.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 3 April 2017

Fokus saja ke depan


Jadi pemenang, siapa sih yang nggak mau? 

Pertanyaan saya klise banget kan ya? 

Selalu tampil terdepan. Unggul. Dominan. Dibangga-banggain, dipuji, disanjung. Banyak yang nge fans. Dan segala keuntungan yang mengekor di belakangnya yang pasti menimbulkan iri dengki di hati orang lain.



Tapi, untuk tampil terdepan selalu butuh usaha bukan? Tidak ujuk-ujuk atau tiba-tiba dapat kita wujudkan. Yang aneh, sebagian orang kadang menjadi terdepan dengan cara menjatuhkan, merendahkan, dan menjelekkan temannya. Akhirnya, disadari atau tidak disadari, focus kita untuk menjadi terdepan menjadi tidak murni lagi – niat kita justru berubah bagaimana caranya untuk bisa mengalahkan orang lain. Padahal, untuk jadi tinggi kita tidak perlu merendahkan orang lain bukan? 

Bagi saya, menjadi pemenang adalah ketika kita focus mengalahkan diri sendiri. Bukan orang lain. Mengalahkan malas, alasan-alasan, mengalahkan kesombongan, dan ketidakkonsistenan yang kita punya. 

Menjadi terdepan adalah ketika kita berfokus pada perbaikan diri sendiri. Bukan malah focus terhadap kelebihan atau celah yang bisa dijatuhkan dari musuh atau lawan kita. 



Dalam perjalanan dari rumah ke kantor tempat saya bekerja, di lampu merah tepat ketika berhenti, mata saya tidak sengaja menangkap kelebatan yang biasa saya lihat. Jaket, helm, dan motor. Oh, itu memang benar teman saya. Dia berada 3 motor di depan saya dan saya terhalang satu mobil di depan dan belakang. Saya berkata dalam hati, saya harus mensejajari dia – kalau bisa mengalahkan dia untuk sampai lebih dulu ke kantor. Saya membuat penilaian dan obsesi sendiri. Obsesi yang tidak penting. Dan benar, ketika lampu hijau menyala – saya geber gas motor matic saya untuk sebisa mungkin mengejar teman saya yang sudah beberapa meter di depan. 

Saya berusaha terus menerus mensejajari dia. Tapi tidak bisa. Dia lebih gesit dan waspada sekeliling karena focus dia ke depan, bukan mengejar siapapun. Saya kejar, ada motor menghadang. Saya kejar lagi, dia sudah semakin di depan. Sementara saya, karena focus saya adalah mengalahkan dia – saya justru jadi terhambat gerakan motor lain yang menutupi motor teman saya. Saya justru jadi kurang awas pada sekeliling. Baru setelah jalanan agak sepi saya baru bisa mensejajari dia, dan mendahului dia (sementara dia santai saja menikmati udara pagi yang lumayan masih segar). 

Apa dia tau kalau niatan saya melampaui dia? Tidak sama sekali. Dia justru santai saja mengendarai motornya. Dia tetap focus, dan waspada. 

                5 menit berjalan, saya tahu – dalam hati saya mengatakan, yang saya lakukan tadi adalah kekanak-kanakan. Tapi semua orang punya sisi seperti itu. Yang ingin selalu menang dan di depan. Kesalahan saya adalah, saya focus kepada orang lain – bukan berhati-hati dan menjaga diri sendiri di jalan. Kesalahan lain saya adalah, saya fokus terhadap kelebihan orang - tidak pada cara bagaimana memperbaiki diri sendiri. ini yang sering kita abaikan. ketika kita terlalu sibuk untuk mengalahkan orang lain, kita akhirnya tidak memiliki waktu untuk introspeksi, kontemplasi, atau memperbaiki kekurangan yang ada pada diri sendiri. kasarannya, semut di seberang nampak gajah di pelupuk mata tidak nampak. Padahal, ketika kita berfokus ke depan untuk terus maju, kita  tidak akan peduli apa yang diperbuat lawan, apa yang diperbuat kanan dan kiri kita - semua itu hanya jadi peringatan dan pelajar. Dan itu yang ditunjukkan oleh teman saya. 

Seharusnya, saya tahu, saya hanya harus lebih baik, focus pada apa yang ada di depan, bukan belakang – kanan, apalagi kiri. Sesuatu yang diawali dengan kebaikan dan niat mulia pasti akan lebih baik, tinimbang saya berfokus untuk mengalahkan orang lain. Siapa yang tau jangan-jangan ketika saya berniat mengalahkan dia, mengejar dia di jalan, saya justru jadi tidak awas dan menyenggol kendaraan lain. Siapa yang tau ketika saya berusaha mengalahkan dia, ternyata saya abai terhadap keselamatan dan rambu-rambu yang saya pegang. Siapa yang tau niat saya mengalahkan dia justru akan mencelakakan saya ?

Saya akhirnya disadarkan dengan, ketika saya berhasil mengalahkan dia dengan cara tidak sportif, tidak ada perasaan bangga yang ada. Hal tersebut juga berlaku dalam hal lain, pencapaian, pekerjaan, sekolah, kuliah, ibadah. Saya harusnya tidak perlu melihat ke orang lain, menyamai pencapaian orang lain, memasang target sama dengan yang lain. Apa gunanya? Kita bukan orang yang sama dengan mereka bukan? Kelebihan kita berbeda dari yang lain bukan? Kenapa harus memaksa sama dengan yang lain? 

Yang kita perlu adalah – menerima diri sendiri dan focus terhadap apa yang bisa dilakukan. Jangan focus sama apa yang nggak kita bisa. Caranya? Salah satu langkah konkritnya adalah dengan terus memperbaiki kekurangan yang kita punya. Kalau kita memang merasa tidak sama dengan orang lain, jangan memaksa atau menerapkan system belajar atau metode apapun ke diri kita. Terapkan sendiri metode yang kamu punya dengan konsisten. Hasil yang sedikit lebih baik daripada tidak mengerjakan sama sekali bukan? 

Lagipula, puluhan orang yang berkendara di satu jalan punya tujuan yang berbeda-beda bukan? Jadi, Focus saja ke depan.  

No comments:

Post a Comment