.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 29 October 2015

Dear, sampai bertemu di lain waktu.

Tidak ada tempat yang menyenangkan selain apa yang selalu membuatmu merasa nyaman. Dan kalau kau tanya dimana? Aku masih duduk disitu. Di kursi depan kolam ikan lengkap dengan bebatuan alam yang dibuat sedemikian rupa. Tempat duduk di pinggir rak buku bagian drama yang selalu aku cari setiap kali hendak datang kesana. 

Lantai keramik berwarna putih. Ikan koi berwarna putih orange. Hiasan burung merak. Dan gemerecak air. Dan satu lagi, lalu lalang orang. Menikmati mereka aku seperti sejenak melupakan kesendirian.

Dan kau disana apa kabar? 

Aku selalu ingin mengajakmu kesana, melihat rak-rak yang berjejer rapi yang selalu menjadi hobiku – sekaligus impian terpendamku. Kursi rotan di pojok kafe yang remang-remang, dan beberapa kenangan.

Kau tahu kenapa?

Karena hanya disitu aku tidak malu dan tidak risih sibuk dengan kesendirian. Karena hanya disitu aku tidak perlu merasa harus ditemani siapapun, entah mereka, atau kamu yang lebih sering meninggalkanku. Aku yang bisa menerima diri sendiri sebagaimana adanya. Tidak dikungkung malu dan gengsi.  



Aku ingin membaginya bersamamu, di sela-sela menatap ikan berenang dan alunan musik yang berdendang sambil menyelipkan kalimat bahwa kau harus bisa membuat tempat yang seperti ini, atau minimal bisa membuatku nyaman. Sederhana saja, asal ada bunyi air – ikan – dan udara segar. Setidaknya dengan begitu kau tahu aku begitu menginginkan semua hal itu dari kamu, bukan dari yang lain - dan membayangkan duduk disitu dengan kamu – betapa menyenangkannya bayangan itu.

Aku masih duduk disitu. Mengamati sekeliling. Berharap kamu tiba-tiba datang untuk memberikan kejutan. Ah, tapi aku tahu, kamu bukan lelaki yang suka mengejutkanku, terlebih berlebihan menuruti semua kemauanku. 

Telponmu baru saja kututup. Kubilang mampirlah sebentar ke tempat duduk favoritku  ini, sekalipun kau telah lelah berkeliling seharian bersama saudaramu yang lama tak kau jumpai. Mampirlah sebentar, aku ingin menunjukkan padamu satu hal saja. Tapi kau bilang kau lelah. Kau masih berkutat di tumpukan buku di tempat yang berbeda, dan aku hanya bisa menelan liur kecewa – yang tak perlu harus kutampakkan padamu, tapi kurasa kau bisa menangkapnya dari nada suara yang kuucap.

“Kamu nggak marah kan?” kamu berujar pelan dari balik telpon.

Aku menggeleng lemah. 

“Tidak”, mungkin akan kutunjukkan lain waktu. 

Ternyata ini bukan waktumu.

No comments:

Post a Comment