.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 18 June 2015

Karna s2 nggak harus kaya

Eh, sekarang lanjut dimana?
Oh, aku lanjutin kuliah. Mumpung ada rezeki sih. Kamu?
Oh iya ya, maklum aja sih, kamu kan anak orang kaya ya.
*percakapan berakhir.

Jaman sekarang banyak banget bergelimpangan gelar di belakang nama orang, entah sarjana apalah apalah, master apalah apalah, kesan yang ada di mata banyak orang?

Duh, orang itu pasti kaya deh.

Atau orang tua mereka pasti duitnya banyak, dia sih enak, tinggal ongkang-ongkang kaki aja beres tuh idup gausah ngribetin biayanya.

Atau lagi, ah udah ketebak deh dia pasti s2, dia tinggal kentut juga keluar emas. *nih orang yang komen pasti syiriknya udah kebangetan. Haha. 

Lantas, dari semua dugaan yang terpikirkan tadi, apa benar kalian mengenal luar dalam orang yang kalian bicarakan? Hal yang paling remeh, ekonominya saja. Apa kalian benar-benar mengerti keluarganya?



Banyak dari kita gatal untuk membicarakan orang lain dari tampilan luar saja. Bahwa yang tampilannya mentereng pasti kaya bin eksis gilak. Bahwa yang suka bicara ngalor ngidup nggak jelas itu pinter, padahal sih kelasnya kayak vickynisasi aja ga ada yang paham apa tuh omongan. Atau bahwa yang suka pasang foto-foto kece dan check in tiap hari itu anak gahoel dan menyenangkan, padahal – jaman gini apa sih yang nggak bisa dikibulin? Lokasi di path juga bisa aja dikibulin. Dan love/like di semua sosial media juga bisa diupayakan gimanapun caranya. Masih percaya aja tampilan luar. Inget kata iklan di tipi, yang manis belum tentu baik. *ups.

Yang jadi inti persoalan adalah, Bahwa hanya karena mereka melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, lantas mudah saja bagi mereka mendapat cap – boros, anak orang kaya, foya-foya, nggak suka belajar, sukanya keloyongan, atau yang paling jahat ya, alah paling dia cuman mau ngalihin penganggurannya dia doang. Apa penilaian itu adil buat seseorang yang bahkan kenal orang itu aja enggak? Yang bahkan nggak tau pengorbanan orang itu aja enggak? Lucu kan?

Iya. Emang lucu. Dunia emang tambah lucu. Apalagi sejak ada kamu. 

Oke. Kembalikan fokus saya.

Terlepas dari itu semua, dugaan yang benar atau tidaknya itu, sekolah sarjana s1 atau es dua dan es tiga sama sekali tidak ada hubungannya dengan strata seseorang. Nggak ada hubungannya sama orang itu kaya atau enggak. Jadi saya setuju banget sama apa kata darwis tere liye. Sekolah itu nggak ada hubungannya sama kamu kaya atau enggak. Nggak ada hubungannya sama bapakmu menteri apa enggak. Apalagi sama sekali nggak ada hubungannya kamu anaknya artis atau enggak. Yang nyambung itu kalo, kamu sekolah, karna ada niat. 

Tuh. 

Baca yang keras. NIAT. 

Sekarang, liatin banyak banget artis yang nongol di tipi – yang notabene punya duit segaban, juga gak ada waktu kan buat lanjut sekolah. Karna apa? Ya karna fokus dan niat mereka emang bukan buat nglanjutin pendidikan. Bukan buat nyari ijazah dan embel-embel tambahan nama di belakangnya. Maka jadilah mereka kaya tapi emang nggak s2. Masih ngeyel juga?

Tuh liatin andrea hirata yang dia susah payah dari mudanya mau sekolah, musti ngrantau ke kota, kerja dimana aja dilakuin buat bisa dapet beasiswa dan akhirnya lanjut belajar di luar negeri – apa dia kaya? Enggak. Dia cuman punya niat dan ngejar terus menerus itu mimpi. 

Belum lagi sederet cerita di koran atau televisi nasional, anak tukang becak dapat IPK tertinggi, atau anak penjual gorengan dapat NEM tertinggi dan dibebaskan masuk perguruan tinggi mana saja. Duh, itu sudah bukti yang jelas bin jelas banget. Setiap orang punya fokus dan tujuan masing-masing di idupnya, dan semua yang mereka capai itu, belum tentu gara-gara kaya. 

Okelah, saya nggak perlu panjang lebar nyeritain mereka yang jauh. Saya kira lebih afdhol saya menceritakan orang-orang terdekat saya saja. Sebut saja namanya S, dia yang sampe detik ini masih nyambi kerja dan daftar s2 bareng saya – mau dan rela ngebagi gajinya buat bayar kuliahnya yang entah berapa persen dibagi sama ayahnya. Suami sepupu saya, bisa s2 dan s3 juga karna beasiswa. Saya tau persis gimana ekonomi dan kehidupan dia yang sederhana. Dan saya? Apa saya bisa lanjut kuliah karena saya murni anak orang kaya serupa mata saya yang kayak cina ini? 

Jawabannya enggak.

Saya bukan anak orang kaya yang kaya raya gila. Saya cuman punya niatan buat lanjut dan sudah lama niatan itu ada. Bukan karna saya memaksakan diri menjadi kaya dan mengharuskan ibu saya mencari uang sebegitu banyaknya untuk lanjut kuliah, tapi semata-mata karna saya pengen mengangkat derajat banyak orang – terutama keluarga saya. Barangkali dengan saya melanjutkan study, segala sesuatunya diaminkan lebih baik oleh orang banyak. Saya tau perjuangan orang tua saya, saya tau bagaimana susahnya jadi orang yang manut saja disuruh kesana kemari sama bos untuk menekan keinginan dan ego sendiri. Maka apa bisa saya dikategorikan kaya – yang pagi ngantor, siang kuliah, sore ngeles, dan malamnya membantu orang tua di rumah?

Apa saya tersiksa? Tidak juga.

Saya masih menikmati hidup masa muda yang masih bisa main, jalan-jalan, nongkrong sama teman. Dan apalah itu semua. Semua kembali lagi ke niat. Nggak kehitung deh klo kalian mau nyari figur di sekeliling yang hebat tanpa harus menyombongkan kepunyaan orang tua, tapi punya niatan besar untuk membanggakan mereka. 

Jadi, masih mau liat orang lain sebelah mata juga?


No comments:

Post a Comment