.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 8 March 2017

Mengubah energi negatif menjadi positif



Begitu banyak energi yang ada di sekeliling kita, entah itu termasuk dalam golongan negatif atau positif, yang jelas seluruh energi tersebut mengelilingi kita setiap waktu, setiap saat, setiap hari. Mau tidak mau, sebagai seorang yang diberikan kelebihan oleh Allah hati dan akal, seluruh energi tersebut harus dapat dikendalikan, harus dapat diolah, karena disadari atau tidak, pengaruh energi lingkungan dapat menular kepada siapapun – tidak terkecuali kepada kita. 

Energi negatif itu termasuk makian, kata-kata kotor, umpatan, cacian, hinaan, ejekan, dan segala macam hal yang menimbulkan perasaan tertolak, tidak diterima, dan semacamnya. Sedangkan energi positif biasanya menimbulkan perasaan bangga dan penerimaan. Persoalan yang baik-baik pasti tidak akan menimbulkan masalah. Kedua energi tersebut bergantung kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, teman-teman, keluarga, saudara, dan rekan kerja, jika energi di sekeliling kita lebih dominan positif maka pola pikir dan energi yang kita ambil juga akan sama positifnya, dan sebaliknya. Lantas kangen termasuk emosi yang mana

Tergantung bagaimana respon kalian terhadap seluruh emosi tersebut. Apabila dari emosi tersebut dapat dirubah, maka segala sesuatunya menjadi tidak penting. Semua hal dalam perasaan anda menjadi sepenuhnya kendali anda. Ingat, seluruh yang ada pada anda – khususnya perasaan, adalah kendali anda. Jadi jangan mudah dikendalikan oleh orang lain.
 
Lantas bagaimana keadaannya jika sedikit saja energi negatif merusak kegiatan sehari-hari, semangat dan bahkan hubungan sosial manusia? Lantas apa yang harus dilakukan kita sebagai manusia yang bijak untuk mengubah energi negatif yang ada menjadi energi positif kepada orang lain?

Kita seringkali mengalami peristiwa seperti di atas, ada seseorang yang tiba-tiba merusak mood, atau merubah energi yang tadinya sudah positif menjadi berubah jelek. Istilah kasarnya adalah kita sudah tercemar emosi negatif oleh mereka, padahal, kendali perasaan ada pada kita sendiri. Kalau begitu, apakah artinya kita yang mudah di remote/kontrol/kendalikan oleh mereka? Ya, bisa jadi. 




Tidak akan ada seseorang yang bisa kecewa, marah, sebel, kesal kalau diri kita sendiri tidak mengizinkan. Persoalannya adalah, apa langkah konkritnya mengalihkan perasaan tidak nyaman menjadi nyaman tersebut? Oke, meskipun ini tidak bisa berlaku sama di setiap orang, semua trik perlu dibagi bukan? 

Here we go :
1.      Setiap kali berada pada keadaan macet di jalanan, atau orang berlaku seenaknya di jalan (termasuk menyalip, mengumpat, berteriak kasar) saya hanya akan tersenyum sambil menertawakan mereka. Dengan mereka melakukan hal tersebut, wibawa mereka sudah jatuh, dan yang jelas – mereka sudah menghabiskan energi dengan berbuat hal yang tidak baik, sedangkan saya? Saya hanya akan tersenyum sambil menyanyikan lagu chibi maruko chan dan bilang bahwa, semuanya tergantung respon saya. Apa yang perlu saya permasalahkan? Kalau kita membalas semua perlakuan jelek dengan sama jeleknya, apa bedanya kita dengan mereka?

2.      Ketika dalam keadaan marah, saya selalu berprinsip bahwa lebih baik diam sembari menunggu emosi saya reda dan atau malahan lebih baik hilang sama sekali. Karena apa? Ketika marah, otak dan hati tidak dapat berpikir jernih, yang ditakutkan ketika marah adalah kita menyakiti dan atau melukai perasaan orang karena kalimat yang tidak dipikirkan baik-baik. Masih ingat dengan cerita bekas paku yang dipasang di tembok bukan?

3.      Setiap kali saya marah atas suatu kondisi, saya selalu berpikir bahwa selalu ada hikmah yang bisa saya ambil dan saya bisa menjadi lebih baik dari itu (atau minimal belajar menjadi lebih baik dari pengalaman tersebut). Soal itu persoalan baik atau buruk, siapa yang tau sampai kita bisa melihat di kehidupan mendatang? Soal mudharat atau manfaat siapa yang tau kecuali kita menjalaninya dengan baik? Dan bukannya hikmah selalu berada di belakang bukan?

4.      Ketika saya merasa malas bergerak atau melakukan sesuatu, saya selalu berpikir bahwa waktu hidup saya akan menjadi sia-sia. Okelah, berikan waktu sejenak bagi tubuh untuk bermalas-malasan. Misalkan saja seminggu sekali pada hari minggu. Tapi tidak untuk setiap hari. Bayangkan saja semua orang bergerak. Bahkan air dan udara juga bergerak. Jika saya malas apa yang saya dapat?  Sementara semua orang bekerja, apa saya mau diam? Sementara semua orang sedang mengusahakan kebaikan hidupnya, apa saya justru mengabaikan kesempatan saya? Jika saya bergerak, minimal saya memberikan ruang dan pencerahan bagi tubuh saya sendiri menikmati pergerakan dan sinar matahari. Karena pada dasarnya, manusia akan selalu hidup dalam pergerakan. Yang diam bukanlah manusia. Manusia selalu bergerak, dan akan selalu bergerak.

5.      Sekalipun kita marah, atau benci, dan dendam karena sesuatu, jangan biarkan perasaan itu mengendalikan kita. Perasaan marah, emosi, kecewa, atau hal apapun yang dianggap tidak menyenangkan adalah sama wajarnya, sama berharganya, dan sama pentingnya. Manusiawi bila kita memiliki perasaan semacam itu, yang tidak manusiawi adalah membiarkan perasaan destruktif tersebut tetap ada dan menjadi kebiasaan yang merusak. Jadi, ketika merasakan hal semacam itu, segera cari pengalihan yang membantu kamu teralih dari perasaan itu. Tersenyum, belanja, atau membaca buku.

6.      Ketika gagal mencapai sesuatu, saya selalu berpikir bahwa kegagalan saya tersebut adalah hasil dari saya mencoba – maka sebenarnya saya juga telah berhasil, yaitu berhasil mencoba. Ada yang salah? Bandingkan apabila saya sama sekali tidak mencoba, apakah saya bisa mengetahui kapasitas saya? Apakah saya bisa mengambil pelajaran dan pengalaman dari itu semua? Apa saya bisa bertemu dan mengambil manfaat dari banyak orang?

7.      Yang terakhir, saya punya prinsip bahwa – daripada diam tidak melakukan apa-apa, lebih baik saya salah tetapi mau untuk belajar memperbaiki. Kita selalu punya pilihan untuk mengambil kebaikan dari setiap peristiwa atau merutuk nasib. Dan saya mengambil pilihan yang pertama. Mungkin tidak semua peristiwa yang kita alami baik, tapi ketika kita memilih untuk melihat kebaikan di dalamnya – hidup menjadi lebih indah dan penuh syukur bukan? 

Jadi, daripada merutuk rumah yang kotor karena belum dibersihkan, lebih baik mengambil sapu dan pel untuk membersihkannya bukan?
Yogyakarta, suatu waktu
08 Maret 2017



No comments:

Post a Comment