.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 30 March 2015

Retak

Ada paradoks yang seringkali susah untuk aku siasati. Yaitu ketertarikanku pada masa lalu dan kegemaranku merangkai hari depan.  Orang memang terkadang aneh. Berharap perubahan satu sisi, tapi memegang erat masa lampau di sisi lain.

Malam itu, untuk sesaat aku terbisu. ingin mengatakan sesuatu tapi ketika kuraba, tak ada kata-kata dalam benakku. Setelah sedikit merenungkan, tampaknya aku butuh waktu yang lebih luang untuk menyambungkan ingatan dan kenyataan kemarin. Ini sebab kegemaranku mengenang, dalam waktu sejenak itu banjir ingatan melanda, otakku loading lama untuk merangkai kata dari runtuhan kenangan ketersinggungan kita dulu. 

Bagaimana tidak. Setelah sekian waktu, tiba-tiba kau mengontakku, kemudian bertemu. Hal itu seperti Tsunami datang, kita melihatnya tapi tak mampu mengungkapkan apa-apa. Sebenarnya, saat menuju Seturan waktu itu aku tak banyak ambil pikir. Aku ke rumahmu, ambil makanan lalu pulang. Kebetulan sekali aku belum makan.

Tapi apa mau dikata. Perasaan memang kadang aneh datangnya. Orang butuh mengambil jarak untuk dapat menjelaskan kondisi yang ada di dalam “sini”. Tak heran orang teriak-teriak gak jelas saat jatuh cinta atau frustasi. Dan begitulah adanya manusia, susah mengontrol pikiran kala emosional.

Semakin ke sini, aku merasa semakin banyak kesalahan yang baru kusadari. Dan dengan itu semua, aku jalani kehidupan sekarang. Dengan menyimpan dan menindas rasa sesal. Meski kadang-kadang rasa itu mampu merembes ke luar, terutama saat pemantik datang. Ya kamu itu.

Bukan berarti aku hendak kembali ke masa lalu. Aku cukup paham kok kalau itu tak realistis. Dan untuk orang yang senantiasa “menjadi”, perubahan adalah hal yang mendasar dalam dunia dan diri manusia. 

Manusia memang selalu tercancang paradoks. Serba salah dan terbelah. Mengharap “esok” yang lebih baik dari sekarang atau “kemarin” mengada dalam “kini”. Dan kita diharuskan terus berada dalam kungkungan dua arus itu. 

Dalam dua arus ini aku teringat bagaimana cara berenang. Seorang yang ingin berenang hendaknya menyerahkan diri dalam arus. Sebab, jika berusaha sekuat tenaga melawan arus justru akan tenggelam. Dengan berusaha tenang dan mengikuti arus, orang bisa mengambang. Lalu berusaha sedikit mengarah pada tujuan. Jadilah berenang.

Dunia ini memang seperti kolam renang raksaa. Di mana orang menjalani hidup dengan berenang di dalamnya. Ada yang suka berenang di dalam, ada juga di permukaan. Ada yang pakai tabung, juga pelampung. Banyak yang tenggelam, juga menyiasatinya dengan kapal. Pilihan itu ada di masing-masing.

Bagi orang yang suka menyelam, seringkali punya keindahannya sendiri. Menyelam tak dimaknai sekedar sebuah perjalanan untuk sampai tujuan. Lebih dari itu, menyelam adalah menikmati perjalanan, yang kadang tujuannya adalah untuk menyelam itu sendiri. Menikmati panorama ikan dan karang, beserta sunyinya, juga tekanannya. 

Menyelam lebih ribet, butuh banyak alat dan ketrampilan daripada berenang di permukaan. Dengan tekanan udara yang kuat, dibutuhkan pakaian yang mampu menahan. Untuk menjaga agar tetap bernafas, diperlukan tabung udara. Sebab minimnya cahaya diperlukan penerang atau semacamnya. Dan peralatan itulah yang akan menunjang ketahanan tubuh, kecerdasan menyiasati arus dasar, ketajaman mata dan lain.

Berbeda halnya dengan berenang di permukaan. Orang bisa bertahan hanya berbekal pelampung. Bahkan dengan kemampuan renang saja. Tak perlu ribet. Tapi di sanalah perbedaan yang menurutku menarik. Berenang untuk tujuan, menyelam punya panorama. 

Tentu saja orang yang menyelam lebih mencintai samudra dibandingkan sungai atau kolam. Kedalaman dan kebebasan yang sebenarnya. samudra memang luas dan dalam. Dengan segala perbedaan dan perihal di dalamnya orang bebas memilih yang mana. Sebab itu juga, mungkin, orang mudah berbeda tujuan. Satu saat orang bisa bersama dalam perjalanan tapi juga bebas ke mana saja. Paradoks yang indah. 

Sampai sekarang, aku tak bisa mengerti banyak apa yang hendak kukatakan waktu dulu. tulisan ini hanya secuil pemahamanku dari sudut pandang sekarang yang aku yakin tak bisa menjelasakan semuanya. Banyak orang bilang, pada kondisi sekarang –dengan deras arus serta keruwetannya- tak ada “aku” yang tak retak.  Begitu juga kita.

Jamaludin A.
 24-march-15

Tuesday, 3 March 2015

Something Stupid

Satu pesan terkirim.

Aku tidak tahu apa yang membuatku kembali mengirimkan pesan pada Galih, semacam ingin membuat percakapan – memulai rindu – atau lagi-lagi memastikan bahwa saya adalah orang yang bodoh dengan terus berbuat bodoh. 

“Makasih ya”
***
Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam. 

Semakin lama waktu berdetak, aku semakin gelisah, tidak ada balasan apapun yang masuk dari Galih. Beberapa pesan masuk kuabaikan karena sejak tadi hanya Galih yang kutunggu. Apa dia ternyata biasa saja? Lalu apa artinya jika setiap saat dia berbaik hati, tersenyum, memberikan sedikit perhatian? 

Atau mungkin dia melakukan hal yang sama kepada semua orang?

Kualihkan pikiran itu. Seperti biasa, meyakinkan diri sendiri bahwa dia masih akan membalasnya.
***

Saya tahu saya masih berdiri di garis mengharapkan kamu
Melewati malam berdua atau apapun
Kadang-kadang saya berpikir kamu punya waktu untuk saya
Sekedar makan berdua, nonton film, karaoke, atau sekedar mengitari isi kota berdua.
Menghilangkan rasa semacam rindu yang tidak terduga
Berkeliling, bercerita, berbincang tentang  apa saja, asal dengan anda.
Sampai akhirnya saya kembali sadar dan berkata, saya melakukan hal bodoh lagi : seperti mencintai anda.

Kadang-kadang saya menyangka bahwa senyum dan mata anda berkata, saya juga punya rasa yang sama. Atau, hei – saya rindu anda.
Atau anda ingin berkata banyak tentang rasa yang anda sembunyikan dari saya
Semacam, saya ingin selalu di sebelah anda, menjadi musuh-teman-kekasih- atau apapun asal bersama anda.
Semua yang tertahan seperti ingin muncul ke permukaan. Memaksa saya melakukannya.
Tapi saya menekannya, seperti meyakinkan bahwa saya melakukan hal bodoh lagi: seperti mencintaimu.

Saat menatap anda, saat di dekat anda, atau sedang jauh – saya ingin berkata manis, manja, dan selalu diperhatikan oleh anda. Saya tidak tahu bagaimana cara menekannya, apalagi menghilangkannya.
Aneh rasanya, mendapati diri membayangkan saya bisa berkata sayang, atau memarahi anda karena hal sepele, dan tertawa karena hal yang sama.
Berharap anda akan bersusah payah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk saya. Atau yang paling sederhana, membalas semua pesan saya.
Sampai akhirnya saya sadar, saya kembali melakukan hal bodoh: seperti masih mencintai anda. 

Seperti masih mengharap anda.