.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 29 May 2015

Gunung Api Purba Nglanggeran Yogyakarta

Pesona kota yogyakarta memang tidak pernah ada habisnya. Satu persatu tempat wisata mulai bermunculan, mulai dari wisata budaya – desa pengrajin – sampai dengan wisata alamnya yang hampir terus bermunculan tiap tahunnya. Potensi tersebut tidak hanya didasarkan atas jogja sebagai kota yang nyaman dan sekaligus kota pelajar tersebut. Tetapi daya tarik tersebut dibangun atas besarnya antusiasme penduduk lokal maupun para perantau yang selalu siap sedia mengunjungi tempat baru dimanapun di pelosok jogja sekalipun.


Thursday, 21 May 2015

Sosial Media yang "makan" korban

Persoalan aktualisasi diri memang susah untuk dikulik lebih lanjut. Semakin lama semakin berkembang, luas, dan rumit. Mulanya aktualisasi dapat dikatakan dengan pengembangan manusia terhadap kepribadiannya, tutur kata, atau seberapa besar dia mampu beradaptasi dengan kehidupan luar. Bahasa lain yang lebih elit ya – pengembangan diri. Biar bisa Unjuk gigi. Show off. Atau dengan kata lainnya, pamer. Kemungkinan yang dulu hanya sedikit dengan pembuktian sertifikat lomba, piagam, diundang di berbagai macam acara, hadir di acara resmi kenegaraan, atau tambahan nilai ujian kelulusan menjadi absurd ketika ditabrakkan dengan realita sekarang yang penuh dengan media sosial.

Entah kalian akan menyebutnya media sosial, atau sosial media.  

Seharusnya dan sesungguhnya, aktualisasi diri punya arti kata yang positif – baik – terpuji. Karena konotasi itu membawa pengaruh yang baik. Semacam yang kurang harus ditambah. Yang bolong harus ditambal. Dan yang minus ditutupi dengan belajar – belajar dan belajar terus. Bukan dalam arti dan konotasi yang negatis. Walaupun semua hal selalu punya dua sisi itu. Tapi itu dulu. Semuanya berkembang, dan kekosongan aturan tentu saja menimbulkan keabsurd-an batasan bagi manusia itu sendiri. Dan batasan itu adalah, ya kita sendiri.


Saturday, 16 May 2015

Hidup bukan lomba, cuy.

Karna hidup bukan perlombaan - Sesekali berjalanlah
Nikmati hijaunya pepohonan, segarnya udara jalanan
Jangan terus berlari, Nanti kamu lelah ...

Teman kalian hobi bawa pulang sertifikat dan piala? Punya body kece – eksis – ramah – temennya banyak lagi? Saudara kalian masuk perguruan tinggi bagus? Teman kalian diterima kerja dengan gaji nol bergelindingan? Pacar temen kalian gantengan? Pacar temen kalian setia dan prospek bagus buat jadi suami? Dan kamu, cuman bisa nelen air liur sambil berdoa dapet keberuntungan yang kayak demikian.

Tenang. Santaaaai.

Banyak temennya. Gausah ENVY.

Nggak cuman kalian yang punya bayangan enak kayak begituan. *bangun wooi!


Kim Jong Un, Dihukum mati di korea karena ngantuk?

Karena ngantuk bukan sebuah dosa
Maka tidurlah
Sekalipun kamu dihukum tak bangun lagi akhirnya

Beruntungnya kita yang bukan negara diktator, otoriter, juga sekaligus bukan negara demokrasi pyur yang semua-muahnya boleh ngapain aja. Beruntungnya kita bukan negara yang tega-an, tapi negara yang ke-santai-an, jadi mau ngapain aja boleh. Mau ‘yes’ boleh, mau ‘no’ boleh, bahkan mau nggak yes atau no juga boleh banget. Mulai dari Soekarno sampai detik ini abang Jokowi, nggak pernah yang namanya tega-tegaan banget sama bawahannya, paling mentok ya cuman pecat tidak terhormat – bukan sesadis dan setegas Kim Jong Un mecat bawahannya jadi manusia *yang seharusnya bukan bagian dia*.


Friday, 8 May 2015

Positive Thinking


“Kadang-kadang saya merasa menjadi orang yang paling buruk”. 

Ketika saya dihadapkan pada cinta pandangan pertama, dan dia yang ada di seberang sana hanya selintas lewat – tanpa perlu menengok. Ketika saya dihadapkan pada segala yang lebih silau, dan lebih indah, dan lebih hijau.