.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Saturday, 4 June 2016

Lelaki di ujung pintu (eps 1)

Aku selalu bermimpi punya kekasih bernama Dio. Tinggi. Manis. Berlesung pipit seperti sahabatku Anya karena lesungnya selalu membuatku ikut tersenyum. Kuceritakan semua mimpiku pada Anya, si mulut comel yang tak pernah berpikir bagaimana lawan bicaranya akan merespon apa yang keluar dari mulutnya. Dia hanya tertawa ketika kubilang tentang mimpiku. Dia bilang, hari gini masih aja ngimpi. Syukur dapet laki baik. Lagian, ngapain juga harus nama itu, apalah arti sebuah namaaa sih Raaa? *aku yang kali itu tak begitu peduli apa yang dikatakan Anya hanya tersenyum kecut.
Kupikir ia tak pernah benar-benar mengingat ucapanku itu.

10  tahun lalu.
Di halaman belakang sekolah, sebelah sungai dan jembatan menuju makam, kita dulu sering mencuri-curi pandang. Kau menungguku tiap bel istirahat berdentang, dan aku menunggu tanda itu dari perpustakaan seberang tempatmu berdiri. Aku menangkap senyummu. Sembari menyelipkan surat kepada tumpukan dedaunan, kau mengerlingkan mata. tanda sampai jumpa. Aku berpamitan pada ibu perpustakaan, dan diam-diam nakal mengambil suratmu. Ada bekas kecup bibirmu. Yang kubalas dengan kecupan lagi di tempat yang sama. 

Masih bangeeeet yee surat-suratan? Siti nurbaya banget deh eloo *terngiang ejekan sahabatku itu. 

Gak aneh kan punya sahabat yang mulutnya comel banget gitu? 

 

8  tahun lalu.
Ranjang tingkat di pojok kamar berisi dua belas orang itu berdecit pelan. Aku menangis sedikit. Awalnya tak bersuara. Tapi lama-lama tak tahan juga kutahan pedihku. Aku menangis sesunggukan. 

Patah hati setelah tahu ternyata kau mengirim surat tak hanya untukku. Tapi juga untuk kakak kelasku. Ah, betapa naifnya aku. Lambat kutahu, akhirnya kau mengaku, katamu urusan jodoh siapa yang tahu? Makanyaa, gue bilang juga apaan? Lakik nggak ada yang bener. Kucing dikasih pindang, mana bisa nolak? *aku tertawa mengingatnya.  

5 tahun lalu.

1 notifikasi pesan facebook masuk

“Apa kabar?”

Hanya itu yang bisa kubaca, dan hanya itu yang mungkin bisa kau tanyakan. 3 tahun tidak bertemu katanya kau sudah menikah. Setelah masuk dan mengenakan seragam yang kau impikan, kau menikah dengan tetanggamu. Kakak kelasku yang dulu kau kirimi surat juga ternyata kau tinggalkan bukan? Dan, kabarku baik, bagaimana kabar istrimu yang cemburuan itu? kataku sekarang, urusan jodoh siapa pula yang tahu? *Aku tertawa puas

Setelah menerima pesan itu, kutelpon Anya. “Pesona gue emang nggak bisa ilang ye, Nya. Dan apa komentarnya? *iyee Raaa, pesona buat maenin doang. Dia memang ahlinya membuat moodku berubah seketika.

Hari ini.

Gilak. Berapa lakik yang pernah lo gebet? Masih banget mikirin mantaan eloo yang tentara gak tahan godaan ituuh? Atau inisial TNF? Atau yang mana lagi? Gausah deh ya pamer ke gue cerita susah eloo. Bosen gue, boseeen. Dia tertawa menunjukkan sepasang lesung pipinya. Pertanyaan macam apa ini yang keluar dari mulut sahabatku yang bahkan baru ketemu lima menit lalu. 

“Muluuut  eloo yaa toloong dijaga kalo masih butuh guide disini”. Aku tertawa memeluknya. Gimana bisa ngelupain bocah satu yang ramalan cintanya selalu jitu. 

Abis patah hati ye loo? Udah dilamar tapi lakik lo ga jelas? Ih cerita cerita doong, mumpung gue lagi disini. Cerita lo kemaren baru sepotong. Udah mau dua empat masih jomblo ajaa sisst? Gue udah bawa bayi kanan kiri gini elo masih ajaa kebanyakan pilihan. *ngehek banget dia emang. 

“ga sabaran banget dih. Makan dulu napah. Mamang nasi gorengnyanya kangen elo tuh, Nya”. Aku tersenyum. Menyodorkan sepiring nasi goreng favorit yang sudah dia pesan sebelum datang.  

Dua jam dua puluh menit dia tak berhenti menanyaiku macam-macam. Empat orang. Mantan. Long distance lah, selingkuhlah, cueklah. Dua jam dua puluh menit yang sukses nyampah di sahabat lama. Empat orang yang kayak taeee semuaaa. Aku ganti mewawancarainya. Gimana bisa orang ngehek kayak dia mutusin buat cepet banget nikah ninggalin gueee? Sama cowok yang baru dia kenal dua bulan. Katanya dia kena santet, santet permanent. Gara-gara si cowok gila banget sabarnya. “mana ada laki yang gampang banget dikibulin kayak dia, Raaa. Satu banding seribu kalik.” Dia tertawa. Aku tertawa. Puas menertawakan nasib masing-masing. 

Haha syukur kan elo nggak make ati, walaupun bikin males nyari lagi”. 

Dan hari ini, setelah hampir umur ke 24 menuju hari lahir, dari arah pintu masuk restoran tempatku duduk, seorang lelaki melambaikan tangan. Tinggi. Manis. Berlesung pipit persis seperti Anya. Tersenyum ke arah meja kami. Aku tersipu, semuanya persis seperti bayangan, dan kembali menarik merah di pipi setelah menyadari kalau lelaki itu melambaikan tangan bukan untukku. Namanya Agam, sepupu Anya yang katanya ikutan liburan ke Jogja. Hanya butuh dua menit untuk berkenalan. *sayangnya dia bukan Dio. 

Eh Raaa, gue duluaan ya? Anak gue belum gue susuin nih, kasian di hotel bapaknya berisik nih ngeline gue mulu. Elo gue tinggal sama Agam dulu yaa? 

Dan, lagi-lagi, urusan jodoh siapa yang tahu? Anya mengedipkan sebelah matanya genit.
Emang sialan tuh bocah ... aku tersenyum kikuk memandang Agam.

Eps 1.

No comments:

Post a Comment