.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 23 February 2015

Setidaknya kita masih punya kenangan, bukan?

Dari masa lalu, apa yang ingin anda ingat di hari kemudian?

Pengalaman baik, sedih, kecewa, atau menyebalkan? Mungkin banyak yang bisa dirangkum dalam sebuah cerita, tapi tidak semuanya. Tiba-tiba detik ini saya ingat bagaimana bisa detik ini saya bisa sampai pada tahap ini. Lingkaran kejadian itu masih tersimpan sebagian (sebagian lagi tidak tau tergeser oleh kenangan apa), dan kemudian saya bersyukur masih diberikan kenangan yang berubah baik meski dulu tidak sebegitu baik. Dengan waktu Tuhan seperti memberi tahu kalau semua pasti berubah. Pasti.

Untuk bisa masuk universitas negeri sebagaimana yang bapak saya wajibkan, saya tidak sekali dua kali mencoba. Lebih dari hitungan satu tangan saya mencoba kemana-mana, sampai akhirnya bisa ditempatkan di tempat yang barangkali sudah takdir tuhan (lebih enak saja menyebutnya demikian, biar tidak jadi beban #mringis). Di umur yang belum punya tujuan hendak kemana dan dimana, saya cukup diberikan dua klu yang menambah sesak pikiran saya. Yang pertama harus univ negeri, dan yang kedua hanya boleh di jogja. Penyempitan wilayah dan pilihan inilah yang beberapa kali membuat saya harus menelan kenyataan saya kepingin sekali kuliah di universitas swasta yang saya ingini, tentu setelah mencoba di univ negeri dan ternyata belum rejeki. 

Waktu itu, saya ingat sekali, ibu saya adalah orang yang paling setia menemani saya kemana saja. Mengantar pendaftaran, test masuk, sampai antar jemput kursus masuk ujian mandiri terakhir di sebuah universitas negeri. Kalau dihitung-hitung, saya sudah 7 kali mendaftar yang rinciannya adalah 4 kali negeri, dan 3x swasta. Jangan ditanya bagaimana presentasenya, yang jelas – dari 4 kali mendaftar univ negeri itu saya hanya diterima 1x saja. Di tempat yang menjadi almamater saya sekarang. Sedangkan univ swasta yang saya lirik tersebut sudah cukup berbangga hati menerima uang pasokan pendaftaran saja dari saya. #lumayan kan?

Itu cerita 4 tahun lalu, beberapa masih rapih di ingatan. Saya yang setiap pagi ikut kursus di daerah klitikan. Ikut test di smk piri jogja. Daftar antrian panjang di kampus nenteng-nenteng berkas. Bolak-balik kesana kemari liat pengumuman, tempat test, hasil ujian, dan sekarang - apa masih kerasa susah dan sedihnya?

Enggak. Yang tertinggal hanya ceritanya.

Soal hati lebih banyak yang kadang menyakiti, dulu – saya pernah ditampar ayah saya waktu saya lebih memilih main sama temen sd saya yang bertepatan dengan esok paginya saya harus test ujian masuk kuliah. Setelah dimarahi habis-habisan dan segepok beban mental yang sebelumnya memang sudah ada, saya disuguhi merah di pipi dan sesak di hati. Atau cerita tentang orang yang dulu katanya pernah naksir saya tapi justru jadian dengan kakak angkat saya. Atau barangkali tentang dekat dengan seseorang lantas menjauh, ditinggalkan oleh jarak atau kematian, dan apapun itu. Perasaan-perasaan semacam itu, yang dulu pernah membuat tidak karuan, nangis semalaman, atau kecewa sebegitu menyakitkan itu, apa masih terasa sampe sekarang? 

Tidak. Hanya tersisa ceritanya. 

Saat ini? Apa tidak ada lagi kenyataan dan kejadian menyakitkan, menyebalkan dan mengecewakan yang saya alami? Masih. Dan akan selalu ada. Selama kita masih bernafas, akan selalu ada cerita yang diharapkan atau lepas dari harapan.

Pertanyaan-pertanyaan semacam kapan lulus, kapan kawin, kapan kerja, dan kapan punya anak termasuk pertanyaan sensitif yang membudaya di Indonesia, dan itu cukup menyebalkan efeknya. Setelah lulus dari kuliah, bernafas sebentar dari akhir skripsi dan sidang, bernafas sebentar dari pertanyaan kapan lulus, ternyata hidup masih menyuguhkan kejutan dengan melamar pekerjaan yang gampang-gampang susah. Gampang kalau semangat terus, dan susah kalau ditolak terus. Kalau mau dihitung sebenarnya sudah beberapa kali saya belum dinyatakan lolos perusahaan, dengan alasan, belum masuk kualifikasi yang dicari oleh mereka – padahal saya tahu, itu hanya bahasa halus dari menolak kita, (belum lolos : ditolak mentah2) – tapi, apa dengan begitu banyak penolakan yang kita alami sampai detik ini, apa hidup masih semenyakitkan dulunya? 

            Lagi-lagi tidak. 

Tidak pernah ada kesusahan dan kesedihan yang melebihi kebahagiaan dan nikmat yang diberikan Tuhan. 

Perasaan apapun yang pernah ada disana, semacam tertolak, kecewa, saki t hati, tangisan, dan lelah? Sudah tidak ada lagi. Hanya bekas. Napak tilas. Kadang justru membuat geli saat diingat kembali.

Mungkin akan terjadi lagi di kemudian hari. Kita mengingat hal yang di belakang, lantas belajar dan menerima kembali bahwa yang sudah terjadi dan dijalani hanya akan jadi cerita di belakang. Tidak bisa lagi kembali ke depan. Hanya kenangan.

Dan itu saja.

 Hari-hari selanjutnya, akhirnya kita hanya disuruh memilih, menjadikan hal tersebut dendam masa lalu, atau memetik hikmah dari jalan yang pernah kita sesali di belakang, semacam: mungkin kita memang ditakdirkan disana untuk bertemu dan belajar dari seseorang, dari mereka. Bertukar pengalaman saja. Yang dulu pernah sangat dicintai mungkin akan berganti. yang dulu pernah hilang pasti juga akan diganti. Tentu tuhan jelas lebih tau apa makna di balik kegagalan dan keberhasilan kita, setelah presentase usaha yang kita lakukan.  Di luar itu semua, perasaan apapun itu, setidaknya kita masih punya kenangan bukan?

Saturday, 14 February 2015

Jalan menuju S1 - S2 - S3


Menjadi sarjana itu impian, istilah kasarannya batu loncatan - siapa sih yang hari gini nggak mikir jadi sarjana? Biar nyari kerja gampang, biar hidup lebih gampang, biar temen nambah, dan ilmu juga luas, otomatis kalo sarjana lebih meyakinkan kan? (walaupun bu susi juga nggak perlu jadi sarjana biar meyakinkan) ---- tapi biaya yang kian melangit buat para lulusan SMA baru juga jadi momok buat mau nglanjutin sekolah. Sekarang, hitung aja berapa biaya per semesternya – minimal buat seharga UIN jogja per semesternya yang 700 ribuan dikalikan minimal semester adalah 8 semester sejumlah lima juta enam ratus ribu rupiah. Angka segitu kalo buat mereka yang kehidupannya pas-pasan juga udah nyesek banget.


Thursday, 12 February 2015

Jomblo, masalah lo?


Mayoritas pendapat mempermasalahkan status seseorang bahkan ketika seseorang tersebut belum menikah. “kamu jomblo ya?” – “ih hari genee nggak punya pacar, dan sederet cercaan lain mengarah penghinaan kepada seseorang yang belum memiliki pasangan. Padahal sesungguhnya, status seseorang akan berubah hanya ketika dia sudah melakukan akad nikah, baik akhirnya cerai, maupun ditinggal mati. Konsekwensi dari pernikahan tersebut yang akhirnya membawa turut serta status seorang wanita atau lelaki, yakni suami atau istri. Single atau berpasangan.

So, sebenernya penting nggak sih mempermasalahkan status kejombloan seseorang?


Saturday, 7 February 2015

Rejeki di Balik Batu



Makan yuk, gue lagi pengen makan disana nih?
Ah, gue nggak ada duit.
Tenaaaang, gue yang bayarin.
*Nyengir Kuda

Saat-saat yang tidak terduga dan luck ini nggak sembarangan dateng di semua waktu dan nggak ke semua orang. Cuman orang-orang tertentu yang punya garis bulet di atas kepala (yang persis malaikat di tipi) yang sering dianggep punya garis keberuntungan tinggi. Hal tersebut nggak tiba-tiba, mak bedunduk, ujug-ujug dateng – tapi butuh berwaktu waktu membangun jaringan keberuntungan tersebut. 

Nah? Keberuntungan kok pake jaringan?

Ya iyalah, semua yang di dunia ini punya sebab akibat. Ada garis lurus yang narik satu orang ke orang yang lainnya. kasarannya, semua yang pernah kita kasih walaupun sebiji beras bakalan balik lagi ke kita. Ini namanya karma, meskipun yang saya maksudkan disini adalah hal baik.  Kalau sebiji beras aja bakalan balik, gimana kalau kita ngasih sekarung beras buat orang lain? Tapi yang perlu diingat adalah, tidak semua yang kita lakukan akan berbalas hal yang sama. Tidak semua senyuman yang kita beri akan berbalas senyuman, atau dalam bentuk lain. Ketulusan kita memperlakukan orang lain adalah sesuatu hal yang akan banyak mempengaruhi sikap orang lain kepada kita.

Saya tidak pernah punya keyakinan bahwa keberuntungan hanya milik orang itu-itu saja, atau kesialan hanya milik orang itu-itu juga. Jahat dong kalau sistem dan cara berpikir kita sebegitu picik menilai Tuhan tidak adil terhadap umatnya, sekalipun umatnya itu ngeyel – pemalas – dan apalah. Tuhan punya jalan yang sama sekali di luar pikiran. DIA bekerja di waktu dan tempat yang tidak pernah kita bayangkan. Lucunya, keberuntungan – oke kita bahasakan saja dia sebagai rejeki, datang memang tidak pernah kenal orang, mau di gua kek, mau cuman ndekem di rumah kek, tetep aja Tuhan udah ngasih porsi sebagaimana apa yang kita upayakan. 

Ada 2 orang sebagai perumpamaan, si a sangat yakin bahwa rejeki datang karena diusahakan – sehingga dengan begitu akhirnya dia membeli makanan untuk mengisi perutnya yang kosong. Sedangkan si b, sama percayanya bahwa dengan diam pun Tuhan akan mengirimkan baginya rejeki berupa makanan. Hingga pada akhir cerita, Si a dengan berbangga hati berujar pada b, “Lihatlah, makanan ini ada karena aku berusaha. Bukan sekedar duduk diam”. Tapi entah pasal apa, si A yang kasihan melihat temannya kelaparan turut membelikan si B sebungkus nasi dan diberikan. Si B tersenyum dan berkata, “tuh kan bener juga yang gue bilang, Tuhan tau apa yang gue butuhin”.

Apakah cara itu masuk akal? 

Cerita itu membuktikan bahwa kepercayaan semua orang dibenarkan. Meskipun secara realistis saya lebih setuju dengan pemikiran si A. Oke back to theme. 

Rejeki yang lo maksud apa sih ini?

Rejeki yang saya maksud disini tidak semata-mata urusan uang. saya menilai bahwa teman yang banyak, orang yang mencintai dan peduli, perhatian, kesehatan dan jaringan relasi yang luas juga merupakan sebuah rezeki bagi seseorang. Membangun jaringan dan relasi untuk memperkuat keberuntungan bisa diusahakan, salah satunya dengan terus berbuat baik pada semua orang. Senyum kalian aja udah bernilai ibadah, gimana tenaga dan waktu kalian kalau semisal digunain buat bantu orang? Saya 100% meyakini bahwa kebaikan kita di masa lalu, hari ini akan sangat berguna dan kembali di masa depan untuk memudahkan jalan. Ini bukan berarti saya menyombongkan diri bahwa semua yang kita dapat murni karna perbuatan diri sendiri, bukan tanpa campur tangan yang lain. Tidak.

Semua yang kita dapat punya 3 dugaan untuk diperoleh, yang pertama karena Kebaikan Tuhan - Kebaikan orang lain - atau kebaikan pribadi yang membawa keberuntungan.

 Saya punya cerita sendiri tentang itu.

Beberapa bulan lalu, Tuhan seperti menuntun saya ke jalan orang-orang yang tidak pernah saya kenal dekat dan intim. Tapi dari mereka saya mendapat bantuan, tenaga, uang, waktu, dan perhatian. Tidak sekedar itu, mereka juga memberikan semangat untuk terus menjalani hidup ke depan, menyuntikkan kata-kata bijak agar saya tidak mudah hilang semangat. Tidak tanggung-tanggung, saya sampai harus mengesampingkan gengsi saya karena saya bisa merepotkan mereka berkali-kali dalam satu bulan. Dan saya berterima kasih untuk mereka, saya tidak melupakan – sekaligus berdoa Tuhan memberikan balasan lebih baik dan menyenangkan. 

Dari beberapa kali saya mendapatkan rejeki berbentuk uang, dari relasi – kenalan – dan orang terdekat. saya dapat uang 500 ribu ketika berangkat ke jakarta yang tanpa pikir panjang itu. yang kedua, saya dikirimi lagi uang 1 juta oleh paman saya tanpa syarat apapun. Teman saya yang di jakarta, bersedia meluangkan waktu – uang – tenaga untuk antar jemput di stasiun bahkan menemani sampai kereta saya datang. Belum lagi saya dapat kenalan di bekasi, bandung, rengasdengklok, jakarta, malang, semarang. Saya dibuat terkejut dengan cara Tuhan mengajak saya berpikir bahwa, seberapa sedikit kebaikan yang kalian berikan – akan aku ganti dengan yang lebih baik, yang lebih baik, dan selalu lebih baik. Itu semua saya dapat mutlak karena kebaikan Tuhan dan orang-orang di sekeliling saya. dan saya bersyukur mengenal mereka. 

Dalam hidup, kadangkala Kita hanya diminta untuk membuka banyak pintu yang kalian mampu. Kita nggak tahu pintu mana yang ternyata Tuhan berikan untuk kita. Ketika kita punya terlalu banyak mimpi, jalankan itu satu persatu. Ketika gagal, buatlah mimpi selanjutnya. Hidup hanya memaksa kita untuk realistis dan fleksibel terus membuat mimpi dan mewujudkan. 

Sepulangnya saya dari persinggahan panjang yang cukup melelahkan itu, saya sempat lama mencoba – terus terang saya sempat “capek” karena terlalu banyak waktu luang yang saya miliki. Menganggur memang melelahkan, karena efek buruk dari menganggur adalah rasa malas dan enggan untuk mencoba lagi dengan pengalaman gagal sebelumnya. Tapi ternyata, ketika saya mau keluar rumah, mencoba bermimpi lagi, membangun relasi, bertemu teman dan silaturahmi, rejeki saya datang saja entah darimana. Akan datang suatu masa ketika kamu akan berbahagia dengan menemukan uang 5 ribu saja! Itu hebat.

Saya diminta tolong membantu dosen saya, karena pulang bareng temen saya sepulang magang bertemu klien – saya diminta mengajar anaknya untuk les privat, dan kejutan seolah tidak pernah berhenti datang. Uang les, uang bonus, dan entahlah - Saya heran. Tuhan, ini nyata kan? 

Jangan gusar terhadap rejeki, asal kalian mau gerak – keluar – mencoba dulu sebelum bilang gabisa – dan jalanilah apa yang memang kalian suka. Siapa yang gerak dia yang akan dapat. Dari sekian banyak saya mengenal orang, hanya mereka yang rajin memperbaiki dirinyalah yang akan diperbaiki hidupnya. Pelajaran lain yang saya dapat? Tuhan seperti bilang bahwa, kebaikan itu mengular – menular. Jadi ketika kamu diberi kebaikan oleh orang lain, berikan itu pada orang lain pula, agar keberuntungan tidak berhenti di kamu saja. 

Rejeki bisa datang dari siapapun, dimanapun, dari manapun, bahkan di balik batu sekalipun.


Diet tidak sekejam ini

Eh lo kurusan? Bagi triknya dong.
Gue juga mau keleeus.
Iye nih, gue No sugar! No Rice! No garem! No gorengan!
Nah trus gue makan apa?


Kesalahan pertama bagi mereka yang ngoyo banget diet tanpa mau olahraga adalah, mereka secara drastis bakalan ngurangin makan bahkan nggak makan seharian. Indikasi kedua adalah, mereka bakal nambah aktifitas mereka biar nggak tidur – karena tidur bagi mereka yang gampang tembeman memang momok yang sangat dihindari. Akhirnya? Kalo nggak lemes nggak kuat ngapa-ngapain, larinya ya cuman ke rumah sakit. 

Mereka bilang badan ideal tuh ya yang kayak model itu, tinggi lencir nan menyenangkan kalo dilihat mata. Nah loh? Kalian nggak sadar kalian bukan orang yang dianugerahi sama Tuhan badan tinggi kayak mereka, trus mau apa? Ya mau nggak mau kalo udah nggak cantik dari awal, tinggi badan nggak semampai, ya harus kurus.

Mutlak.

Nggak bisa lagi digugat.

Mungkin ini juga pengaruh televisi yang gencar meracuni mata pemirsa dengan kebanyakan artisnya yang langsing nan seksi dan apalah sebutannya itu. wajar saja bagi televisi menampilkan tampilan kesempurnaan versi mereka, tapi ternyata, hal tersebut membawa dampak tersendiri bagi masyarakat lainnya. ngiri sama mereka? Yaiyalah pasti, tapi bagi saya, ketika saya tidak dibilang orang lain gembrot yaudah. Daripada saya musti ribet mikirin urusan body doang, yang lain malah keteteran. 

Apa se simple itu buat cewek?

NGGAK!

Bagi cewek, yang paling mudah untuk diterima adalah kalian para lelaki atau bespren sejati nggak ngomentarin – nyeletuk – nyinyir dengan bilang “eh lo gendutan ya?” atau “eh, pipi lo tembeman ya? Atau lagi, lo kebanyakan tidur ya, badan lo gedean ya sekarang. Sial. Sekali kalian berani bilang itu ke cewek kebanyakan, kalian bakalan kehilangan daftar baik hati dan selanjutnya akan dianggep nyebelin karna sembarangan komentar. Hati-hati.

Lagian, siapa sih yang suka dibilang gembrotan? OEMJIH. Itu adalah salah satu daftar pertanyaan terburuk versi majalah kepala perempuan. Bagi mayoritas perempuan, badan yang bagus memang obsesi, hingga setidaknya – bermimpi saja sudah memuaskan mereka. 

Problem badan yang harus langsing emang sebagian besar ada di kaum perempuan, ya, saya akui – dan teman-teman saya akui bahwa berat badan yang proporsional atau menyentuh angka kurus adalah idaman. Menyenangkan. Dan memuaskan. Siapa sih yang nggak mau fleksibel kalau pake baju. Yang setiap ukurannya ada di pajang di rak depan toko. Dan gampang ngedapetinnya. Tapi sekarang, problem itu nggak cuman buat kami para wanita.

Perkembangan zaman juga bikin para lelaki terobsesi sama yang namanya berat badan. Mulai deh akhirnya gym laku banget akhir-akhir ini cuman gara-gara lihat kotak-kotak di perutnya ade rai, atau siwon, atau siapalah aktor yang mereka idolain. Atau agnes monica? Ngerti kan iklannya cowok bentuk kotak-kotak. Yang slogannya, TRUST ME – IT WORKS

Temen saya, yang juga cowok, lagi heboh banget buat ngurangin berat badannya yang semula 80 kilo dan akhirnya turun jadi 64 dalam waktu kurang lebih dua bulan. DUA BULAN MEEN! 

Waktu 2 bulan bukan waktu yang singkat, bahkan lebih lama tinimbang roro jonggrang merintahin orang buat bikin candi cuman semalem doang. Selama dua bulan itu dia harus ngurangin makan, nge gym, lari, renang, dan AEROBIC. Setiap hari cuman itu yang dia pikirin. Ya, alasan pertama emang dia mau diet dan sehat – tapi alasan yang kedua dia mau aerobic adalah, banyak mbak-mbak dan ibu-ibu instrukturnya yang cantik dan seksi. Sekali dayung tiga cewek terlampaui. Siapa sih yang nggak suka liat cewek cantik nan seksi? Maka dapatlah dia bonus dari usaha dietnya itu. bonus plus-plus

Waktu semua orang heran berat badannya bisa turun drastis, dan banyak yang mupeng – dia bakalan bilang ini berulang-ulang, kalo aku sih No sugar, no garem, no nasi dan No No No nya dia yang banyak banget kalo di daftar ! saya cuman bisa geleng-geleng dalam hati, NAH SAYA MUSTI MAKAN APA KALO GITU?

Kenapa mau sehat aja saya musti nggak makan semua hal tadi? Saya emang nggak suka gorengan, atau teh kebanyakan, tapi kan semua harus seimbang. Oke abaikan ini kalau kalian nganggep ini pembelaan. Tapi di luar pembelaan itu, yang diatur Tuhan dan dokter cuman – jangan makan berlebihan. Jangan lebay. Seimbangin olahraga, asupan makan, dan istirahat. Nah, kasus temen saya ituh – kalo habis lari trus makan siang pake bubur kacang hijau, habis itu? TIDUR.

Tidur sampe sore. (Maafkan temanmu ini ya) bangun sore, dia gym dan aerobic. 

Ya, program diet memang mewajibkan seseorang untuk kuat hati (nahan lapar, lemah, lesu)– kuat iman (liat makanan) – kuat godaan (orang tua, pacar dan teman2) – dan kuat ajakan dari teman-temannya yang lain untuk nongkrong dan maen yang mustahil tidak mengajak makanan enak turut serta. Selain itu, kamu cuman bisa fokus sama satu hal tadi. Diet. Kamu akan kalah ketika memfokuskan banyak hal, misalkan saja pacar. Atau skripsi. Pada akhirnya, semua hal lain yang seharusnya penting bakal terbengkalai kalo fokus kamu cuman urusan berat badan. Nah, kalau habis olahraga yang kalian lakuin cuman tidur juga? apa manfaatnya? Sama aja kalian memperbagus badan tapi nggak memperbagus kehidupan. Pada akhirnya orang akan berpendapat bahwa semua yang nempel di badan adalah akibat gaya hidup kalian.

Efek samping lain? Setelah berat badan tercapai, kamu bukan lagi jadi manusia yang santai makan apa aja, bahkan ketakutan untuk makan enak dan santai jadi hilang. Kamu, jadi semacam punya phobia sama makanan enak. Duh mas mbak, nikmat Tuhan mana lagi yang kalian dustakan kalau makanan enak juga sampe diabaikan? Diet tidak sekejam itu, nak.

Tapi tunggu dulu deh, sebelum kalian memutuskan untuk diet – lihat balik apa motivasi kalian ngelakuin itu. kalian ngrasa nggak pede? Kurang kece? atau apa deh. kalo diet kalian dengan cara yang salah dan tanpa ahli, yang kalian dapet mungkin cuman kulit kiwir-kiwir dan kendor yang nggak ngenakin mata. Semacam mereka para tetuwir yang emang sudah waktunya keriput. 

Membatasi apa yang kalian masukkan dalam perut adalah cara terbaik untuk mengurangi berat badan. Selektif. Hidup memang harus diisi dengan keseimbangan, tapi fokus untuk tidak makan semua itu juga saya pikir tidak masuk akal ketika yang kalian pengen cuman badan proporsional. Okelah, mungkin menu yang kalian kurangin tadi bakal ngurangin pengeluaran kalian – khususnya buat kalian anak perantauan. Pengiritan. 

Tapi pada akhirnya, terlalu banyak membatasi apapun yang kalian makan cuman persis seperti kalian memenjarakan hidup kalian dengan ribuan aturan. Hidup terlalu ribet kalau cuman ngurusin urusan asupan makan. Tapi urusan keyakinan, mungkin itulah kebahagiaan kalian ketika berhasil mengenyahkan angka demi angka dari timbangan berat badan kalian. 

Akhir kalimat, dulu saya juga pernah kurus kok.