.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 31 August 2015

"I Love Youuu ... "

Afaf tertidur lelap di kursi mobil, setelah hampir 10 jam nonstop mengendarai rute jogja-jakarta. Aku yang sejak satu jam lalu tertidur akhirnya bangun karena ritme roda terus diam, dan ada yang aneh dengan segala macam yang hening. Aku tak suka keheningan, karena ia mengingatkanku pada segala macam yang tak ingin aku pikirkan. Perhatianku beralih padanya.

Dia tampak Lelah. Pulas. Dalam batas itu, ada beberapa yang diam-diam berdesir di dalam hati. Afaf terlalu aneh bisa sampai sejauh ini masuk ke kehidupanku. Datang dan sok kenal menyapa, duduk berdua di teras toko, menawarkan semangkuk jagung coklat hangat, dan perkenalan itu berjalan. Afaf tiba-tiba, entah ada darimana, selalu muncul di sekeliling mata. Aku mengambil kursus di satu tempat yang direkomendasikan teman, dan tiba-tiba datang di kelas pertama perkenalan.

“Hai semua, maaf terlambat. Nama saya Arfa Bayanata.”

Dan Afaf melangkah percaya diri duduk di sampingku.

“Hai.. “

Selanjutnya, kau tau yang terjadi – pertemuan terus menerus itu berubah menjadi sepasang perbincangan yang tiada henti. Dia menelponku setiap malam, bicara soal rindu, dan tiap kali dia tak menelpon di jam-jam itu, akulah yang kemudian dilanda rindu. Betapa Tuhan menganugerahinya mengambil hati dengan secepat itu. Padahal sebelumnya, aku tak pernah dengan sengaja meladeninya.
           
             Afaf masih pulas di tempatnya .

Kulit coklat. Alis tebal. Mata lebar. Dan senyum yang menghadirkan sepasang gigi gingsul serta lesung pipit itu kesan pertama yang bisa dia hadirkan, selain kenyataan bahwa dia adalah makhluk menyebalkan, yang tak bisa dipungkiri, dia memang menarik.  Namun begitu, semenarik apapun itu – aku yang baru saja selesai dengan menutup buku kisah lama tak bisa menyembunyikan bahwa dia jauh dari kriteria itu. Apapun itu. Tapi melupakan cinta lama membutuhkan cinta yang baru kan? 

Dia yang menyebalkan, sok kenal, sok aktif, dan kaku ketika memulai perdebatan. Dia yang mengkritikku sepele soal foto yang ditampilkan di profil whatsapp, dia yang mengajakku berdebat soal anjing, dan dia yang menolak idealismeku. Tak ada tanda-tanda dia sedang gencar melakukan pendekatan yang kurasakan, dan karena itu, dulu – aku begitu benci padanya. sampai akhirnya, ketika dia sudah berada jauh berseberangan kota, kami kembali bersapa, bicara hangat dan mengalir semua yang ada. Kami kembali pada ritme nada, kadang syahdu, kadang sedikit sumbang. Aku mulai memberikan perhatianku padanya.
         
Dalam diamnya berkelana di alam mimpi, sekelebat tentangnya masuk, menyelinap sembarangan, berkata bahwa kita telah sejauh ini. Afaf yang tak suka berkirim pesan singkat, dan aku yang tak suka berbicara panjang lebar berlama-lama dengan telepon genggam. pada kenyataannya kami tetap bertahan sampai detik ini. Aku mengalah untuk terus Afaf recoki dengan semua panggilan sayangnya itu, dan dia yang menurunkan ego demi membalas pesanku. Sekalipun dia tak menyukai itu. Kenyataan berkata bahwa, segala macam cinta adalah soal memahami yang terlebur antara dua menjadi satu. Hanya sesepele itu. sekalipun kami berusaha menekan ego sekuat tenaga, kenyataannya tak pernah sesepele apa yang terlihat.

                Dia baru saja pulang dari tempatnya yang jauh, mengambil cuti panjang hanya untuk bertemu denganku. Membicarakan segala yang tak pernah tersampaikan lewat telepon genggam, dan aku bernafas lega bahwa di matanya masih ada aku.

                “jam berapa yang? Aku tidur lama banget ya?”

Afaf mengolat panjang. Mengucek mata. Tersenyum seolah lelahnya telah sirna seusai tidurnya.

                “baru bentar kok, yang”

                “Love you ...” Aku tersenyum mengucapkannya. 




***

Aida. Cepat atau lambat kamu harus tahu.

Sejak dulu memang aku menyiapkan segala usaha untuk mengejarmu, termasuk selalu berada di sekelilingmu. Mungkin aku memang hanya punya tampang pas-pas an, dan aku tak perduli itu. Aku hanya perduli bahwa aku menyukaimu, ada sesuatu padamu yang menarikku. membuatku ingin tahu tentangmu, dan dekat denganmu. Aku tak tahu. Barangkali cinta hanya mengajariku soal bisa dekat denganmu, bukan soal kenapa aku bisa mencintaimu. Aku tak butuh alasan untuk suatu cinta bukan? bukankah cinta yang masih menemukan alasan tidak ada bedanya dengan hitungan matematik? 

Banyak orang bilang bahwa cinta bisa datang lewat perantara apa saja. Mata, hati, atau hanya soal kebiasaan. Dan aku memilih cara yang ketiga, kebiasaan. Barangkali aku bisa pelan-pelan kau kenali dengan tiba-tiba ada di sekelilingmu, dan hampir selalu kulakukan itu. Aku bermimpi di siang bolong dengan berharap, kau akan terbiasa dengan kehadiranku. 

Aku mencoba mengenal teman-temanmu, katanya kamu baru saja putus dengan pacarmu yang tentara itu – atau kalau tidak salah kamu sulit move on dari pacar lamamu. Mereka dengan besar hati menceritakan soal apa saja kesukaanmu, hobimu, apa saja yang selalu kau lakukan, apa yang kau rindukan, dan apa yang kau benci. oke baiklah, aku harus segera menyiapkan taktik. Jauh dari kewajaran, aku memilih untuk lebih mengingat apa-apa yang tak kau sukai, karena cinta selalu berbeda tipis dengan benci,

barangkali kau bisa pelan mengingatku setiap saat hanya karena aku terus-terus memancing kemarahanmu. Termasuk soal aku yang selalu berisik mengkritikmu soal ini itu, soal fotomu, soal anjing, dan waktu kita sengaja bertemu di festival itu – sengaja kubawa saudara perempuanku untuk membuatmu cemburu. Tapi, apakah kesengajaanku itu berpengaruh padamu? apakah kamu cemburu atau setidaknya bertanya siapa wanita yang di sebelahku? ah pasti tidak mungkin. Lagipula aku sadar diri aku tak punya semua yang teman-temanmu bilang soal pacar-pacar lamamu. Aku tak kaya, tinggi, apalagi rupawan seperti yang kau idamkan. Maka bisa apalagi yang kulakukan selain membuatmu membenciku untuk terus mengingatku?

Naif bukan? haha seperti lagu NAIF kan, *kuuu benci untuk mencintaaa*. Kalian boleh tertawa mendengar argumenku ini.

Biar saja. Bukankah cinta hanya soal kehendak?
            
          Dan aku berkehendak untuk bisa mencintaimu, sekaligus dicintai olehmu.

Tapi tak mudah ternyata menaklukanmu yang baru saja menutup lembaran hatimu. Terlepas dari aku sengaja mengikutimu untuk bisa terus mengambil hatimu, kamu tetap saja dingin – sesekali tersenyum – dan cuek pada apapun tingkah polahku. Aku yang aktif di kelas, tapi kau sibuk dengan tugasmu. Aku yang selalu mengirimimu whatssapp dan selalu juga kau abaikan, semacam aku hanya penyiar radio yang butuh menyampaikan informasi, padahal aku menunggu balasanmu. semacam pesanku hanya koran yang tak butuh balasan. lagipula, semua orang ingin dapat balasan, Aida!

Sampai akhirnya kini kau bisa di dekatku, aku tetap merasa takjub atas itu. Aku bersyukur pada Tuhan karena mempercayai ucapanku bahwa aku kelak akan menjagamu, membahagiakanmu, tanpa syarat kamu bisa masak atau tidak, atau soal kamu yang suka sungkan menolak ajakan teman-teman dan aku yang tak suka berbasa-basi sepertimu.

Kita memang berbeda, dan dari perbedaan itu aku menemukan yang kucintai padamu.

Pelan-pelan, semacam rasa kehilangan yang tak pernah kusadari, aku tahu kita perlu memupuk semua itu. Rasa cinta, atau sekedar percaya karena kita dipisahkan oleh banyak hal. Tak hanya jarak, tapi signal juga tak kuasa mendukungku ketika aku berada jauh darimu. Aku tahu kau sebal bukan main padaku karena semua sosial mediaku tak bisa digunakan jadi ajang untuk menghubungiku, sekedar mengetahui bagaimana kabarku, atau memamerkan hubungan kita seperti pasangan muda mudi lainnya, kata siapa aku biasa saja? yang tidak disampaikan bukan berarti tidak ada kan? aku juga benci. Maka hanya doa yang bisa kupasrahkan pada Tuhan, bahwa aku berharap kamulah jodohku.

Pernah suatu ketika kau bertanya, “apa kau mau tetap denganku jika kelak aku tak secantik harapanmu?” Dan aku lalai menjawab pertanyaanmu dengan jawaban yang tidak kau inginkan, aku tau, kau ingin jawaban yang riil, dan aku berusaha sebisa mungkin untuk tak munafik bahwa aku mencintaimu juga karena cantikmu, entah cantik yang mana. Namun kemudian kusadari itu, kau kecewa pada jawabanku, dan kemudian kukatakan padamu, aku hanya ingin tetap terus berusaha baik bersama denganmu bagaimanapun keadaanmu.

Kini, di tengah perjalanan yang sudah kau idamkan, di tengah hari yang sudah lama kau nantikan ketika aku pulang, aku tahu kau sedang mengamatiku dalam tidurku. Diam-diam. Kubiarkan kau terus lakukan itu, karna sejujurnya aku juga lelah berkutat seharian dengan jalanan, tapi, di balik mataku yang terpejam – aku tau rasa sayangmu besar, dan keherananmu atas kita yang sampai sejauh ini memang jauh dari bayangan. Tapi semua itu sudah kupikirkan, dan kudoakan berulang kali di hadapan Tuhan.

Dan yang, maafkan aku yang pura-pura tak tahu bahwa kau mencintaiku, bisakah kau bilang lagi kalimat itu.

“I love you ... “


senyummu siang itu, benar-benar meruntuhkan lelahku. 

No comments:

Post a Comment