.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 23 June 2017

Pilihan apa yang kamu buat hari ini?

Setiap hari, persis ketika membuka mata, kita selalu membuat pilihan hendak jadi apa hari ini? Hari yang menyebalkan, membahagiakan, atau memberi tambahan semangat. Hendak menjalani hari diawali dengan senyuman, ibadah yang baik, membantu orang tua atau mulai dengan sepanjang keluhan yang melelahkan – seperti, “ah ini hari Senin pasti kerjaan numpuk! Dan atau, yes sudah hari Senin, mari bersemangat kerja lagi. Waktunya menjadi produktif (ucapkan sembari tersenyum dan membayangkan keajaiban apa yang bisa didapat hari ini”

Setiap hari, kita selalu punya pilihan, hendak bersyukur atas hari yang masih dikaruniakan sampai detik ini dan menjalani apapun dengan harapan (tersenyum pada diri sendiri dan berterima kasih atas kerjasamanya), atau berkutat pada keluhan karena belum dapat pekerjaan yang menyenangkan, keluarga yang menyebalkan, atau teman yang tidak pengertian.  

Setiap hari, kita selalu punya pilihan, hendak mencoba apa-apa yang belum sempat kita lakukan, atau mengeluhkan keterbatasan yang membuat kita tidak berani melakukan apa-apa yang sempat kita impikan. Memilih mencoba memasukkan lamaran pekerjaan baru atau sekedar membayangkan “pasti aku tidak akan diterima disana”.

Saturday, 17 June 2017

Mari menciptakan kenangan yang baik


Mengapa sebagian dari kita menyimpan foto terbaik di media sosial, tetapi menyimpan kenangan buruk tentang seseorang dalam pikiran?

Mengapa kita mengabaikan perbuatan baik seseorang dan hanya menyimpan kata-kata menyakitkan yang pernah dia ucapkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat penting kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa kita mudah terperangkap pada prasangka buruk, kemarahan dan dendam? Perbuatan aneh sebagian dari kita adalah menyimpan hal-hal yang baik untuk diberikan dan disampaikan kepada orang lain, mengupload foto-foto terbaik yang kita punya, menceritakan segala macam kebanggaan kita terhadap sesuatu.

Tetapi sebaliknya, memilih mengoleksi sampah untuk diri sendiri, menyimpan kenangan buruk tentang seseorang, mengingatnya bertahun-tahun, terpenjara pada kenangan yang menyakitkan dan meracuni diri sendiri dengan prasangka buruk. Memberikan makanan buruk untuk pikiran kita sendiri, untuk hati kita sendiri. Bayangkan, ada ribuan kejadian yang silih berganti terjadi dalam kehidupan kita, tapi beberapa orang memilih menyimpan kenangan buruk, dendam, trauma, dan berprasangka buruk kepada orang lain.

 Kepala kita, seharusnya diberikan pikiran pikiran positif untuk memanfaatkan dan menggunakan hidup yang sekali ini untuk kebaikan dan mengenang yang baik-baik saja. Kenapa kita hanya ingin membagikan dan tampak bahagia di hadapan orang lain? Apakah pengakuan dan penilaian orang lain terlalu penting bagi hidup sendiri? Padahal yang seharusnya kita lakukan adalah memberikan juga yang terbaik untuk diri sendiri. Senyuman, kata-kata positif, penyemangat, dan ribuan terima kasih.

Seperti kata pepatah. YOLO. You only live once. Kita hanya hidup sekali. Sangatlah tidak berguna menyimpan kenangan buruk di kepala, kata-kata makian, ejekan dan hinaan dari orang-orang. Mari digunakan sebaik-baiknya. Untuk menyimpan kenangan yang baik, kata-kata yang baik, kehidupan yang baik, dan segala kejadian yang baik. 

Jadi mari lupakan segala hal yang buruk. Mari maafkan kesalahan. Mari redakan kemarahan. Mari tersenyum pada masa lalu. Mari berterima kasih pada yang pernah ada dan belajar dari kesalahan, bahwa hidup selalu punya masa yang akan datang. 

Wow! Beberapa hal ini hanya terjadi saat Ramadhan

Bulan ramadhan memang bulan special, seperti kita semua. Segala sesuatunya ditunggu, dan yang pasti – ada sekumpulan kebiasaan yang hanya ada di bulan Ramadhan yang pasti tidak luput dari pengamatan kamu, baik di rumah, di jalanan, di lingkungan sekitar rumah, kebiasaan saudara-saudara kalian yang berubah.

Apa saja hal-hal tersebut?

Here we go :

1.   Nobar kajian Tafsir Al-Misbah Quraish Shihab

Tontonan paling menarik selama ramadhan bagi saya. Dengan gaya bahasa yang baik, sopan, dan tidak menggurui – Quraish Shihab memaksa saya dan keluarga untuk mau tidak mau memahami dan mempelajari maksud al Quran lebih mendalam. Beliau kerapkali menggunakan bahasa yang sungguh menyenangkan, seperti tidak mau menyebut orang lain kafir dan lebih memilih untuk memberi sebutan “Muslim yang durhaka” karena mereka masih muslim, hanya saja tidak menjalankan perintah Tuhannya.

Bayangkan dengan kebanyakan orang beberapa bulan terakhir yang hobi sekali mengkafirkan muslim yang lain. Padahal kita bukan Tuhan, dan padahal kita mungkin saja tidak lebih baik daripada yang lain.

Wednesday, 14 June 2017

DUA LELAKI


02.00 WIB, Suatu tempat. 

Dua lelaki itu saling melempar botol kaca. Berteriak. Memaki. Menghajar. Matanya merah, penuh amarah. Mereka abaikan kerumunan orang yang sedang asik masyuk bergoyang, berdansa, menikmati hentakan musik dari DJ yang kelewat keras. Tapi siapa peduli, mereka asik dengan dunianya sendiri. Yang lain juga. Mungkin hal seperti ini sudah biasa.

Sepertinya aku mengenalnya, dua lelaki itu, yang sedang saling melempar gelas itu, tapi hentakan musik di ruangan ini terlalu pekak, mataku samar. Mungkin aku mabuk. Atau mungkin halusinasi. Kulangkahkan kaki mendekat – ingin sekali melerai dan bilang hei buat apa berkelahi? Apakah gara-gara wanita? CIIH. Aku meludah sendiri. Tapi aku terjatuh menabrak meja. Lelaki tua di sebelahku membantuku kembali duduk. Kuurungkan niatanku melerai, biarkan sajalah, kunikmati saja sisa gelasku.  

PYAARRR! 

Lelaki berkacamata itu memecahkan botol kaca di kepala lelaki hitam manis berkemeja. Pelipis lelaki itu berdarah. Tawa lelaki berkemeja semakin sinis, beringas, ia berdiri – menyerang balik, menghajar sekenanya, sebisanya. Dari jauh perkelahian itu semakin asik. Kudengar mereka meneriakkan namaku, satu kali, dua kali, entahlah. Musik disini terlalu keras. Aku tak ingat. 

Dari balik kerumunan orang itu kulihat petugas keamanan klub datang. Satu dua orang melerai, petugas keamanan berteriak memaksa berhenti. Tapi mereka terlanjur asik dengan pesta mereka. Mereka terlanjur asik dengan ego mereka. 

Kepala mereka sudah terlanjur bersimbah darah. 


Friday, 9 June 2017

Dear 25

Dear, dua puluh lima –
Nggak kerasa ya udah setahun.
Padal baru kemaren rasanya baru 24.
Dear 25, Semoga berkah.

*Slamat ulang tahuun, slamat ulang tahuuun,slamat ulang tahun ... slamat ulang tahuuuun*. Ayo dooong tiup lilinnya. Jangan diem aja

Dan kue ulang tahun beserta lilinnya udah tersaji di hadapan saya (sehari tiga kali udah persis kaya minum obat). Senyum lebar, seneng, bungah, bahagia. Di depan saya orang-orang yang saya sayang, dan orang-orang terdekat yang saya harapkan dateng ketawa lebar sambil nyanyiin lagu itu berulang-ulang. Mereka keluargaaaa.

Reka ulang kejadian ini beneran kejadian gais. Bukan sekedar mimpi atau harapan kayak tulisan saya beberapa waktu lalu. Mereka, temen-temen saya, saudara, keluarga, dan orang-orang terdekat itu udah ngebeliin kue – lilin – dan menyempatkan waktu buat makan bareng ngabisin tuh kue donat jco, pizza hut, black forest, dan sebagainya itu. Sambil bersyukur udah disadarkan oleh mereka, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan – “kamu nggak perlu sayang sama semua orang, dan kamu nggak perlu bikin semua orang ngrasa spesial. Cukup orang-orang di sekeliling kamu aja yang kamu sayang”.

Sooo Simplee bangeeet kan?

Awalnya saya mikir, betapa bahagianya bisa bikin semua orang seneng – apalagi bikin semua orang bisa ngrasa kalau dia juga sama spesialnya kayak yang lain. Tapi itu mustahil. Ada penolakan, ketidaksukaan, kebencian, wajah-wajah muak yang saya rasakan sendiri bahkan diantara mereka yang mengaku teman dekat. Perasaan yang tidak bisa dibohongi oleh perasaan kamu sendiri. Membuat semua orang lain senang sama halnya menjerumuskan diri kamu sendiri ke jurang ketidakbahagiaan, atau malah jurang neraka. Tinggal dorong dikit, perasaan tidak nyaman atas paksaan kamu terhadap diri sendiri untuk menyenangkan orang lain itu bakal jadi bumerang buat idup kamu sendiri. Masih mau nyimpen perasaan begitu?

Pahami saja, kamu memang tidak bisa menyenangkan semua orang.

Sunday, 4 June 2017

Ini urusanku, itu urusanmu

Begini, soal undangan buka bersama yang akan kamu terima atau tidak itu bisa kau sikapi dengan dingin dingin saja. Tidak usah repot, tidak usah gusar, apalagi ribut mendengarkan kata orang. mereka mau bilang kau sombong, sok sibuk atau pelit biar saja jadi urusan mereka. Sirik itu melelahkan bukan? Jadi biarkan saja mereka yang kelelahan. Itu hidupmu, ibadahmu, kegiatanmu, dan kebebasanmu. Menerima atau menolak itu sungguh kewenanganmu dan orang lain tidak berhak ikut campur, jadi ini soal pilihanmu, bukan pilihan orang lain.

Yang kedua, soal tarawih yang cuman sebelas atau dua puluh tiga rokaat ini juga bukan tentang orang lain. Jadi orang lain mau bilang apapun, mau membeberkan dalil apapun, ini adalah soal yang kau yakini. Soal yang turun temurun kau alami. Soal yang kau tau sendiri bagaimana baiknya. Jadi percuma berdebat soal ini, kamu, Cuma tinggal yakin dengan keyakinanmu, dan urusan keyakinan orang lain bukan lagi urusanmu.

Yang ketiga, soal ibadah dan berbuat kebaikan itu adalah urusanmu dengan Tuhanmu. Bukan urusanmu sama manusia-manusia yang kadang berisik itu. Jadi mau diam-diam atau koar-koar ke sepenjuru desa biar semua orang tau, biar itu jadi hitungan amalmu sama Tuhan. Cukup biarkan malaikat yang mengurus persoalan dosa dan pahala itu, jangan lagi kau campuri dengan berkata mereka berdosa sedangkan yang paling pantas masuk surga.

Yang terakhir, soal ghibah – nggosip – fitnah – dan sebagainya yang sepersaudaraan dengan nyinyir itu juga bukan urusanmu. Ringkaskan hidupmu untuk mengurus hal-hal yang kau perlu. Itu mulut orang, bukan mulutmu. itu lidah orang yang sama-sama tidak bertulang. Yang harus kau jaga hanya mulut dan lidahmu. Bagaimana mungkin kau akan mengendalikan lidah orang yang sama sekali bukan jadi bagianmu itu? Urusanmu hanya mengingatkan, dan selebihnya – biarkan saja Tuhan yang memberikan teguran.

Dan sudah memang begitu saja.

Lagipula, apa mau seluruh omongan di dunia kau masukkan ke telinga?

Pintar-pintarlah mengurus urusan yang memang penting untuk kau pikirkan. 

Ramadhan, 2017

2017. Ramadhan kedua di bulan Juni. Bulan kelahiran saya.

Rasanya syukur, nikmat dan rindu jadi satu. Saya tidak bisa menghindari banyak syukur dari Allah, karena, lagi-lagi saya masih diizinkan untuk menikmati Ramadhan bersama keluarga, orang-orang terdekat, dan dengan kesehatan berlimpah. Saya ingat hari pertama shalat tarawih, mungkin bukan hal yang penting untuk banyak orang, tapi penting untuk mengingatkan saya. Sesaat sebelum shalat tarawih dimulai, mata saya mengedar pandang ke sekeliling masjid. Penuh. Jamaah tumpah ruah. Laki-laki perempuan. Muda tua. Kanak kanak atau dewasa.

Dan hati saya tiba-tiba buncah oleh haru. Mata saya panas.

Mata saya tiba-tiba berkaca-kaca. Saya merindukan pemandangan itu. Orang banyak. Orang-orang penuh semangat untuk beribadah bersama. Silaturahmi. Kenikmatan rohani yang tidak ada tandingannya. Dan saya menyadari, tiba-tiba dari sudut mata saya mengalir airmata/ saya menangis. 

Mungkin kedengarannya cengeng, tapi begitulah yang saya rasakan. Yang perlu digarisbawahi, itu sama sekali bukan tangis lebai –hati saya damai. Rokaat pertama sholat tarawih saya menangis sebentar sebelum saya menyadari bahwa tidak boleh berlebihan bahkan dalam merasakan kebahagiaan, saya hanya diminta untuk belajar istiqomah.

Jika Tuhan masih mengizinkan saya mencecap nikmat beribadah, itu artinya Tuhan masih sayang pada saya.

Dan ya Allah ...

Terima kasih atas nikmat haru yang masih terasa
Jika bukan karena izin-MU, tidak ada yang akan terjadi di dunia

Semoga atas pertambahan umur dan nikmat hidup yang masih diberikan sampai saat ini selalu bermanfaat. Berkah. Dan KAU ridhoi.

Dan ya Allah ...
Selamat bekerja.                                                     
Jogjakarta, 30 Mei 2017

Critical eleven sebuah review : NOVEL VS FILM

Sebelum bicara pada ranah inti, ada baiknya kita memaklumi dengan jelas bahwa selalu ada perbedaan imajinasi yang dituangkan dalam sebuah buku – dan kemudian diangkat ke dalam layar lebar. Ya, sudah pasti akan ada banyak perbedaan. Entah itu gambaran tokoh ideal, latar, atau jalan cerita itu sendiri. Untuk mendeskripsikan suatu keadaan, atau ekspresi yang terdapat dalam suatu tokoh novel tentu saja tidak akan selalu sama karena lagi-lagi persepsi dan ekspektasi pembaca jauh dari standar. Semua orang punya pikiran. Sehingga dari persepsi dan ekspektasi itu tidak dapat diseragamkan. Jadi saya jelas memahami bahwa kritik dan saran mengenai film yang diangkat dari suatu novel sudah pasti akan menuai banyak komentar, dan tulisan saya ini hendak memberikan review dari kacamata saya sebagai pembaca setia novel ika natassa – dan penonton filmnya.

Saya sungguh mengapresiasi IKA NATASSA sebagai penulis novel ini, gaya bahasanya yang mengalir – kadang saya seperti mengalami perasaan yaaanggg “ini gaya gue banget, bikin ngakak, dan yang paling parah bikin mesam mesem sendiri”, dan sederet kalimat indahnya dia yang simple membuat saya berekspektasi tinggi terhadap film ini.

Apalagi, pemainnya kece-kece bukan? Siapa yang nggak kenal reza rahadian? aktor yang beberapa tahun terakhir mengambil hampir seluruh porsi pemain laki-laki dalam suatu film. Aktor yang berulang kali masuk kategori awards dan bahkan memenangkannya. Sampai setelah saya melihat trailernya di instagram, dalam hati saya berniat begini “SAYA HARUS NONTON FILM INI, BANGET!”

Sudahkah kamu mengerjakan skripsi hari ini?


Eh kamu seangkatan sama dia ya?
sekarang s2 atau udah kerja?
*GLEK. Boro-boro s2, skripsi aja belum kelar.

Bicara soal skripsi, beberapa mahasiswa melewatkan waktu terlalu lama untuk menyelesaikan tugas akhir ini (minoritas). Setahun, dua tahun, tiga tahun, bahkan bertahun-tahun HANYA untuk menyelesaikan skripsi. Oke, maafkan saya kalau menggunakan kata HANYA. Tapi, skripsi memang HANYA sebagian urusan kecil yang sebenarnya mudah kamu selesaikan dibanding dengan masalah lain di hidup kamu semacam patah hati, atau ditinggal pergi. Wkwk.

Untungnya titik lemah dalam mengerjakan tugas akhir ini akhirnya dapat diminimalisir dengan kebijakan baru dari pemerintah yang mewajibkan bahwa kuliah jenjang strata satu hanya punya batas waktu maksimal 7 tahun, dan sekarang berubah menjadi 5 tahun, kalau lebih – (D.O). Kebijakan ini setidaknya membantu mahasiswa memaksa dirinya sendiri untuk berubah (oke, kalau paksaan dari dalam tidak cukup maka butuh paksaan dari luar bukan? )

Fenomena ini sudah jadi rahasia umum di kalangan mahasiswa. Oke, saya bilang ini fenomena, karena sudah jadi hal yang biasa. Yang sudah biasa ini semoga tidak jadi kebiasaan. Dulunya alasan yang digunakan memang valid karena sebagian besar dosen di jaman dulu memang nomor satu killernya, yang kalau boleh dikatakan intinya adalah lebih ribet (ini kata ibu saya atau alasan ibu saya sebagai pembenaran dari kuliahnya yang lama. wkwk). Dosen-dosen pada jaman dulu kala, era tahun 90 an katanya lebih sempurna daripada Tuhan, yang salah sedikit bisa fatal akibatnya (lebih berwibawa, susah kompromi, dan harus dihormati). Hal tersebut diperparah dengan belum ada internet, komputer jinjing, keyboard seperti jaman sekarang, dan literatur yang sulit ditemukan.

Nah lalu, jika pada era tahun 90 an saja banyak sekali tulisan yang produktif yang bisa dihasilkan orang-orang, kenapa pada zaman sekarang yang kemudahan dan fleksibilitas di elu-elukan (komputer dimana-mana, google mudah diakses, dosen mudah diajak komunikasi), untuk membuat skripsi saja sebegitu lamanya bagi mahasiswa? Kalau sebagian besar bisa tepat waktu, kenapa sebagian kecil ini menunda-nunda menyelesaikan kuliahnya? Apa penyebabnya?

Akhirnya, dari seluruh pengalaman yang saya alami, dengan melihat dan mengamati kondisi sekeliling, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan bahwa – ada 2 prinsip besar yang harus kita pegang teguh untuk mengerjakan sesuatu hal. 2 hal? Apa saja?

Oke here we go.

Thursday, 1 June 2017

5 alasan kamu harus lebih produktif saat puasa

Lah elo kok tidur mulu?
Pahala bro. PAHALA. Orang yang lagi puasa tidurnya sama dengan pahala
Jadi, Tidur banyak sama dengan pahala banyak.
*Nelen liur.

Bulan Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Semua juga tau. Mau ngerjain apa-apa mudah, enak, enteng, banyak temennya, berpahala lagi. Semua hal yang kita lakukan disini akan dihitung pahala dan semoga saja berkah. Tapi, beberapa orang memanfaatkan keberkahan di bulan ini untuk bermalas-malasan dengan dalih, “lah kan tidurnya orang puasa pahala, tidur lama gak masalah dong ya. Nyengir kuda”.

Tidurnya orang puasa memang ber-pahala, tapi bukan berarti seluruh jam yang kita punya dalam 24 jam, atau lebih dari 12 jam sehari digunakan hanya untuk tidur dan bermalas-malasan saja. Badan lemes, bau mulut, lapar, haus, panas sebenarnya bukan alasan yang bisa digunakan terus menerus kalau kita tau keutamaan melakukan hal yang lebih bermanfaat di bulan puasa. Kalau kamu tahu manfaat dan keberkahannya pasti kamu nggak akan tidur terus deh gais.

Nah, ini nih 5 alasan kamu harus beraktifitas waktu puasa biar puasamu nggak cuman sekedar laper aja:
 
1.   NINGKATIN NILAI DAN PAHALA  

Dengan melakukan hal terbaik sebisa kita di bulan Ramadhan (semoga sih nggak cuman ramadhan aja), maka seterusnya kita bisa meningkatkan keimanan – ketaqwaan dan keilmuan kita. Dengan malas-malasan dan tidur sepanjang waktu, hal tersebut menunjukkan ketidaksungguhan kita menyambut bulan Ramadhan, padahal anak kecil aja semangat nyambutnya (pagi saur, solat subuh jamaah lanjut jalan-jalan trus sekolah, nah masak kita mau kalah sama bocah?), sebagaimana hadist di bawah ini:

... Orang puasa jika terus menerus menghabiskan waktunya dengan tidur, pertanda kelemahan darinya. Apalagi bulan Ramadan termasuk waktu mulia, seyogyanya seorang muslim mengambil manfaat darinya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, mengais rizki dan mencari ilmu. (Al-Lajnah Ad-Daimah lilbuhuts Al-Ilmiyyah, 10/212)[1]

Nggak mau kan di cap lemah dan tidak berdaya sama manusia, apalagi sama yang nyiptain kita? Nah ini motivasinya biar kalian jadi semangat bergerak di bulan puasa.

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. DIAMNYA ADALAH TASBIH. DO’ANYA ADALAH DO’A YANG MUSTAJAB. PAHALA AMALANNYA PUN AKAN DILIPATGANDAKAN.[2]

Sunday, 28 May 2017

Temen yang baik?



Temen yang baik?
???

2000 – 2017. 17 tahun. (Sekolah dasar – sekarang)

1998 – 2004, temen yang baik itu yang bisa diajak main setiap pulang sekolah. Yang setiap hari bisa ketemu, main, ketawa bareng, sepedaan bareng sambil nongkrong di rumah Delly atau warung pertigaan jalan. Yang mau diajak beli nasi rames barengan, basket, yang hobi caper ke pak guru atau bu guru sama seringnya, atau cuman yang rela sy contekin pas ujian. 

2004 – 2007, temen yang baik itu yang kamarnya barengan. Yang bisa diajakin gantian baju, peralatan sehari-hari, yang mau dipinjemin duit dan sering jajanin makan, yang nggak pernah ngasih kue bolu waktu ulang tahun, yang mau minjemin walkman waktu dia lagi dengerin lagu hits jaman dulu, yang rela nyuciin baju sambil misuh-misuh cuman karena lecek, yang mau diajak nyuci piring barengan, yang rela nganterin ke kamar mandi waktu ketakutan, yang minjemin novel dan mau berbagi piring makanan, dan satu lagi – yang bisa diajak kabur barengan naik taksi atau sekedar bus omprengan. 


Monday, 15 May 2017

Jalan-jalan murah ke Bromo



Hari gini, siapa yang nggak tergiur iming-iming jalan murah? Ke luar kota? Ke tempat hits? Hampir nggak ada. Tiap kali ada postingan promo trip ke suatu tempat, saya selalu nelen liur sambil ngebatin semoga saya sampe sono juga nantinya. Saya sih percaya, keinginan dan doa kita bakal terkabul – meskipun belum tau kapan waktunya, tapi satu-satunya kekuatan yang bakal ngebawa kita kesana adalah, percaya aja kita bakalan sampe kesana. Catet, YAKIN.

Omong omong soal ini, Hamdalah saya sampe juga ke Bromo. Tanpa ekspektasi malahan. Seperti biasa, agenda dadakan celetukan sama temen yang bersambut akhirnya kelaksana. Packing 2 jam sebelum kereta berangkat dan udah. Pake drama sedikit karena satu orang dateng di last minute kereta mau cuss. Jumat siang berangkat, sabtu sore tolak ke Jogja lagi. 

Eh abis budget berapa kesana? Cuman 700 k

Waaaaaa muraaaah bangeeeeet. 

Saturday, 6 May 2017

6 alasan kenapa kamu harus ke Jayapura


Beberapa orang berpikiran kalau maen ke Papua, selain raja ampatnya itu, pasti gak seru deh karna isinya hutan semua (dengan perjalanan kurang lebih 8 – 12 jam tergantung maskapainya), belum lagi disana katanya mahal, terus disana isinya hutan semua, eits kata siapa? 

Bulan lalu saya berkesempatan mampir ke Jayapura. Sialnya karna saya baru sekalinya nginjekin kaki kesini, kirain antara sorong dan jayapura itu deket, seneng kan ya ngebayangin bisa ke Ujung Indonesia ketemu temen-temen lain yang di sorong, trus mampir raja ampat. Saya sudah prepare baju di koper untuk seminggu. Eh ternyata? Jarak antara satu kota dengan kota lain kudu ditempuh pake pesawat terbang. GLEK. Saya ketawa malu dalam hati. Jarak Jayapura dan sorong itu kalau naik pesawat aja kurang lebih dua jam, itu belum ditambah dengan naik kapal untuk menuju raja ampat. Yaah, mungkin kali itu saya kurang beruntung. 

Tapi eh tapi, jangan sedih dulu, di Jayapura juga ada tempat bagus buat dikunjungi. Dan lagi,  6 hal menarik yang jadi alasan kalian harus banget ke Jayapura. Oke here we go

1.    Tempat bagus di Jayapura

Jangan dibayangkan kalau Papua isinya cuman hutan dan babi aja, disini – alamnya masih bagus. Bahkan, sebagian besar yang harus dilihat disini adalah alamnya. Meskipun begitu, disini sudah ada Mall, kolam renang, taman dan hiburan lainnya. Perjalanan dari bandara Sentani ke pusat kota Jayapura saya nglewatin Danau sentani yang baguuuuuuus bangeeet.  Sumpah saya nggak boongan. Belum lagi di sepanjang perjalanan, yang ada hanya gunung dan bukit bukit hijau yang seger banget dipandang. Kabar punya kabar, gunung yang kita lihat itu salah satunya gunung yang ada saljunya yang kalau mau mendaki puncaknya butuh duit segambreng itu. 


Thursday, 20 April 2017

Apa yang sudah kamu lakukan buat hidupmu hari ini?


Apa yang udah kamu lakuin,
buat kamu dan hidupmu hari ini?




Semua orang sewajarnya ingin selalu membahagiakan dan membanggakan orang-orang yang dikasihinya, orang-orang tersayang. Entah itu ibu, bapak, pacar, suami anak, dan siapapun. Lazimnya, tidak pernah ada orang yang mau mengecewakan orang tuanya, dan sebaliknya, tidak ada orang tua yang mau mengecewakan anaknya. Tapi, apa saja langkah konkrit yang sudah kalian lakukan untuk membuat orang di sekeliling kalian bangga dan bahagia? 

Saya pribadi bukan orang yang suka berkata-kata manis, suka berjanji, dan atau hal lain yang mungkin tidak dapat saya lakukan di kemudian hari. Saya typical yang lebih suka menunjukkan cinta dan perhatian saya dengan perbuatan. Yang lebih tegas dan jelas. Bagi saya hal tersebut lebih konkrit dibanding uang dan atau hal apapun di dunia. Meskipun di zaman sekarang, ingin membahagiakan orang lain tanpa memiliki uang adalah hal yang mustahil. Tapi kalau hanya soal uang, itu bisa diwujudkan bukan ? 

Sekarang saya merasa masih menjadi beban orang tua. Hidup dan makan bersama orang tua. Kadang uang bensin pun masih minta, lebih dari itu semua, saya belum bisa rutin memberi sebagian dari penghasilan saya kepada orang tua. Kalau ditanya sedih atau tidaknya, saya sangaat sedih karena tujuan hidup saya memang membahagiakan mereka. Untuk apa kita bekerja dan lain sebagainya kalau tidak yang ingin kalian wujudkan? Maka tujuan terbesar saya memang keluarga.

Mungkin kalian merasakan hal yang sama sampai pada akhirnya membandingkan pencapaian diri sendiri dengan teman-teman yang lebih nampak sukses dan bahagia. Tapi pertanyaannya, apakah mereka seperti apa yang kita sangka kan kepada mereka? Sudah cukupkah mereka merasa membanggakan orang tuanya? 

Ternyata tidak juga. 

Saturday, 15 April 2017

Perjalanan

Setiap orang melakukan perjalanan, itu kata kuncinya, setiap hari, setiap saat – dari rumah ke kantor, dari rumah ke kampus, di jalan, di toko, semua orang bergerak.

Lalu, dalam perjalanan tersebut, saya mengamati – baik bus, kereta, atau pesawat, hampir di setiap terminal tunggu dan atau kursi di dalam kendaraan yang membawa ke suatu daerah atau lokasi selalu penuh diisi orang hendak menuju tujuannya masing-masing. Puluhan, ratusan. Hampir selalu penuh dan tidak meninggalkan satu kursi kosong, kecuali beberapa keadaan di luar kebiasaan. Siapa yang harus didahulukan? Tidak ada bukan? Semua sama –

Lantas apa yang menarik?  

Saya akhirnya mengambil makna bahwa sejak dalam proses pembuahan kita memang selalu melakukan perjalanan. Tidak terkecuali sampai detik ini. Kita semacam air yang bergerak menuju muaranya, dari hulu ke hilir, mengikuti arus apa yang kita tuju. Dalam proses menuju tujuan yang hendak kita tuju dari suatu perjalanan, kita bertemu banyak orang, banyak budaya, banyak kondisi, dan banyak hikmah yang dapat dipetik – mengajarkan pada kita lebih dari yang sekedar diajarkan oleh bangku sekolah, kesabaran, ketenangan, kerendahan hati dan syukur.



Monday, 3 April 2017

Fokus saja ke depan


Jadi pemenang, siapa sih yang nggak mau? 

Pertanyaan saya klise banget kan ya? 

Selalu tampil terdepan. Unggul. Dominan. Dibangga-banggain, dipuji, disanjung. Banyak yang nge fans. Dan segala keuntungan yang mengekor di belakangnya yang pasti menimbulkan iri dengki di hati orang lain.



Tapi, untuk tampil terdepan selalu butuh usaha bukan? Tidak ujuk-ujuk atau tiba-tiba dapat kita wujudkan. Yang aneh, sebagian orang kadang menjadi terdepan dengan cara menjatuhkan, merendahkan, dan menjelekkan temannya. Akhirnya, disadari atau tidak disadari, focus kita untuk menjadi terdepan menjadi tidak murni lagi – niat kita justru berubah bagaimana caranya untuk bisa mengalahkan orang lain. Padahal, untuk jadi tinggi kita tidak perlu merendahkan orang lain bukan? 

Bagi saya, menjadi pemenang adalah ketika kita focus mengalahkan diri sendiri. Bukan orang lain. Mengalahkan malas, alasan-alasan, mengalahkan kesombongan, dan ketidakkonsistenan yang kita punya. 

Menjadi terdepan adalah ketika kita berfokus pada perbaikan diri sendiri. Bukan malah focus terhadap kelebihan atau celah yang bisa dijatuhkan dari musuh atau lawan kita. 

Friday, 24 March 2017

Definisi Memberi

Definisi memberi, bagi saya bukan persoalan dia kaya atau miskin, dia anak pejabat atau pedagang biasa pinggiran, atau dia kerja kantoran bonafit dan yang lainnya kerja jadi jongosan. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan materi. Give. Memberi. Share. Berbagi. Bagi saya sama saja memiliki arti dan filosofi yang lebih dalam dari sekedar “nih gue kasih”, atau “gue ada kado nih buat elo”. Memberi disini juga nggak dibatasin persoalan barang, atau obyek yang bisa dilihat – tapi segala sesuatu yang bisa di apresiasi. Dirasa, dihargain, dinilai.  

“Memberi adalah cara lain menerima”. Itu kalo kata saya.



Memberi adalah persoalan kerelaan, dan tentu saja tindakan yang menunjukkan seberapa besar kasih sayang kamu buat seseorang. Contohnya saja, bagi orang yang lama pacaran dan atau teman karib bertahun-tahun, sudah pasti nggak mikir beribu kali buat ngasih gift sama mereka yang dianggap special. Tapi saya bukan mau bahas soal kerelaannya. Saya mau mbahas soal kesungguhan. Kasih sayang. Behind the storynya. Kenapa bisa gitu ya?

Kado yang harganya 35 ribu aja bagi saya adalah hal spesial yang merupakan akumulasi tindakan hebat dari orang lain. 35 ribu aja kata saya? Kecil banget dih.  Oke, dari segi harga mungkin semua bisa beli, kamu juga pasti yakin bisa beli itu bahkan berlipat-lipat. Tapi apa kamu tahu apa saja kejadian di balik pemilihan si barang itu? Apa pengorbanan dan story di balik kado buat kamu itu?

Dan disini, 3 alasan bahwa orang yang mau ngasih kamu kado adalah orang yang sangat sayang sama kamu, here we go:

1.   Setiap pemberian membutuhkan niat

Oke, boleh aja bilang semua orang bisa beli kado. Tapi cuman yang bener-bener niat yang bisa ngelaksanain niatan itu. Kenapa harus niat? Yaiyalah, karena ini bukti awal kepedulian mereka. Entah celetukan ke temen dengan ngomong, aku mau beliin dia ini ah. Aku mau nyurprise in dia ini juga deh, dan lain sebagainya. Hal-hal begini cuman bakal dilakuin sama orang-orang yang sayang, berhati besar, dan ngerelain sedikit pikiran dan hatinya buat mikirin kamu.

Lah, emang kalo nggak baik, nggak kenal, nggak deket, atau nggak ada modus apapun masih ada nih orang mau ngasih Cuma-Cuma. Kalaupun ada, itu juga 90 banding 10 kan ya? Ini baru niat aja nih, niat kan kudu dipikirin mateng-mateng juga. Saya percaya, setiap orang yang sayang – pasti selalu pingin ngasih hal terbaik yang bisa diusahain dari dia.

So, persoalan niat baik aja udah bisa jadi awalan yang hebat kan?

Wednesday, 8 March 2017

Mengubah energi negatif menjadi positif



Begitu banyak energi yang ada di sekeliling kita, entah itu termasuk dalam golongan negatif atau positif, yang jelas seluruh energi tersebut mengelilingi kita setiap waktu, setiap saat, setiap hari. Mau tidak mau, sebagai seorang yang diberikan kelebihan oleh Allah hati dan akal, seluruh energi tersebut harus dapat dikendalikan, harus dapat diolah, karena disadari atau tidak, pengaruh energi lingkungan dapat menular kepada siapapun – tidak terkecuali kepada kita. 

Energi negatif itu termasuk makian, kata-kata kotor, umpatan, cacian, hinaan, ejekan, dan segala macam hal yang menimbulkan perasaan tertolak, tidak diterima, dan semacamnya. Sedangkan energi positif biasanya menimbulkan perasaan bangga dan penerimaan. Persoalan yang baik-baik pasti tidak akan menimbulkan masalah. Kedua energi tersebut bergantung kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, teman-teman, keluarga, saudara, dan rekan kerja, jika energi di sekeliling kita lebih dominan positif maka pola pikir dan energi yang kita ambil juga akan sama positifnya, dan sebaliknya. Lantas kangen termasuk emosi yang mana

Tergantung bagaimana respon kalian terhadap seluruh emosi tersebut. Apabila dari emosi tersebut dapat dirubah, maka segala sesuatunya menjadi tidak penting. Semua hal dalam perasaan anda menjadi sepenuhnya kendali anda. Ingat, seluruh yang ada pada anda – khususnya perasaan, adalah kendali anda. Jadi jangan mudah dikendalikan oleh orang lain.
 
Lantas bagaimana keadaannya jika sedikit saja energi negatif merusak kegiatan sehari-hari, semangat dan bahkan hubungan sosial manusia? Lantas apa yang harus dilakukan kita sebagai manusia yang bijak untuk mengubah energi negatif yang ada menjadi energi positif kepada orang lain?

Kita seringkali mengalami peristiwa seperti di atas, ada seseorang yang tiba-tiba merusak mood, atau merubah energi yang tadinya sudah positif menjadi berubah jelek. Istilah kasarnya adalah kita sudah tercemar emosi negatif oleh mereka, padahal, kendali perasaan ada pada kita sendiri. Kalau begitu, apakah artinya kita yang mudah di remote/kontrol/kendalikan oleh mereka? Ya, bisa jadi.