.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Saturday, 15 April 2017

Perjalanan

Setiap orang melakukan perjalanan, itu kata kuncinya, setiap hari, setiap saat – dari rumah ke kantor, dari rumah ke kampus, di jalan, di toko, semua orang bergerak.

Lalu, dalam perjalanan tersebut, saya mengamati – baik bus, kereta, atau pesawat, hampir di setiap terminal tunggu dan atau kursi di dalam kendaraan yang membawa ke suatu daerah atau lokasi selalu penuh diisi orang hendak menuju tujuannya masing-masing. Puluhan, ratusan. Hampir selalu penuh dan tidak meninggalkan satu kursi kosong, kecuali beberapa keadaan di luar kebiasaan. Siapa yang harus didahulukan? Tidak ada bukan? Semua sama –

Lantas apa yang menarik?  

Saya akhirnya mengambil makna bahwa sejak dalam proses pembuahan kita memang selalu melakukan perjalanan. Tidak terkecuali sampai detik ini. Kita semacam air yang bergerak menuju muaranya, dari hulu ke hilir, mengikuti arus apa yang kita tuju. Dalam proses menuju tujuan yang hendak kita tuju dari suatu perjalanan, kita bertemu banyak orang, banyak budaya, banyak kondisi, dan banyak hikmah yang dapat dipetik – mengajarkan pada kita lebih dari yang sekedar diajarkan oleh bangku sekolah, kesabaran, ketenangan, kerendahan hati dan syukur.





Perjalanan, mengajarkan kepada kita bahwa setiap proses perlu untuk dinikmati, sampai akhirnya waktu membawa kita kepada rindu untuk kembali – pulang. Perjalanan membawa kita pada ketenangan dan cara menyelesaikan masalah dengan dingin. Perjalanan, mengingatkan kita betapa berharganya jarak dan waktu.

Perjalanan bagi saya harus selalu dilakukan untuk melihat secara jelas bahwa nikmat Tuhan sangat besar untuk kita syukuri. Lebih besar dari itu semua, saya meyakini Allah memang Maha Besar. Allah lebih besar dari saya, dari masalah saya, dan dari perjalanan apapun yang saya lakukan. Saya berterima kasih kepada penemu pesawat terbang, yang membuat kita dalam perjalanan selalu berzikir, mengingat Tuhan, merenung, instrospeksi dan bersyukur nikmat dan kasih sayang-Nya. 

Lagipula, siapa yang tau dalam perjalanan kita akan mati? Siapa yang tau semua yang sudah kita kumpulkan akan hilang dalam sekejap?

Dari semua hikmah yang bisa diamati dalam perjalanan. Rugi rasanya jika kita tidak bergerak dan melakukan perjalanan sebagaimana orang yang lain. Rugi rasanya jika mengamati setiap orang mendapatkan hasil dan atau pengalaman dari perjalanannya, tetapi kita hanya berdiam diri, menghabiskan waktu untuk kegiatan yang sia-sia, atau malah sama sekali tidak melakukan apa-apa – hanya menunggu keajaiban. Dan rugi rasanya, jika orang lain bisa melihat lebih banyak daripada apa yang bisa kita lihat.

Pertanyaannya, apakah perjalanan yang kita lakukan harus jauh dan mahal agar dikagumi orang? 

Tidak. 

Coba amati di setiap jalan, jalanan hampir tidak pernah sepi. Kendaraan bermotor menjadi mayoritas, lalu lalang orang berjalan kaki, transportasi umum juga penuh, apalagi di ibukota, di setiap jalan besar kota atau jalan tikus lalu lalang manusia ada, semua punya tujuan, dan tidak adil menyamakan tujuan tersebut. Jadi apakah perjalanan itu harus selalu jauh? Tidak. Tapi hanya dengan melakukan perjalanan kita tahu mana yang kita rindukan. 

Lalu perjalanan mana lagi yang akan kita lakukan? 

                                                                             Jayapura, 13 April 2017

No comments:

Post a Comment