.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 5 January 2016

Fantasimu

Ada pada suatu masa nanti, dia yang kamu bilang tiada apa-apanya, yang tiada pernah kamu indahkan – akan kamu lihat kembali. Bukan sekedar melirik, tapi ragamu seutuhnya menoleh padanya. Tawanya, wibawanya, seluruhnya. Kau terpesona pada yang pernah kau anggap tiada. Mendadak kau lupa segala kata yang dulu pernah melukai harapannya. 

Dia bukan lagi sebagaimana dahulu, tetapi telah berubah menjadi idealmu. Yang baik, pandai, tampan, dan rupawan. Tidak semata karena fisik, hanya saja, kemapanan dan tanggung jawab yang kau pandang sebagai hal pokok untuk melihat seorang lelaki telah ada disana. Dan kau mulai berimajinasi lagi pada suatu waktu, dulu ...

“Katamu kau tak suka masa lalu.”
 “Harus dibuang jauh agar tak mengganjal langkahmu.”

Tapi jawaban pun mengenal waktu. Ingatan kita terbatas untuk menyangkal segala sesuatu yang pernah lewat, dan tak selalu dibantu untuk mengenangnya penuh. Kamu menyangkal segala yang dulu pernah kau ucapkan.

Lucu bukan? kini hidup terlalu lucu bagimu, mungkin juga baginya.  

Namun kini kau kembali pada titik itu. tidak tidak, bukan hanya kau – tapi semua orang mengalaminya. Belamu sendiri pada egomu yang muncul.

Kau menyalaminya. Berharap dia masih melihatmu utuh. Sebagaimana dia yang dahulu mengejarmu, memujamu, dan mengharapkanmu. Dia tersenyum, amat manis. Yang karena idealnya itu telah merubah kusutnya dulu menjadi manismu kini. Lucu bukan? Mungkin karena baju perlente dan dasi kupu-kupunya itu.

            Tangannya menyalamimu, masih hangat. Matanya tajam. Seperti ada binar. Tak bisa kau bedakan yang dulu dan kini.
Tapi dia melihatmu sebelah mata sekarang. Hanya tersenyum, sedikit. Hanya menoleh, sedikit. Wanita yang tetap cantik, dulu, bahkan sampai sekarang. Bertanya kabar, dan pada akhir pertanyaan itu – seorang wanita yang cantiknya mengalahkan keangkuhanmu datang menggelayut manja di lengannya.