.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 8 April 2016

Novel Dee Lestari


Saya Lupa tepatnya tahun berapa, tapi buku pertama yang saya baca karya dee judulnya filosofi kopi. Kumpulan cerpen yang menurut saya, wow, orisinil, nggak sok drama banget – lagipula, setahu saya, cuman dee satu-satunya penulis wanita yang tulisannya liar. Bebas. Lepas. Dan ritmenya enak. Nggak mau terbatas sama issue manusia.  semua yang ditulis di bukunya hampir menyentuh seluruh aspek. Dalam salah satu cerpennya di buku yang sama, dia justru membahas dari sisi kecoak – atau tentang sikat gigi. Saya suka bagian itu. itu sihirnya dia. Saya bersyukur mengenal tulisan dee dari dulu. 

     Untuk pemula, yang nggak begitu suka mempelajari “bahasa dan kosakata”, tulisaan dee memang identik dengan asing dan rumit. Ada inggris lah, kimia lah, fisika kuantum, dan apalah apalah. Dee mencampuradukkan seluruh istilah yang dia pengen masukin. Tapi itu justru yang bikin saya tertarik sejak dari judul pertama itu. hebatnya, yang dia masukin mah nyambung-nyambung aja. Nggak terkesan sok pintar atau dipaksakan.

Saya berasa lagi baca buku kuliah, karna setiap ada istilah asing saya justru tertantang buat tahu – dan saya catet, saya garis bawahin. Itu awal ketertarikan saya sama dee. Tulisannya segar, peduli amat dia beragama apa – atau latar belakangnya gimana. Saya hanya mencintai karyanya. 

Lantas dari filosofi kopi itu saya mulai menunggu karya-karya dia yang lain. Saya tunggu postingan blognya, saya follow dia. Tapi sayangnya, dee nggak begitu aktif di sosial media, terutama blognya. Rectorverso, madre, supernova, perahu kertas, hampir semuanya mengejutkan. Bikin saya larut banget bacanya, dan nggak mau diduain. 

Buku terakhir yang bikin saya kayak gila, harap-harap cemas kayak mau nungguin pacar balik dari pangakalan, senyum-senyum sendiri karna udah mau rilis – Supernova inteligensi embun pagi. Heboh banget saya waktu ditandain temen saya buku itu mau rilis, senyum, teriak, dan langsung pasang badan nyiapin duit. Saking hebohnya, mulai dari waktu malem pre order bisa dibuka saya langsung pesen. Itu langka banget saya lakuin, apalagi dengan riwayat saya pernah ketipu sama pesen online gitu. Tapi saya udah nggak sabar. 

Inteligensi embun pagi.

Setelah saya dibuat senyum sendiri sama si etra di seri petir, kagum sama zarah di seri partikel, dan semua lingkaran yang membingungkan itu. IEP muncul dengan 600 an halaman, yaaaang sayaaa selesaikan dalam waktu sehari. Ngebut.

Setelahnya?

Sunday, 3 April 2016

Tabungan Syukur

Untuk bisa menghirup udara segar sampai detik ini, kita harus berterima kasih pada Tuhan, karena betapapun durhakanya saya sebagai manusia, betapa lalainya saya jadi manusia, yang artinya hablumminallah dan hablumminannas saya masih di bawah standar, saya sadar betul bahwa semua yang ada di dunia ini ada karena kehendak Tuhan, dan saya hanya satu dari sekian keberuntungan itu yang hadir lewat ibu saya. Itu yang pertama.

     Tidak mudah untuk bisa terus hidup di dunia, lewat sederet kejadian yang kita alami, apalagi dengan status kita yang selalu membutuhkan pertolongan. Saya sadar dan bahkan menyadari penuh bahwa hidup saya ini nggak lebih dari sekumpulan pertolongan TUHAN, ORANG TUA, DAN ORANG LAIN. Saya tidak bisa membayangkan jadi apa saya tanpa mereka, atau sebaliknya. Manusia diciptakan memang bagian demi bagian, yang sekalipun katanya sempurna, tidak bisa benar-benar sempurna tanpa kehadiran yang lainya. Anatomi yang seperti itu juga berlaku untuk tubuh, satu bagian dari tubuh – rusaklah segala perasaan sehat yang ada. Satu bagian merasa sakit, yang lain ikut terkena dampaknya. Dan gambaran seperti itu diberikan oleh alQuran, bahwa antara muslim yang satu dengan yang lainnya adalah seperti kumpulan lidi, yang apabila patah satu akan patah seluruhnya. Wow.

     Bicara tentang tabungan keberuntungan ...

Saya masih ingat sekali, waktu itu kira-kira saya semester 5. Di akhir kelas, teman-teman saya berkerubung menjadi satu lingkaran, ternyata di tengahnya ada Nora yang katanya bisa meramal orang lewat garis tangan. Mereka heboh, dan mau tidak mau perhatian saya ikut terpusat pada NORA. Saya pikir, apasih, gak usah lah ikut-ikutan ngerubutin Nora, kasihan, kesannya jadi kayak norak pingin tau banget idup ke depan. Kenapa pada heboh banget nanya ini itu, okelah mungkin dia tahu psikologi garis tangan – persis kayak apa yang saya sukai ngebaca garis wajah orang atau ekspresinya yang bisa dibaca gerak-geriknya dipandu buku psikologi atau karna sering mengamati. Mungkin inilah pesona para dukun dan tukang ramal, yang bisa menjanjikan kemudahan dan kebahagiaan instan. Nah, ketika teman-teman saya mulai pergi, giliran saya yang mendekati Nora, kalian tau apa yang dia bilang?

“Hidup kamu bakalan banyak yang bantuin, FIDA.”

Dan dapet kabar itu, saya sih seneng-seneng aja. Wajar kan kita mengamini doa baik di depan? Berasa dapet undian ya?

-   HIDUP DENGAN BANTUAN -.