definisinya apa? Temen itu, mereka yang selalu ingat kamu walaupun jauh. Satu. Yang sayang kamu walaupun kekurangan kamu banyak. Dua. Yang selalu inget secuil kebaikan kamu walaupun ada segudang keburukan kamu.   Tiga. Yang nggak rela keburukan kamu diomongin orang lain. Empat. Dan yang mau menyempatkan waktu mengingat hari spesialmu. Lima.

Tambahin sendiri definisi itu kalau kalian perlu.

Kegiatan rutin  yang saya lakukan tiap tahun di tanggal kelahiran saya adalah, meng-absen seberapa banyak ucapan yang datang. Dan setelah bertahun-tahun kebiasaan ini saya lakukan. Saya akhirnya tahu, mengingat  bukanlah pekerjaan semua orang. mengingat hanya dilakukan oleh orang-orang yang benar sayang. Dan mengingat, adalah pekerjaan yang tidak mudah dilakukan.

Ada beberapa teman lama, yang bahkan tahu – satu grup, tapi enggan memberikan ucapan. Normal saja, saya juga melakukan itu kepada teman yang saya anggap tidak dekat (jadi sangat wajar). Ada mantan orang-orang dekat, yang ketika tidak tercapai maksudnya dekat dengan saya sengaja melupakan atau mungkin memang sudah lupa untuk memberikan ucapan. Dan ada, orang-orang yang dulu mengaku spesial dan sangat sayang, akhirnya juga luput memberikan ucapan. Manusiawi bukan? Perasaan sayang dan benci bisa berubah, Yang dulu dekat bisa tiba-tiba jauh, Jadi cuman keluarga kan yang nggak pernah berubah buat sayang? So jangan berlebihan dan berharap bisa menyenangkan semua orang.  

Saya jadi berpikir, untuk apa kita mati-matian membahagiakan orang lain tapi lupa dengan keluarga sendiri?  Untuk apa kita berharap diingat orang lain tapi tidak ingin diingat baik untuk keluarga sendiri? Jadi pak buk, dek mbak, semoga tahun-tahun yang akan datang, saya tidak melupakan yang dekat untuk mencari kebahagiaan yang jauh. Semoga kebahagiaan dari dalam itu lebih hakiki dan menyenangkan tinimbang harus berpeluh mencari di luar. Jadi pak buk, dek mbak, terima kasih buat perhatiannya meskipun tidak pernah terlalu saya harapkan. Terima kasih untuk semua perhatiannya, meskipun seringkali saya abaikan. Sayang kalian.

Dan dear dua puluh lima, semoga Allah selalu merahmati dengan kebaikan dan kasih sayang serta orang-orang terbaik yang Tuhan pilihkan.


No comments:

Post a Comment