.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 20 April 2017

Apa yang sudah kamu lakukan buat hidupmu hari ini?


Apa yang udah kamu lakuin,
buat kamu dan hidupmu hari ini?




Semua orang sewajarnya ingin selalu membahagiakan dan membanggakan orang-orang yang dikasihinya, orang-orang tersayang. Entah itu ibu, bapak, pacar, suami anak, dan siapapun. Lazimnya, tidak pernah ada orang yang mau mengecewakan orang tuanya, dan sebaliknya, tidak ada orang tua yang mau mengecewakan anaknya. Tapi, apa saja langkah konkrit yang sudah kalian lakukan untuk membuat orang di sekeliling kalian bangga dan bahagia? 

Saya pribadi bukan orang yang suka berkata-kata manis, suka berjanji, dan atau hal lain yang mungkin tidak dapat saya lakukan di kemudian hari. Saya typical yang lebih suka menunjukkan cinta dan perhatian saya dengan perbuatan. Yang lebih tegas dan jelas. Bagi saya hal tersebut lebih konkrit dibanding uang dan atau hal apapun di dunia. Meskipun di zaman sekarang, ingin membahagiakan orang lain tanpa memiliki uang adalah hal yang mustahil. Tapi kalau hanya soal uang, itu bisa diwujudkan bukan ? 

Sekarang saya merasa masih menjadi beban orang tua. Hidup dan makan bersama orang tua. Kadang uang bensin pun masih minta, lebih dari itu semua, saya belum bisa rutin memberi sebagian dari penghasilan saya kepada orang tua. Kalau ditanya sedih atau tidaknya, saya sangaat sedih karena tujuan hidup saya memang membahagiakan mereka. Untuk apa kita bekerja dan lain sebagainya kalau tidak yang ingin kalian wujudkan? Maka tujuan terbesar saya memang keluarga.

Mungkin kalian merasakan hal yang sama sampai pada akhirnya membandingkan pencapaian diri sendiri dengan teman-teman yang lebih nampak sukses dan bahagia. Tapi pertanyaannya, apakah mereka seperti apa yang kita sangka kan kepada mereka? Sudah cukupkah mereka merasa membanggakan orang tuanya? 

Ternyata tidak juga. 



Teman saya, L namanya, saya hormat padanya karna betapa dia bisa mematuhi semua perkataan orang tuanya. Jadi anak yang manis, penurut, dan tidak banyak membantah. Dilihat dari sisi itu, saya iri pada sikapnya yang patuh, pasti orang tuanya sayang dan bangga sama dia. Tapi ternyata, kata L, orang tuanya masih saja seringkali membandingkan dia dengan anak lain yang lebh ramah, mudah bersosialisasi, dan kelihatan intelektual. Dia juga iri pada saya. 

Teman saya, I, sudah bekerja sejak lulus SMA, bahkan membiayai kuliah dengan uangnya sendiri – dan sekarang sudah merantau. Saking sayangnya dengan keluarga, dia bantuin nyicil kreditan di bank dan ngebiayain adeknya kuliah – hal yang belum bisa saya lakuin sampe sekarang. Dan saya bangga sama dia. Tapi ternyata, dia juga minder sama saya. 

Teman saya, E, sudah bekerja jadi pramugari, bukan sembarang maskapai – intinya, saya tahu penghasilan dia baik, lingkungan dia baik, elegant, bisa jalan-jalan sebagaimana yang selalu saya inginkan, terlebih dia bisa membelikan orang tuanya mobil dan menanggung orang tuanya dengan uang gajinya ketika orang tuanya sakit. Saya jelas secara finansial pada dia, dan beberapa kali saya bilang semoga saya bisa mencapai  pencapaian finansial minimal seperti dia. Setidaknya saya bisa membawa orang tua menunaikan haji jika penghasilan saya seperti dia, atau memperbaiki rumah dan membelikan kendaraan yang layak untuk orang tua saya. Saya pikir dia sudah merasa bangga dengan pekerjaannya, tapi ternyata tidak. Dia juga iri dengan pencapaian saya. 

Itu baru sebagian cerita, belum semuanya. Yang kalau mau dirunut, ternyata semua orang kadang fokus pada kelebihan orang lain – hanya fokus pada apa yang belum dia capai. Wajar sih, tapi rumput tetangga memang lebih kece kan ya? 

Pada suatu titik. Ketika sadar belum dapat membahagiakan dan membanggakan orang tua, sering saya membayangkan di jalan, atau ketika mendengar cerita teman yang orang tuanya lebih dulu pergi, tiba-tiba saya menangis. Mata saya berkaca-kaca dan dada saya buncah. Saya akhirnya menenangkan diri dengan kalimat-kalimat penyejuk, itu hanya sepersekian bagian kecil yang tidak bisa saya lakukan – kenapa saya lebih fokus kepada apa yang tidak bisa saya lakukan? Bukankah banyak hal yang bisa saya lakukan?

Menyelesaikan kuliah, bekerja dengan sebaik-baiknya, melaksanakan perintah ibu ketika di rumah, beres-beres rumah, meninggalkan rumah dalam keadaan rapi, mengajak ibu makan berdua, ngobrol di jalan mentertawakan hal kecil atau gebetan saya yang tiba-tiba menjauh yang mungkin bukan saja yang terbaik buat saya, membelikan ibu kado celana hitam sebagai ganti celana hitamnya yang sudah robek, mengajak ibu makan berdua sate ayam yang jadi kesukannya, ngajak ibu yang jarang sekali masuk bioskop, atau membantu pesanan ibu agar jangan sampai ibu merasa lelah dengan kegiatannya yang sudah seabrek, dan mengantarkannya kemana-mana memastikan ibu baik-baik saja sampai rumah, apa itu belum mewah ? kelihatannya mudah, tapi perbuatan konkrit seperti itu lebih sulit tinimbang hanya mengirimkan lembaran uang ratusan ribu tiap bulannya. 

Mungkin memang belum mewah bu, tapi karena baru ini yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan dan membanggakan ibu – tidak apa-apa sedikit demi sedikit yang pasti saya yakin semua yang saya lakukan meringankan beban dan setidaknya menebus rasa bersalah saya. Tapi saya selalu berdoa bu, semoga diberi kemudahan dan niat yang lurus – tidak durhaka. Dan lagi, untuk semua keadaan anak-anak yang iri kepada orang lain, dan atau teman saya yang ternyata juga iri kepada saya, kita hanya sedang menuju pada kebahagiaan orang tua dengan jalan kita masing-masing bukan?
 
Lalu, apa yang sudah kalian lakukan untuk hidup kalian dan orang tua hari ini?

No comments:

Post a Comment