.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 29 October 2015

Dear ~~~ dua

Aku belajar menulis karena kata pepatah, mereka yang belajar menulis adalah mereka yang belajar jujur pada dirinya sendiri. Dan aku sedang berusaha jujur menyampaikan apa yang kurasakan, terlebih beberapa hari ini aku terlampau banyak diam. Banyak yang alpa kuceritakan, dan aku takut itu tidak akan lagi menjadi spesial. 

Aku belajar menulis karena tahu, kamu benci sesuatu yang terlalu berbelit-belit. Katamu, itu semua mengganggu konsentrasimu, termasuk membalas pesan-pesanku.  Aku tau, suatu waktu nanti kamu pasti membacanya, sekalipun kamu tak suka membaca drama katanya. Tapi ini untukmu. Tulisan yang kadang-kadang tidak bernama ini memang tidak tahu apa maksudnya, tapi ini jelas dari hati – dan yang kupikirkan memang hanya kamu. Tapi aku tak hendak merayumu. 

Beberapa hari yang lalu kita sudah bertemu, katamu melepas rindu. Katamu ini waktu kita. Rindu yang entah bagaimana bentuknya, tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak terlihat mata, tapi kamu pasti tahu aku merasakannya – semoga kamu juga. Menunggu tiga bulan untuk tiga hari ternyata tidak mudah. Mungkin bagimu biasa saja, karena bagimu waktu hanyalah putaran pundi-pundi uang dan semua impian yang hendak kau wujudkan, dan mungkin juga – ada aku dalam daftar impianmu.
Tapi bagiku, yang selalu bertemu banyak orang – menerima kenyataan aku harus menunggu bukan hal yang mudah, dan sama sekali tidak menyenangkan. Aku jadi, serba salah. Banyak hal yang ingin disampaikan, banyak teman ingin kukenalkan, terlebih orang tuaku – tapi sepertinya kamu baru punya waktu untukku. Entah apa namanya tapi semua itu mendadak merebut semua nafsu makanku. Sekalipun aku makan di hadapanmu, keinginan untuk makan itu sirna, dan aku merasa kenyang seketika.

Dear, sampai bertemu di lain waktu.

Tidak ada tempat yang menyenangkan selain apa yang selalu membuatmu merasa nyaman. Dan kalau kau tanya dimana? Aku masih duduk disitu. Di kursi depan kolam ikan lengkap dengan bebatuan alam yang dibuat sedemikian rupa. Tempat duduk di pinggir rak buku bagian drama yang selalu aku cari setiap kali hendak datang kesana. 

Lantai keramik berwarna putih. Ikan koi berwarna putih orange. Hiasan burung merak. Dan gemerecak air. Dan satu lagi, lalu lalang orang. Menikmati mereka aku seperti sejenak melupakan kesendirian.

Dan kau disana apa kabar? 

Aku selalu ingin mengajakmu kesana, melihat rak-rak yang berjejer rapi yang selalu menjadi hobiku – sekaligus impian terpendamku. Kursi rotan di pojok kafe yang remang-remang, dan beberapa kenangan.

Kau tahu kenapa?

Karena hanya disitu aku tidak malu dan tidak risih sibuk dengan kesendirian. Karena hanya disitu aku tidak perlu merasa harus ditemani siapapun, entah mereka, atau kamu yang lebih sering meninggalkanku. Aku yang bisa menerima diri sendiri sebagaimana adanya. Tidak dikungkung malu dan gengsi.