.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 27 April 2015

Jodohmu mana?

Diantara sekian banyak manusia, dua orang yang tidak saling mengenal – dipertemukan – dicocokkan dan  saling jatuh cinta – kemudian menikah – berkeluarga, tidak menyadari betapa indahnya skenario atas “kejatuhan” mereka tersebut. Jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya. Menjatuhkan pilihan pada seseorang, menjatuhkan kehendak bersama untuk menyempurnakan, menjatuhkan ego untuk saling pengertian. Di dalam jalan tersebut, kita tidak tahu menahu bagaimana caranya Tuhan menuntun kita untuk saling mengenal. tapi di balik itu semua, kehendak yang terjadi itu diketahui Tuhan. 

Direstui Tuhan.


Friday, 24 April 2015

Memandang dari sisi lain

Menjadi bahagia itu mudah, apalagi kecewa. Menemukan alasan untuk menerima keadaan dan bersyukur itu mudah, tetapi mencari pembenaran untuk mengutuk suatu keadaan lebih mudah lagi. Manusia difitrahkan sebagai makhluk yang mudah mengeluh, tidak terkecuali saya. Dikisahkan dalam beberapa versi, awalnya manusia diberikan kewajiban untuk menjalankan sholat sebanyak 50 rokaat dalam satu hari. Tapi karena nabi SAW memahami kultur dan kondisi manusia yang sulit dan pengeluh memintakan keringanan bagi mereka, hingga pada akhirnya Tuhan berbaik hati hanya memberikan kewajiban bagi umat muslim hanya 17 Rakaat saja setiap harinya, meski itu pun masih sulit untuk dilaksanakan.


Tuesday, 21 April 2015

Petuah Ibu

Ibu saya pernah bilang, jangan pernah bikin patah hati orang. Awalnya saya nggak tahu apa maksudnya, karena saya dekat dengan seseorang? Karena saya didekati seseorang, atau apa? Tapi penjelasan tentang kalimat itu dari ibu saya tidak pernah saya dapatkan sampai sekarang. Pernyataan itu terus diulang sampai detik ini, dengan kalimat yang berbeda, jangan suka membuat harapan palsu. Pada akhirnya, hanya kalimat itu yang selalu saya ingat dan untuk kemudian perlahan saya dapatkan jawaban.

                Tidak ada pelajaran lebih tanpa kita mengalami, itu kata orang tua.

Tapi kalimat itu benar, setelah mengenal cinta, setelah mengenal ihwal rasa, saya akhirnya mengetahui kalimat itu persis benar. Bahwa jangan pernah sengaja menyakiti seseorang, sekalipun tanpa disengaja, kita memang akan selalu menyakiti orang lain.

Perkumpulan yang katanya satu bidang, cinta yang katanya mengenal persamaan, atau geng yang katanya memiliki satu kesukaan tidak pernah mengurangi potensi kekecewaan seseorang. Tiap kepala dari kita, menyimpan ribuan perbedaan yang siap keluar dari persembunyian suatu hari nanti. Entah cinta yang ditolak, rencana yang tidak disetujui, atau suara lain yang tidak didengar. Beberapa kali saya dekat dengan lelaki, tidak pernah saya bisa lepas dari kecewa. Saya tahu semua memang tidak disengaja, atau dibuat. Atau ketika saya memutuskan untuk menjadi sahabat dengan seseorang, saya masih harus disibukkan dengan pengertian-pengertian yang kadang tetap saja mengecewakan. Sakit yang harus saya tampung dari kekecewaan itu memang besar, terlebih ketika kita tidak pernah melihat dari sudut pandang lain tentang bagaimana orang lain bisa merasa.  

Hidup, rasa, atau perjalanan apapun tidak membebaskan kita dari soal kecewa. Tidak terhitung berapa kali saya mengecewakan orang, membuat beberapa dari mereka patah hati, sakit hati, saya akhirnya tahu – bahwa kalimat ibu itu, hanya perlindungan bagi saya menjalani kehidupan kejam di luar. Bahwa jangan menyakiti punya imbas untuk disakiti. Bahwa jangan memberi harapan berarti lain digantungkan harapan. Atau dengan kata lain, Bahwa setidaknya sakit dapat diminimalisir dengan tidak menyakiti orang lain. Bahwa kecewa dapat dikurangi dengan tidak mengecewakan orang. Tapi dengan berbuat demikian, saya tetap punya konsekwensi, saya harus menjaga diri saya sendiri agar tidak makan hati.

Petuah ibu itu, tetap saya simpan sampai sekarang.

Meskipun pada kenyataannya, menjaga hati orang tidak semudah menjaga hati sendiri. 

Tentangmu, suatu waktu

Menuliskanmu memudahkanku mengingatmu
Tentang pesanmu
Caramu membalas senyumku
Pola pikirmu
Penolakanmu
Seperti mengingat potongan-potongan cerita yang berhamburan
Yang terkadang hilang
Lantas datang
Dan menyatukan ingatan tentangmu memang hanya semudah itu
Semudah, menerima – dan mengikhlaskan bahwa Tuhan selalu punya kehendak atas sesuatu.

Di titik itu ...
Di Titik aku kembali mengingatmu dengan lapang
Di jalanan ...
Di bawah pohon rindang ...
Atau disaat hatiku sedang kesepian ...
Akan kurengkuh daun di depanku
Akan kudekap udara yang berhembus di hadapku
dan tersenyum atas segala yang pernah kau torehkan. 

Monday, 6 April 2015

Goresan di selembar kertas

El memandangi kembali tumpukan buku lamanya di rak, buku yang kini hampir nampak seperti warisan tetua, usang, dan berdebu karena lama ia tinggalkan di kamar kostnya, buku-buku yang ia beli sejak dulu – sekaligus kenangan yang masih tersisa bersama Ai. Tak terhitung berapa kali ia kembali ke kota itu, kota kenangan – sekaligus kota yang ingin sekali dienyahkannya dari kepala. Setipis beda antara takut dan suka, kota itu – semakin ia merasa butuh untuk membencinya, justru semakin menariknya kembali kesana.

Tiap kali ia datang, tiap inci jalan yang ia lewati membawanya kembali ke masa lampau. Berputar. Seolah ia adalah manusia yang hidup di masa lalu. Sesampainya di rumah, ingatan itu bukan semakin berhenti, malah semakin menjadi-jadi. Ia hanya akan memandangi jejeran buku itu, lama. Sesekali sambil mengusap kaca-kaca bening di matanya. Dan hanya perlu sedetik untuk memutar kembali kenangan bersama...

“Sore itu, selepas kuliah Pengantar Hukum ia menjemput Ai di depan gedung kampusnya – awan terlihat mendung. Gelap. Beberapa kali petir menyambar. Tapi segelap apapun langit di atas sana, kebalikannya, hati El cerah sekali. Ia lupa membawa mantel untuk Ai, hanya ada satu mantel kecil yang robek di beberapa bagian yang selalu bertempat di jok motor tuanya. Ia hanya ingat janjinya pada Ai, dan benar, hujan turun. Deras. Ai justru tertawa lepas menerima tetes demi tetes dari langit menerpa wajah manisnya. Dari balik spion, El tersenyum – lebih lebar, seperti tahu kebahagiaan macam apa yang dirasakan Ai, ia biarkan mantel itu tetap di tempatnya semula. 

Jarang-jarang ia menemukan Ai selepas itu.

Ia tahu ia sedang rindu, selalu rindu, meski hanya berperantara setumpuk buku. 

Ia tahu. ia amat mencintai wanita itu.
 
El tersenyum getir. 

... di atas vespa tuanya Ai masih terus menangkap air di atas tangannya, El seketika tersadar bahwa mereka berdua tak mengenakan pelindung apapun. El merapatkan motornya di depan toko. Ai kembali menyunggingkan senyum. Manis sekali. 

“kenapa berhenti? Ai bertanya sambil mengarahkan pandangan ke jalanan.

Tanpa banyak berkata, keduanya tersenyum. "Kita berteduh sebentar". Kembali menatap ke arah jalan, menunggu hujan reda.

Sore itu mereka terlambat ke toko buku, hujan menahan mereka di depan toko itu. Lama. Hujan menyediakan waktu lebih lama untuk El dan Ai untuk berbincang.

***

Tangannya lincah mengambil satu buku, dibukanya perlahan - kertasnya yang mulai lapuk teroksidasi, warnanya yang mulai kekuningan – seperti kenangannya yang telah lama dimakan usia. El berdiri dengan buku itu di tangannya, selembar kertas terjatuh tanpa sengaja. Ia tersenyum lagi, mencoba berdamai dengan kenangan - foto Ai yang sedang tertawa melambaikan tangan padanya. 

Foto itu foto terakhir yang ia ambil sebelum Ai pulang ke kampung halamannya. Ai hanya bilang ia akan kembali lagi kesini, dan foto itu Ai gunakan sebagai tiket kepulangan untuknya.

Simpan ini, ini tiketmu menungguku”. Tawanya mengembang diantara puluhan orang di terminal. 

Foto itu ia selipkan bersama buku terakhir yang dibelinya, yang baru kali ini berani dibuka El. 

Dibukanya lembar demi lembar buku kenangan itu. Sebelumnya, ia tak pernah berani membuka buku itu. Ia takut akan kembali membayangkan Ai di hadapannya, El takut kembali berharap - walaupun tanpa membuka buku itu, El tetap membayangkan Ai. Kenangan tentang Ai tidak berhasil ia enyahkan,  tak seperti refleks tangan menepuk nyamuk yang menghisap darah. Ia tak bisa secepatnya mengenyahkan perasaan tak menyenangkan itu. 

Satu bulan berlalu.

Ai masih rajin berkirim kabar, bercerita kegiatannya sehari-hari disana. Ia bilang, ayah ibunya sedang sibuk mempersiapkan kejutan untuknya, Ai pikir hal itu adalah hal membahagiakan karena sebentar lagi hari ulang tahun Ai. El berpikir hal yang sama, tak sabaran memberikan kado untuk Ai sekembalinya Ai dari kampung halaman. Kabar gembira yang ia simpan erat-erat sejak lama. Kabar gembira yang semakin meresahkan harinya. Tak satupun hal luput dari cerita El kepada Ai, atau Ai kepada El, hanya perasaan mereka yang erat-erat disembunyikan. Seperti yakin waktu akan terus memihak pada mereka.

Dua bulan.

Tiga bulan.

Ai semakin jarang membalas surat El. Ulang tahun Ai sudah dekat. Tak pernah henti El bertanya kapan Ai akan kembali kesini? Apa ia sudah tak peduli dengan kuliahnya? Dan, pertanyaan itu - Apa ia tak rindu padanya? Sayangnya pertanyaan itu hanya ada dalam hati El, yang tak pernah berani ia tuliskan. 

Satu tahun. 

Ulang tahun Ai sudah terlewati beberapa bulan, dan tak pernah ada kepastian bagi El kapan Ai kapan kembali. 

Setidak pasti kapan hatinya akan mendapat jawaban atas pertanyaan pernyataan itu.

***

El girang mendapati tukang pos berhenti di halaman rumahnya, ia pikir surat itu adalah balasan dari Ai yang akan membahagiakan hatinya, seperti – “Aku akan kembali dalam waktu dekat, maafkan aku lama membiarkanmu bertanya-tanya, aku masih menunggu kado ulang tahun darimu”.

Berbulan-bulan ia tak lelah berharap pada Ai yang kembali datang padanya. Tapi kadang ia lelah, ia dihantui pikirannya sendiri, seperti terus menerus dikikis kepercayaannya bahwa ia akan kembali. 

Tapi pertanyaan itu, pernyaaan itu, bahkan tak pernah mendapat tempat sampai detik ini. Hanya seperti udara yang halus, pelan, terus menyelinap dalam pikiran. Merasuk ke darah perlahan. Tak bisa ia enyahkan.

Tepat ketika ia membuka lembar halaman di tengah buku itu, ia menemukan beberapa halaman kosong, beberapa baris kata. El mengenalnya, amat mengenalinya. Itu tulisan Ai. Seseorang yang ia tunggu sejak lama.

Tak perlu kata, diammu lebih dari jelas
Tak perlu tawa, senyummu lebih dari cukup
Satu kata “ya”, cukup
Satu kata “kita”, lebih dari cukup.
Airlangga ...
Juni, 2013.

El tertegun. Lama. Matanya penuh kaca-kaca, ia bahagia, lega – sekaligus berduka.

Ia tak tahu harus bicara apa. Egonya luruh.

Sebaris kata itu mampu memberikan penjelasan lebih dari cukup.

Buku yang terakhir diberikan Ai itulah jawabannya. Ia meminta penjelasan padanya.
Ia pikir waktu yang sedang mempermainkan hatinya. Tetapi ternyata bukan. Ia sendiri yang pengecut mengakui isi hatinya. 

Ia pikir ia sendiri yang lelah menunggu kepastian, ternyata di ujung sana ada orang lain yang lebih lelah menunggunya jujur pada diri sendiri. Tapi waktu kadang jahat ... rela menyembunyikan kebenaran lebih lama ...

El menangis dalam diam. Cukup untuk meruntuhkan segala macam pertanyaan dan ego yang dia simpan bertahun-tahun untuk Ai yang entah ada dimana sekarang. Tapi itu dulu ...

El sigap mengambil pena. Tepat di bawah tulisan Ai, ia menuliskan sesuatu. Sesuatu yang amat ingin dikatakan El.

Aku masih menyimpan tiket pulangmu.
Semoga waktu berbaik hati membawamu kembali untukku.
Aila ... “

Ia sadar ia amat terlambat, wanita selalu butuh kepastian. Dan selama itu, Ai tak pernah mendapatkan penjelasan itu dari El. El pikir, segala sesuatunya cukup hanya dengan penerimaannya terhadap apapun yang diminta Ai. El pikir, segala sesuatunya cukup tanpa harus ia utarakan. El pikir, segalanya cukup terang. Tetapi sekalipun terlambat, El tahu – rasa sakit itu, tidak sebanding dengan cintanya. Setidaknya ia masih bersyukur bisa mencinta.

Dan kenangan itu, ia beri nama – Aila.

Wednesday, 1 April 2015

Seperti iya, tapi tidak

Jika hati adalah rasionalitas sempurna, terkadang hati saya bekerja tidak pada lelakunya. Tidak sama seperti perintah. Kepala – tangan – hati – pikiran, dan beberapa yang lain bekerja sebaliknya. Seperti tidak, namun iya. Seperti iya, namun tidak. Tidak ada kesesuaian lagi yang mampu diterjemahkan dari sekedar kata-kata, atau perbuatan. Semuanya menjadi satu rangkaian yang bekerja saling. Ada tarik menarik kutub di dalam hati yang dirasakan sendiri, aneh, sesuatu yang dinamai rindu itu ... kadang-kadang indah – namun lebih sering menyiksa.

Seperti ingin sekali bilang “iya”, tapi ternyata yang keluar justru “tidak”. Lidah seperti ikut menolak bahwa hal tersebut bukan pada lelakunya. Atau, itu bukanlah kita. Hingga pada suatu waktu, kita yang dulu saling menemukan– kini telah saling menemukan lagi berbeda. Tidak lagi sama. Karena waktu membawa kita pada ketidaktahuan, yang tidak sengaja atau justru disengaja, menyembunyikan berbagai hal yang sangat ingin kita tanya namun tersumpal ego masing-masing.

Kadang diam yang bekerja - seperti tanya yang beruntun, cemburu, marah, rindu, hadir dalam pertanyaan namun tak sempat ada penjelasan.

Apa yang dulu masih sama, baik-baik saja?” tanyaku, seperti pertanyaan yang lalu – yang hampir berulang.

Tidak” jawabmu. Yang juga berulang

“Tidak ada lagi yang sama”

 ... bahkan meskipun sampai detik ini aku tetap berharap padamu. Semua tidak lagi sama”. 

Aku diam. Tertegun. Sesungguhnya jawaban itu lebih terang dari apapun. Entah penolakan, penerimaan berjangka, atau penegasan bahwa di dekatku hanya semacam ujian bagimu. Kau sudah tidak mau memulai apapun – bahkan untuk sekedar dimengerti, olehku. Atau memang sudah ada yang lain disana. 

Jika hati adalah rasionalitas sempurna, sekalipun mata telah mampu menangkap kata – bibir sudah sepenuhnya menerima – dan kepala mengamini alasannya. Tetap ada hati yang masih ingin tinggal, menyemai harapan bersama, walau sekedar berucap ...

“selamat malam, sayang”

Sepertiku kali ini, adakah kata lain yang ingin kau sampaikan?

Jogja, 24 Maret 2015