.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 18 March 2016

Kotoran keluar darimana?


            Kotoran secara harfiah dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang tidak baik, buruk, menjijikkan, dan tidak patut untuk diperlihatkan/diperdengarkan. Jika merujuk pada arti tersebut, maka kata-kata yang tidak sepantasnya, cerita yang tidak benar, perbuatan yang membuat malu termasuk dalam bentuk kotoran yang tidak tampak. Tapi, meskipun tidak tampak - kotoran tetaplah sebuah kotoran bukan?

            Dewasa ini, banyak sekali contoh buruk yang seringkali kita lihat tanpa malu menunjukkan kotoran mereka sendiri dalam berbagai bentuknya. Contohnya, berbicara bohong – bersaksi palsu – dan  mengumpat. Mengumpat disini adalah kotoran yang dengan sengaja dikeluarkan secara sadar, bisa karena luapan kemarahan, lingkungan, dan karena habits. Faktor lain, media apapun – lingkungan, televisi, berita, keluarga, teman, partner – turut berperan penting dalam menularkan kebiasaan tersebut. Dalam beberapa kondisi, kata-kata brengsek -sial- tolol – songong (dan beberapa kata lain) sudah menjadi biasa untuk diucapkan ketika seseorang sedang marah. Padahal, jika dilihat dari arti kata sesungguhnya, kata-kata tadi semuanya merujuk pada konotasi negatif bila ditujukan pada orang lain.

            Menyakitkan? Iya. 

            Menyebalkan? Iya.

            Memalukan? Iya. 

Habits untuk berbicara kotor dapat dengan mudah menular pada kita ketika kita membiarkan  lingkungan  meracuni daya pikir dan sadar kita dengan mula-mula ikut-ikutan, mencoba-coba hingga berakhir keterusan. Kebiasaan buruk itulah yang pada akhirnya menjadikan beberapa kalangan  berpendapat bahwa, hal tersebut adalah hal yang wajar. Biasa aja. Kan sudah banyak yang ngomong begitu. (Biasa karena sudah terbiasa, biasa karena sudah menjadi kebiasaan mereka). 

Lain halnya dengan  mereka yang tetap berpegang teguh bahwa kotoran sudah dan hanya  patut keluar dari tempat yang seharusnya saja. Kotoran sudah punya tempat tersendiri dalam bagian yang tertutup dan wajib ditutupi. Di tempat-tempat yang kita sadari, dan sesudahnya wajib kita mensucikan diri. Namun, adakalanya kita mendapati teman-teman, sahabat, keluarga, bahkan orang tua sendiri yang ternyata justru membuka jalan keluar kotoran baru. Mulutnya.

Kekuatan  lidah dalam  potensinya untuk merekatkan atau  merusak sebuah hubungan sangatlah penting. Beri makan aku  untuk berkata kotor, maka akan kulakukan. Beri makan aku untuk berkata baik, maka akan kulakukan. Efeknya?

Kata-kata kotor merupakan kalimat menular yang berdampak buruk terhadap mood atau kestabilan emosi orang lain. Dengan hanya mendengar orang lain berkata kotor tentang seseorang, kita dapat mudah terpancing – baik mendengar sendiri atau melalui perantara. Kita umpamakan sebuah contoh berikut, ketika terjadi kesalahpahaman terhadap suatu masalah – dan lawan kita tiba-tiba berucap (maaf) tai di hadapan kita, apa yang mula-mula anda rasakan?

Saya yakin jawabannya adalah  kalian akan merasa marah dan tersinggung. Dan indikasi selanjutnya dari kemarahan anda adalah, anda tiba-tiba lebih banyak dzikir dalam hati – mengepalkan tangan – diam sambil berpikir bahwa kenapa dia bisa semudah itu berkata hal yang tidak menyenangkan. Dalam kasus hukum – perkataan yang tidak seharusnya dikatakan  dan  menjurus pada perbuatan tidak menyenangkan dapat dikenai pasal perbuatan kurang menyenangkan.

Di Jogjakarta, berkata yang buruk – mengumpat, lebih familiar disebut dengan “misuh”. Misuh identik dengan sederet kalimat sangat buruk dan tidak patut. Misalnya saja, Asu (anjing), bajingan, brengsek, jancuk, dll. Dapat kita temui segolongan orang yang biasa mengatakan hal tersebut dengan sangat mudah tanpa pikir panjang akan menyakiti orang lain. Perbuatan itu pada akhirnya akan menyulut kita berbuat hal yang sama dengan mengumpat dan membalas kata-kata kotor mereka. Siklus sedang menular. Anda kebobolan mengendalikan emosi.

Lain daerah lain budayanya, jika di Jogjakarta mengatakan jancuk sudah termasuk kurang pantas – berbeda dengan daerah jawa timur an atau pengikut sudjiwo tedjo yang memang merupakan presiden jancukers yang sudah menjadi semboyannya. Jancuk adalah hal biasa. Bagi saya, jancuk tetap saja keras kedengarannya. Pada kenyataan sebenarnya, ketika saya mendengarkan orang lain berkata tai – kopet – atau jenis kotoran lainnya, saya mungkin hanya akan bilang : mungkin mulut anda memang ladang kotoran yang sesungguhnya.


Friday, 11 March 2016

Temen itu cerminan diri kita

Udah deh gausah geng-geng an
Kayak cabe-cabean
Gitu katanya. Emang udah gak jaman lagi sih nge geng, berkelompok-kelompok gitu, bikin kotak-kotak manusia. Yang harus samaan, yang kemana mana musti sama orang itu, yang kalo bisik-bisik udah ngalahin setan sambil nggosipin orang, yang kadang-kadang emang bikin orang salah paham itu. Tapi yang perlu diinget, saya juga nggak pernah secara terang-terangan ngumumin wooiiii ini loh geng gue, geng makan, geng maen, geng karaoke, geng groupies habib syekh – nggak ada semuanya itu. Semua perkumpulan terbentuk alamiah, kadang-kadang nggak disengaja cuman karna samaan hobinya, atau samaan kegiatannya – arisan kek, atau volley kek, atau kulineran. Ya begitulah. Yang ada mah saya cuman main sama mereka yang sayang dan mau jadi temen saya, dan akhirnya jadilah suatu perkumpulan yang katanya itu mulu itu mulu.

Orang tua saya pernah bilang, kalo nyari temen deket musti milih-milih, bukan karena kita mau jadi orang paling sok kece dengan seenaknya milih orang – tapi kata hadist, kalo kamu temenan sama tukang parfum yang bakalan nular bau wanginya, kalo kamu temenan sama tukang fitnah yang bakalan nular pasti mulut embernya. Itulah alasannya. Kita emang idup di banyak lingkaran orang, temen yang ribuan atau bahkan jutaan itu nggak bakalan bisa dijadiin temen deket semua, tapi yang bakalan kita jadiin temen paling cuman segelintir doang karna ya itu tadi, kita emang harus selektif sama apapun yang kita lakuin di dunia ini. Dan fitrahnya emang kita gabisa juga sih percaya sama ribuan orang.

Semua butuh pertanggung jawaban men.

Temenan sama tukang mabuk, mau nggak mau kita lama-lama juga nular juga. Temenan sama yang rajin nanti pelan-pelan juga ketular. Temenan sama ini jadinya ini, temenan sama itu jadinya itu. Dan itu jelas banget. Kita adalah cerminan dari orang-orang terdekat itu. Kalo kalian suka maen, pasti golongannnya tukang maen. kalo hobinya ngabisin duit, pasti temennya gak beda jauh. kalo kalian suka ibadah, sook pasti temen kalian juga yang turut andil sama perubahan kalian. 

Thursday, 10 March 2016

Kena Batunyaaaa

Jangan suka nyindir di dunia maya
Salah-salah kena batunya.

Haha, hati-hati sama mulut, sama kelakuan di dunia nyata, lebih-lebih sama apa yang kamu tulis di sosial media. Bisa dibayangin kan kalo smartphone kalian isinya semua aplikasi ngehits jaman sekarang dan itu on semua? Bisa dibayangin dong ada berapa sampah yang kamu baca tiap hari? Berapa banyak tulisan nggak penting dan misuh-misuh yang bikin kita kadang-kadang ngrasa kesindir? *sori, saya emang terlalu peka sampe semua status kadang-kadang saya pikir nyindir saya. Tapi gini deh ya, path, facebook, instagram, whatsapp, bbm, line, dan apalah semuanya itu, belum lagi ditambah snapchat dll sekarang, banyak banget kaan? Apa yang kalian nikmatin disana selain kehidupan orang? Kalian yakin bahagia disana lo cuman ngeliatin doang? Kalian bahagia karna pamer dan disukain momentnya kaan? Saya juga nggak abis pikir kenapa saya ikut-ikutan ngepoin idup orang itu dan gila loveeeee doang.

Dari yang dulu berantemnya cuman gara-gara salah ngomong, sekarang di jaman yang katanya hits ini, salah paham bisa bermula dari salah ketik, atau salah nulis status yang padahal juga disengaja. Misal aja kita mau nulis tahu jadi tahi, kan typo nya njengkelin, dan lawan kita disana udah salah paham aja sambil marah-marah. Padahal klo diomongin yang begituan malah bisa jadi lucu, enggak kasar kayak pas masih bentuk tulisan mentah di hp.

Pada dasarnya saya ini orangnya cinta damai, gak suka berisik, gak suka berantem sama orang dimanapun, akhirnya kalau saya ngrasa keadaan jadi runyam pun saya bakalan tetep milih diem biar nggak tambah kacau sikonnya, itung-itung ngendaliin hawa nafsu marah juga. Nah kadang, berkebalikan sama sifat kita itu, ada segelintir orang yang hobinya emang jadi kompor. Bikin orang lain berantem, bikin orang lain yang awalnya baik-baik aja jadi salah paham gara-gara tingkah mereka dan mulutnya yang nyinyir itu. Saya sebut mereka golongan KOMPOR. Yang hobinya ngipasin api di kepala, di badan, biar nyembur dari mulut sama perbuatan kita. WUUSSSSSHHHH.