.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 6 April 2015

Goresan di selembar kertas

El memandangi kembali tumpukan buku lamanya di rak, buku yang kini hampir nampak seperti warisan tetua, usang, dan berdebu karena lama ia tinggalkan di kamar kostnya, buku-buku yang ia beli sejak dulu – sekaligus kenangan yang masih tersisa bersama Ai. Tak terhitung berapa kali ia kembali ke kota itu, kota kenangan – sekaligus kota yang ingin sekali dienyahkannya dari kepala. Setipis beda antara takut dan suka, kota itu – semakin ia merasa butuh untuk membencinya, justru semakin menariknya kembali kesana.

Tiap kali ia datang, tiap inci jalan yang ia lewati membawanya kembali ke masa lampau. Berputar. Seolah ia adalah manusia yang hidup di masa lalu. Sesampainya di rumah, ingatan itu bukan semakin berhenti, malah semakin menjadi-jadi. Ia hanya akan memandangi jejeran buku itu, lama. Sesekali sambil mengusap kaca-kaca bening di matanya. Dan hanya perlu sedetik untuk memutar kembali kenangan bersama...

“Sore itu, selepas kuliah Pengantar Hukum ia menjemput Ai di depan gedung kampusnya – awan terlihat mendung. Gelap. Beberapa kali petir menyambar. Tapi segelap apapun langit di atas sana, kebalikannya, hati El cerah sekali. Ia lupa membawa mantel untuk Ai, hanya ada satu mantel kecil yang robek di beberapa bagian yang selalu bertempat di jok motor tuanya. Ia hanya ingat janjinya pada Ai, dan benar, hujan turun. Deras. Ai justru tertawa lepas menerima tetes demi tetes dari langit menerpa wajah manisnya. Dari balik spion, El tersenyum – lebih lebar, seperti tahu kebahagiaan macam apa yang dirasakan Ai, ia biarkan mantel itu tetap di tempatnya semula. 

Jarang-jarang ia menemukan Ai selepas itu.

Ia tahu ia sedang rindu, selalu rindu, meski hanya berperantara setumpuk buku. 

Ia tahu. ia amat mencintai wanita itu.
 
El tersenyum getir. 

... di atas vespa tuanya Ai masih terus menangkap air di atas tangannya, El seketika tersadar bahwa mereka berdua tak mengenakan pelindung apapun. El merapatkan motornya di depan toko. Ai kembali menyunggingkan senyum. Manis sekali. 

“kenapa berhenti? Ai bertanya sambil mengarahkan pandangan ke jalanan.

Tanpa banyak berkata, keduanya tersenyum. "Kita berteduh sebentar". Kembali menatap ke arah jalan, menunggu hujan reda.

Sore itu mereka terlambat ke toko buku, hujan menahan mereka di depan toko itu. Lama. Hujan menyediakan waktu lebih lama untuk El dan Ai untuk berbincang.

***

Tangannya lincah mengambil satu buku, dibukanya perlahan - kertasnya yang mulai lapuk teroksidasi, warnanya yang mulai kekuningan – seperti kenangannya yang telah lama dimakan usia. El berdiri dengan buku itu di tangannya, selembar kertas terjatuh tanpa sengaja. Ia tersenyum lagi, mencoba berdamai dengan kenangan - foto Ai yang sedang tertawa melambaikan tangan padanya. 

Foto itu foto terakhir yang ia ambil sebelum Ai pulang ke kampung halamannya. Ai hanya bilang ia akan kembali lagi kesini, dan foto itu Ai gunakan sebagai tiket kepulangan untuknya.

Simpan ini, ini tiketmu menungguku”. Tawanya mengembang diantara puluhan orang di terminal. 

Foto itu ia selipkan bersama buku terakhir yang dibelinya, yang baru kali ini berani dibuka El. 

Dibukanya lembar demi lembar buku kenangan itu. Sebelumnya, ia tak pernah berani membuka buku itu. Ia takut akan kembali membayangkan Ai di hadapannya, El takut kembali berharap - walaupun tanpa membuka buku itu, El tetap membayangkan Ai. Kenangan tentang Ai tidak berhasil ia enyahkan,  tak seperti refleks tangan menepuk nyamuk yang menghisap darah. Ia tak bisa secepatnya mengenyahkan perasaan tak menyenangkan itu. 

Satu bulan berlalu.

Ai masih rajin berkirim kabar, bercerita kegiatannya sehari-hari disana. Ia bilang, ayah ibunya sedang sibuk mempersiapkan kejutan untuknya, Ai pikir hal itu adalah hal membahagiakan karena sebentar lagi hari ulang tahun Ai. El berpikir hal yang sama, tak sabaran memberikan kado untuk Ai sekembalinya Ai dari kampung halaman. Kabar gembira yang ia simpan erat-erat sejak lama. Kabar gembira yang semakin meresahkan harinya. Tak satupun hal luput dari cerita El kepada Ai, atau Ai kepada El, hanya perasaan mereka yang erat-erat disembunyikan. Seperti yakin waktu akan terus memihak pada mereka.

Dua bulan.

Tiga bulan.

Ai semakin jarang membalas surat El. Ulang tahun Ai sudah dekat. Tak pernah henti El bertanya kapan Ai akan kembali kesini? Apa ia sudah tak peduli dengan kuliahnya? Dan, pertanyaan itu - Apa ia tak rindu padanya? Sayangnya pertanyaan itu hanya ada dalam hati El, yang tak pernah berani ia tuliskan. 

Satu tahun. 

Ulang tahun Ai sudah terlewati beberapa bulan, dan tak pernah ada kepastian bagi El kapan Ai kapan kembali. 

Setidak pasti kapan hatinya akan mendapat jawaban atas pertanyaan pernyataan itu.

***

El girang mendapati tukang pos berhenti di halaman rumahnya, ia pikir surat itu adalah balasan dari Ai yang akan membahagiakan hatinya, seperti – “Aku akan kembali dalam waktu dekat, maafkan aku lama membiarkanmu bertanya-tanya, aku masih menunggu kado ulang tahun darimu”.

Berbulan-bulan ia tak lelah berharap pada Ai yang kembali datang padanya. Tapi kadang ia lelah, ia dihantui pikirannya sendiri, seperti terus menerus dikikis kepercayaannya bahwa ia akan kembali. 

Tapi pertanyaan itu, pernyaaan itu, bahkan tak pernah mendapat tempat sampai detik ini. Hanya seperti udara yang halus, pelan, terus menyelinap dalam pikiran. Merasuk ke darah perlahan. Tak bisa ia enyahkan.

Tepat ketika ia membuka lembar halaman di tengah buku itu, ia menemukan beberapa halaman kosong, beberapa baris kata. El mengenalnya, amat mengenalinya. Itu tulisan Ai. Seseorang yang ia tunggu sejak lama.

Tak perlu kata, diammu lebih dari jelas
Tak perlu tawa, senyummu lebih dari cukup
Satu kata “ya”, cukup
Satu kata “kita”, lebih dari cukup.
Airlangga ...
Juni, 2013.

El tertegun. Lama. Matanya penuh kaca-kaca, ia bahagia, lega – sekaligus berduka.

Ia tak tahu harus bicara apa. Egonya luruh.

Sebaris kata itu mampu memberikan penjelasan lebih dari cukup.

Buku yang terakhir diberikan Ai itulah jawabannya. Ia meminta penjelasan padanya.
Ia pikir waktu yang sedang mempermainkan hatinya. Tetapi ternyata bukan. Ia sendiri yang pengecut mengakui isi hatinya. 

Ia pikir ia sendiri yang lelah menunggu kepastian, ternyata di ujung sana ada orang lain yang lebih lelah menunggunya jujur pada diri sendiri. Tapi waktu kadang jahat ... rela menyembunyikan kebenaran lebih lama ...

El menangis dalam diam. Cukup untuk meruntuhkan segala macam pertanyaan dan ego yang dia simpan bertahun-tahun untuk Ai yang entah ada dimana sekarang. Tapi itu dulu ...

El sigap mengambil pena. Tepat di bawah tulisan Ai, ia menuliskan sesuatu. Sesuatu yang amat ingin dikatakan El.

Aku masih menyimpan tiket pulangmu.
Semoga waktu berbaik hati membawamu kembali untukku.
Aila ... “

Ia sadar ia amat terlambat, wanita selalu butuh kepastian. Dan selama itu, Ai tak pernah mendapatkan penjelasan itu dari El. El pikir, segala sesuatunya cukup hanya dengan penerimaannya terhadap apapun yang diminta Ai. El pikir, segala sesuatunya cukup tanpa harus ia utarakan. El pikir, segalanya cukup terang. Tetapi sekalipun terlambat, El tahu – rasa sakit itu, tidak sebanding dengan cintanya. Setidaknya ia masih bersyukur bisa mencinta.

Dan kenangan itu, ia beri nama – Aila.

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. diambil dari kisah nyata kah?

    ReplyDelete