.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 12 November 2015

Kamu.


“Dari sekian banyak pilihan, kenapa kamu milih aku? aku kan nggak cantik kayak temen-temen kamu. aku juga nggak kaya kayak temen-temenmu. ”

Pertanyaan itu lagi, itu lagi yang kamu lontarkan. Seolah dari ribuan kejadian di dunia ini, hanya itu yang menggugah nuranimu. Hanya itu yang ingin kamu tahu. Tidakkah kamu bosan mengulang pertanyaan itu? aku hampir bosan mendengar pertanyaanmu itu. 
 
Aku menggeleng, tersenyum tipis. "Kamu kan udah berulang kali tanya itu, yang".

Aku sedang malas berkata-kata

“apa susahnya sih jawab”, itu katamu. 

Kalau semua pertanyaan dari kamu selalu kujawab, aku justru takut kamu bakal pergi. Aku tidak bisa memuaskan seluruh pertanyaanmu. aku nggak jago gombal atau bikin kata-kata bagus yang bisa bikin kamu percaya. Kadang-kadang tidak semua yang kita rasakan disini, di hati, bisa diterjemahkan. Kalau milih kamu butuh alasan, aku nggak tau seberapa banyak alasan yang bisa kamu terima dan bikin kamu percaya. Jangan-jangan. itu malah bikin kamu tambah nggak yakin sama aku. 

Kamu hanya butuh tahu, aku sayang kamu. Itu saja. 

Tolong, stop berpikir lagi tentang pertanyaan konyol itu. 

Wednesday, 4 November 2015

Ada Aku

Dia bercerita tentang hidupnya. Impiannya. Kesukaannya. Kebenciannya. Dan semua tentang dia. Sementara kamu di sudut sana hanya jadi pendengar. Kadang tersenyum, kadang mengerutkan kening, meskipun lebih banyak menyimak. Membandingkan. Mengamati dalam diam. Beranggapan bahwa setiap orang layak kau dengarkan. Beranggapan bahwa setiap orang harus kau bahagiakan. Beranggapan bahwa setiap orang tak boleh kau kecewakan. Pada kenyataannya, kau kesulitan dengan prinsipmu sendiri. Kamu kelelahan. Kamu kecapekan mendapati kamu tidak menjadi dirimu sendiri, dan mengabaikan diri sendiri itu termasuk kepura-puraan.

Tidak ada hal yang abadi. Termasuk kepura-puraan itu sendiri. Sekalipun kamu pandai menyembunyikannya. Mengubahnya dari tangisan menjadi senyuman palsu. Mengubah kekecewaan yang kamu rasa menjadi biasa saja. Atau aku saja yang terlalu bodoh menangkap tanda? Aku melihat ada yang aneh di matamu, ada bening-bening halus disana, yang ingin tumpah, tapi sengaja kau tahan. Ada sesuatu yang masih ingin kau pertahankan, predikatmu yang katanya kuat itu. Tidakkah bisa kau lepaskan sejenak topeng itu? Menangislah sebentar. Atau lama sekalipun. Aku akan tetap di hadapanmu, menunggumu selesai menumpahkan amarah yang telah berubah menjadi butir airmata di pipimu. Egomu terlalu lama kau tahan, itu yang kubilang. Kau tak perlu menyembunyikan apapun disini. Dunia terlalu luas untuk secuil masalahmu. Kau tak perlu banyak berpikir lagi.

Menangislah sebentar. Atau lama sekalipun. Tidak apa, tidak ada yang salah dengan itu semua. Banyak orang melakukannya. Aku juga.

Sunday, 1 November 2015

Youuuur timeee


yang patut kamu syukuri nak, seburuk apapun kamu - atau semenyebalkan apapun kamu, setiap orang adalah istimewa.