.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 24 March 2017

Definisi Memberi

Definisi memberi, bagi saya bukan persoalan dia kaya atau miskin, dia anak pejabat atau pedagang biasa pinggiran, atau dia kerja kantoran bonafit dan yang lainnya kerja jadi jongosan. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan materi. Give. Memberi. Share. Berbagi. Bagi saya sama saja memiliki arti dan filosofi yang lebih dalam dari sekedar “nih gue kasih”, atau “gue ada kado nih buat elo”. Memberi disini juga nggak dibatasin persoalan barang, atau obyek yang bisa dilihat – tapi segala sesuatu yang bisa di apresiasi. Dirasa, dihargain, dinilai.  

“Memberi adalah cara lain menerima”. Itu kalo kata saya.



Memberi adalah persoalan kerelaan, dan tentu saja tindakan yang menunjukkan seberapa besar kasih sayang kamu buat seseorang. Contohnya saja, bagi orang yang lama pacaran dan atau teman karib bertahun-tahun, sudah pasti nggak mikir beribu kali buat ngasih gift sama mereka yang dianggap special. Tapi saya bukan mau bahas soal kerelaannya. Saya mau mbahas soal kesungguhan. Kasih sayang. Behind the storynya. Kenapa bisa gitu ya?

Kado yang harganya 35 ribu aja bagi saya adalah hal spesial yang merupakan akumulasi tindakan hebat dari orang lain. 35 ribu aja kata saya? Kecil banget dih.  Oke, dari segi harga mungkin semua bisa beli, kamu juga pasti yakin bisa beli itu bahkan berlipat-lipat. Tapi apa kamu tahu apa saja kejadian di balik pemilihan si barang itu? Apa pengorbanan dan story di balik kado buat kamu itu?

Dan disini, 3 alasan bahwa orang yang mau ngasih kamu kado adalah orang yang sangat sayang sama kamu, here we go:

1.   Setiap pemberian membutuhkan niat

Oke, boleh aja bilang semua orang bisa beli kado. Tapi cuman yang bener-bener niat yang bisa ngelaksanain niatan itu. Kenapa harus niat? Yaiyalah, karena ini bukti awal kepedulian mereka. Entah celetukan ke temen dengan ngomong, aku mau beliin dia ini ah. Aku mau nyurprise in dia ini juga deh, dan lain sebagainya. Hal-hal begini cuman bakal dilakuin sama orang-orang yang sayang, berhati besar, dan ngerelain sedikit pikiran dan hatinya buat mikirin kamu.

Lah, emang kalo nggak baik, nggak kenal, nggak deket, atau nggak ada modus apapun masih ada nih orang mau ngasih Cuma-Cuma. Kalaupun ada, itu juga 90 banding 10 kan ya? Ini baru niat aja nih, niat kan kudu dipikirin mateng-mateng juga. Saya percaya, setiap orang yang sayang – pasti selalu pingin ngasih hal terbaik yang bisa diusahain dari dia.

So, persoalan niat baik aja udah bisa jadi awalan yang hebat kan?

Wednesday, 8 March 2017

Mengubah energi negatif menjadi positif



Begitu banyak energi yang ada di sekeliling kita, entah itu termasuk dalam golongan negatif atau positif, yang jelas seluruh energi tersebut mengelilingi kita setiap waktu, setiap saat, setiap hari. Mau tidak mau, sebagai seorang yang diberikan kelebihan oleh Allah hati dan akal, seluruh energi tersebut harus dapat dikendalikan, harus dapat diolah, karena disadari atau tidak, pengaruh energi lingkungan dapat menular kepada siapapun – tidak terkecuali kepada kita. 

Energi negatif itu termasuk makian, kata-kata kotor, umpatan, cacian, hinaan, ejekan, dan segala macam hal yang menimbulkan perasaan tertolak, tidak diterima, dan semacamnya. Sedangkan energi positif biasanya menimbulkan perasaan bangga dan penerimaan. Persoalan yang baik-baik pasti tidak akan menimbulkan masalah. Kedua energi tersebut bergantung kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, teman-teman, keluarga, saudara, dan rekan kerja, jika energi di sekeliling kita lebih dominan positif maka pola pikir dan energi yang kita ambil juga akan sama positifnya, dan sebaliknya. Lantas kangen termasuk emosi yang mana

Tergantung bagaimana respon kalian terhadap seluruh emosi tersebut. Apabila dari emosi tersebut dapat dirubah, maka segala sesuatunya menjadi tidak penting. Semua hal dalam perasaan anda menjadi sepenuhnya kendali anda. Ingat, seluruh yang ada pada anda – khususnya perasaan, adalah kendali anda. Jadi jangan mudah dikendalikan oleh orang lain.
 
Lantas bagaimana keadaannya jika sedikit saja energi negatif merusak kegiatan sehari-hari, semangat dan bahkan hubungan sosial manusia? Lantas apa yang harus dilakukan kita sebagai manusia yang bijak untuk mengubah energi negatif yang ada menjadi energi positif kepada orang lain?

Kita seringkali mengalami peristiwa seperti di atas, ada seseorang yang tiba-tiba merusak mood, atau merubah energi yang tadinya sudah positif menjadi berubah jelek. Istilah kasarnya adalah kita sudah tercemar emosi negatif oleh mereka, padahal, kendali perasaan ada pada kita sendiri. Kalau begitu, apakah artinya kita yang mudah di remote/kontrol/kendalikan oleh mereka? Ya, bisa jadi. 


Thursday, 2 March 2017

Kenapa hanya saya yang harus disukai?


Fenomena menjamurnya berbagai media sosial di zaman ini bisa jadi menambah ketat persaingan tekhnologi, tapi bagi saya yang tidak memahami persoalan persaingan itu, saya hanya bisa mengamati persoalan tingkah pola seluruh pengguna media sosial tersebut, tidak terkecuali saya. Facebook, instagram, path, blogger, dan lain sebagainya bagi beberapa orang mungkin bisa diartikan sebagai media mengapresiasi diri, media menyalurkan hobi, kenangan, menemukan teman, mengikuti arus globalisasi, dan masih banyak lagi – tapi ada pola dan kecenderungan yang sama bagi kita semua. Yakni menginginkan komentar positif dan atau like. 

Saya selalu bertanya kepada teman, keluarga, saudara terdekat, apa jadinya kalau fesbuk dan instagram atau path punya emoji benci, marah, judes, dan atau sebagainya yang tidak lain adalah perwujudan rasa benci, tidak suka, kebalikan dari menyukai, apakah orang masih akan menggunakan media sosial tersebut? Apakah orang masih akan merindukan kegunaannya ketika sesuatu yang dianggapnya baik dan menyenangkan berubah menjadi hal yang menyebalkan, membuat marah, dan permusuhan? Apakah path, instagram, fesbuk masih akan seramai saat ini? 

Oke terlepas dari kecenderungan itu, saya hanya akan berbagi pengalaman dan perasaan saya sebagai penggunanya.