.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 11 December 2015

Gaji emang dari Boss, tapi rejeki dari Tuhan

                                                          Eh gaji lo berapa? Pasti Banyak?
Pasti lebih dari UMR kan? Gue sih dikit. Buat transport juga kurang
Jajanin gue ya?
*nanya apa MALAK vroh?

Nggak tau deh berapa kali saya dapet pertanyaan ini. Kesannya kayak yang nanya ini nggak percaya banget kalo duit saya nggak sebanyak yang mereka pikir, soalnya pencitraan saya emang banyak sih di path. Wkwk. Kesannya kayak saya ini tuh orang yang paling nggak pernah pusing masalah duit. Bener sih, saya emang jarang musingin masalah duit, soalnya saya yakin aja rejeki saya udah diatur sama Allah asal saya mau ngusahain itu. Apa kalian percaya juga?

Nggak munafik sih, semua orang memang tergiur sama gaji/penghasilan yang tinggi, dan itu ada plus-plusnya - kalo bisa ya sesuai sama hobi, kalo bisa ya sesuai sama passion, klo bisa yang nyenengin, kalo bisa gini, kalo bisa gitu, tapi – yang namanya harapan belum tentu sesuai sama kenyataan. Ya mana ada kerjaan yang enak terus atau nyebelin terus? Ya mana ada kerjaan yang bisa selo terus atau sibuk terus? Saya nggak percaya itu. MUSTAHIL itu namanya. Kecuali ...

Kecuali klo itu usaha kalian sendiri yang ngatur ritmenya. Mau kerja ya kerja. Mau libur ya libur. Tapi saya ngegaris bawahin kerja sama orang loh ya.

Thursday, 12 November 2015

Kamu.


“Dari sekian banyak pilihan, kenapa kamu milih aku? aku kan nggak cantik kayak temen-temen kamu. aku juga nggak kaya kayak temen-temenmu. ”

Pertanyaan itu lagi, itu lagi yang kamu lontarkan. Seolah dari ribuan kejadian di dunia ini, hanya itu yang menggugah nuranimu. Hanya itu yang ingin kamu tahu. Tidakkah kamu bosan mengulang pertanyaan itu? aku hampir bosan mendengar pertanyaanmu itu. 
 
Aku menggeleng, tersenyum tipis. "Kamu kan udah berulang kali tanya itu, yang".

Aku sedang malas berkata-kata

“apa susahnya sih jawab”, itu katamu. 

Kalau semua pertanyaan dari kamu selalu kujawab, aku justru takut kamu bakal pergi. Aku tidak bisa memuaskan seluruh pertanyaanmu. aku nggak jago gombal atau bikin kata-kata bagus yang bisa bikin kamu percaya. Kadang-kadang tidak semua yang kita rasakan disini, di hati, bisa diterjemahkan. Kalau milih kamu butuh alasan, aku nggak tau seberapa banyak alasan yang bisa kamu terima dan bikin kamu percaya. Jangan-jangan. itu malah bikin kamu tambah nggak yakin sama aku. 

Kamu hanya butuh tahu, aku sayang kamu. Itu saja. 

Tolong, stop berpikir lagi tentang pertanyaan konyol itu. 

Wednesday, 4 November 2015

Ada Aku

Dia bercerita tentang hidupnya. Impiannya. Kesukaannya. Kebenciannya. Dan semua tentang dia. Sementara kamu di sudut sana hanya jadi pendengar. Kadang tersenyum, kadang mengerutkan kening, meskipun lebih banyak menyimak. Membandingkan. Mengamati dalam diam. Beranggapan bahwa setiap orang layak kau dengarkan. Beranggapan bahwa setiap orang harus kau bahagiakan. Beranggapan bahwa setiap orang tak boleh kau kecewakan. Pada kenyataannya, kau kesulitan dengan prinsipmu sendiri. Kamu kelelahan. Kamu kecapekan mendapati kamu tidak menjadi dirimu sendiri, dan mengabaikan diri sendiri itu termasuk kepura-puraan.

Tidak ada hal yang abadi. Termasuk kepura-puraan itu sendiri. Sekalipun kamu pandai menyembunyikannya. Mengubahnya dari tangisan menjadi senyuman palsu. Mengubah kekecewaan yang kamu rasa menjadi biasa saja. Atau aku saja yang terlalu bodoh menangkap tanda? Aku melihat ada yang aneh di matamu, ada bening-bening halus disana, yang ingin tumpah, tapi sengaja kau tahan. Ada sesuatu yang masih ingin kau pertahankan, predikatmu yang katanya kuat itu. Tidakkah bisa kau lepaskan sejenak topeng itu? Menangislah sebentar. Atau lama sekalipun. Aku akan tetap di hadapanmu, menunggumu selesai menumpahkan amarah yang telah berubah menjadi butir airmata di pipimu. Egomu terlalu lama kau tahan, itu yang kubilang. Kau tak perlu menyembunyikan apapun disini. Dunia terlalu luas untuk secuil masalahmu. Kau tak perlu banyak berpikir lagi.

Menangislah sebentar. Atau lama sekalipun. Tidak apa, tidak ada yang salah dengan itu semua. Banyak orang melakukannya. Aku juga.

Sunday, 1 November 2015

Youuuur timeee


yang patut kamu syukuri nak, seburuk apapun kamu - atau semenyebalkan apapun kamu, setiap orang adalah istimewa. 

 





Thursday, 29 October 2015

Dear ~~~ dua

Aku belajar menulis karena kata pepatah, mereka yang belajar menulis adalah mereka yang belajar jujur pada dirinya sendiri. Dan aku sedang berusaha jujur menyampaikan apa yang kurasakan, terlebih beberapa hari ini aku terlampau banyak diam. Banyak yang alpa kuceritakan, dan aku takut itu tidak akan lagi menjadi spesial. 

Aku belajar menulis karena tahu, kamu benci sesuatu yang terlalu berbelit-belit. Katamu, itu semua mengganggu konsentrasimu, termasuk membalas pesan-pesanku.  Aku tau, suatu waktu nanti kamu pasti membacanya, sekalipun kamu tak suka membaca drama katanya. Tapi ini untukmu. Tulisan yang kadang-kadang tidak bernama ini memang tidak tahu apa maksudnya, tapi ini jelas dari hati – dan yang kupikirkan memang hanya kamu. Tapi aku tak hendak merayumu. 

Beberapa hari yang lalu kita sudah bertemu, katamu melepas rindu. Katamu ini waktu kita. Rindu yang entah bagaimana bentuknya, tidak berbentuk, tidak berwarna, tidak terlihat mata, tapi kamu pasti tahu aku merasakannya – semoga kamu juga. Menunggu tiga bulan untuk tiga hari ternyata tidak mudah. Mungkin bagimu biasa saja, karena bagimu waktu hanyalah putaran pundi-pundi uang dan semua impian yang hendak kau wujudkan, dan mungkin juga – ada aku dalam daftar impianmu.
Tapi bagiku, yang selalu bertemu banyak orang – menerima kenyataan aku harus menunggu bukan hal yang mudah, dan sama sekali tidak menyenangkan. Aku jadi, serba salah. Banyak hal yang ingin disampaikan, banyak teman ingin kukenalkan, terlebih orang tuaku – tapi sepertinya kamu baru punya waktu untukku. Entah apa namanya tapi semua itu mendadak merebut semua nafsu makanku. Sekalipun aku makan di hadapanmu, keinginan untuk makan itu sirna, dan aku merasa kenyang seketika.

Dear, sampai bertemu di lain waktu.

Tidak ada tempat yang menyenangkan selain apa yang selalu membuatmu merasa nyaman. Dan kalau kau tanya dimana? Aku masih duduk disitu. Di kursi depan kolam ikan lengkap dengan bebatuan alam yang dibuat sedemikian rupa. Tempat duduk di pinggir rak buku bagian drama yang selalu aku cari setiap kali hendak datang kesana. 

Lantai keramik berwarna putih. Ikan koi berwarna putih orange. Hiasan burung merak. Dan gemerecak air. Dan satu lagi, lalu lalang orang. Menikmati mereka aku seperti sejenak melupakan kesendirian.

Dan kau disana apa kabar? 

Aku selalu ingin mengajakmu kesana, melihat rak-rak yang berjejer rapi yang selalu menjadi hobiku – sekaligus impian terpendamku. Kursi rotan di pojok kafe yang remang-remang, dan beberapa kenangan.

Kau tahu kenapa?

Karena hanya disitu aku tidak malu dan tidak risih sibuk dengan kesendirian. Karena hanya disitu aku tidak perlu merasa harus ditemani siapapun, entah mereka, atau kamu yang lebih sering meninggalkanku. Aku yang bisa menerima diri sendiri sebagaimana adanya. Tidak dikungkung malu dan gengsi.  

Thursday, 17 September 2015

9 Alasan Kenapa Anak Hukum itu "Mantuable" banget

1.  SALAH SATU JURUSAN TERTUA DI INDONESIA


Siapa sih yang nggak tau anak hukum? Jurusan hukum? Fakultas hukum? Fakultas yang dari jaman paman saya muda, mbah saya ada, bahkan sejak jaman kemerdekaan dulu udah ada. jurusan sesepuh pini sepuh.

Bahkan jadi lulusan hukum itu sudah jadi cita-cita wajib nan kece yang ada dari jaman nenek moyang. Nah, bagusnya lagi Indonesia adalah negara yang berdasar hukum jadi semua-muanya harus pake dasar hukum. Dengan predikatnya sebagai salah satu jurusan tertua, dan matang itu – siapa sih yang nggak ngimpiin punya mantu anak hukum?




2.    MAHASISWANYA KECE-KECE

“Eh, dia  cantik ya, modis, ngerti hukum, berhijab pula? Adem banget ya liatnya. Berasa lagi jalan-jalan di surga. Mantuable banget deh” wkwk.

Anak hukum identik dengan mahasiswa yang wawasannya luas, relasi bagus, pinter ngomong, jago nego, rapi necis modis, dan satu lagi – kece nya nggak bakal bisa ditolak. Mau tau alesannya kenapa? Karena anak hukum diajarin berpikir integral. Sistemik. Dan futuristik. Kalo nggak percaya, dateng aja ke fakultas hukum dimana aja, nah kalo di jogja datengin aja anak hukum UII, UIN Sunan Kalijaga, UGM, atau Atmajaya deh - dijamin kalian pasti bakal betah ngliatin mahasiswa dan mahasiswi yang kecenya diakuin sejagat raya. 

hari gini, Siapa sih yang bisa nolak kenikmatan dunia?

Monday, 14 September 2015

Kata Letto, jangan suka memiliki biar nggak kehilangan.

Ya ampun dompet lo abis ilang? Kok bisa sih?
Kaca Mobil lo abis dipecah maling? Kapan? Apa aja yang ilang?
Dan akhirnya kalimat sakti itu keluar, “Yang sabar ya lo”
*jambak gue aja, jambaaak.

Satu ekspresi yang pengen banget saya kasih ke orang itu, biji mata mencelot. (Sumpeh loh bilang gitu? ) Haha ya mau gimana lagi, nggak ada ekspresi lain yang pas dan enak selain itu mata yang keluar sekaligus memberikan penegasan bahwa, nggak salah lo bilang begitu ke gue? Duh, kenapa bisa? Duh kok tledor banget? Yaudah kali bukan rejeki lo, yang sabar ya. Itu kalimat tadi nggak bikin lapang malah tambah bikin gedek. Ya bayangin aja deh, siapa yang nyangka bakal ada satu moment kalian lupa dan fatal banget – dan konsekwensi logisnya adalah, urusan jadi panjang dan ribet.

Semua orang di dunia ini wajar kalau menginginkan semua hal berjalan menyenangkan dan sesuai harapan. Tapi itu ekspektasi kita. Tapi itu harepan kita. Tapi kalau semua menyenangkan, kita nggak pernah dan nggak akan pernah bisa belajar.

Friday, 11 September 2015

Dont Judge The Book By The Cover


Gila, dia kalem banget ya? Pasti alim dan cool yaaa.
Kata siapa? Dia tukang mabuk kali.
Jangan percaya sama tampang.

Lain waktu, saya pernah ketipu sama yang namanya dugaan – mukanya udah meyakinkan, omongannya belibet dan intelek, kuliahnya s2, keluarga terpandang juga, tapi? Uh, jangan bandingin sama ekspektasi kepala kalian sama yang di kenyataan. Gilak, mulutnya loh sodara-sodara, ternyata nyablak juga, gapake tedeng aling-aling, semua diomongin, bahkan ada juga yang teorinya meletup-letup eh ditelen juga air liurnya.

 Teorinya kan gini ya, kalo semakin tinggi pendidikan seseorang – semakin bagus ilmu agamanya - berarti sikap dan tata bahasanya semakin menyejukkan, nah itu teorinya, kalo di praktek mah? Belum tentu. Teori sama praktek mah beda. Banyak kok yang ngakunya guru, eh kalo di rumah ngomong sama anaknya marah pake ngebentak kasar pula. Ada yang ngakunya haji, eh ternyata nyabulin santrinya. *abaikan contohnya jika ini jelek.

Friday, 4 September 2015

Sakit hati itu? BIASA

                                                  Kenapa Tuhan musti mbikin hati kalo cuman buat disakiti?
Dan saya cuman bisa nutup kuping sambil mbatin,
kenapa ya?****

Itu salah satu kalimat di film terbaru yang sering ditampilin di channel nomer satu di televisi saya, sctv. Kalau nggak salah judulnya magic hour. Kalau nggak salah lagi pemainnya rizky nazar, dimas anggara, dan michelle zudith. Hebat ya saya, kadang-kadang emang benci sama suka tipis bedanya, sama-sama merhatiin tingkah polah mereka.

Oke back to theme.

Kenapa Tuhan mesti nyiptain hati ya?

Alasan pertama adalah, karena hati itu aneh. perasaan itu mahal. Nggak ternilai. Dan nggak ada masa kadaluarsanya. Sehabis-habisnya kita bilang bahwa udah abis sabar, kita masih punya iba, masih punya kasihan, kadang juga kita sebenci apapun tetep mikir perasaan orang daripada perasaan sendiri.  Sekere-kerenya kita, kalo liat pengemis lewat dan lebih butuh kita kasih juga. Dan itu yang bikin bedain kita sama makhluk Tuhan yang lain. Kalau kata Ahmad Dhani, itulah yang bikin kita jadi makhluk Tuhan yang paling sexi, ya karna punya hati. Kok bisa?

Kenapa sih kalian lebih suka mempertanyakan hidup daripada menikmati hidup? Haha.

Hati itu pemberi arah. Sebagaimana akal yang kita punya, dia nuntun kita buat harus gimana dan harus kemana. Kadang-kadang feel kita lebih tajem daripada rasio cuman karena lebih mengenal. nggak perlu bukti, karena ibu punya sedikit dari feeling itu. Feeling yang tajemnya ngalahin silet. akal dan hati itu, sepasang yang saling kerja sama. Maka dari itu, kalian yang ngaku manusia tapi nggak pernah make perasaan atau hatinya, jangan pernah memproklamirkan diri jadi manusia. Kalian yang suka nyakitin dengan sengaja, yang suka curang dengan sadar, dan yang suka mainin hati orang tanpa mikir akibatnya – nggak usah ngaku jadi manusia. Jadi hewan aja. Cabut aja tuh hatinya.

Kita adalah sekumpulan kasih sayang Tuhan yang berwujud tubuh kita itu sendiri. Salah satunya hati. Tuhan melebihkan kita organ yang nggak berbatas, abstrak, dan jangkauannya bisa luas – bisa sempit. Bergantung daripada pengalaman kita sendiri. Lalu, mengapa harus punya hati?

Sejujurnya jawaban itu ada pada kalian sendiri. Mau dipake apa enggak itu hati. Mau dibiasain lapang atau sempit tu hati. Atau sesepele mau dilatih nggak itu hati. Hati dan akal sama halnya dengan manusia yang penuh dengan sekumpulan kebiasaan. Kalau nggak dilatih terus belajar, bakalan bumpet, gelap, nggak keasah. Nggak bisa diajak mikir. Begitupun dengan hati. Dia butuh dilatih bertahun-tahun buat bikin kita lapang, ikhlas, dan itulah salah satu tujuan memberi kita hati.

Siapa bilang idup bakal lebih nyenengin kalau isinya hal-hal yang bisa kita duga saja?

Siapa bilang idup bakal terkenang kalau hanya berisi bahagia saja?

Impossible. Jangan percaya. itu nggak realistis. 

Hati itu paketan. Paket ekstra lengkap. Yang bisa ngrasain apa aja tergantung bagaimana kehendak dan di luar kesadaran kita. Buktinya - mau bilang abis sakit hati, ketemu yang beningan dikit juga langsung jatuh cinta lagi. Buktinya, lagi nangis sesunggukan gara-gara duit ilang, diredain pake ilmu ikhlas dan baca ayat kursi hati udah tenang sendiri. Masih kurang?

Percaya nggak percaya, seharusnya kita lebih percaya bahwa bahagia itu bakalan dateng kalo kita pernah ngrasain yang namanya nggak bahagia. Atau seneng itu bakalan dateng setelah kita pernah ngrasain yang namanya nggak seneng, nyebelin, ngecewain, atau ngeselin dan saudaranya itu. Idup ya emang begitu. Nano-nano. Biar kita nggak terus berdiri di satu hal itu. Biar kita terus bergerak. Kalo kata pak Mario, udah tau sakit hati, masih juga sama yang itu – helloooooooo.

Alasannya lainnya?

Pertama. Karna idup itu nggak gampang. Bayangin segitu banyaknya kepala orang, bayangin segitu banyaknya prinsip orang dan kalo diseragamin, apa iya kita bakal ngliat semua hasil karya seni manusia kayak jaman sekarang? Itu hasil dari idup yang gak gampang. Kita dituntut buat survive. Biar kepala kita tuh, juga hati kita, atau badan kita – tahan banting. Sebanting-bantingnya. Sesakit-sakitnya, biar besok bisa lebih menghargai apapun yang kita punya.

Yang kedua. Karna idup memang isinya saingan doang. Dari kata awalan yaitu persaingan/perselisihan aja udah tau kita arti hidup memang buat nggak enaknya, buat selalu apdet hal yang gak kita bisa sampe kita bisa, buat selalu menjadi hal yang baru bagi orang lain – karna yang lama pasti ditinggalin.

Yang ketiga, dan poin paling penting adalah - Karena setelah kita tahu nggak enak, kita jadi bisa mbandingin keadaan yang lalu dengan setelahnya dan bisa bilang “duh enak banget ya”, dan bisa bersyukur sama keadaan yang sekarang. Contoh gampangnya ya sesepele liat pelangi abis ujan. Walaupun pada kenyataannya, hujan juga bukan musibah-musibah banget sih. Saya suka hujan. Dan urusan suka nggak suka manusia itu nggak universal. Itulah yang akhirnya menghasilkan peribahasa bersakit-sakit dahulu bersakit-sakit kemudian.

Kalau kita selalu mencari pikiran yang positif di balik terjadinya suatu kejadian, udah pasti kepala kita jadi enteng, idup jadi lebih bergairah – dan pastinya selalu berprasangka baik sama Tuhan. Lah terus, hubungannya sama hati apa dong? Hati itu pake prasangka. Dan akal pake sesuatu yang bisa kita terka. Point kerja akal itu menjelaskan. dan Hati, memahami / menerima. imbang kan? cucok banget kan combine nya mereka? 

Biar kita belajar. Kalo yang namanya sakit hati itu nggak enak, nyebelin, dan butuh waktu lama buat nyembuhin – maka itu jangan pernah nyakitin hati orang. Karna kita tahu semua orang punya hati, nggak pernah enak yang namanya dikecewain. Barangkali cuman itu pointnya. Biar kita belajar ngehargain orang. Dan karna hati itu bisa dilatih, kita dikasih hati biar bisa latihan ngredam emosi, jangan gampang kepancing orang, jangan gampang hebohan, karna yang dateng di dunia ini bisa jadi rezeki bisa jadi musibah. Pake hati dengan sekedarnya, jangan berlebihan dan jangan dikurang-kurangi, biar nggak gampang kagetan.

Monday, 31 August 2015

"I Love Youuu ... "

Afaf tertidur lelap di kursi mobil, setelah hampir 10 jam nonstop mengendarai rute jogja-jakarta. Aku yang sejak satu jam lalu tertidur akhirnya bangun karena ritme roda terus diam, dan ada yang aneh dengan segala macam yang hening. Aku tak suka keheningan, karena ia mengingatkanku pada segala macam yang tak ingin aku pikirkan. Perhatianku beralih padanya.

Dia tampak Lelah. Pulas. Dalam batas itu, ada beberapa yang diam-diam berdesir di dalam hati. Afaf terlalu aneh bisa sampai sejauh ini masuk ke kehidupanku. Datang dan sok kenal menyapa, duduk berdua di teras toko, menawarkan semangkuk jagung coklat hangat, dan perkenalan itu berjalan. Afaf tiba-tiba, entah ada darimana, selalu muncul di sekeliling mata. Aku mengambil kursus di satu tempat yang direkomendasikan teman, dan tiba-tiba datang di kelas pertama perkenalan.

“Hai semua, maaf terlambat. Nama saya Arfa Bayanata.”

Dan Afaf melangkah percaya diri duduk di sampingku.

“Hai.. “

Selanjutnya, kau tau yang terjadi – pertemuan terus menerus itu berubah menjadi sepasang perbincangan yang tiada henti. Dia menelponku setiap malam, bicara soal rindu, dan tiap kali dia tak menelpon di jam-jam itu, akulah yang kemudian dilanda rindu. Betapa Tuhan menganugerahinya mengambil hati dengan secepat itu. Padahal sebelumnya, aku tak pernah dengan sengaja meladeninya.
           
             Afaf masih pulas di tempatnya .

Kulit coklat. Alis tebal. Mata lebar. Dan senyum yang menghadirkan sepasang gigi gingsul serta lesung pipit itu kesan pertama yang bisa dia hadirkan, selain kenyataan bahwa dia adalah makhluk menyebalkan, yang tak bisa dipungkiri, dia memang menarik.  Namun begitu, semenarik apapun itu – aku yang baru saja selesai dengan menutup buku kisah lama tak bisa menyembunyikan bahwa dia jauh dari kriteria itu. Apapun itu. Tapi melupakan cinta lama membutuhkan cinta yang baru kan? 

Dia yang menyebalkan, sok kenal, sok aktif, dan kaku ketika memulai perdebatan. Dia yang mengkritikku sepele soal foto yang ditampilkan di profil whatsapp, dia yang mengajakku berdebat soal anjing, dan dia yang menolak idealismeku. Tak ada tanda-tanda dia sedang gencar melakukan pendekatan yang kurasakan, dan karena itu, dulu – aku begitu benci padanya. sampai akhirnya, ketika dia sudah berada jauh berseberangan kota, kami kembali bersapa, bicara hangat dan mengalir semua yang ada. Kami kembali pada ritme nada, kadang syahdu, kadang sedikit sumbang. Aku mulai memberikan perhatianku padanya.
         
Dalam diamnya berkelana di alam mimpi, sekelebat tentangnya masuk, menyelinap sembarangan, berkata bahwa kita telah sejauh ini. Afaf yang tak suka berkirim pesan singkat, dan aku yang tak suka berbicara panjang lebar berlama-lama dengan telepon genggam. pada kenyataannya kami tetap bertahan sampai detik ini. Aku mengalah untuk terus Afaf recoki dengan semua panggilan sayangnya itu, dan dia yang menurunkan ego demi membalas pesanku. Sekalipun dia tak menyukai itu. Kenyataan berkata bahwa, segala macam cinta adalah soal memahami yang terlebur antara dua menjadi satu. Hanya sesepele itu. sekalipun kami berusaha menekan ego sekuat tenaga, kenyataannya tak pernah sesepele apa yang terlihat.

                Dia baru saja pulang dari tempatnya yang jauh, mengambil cuti panjang hanya untuk bertemu denganku. Membicarakan segala yang tak pernah tersampaikan lewat telepon genggam, dan aku bernafas lega bahwa di matanya masih ada aku.

                “jam berapa yang? Aku tidur lama banget ya?”

Afaf mengolat panjang. Mengucek mata. Tersenyum seolah lelahnya telah sirna seusai tidurnya.

                “baru bentar kok, yang”

                “Love you ...” Aku tersenyum mengucapkannya. 

Sunday, 28 June 2015

Kita

Suatu saat kita akan kembali kesana
Pada tempat duduk di ujung sana
Atau tetap pada kursi yang masih sama

Kembali Menatap dedaunan kering
Hamparan awan, angin bergemerisik
Jalanan ramai. Pekak bunyi kendaraan
Dan kepala ikut mengamin semua kenangan

Kita yang kemudian tertawa
lantas menghela nafas lega
Melepas resah. Membuang dendam. 

Sampai pada titik itu ..
Kitalah masa lalu.

Sebiji Dzarrah


Jangan menyembunyikan apa-apa yang bukan sekedar milikmu
Dalam tubuhmu mengalir darah orang lain
Barangkali ibumu
Barangkali ayahmu
Jangan menahan apa-apa yang bukan hanya bagianmu
Dalam hartamu terdapat harta mereka
Dalam udaramu terdapat kebutuhan nafas mereka
...
Sebiji dzarrah pun akan kembali
Mungkin dalam bentuk yang lain
Mungkin di waktu  yang lain
Mungkin dari tangan yang lain
Atau mungkin ...
Dari keindahan yang lain

Seperti jalan misterius yang kamu sukai dan ingin selalu kamu kenali
Maka, Nikmat Tuhan mana lagi yang mau kamu dustai?

Thursday, 25 June 2015

CINTA ITU APA?

Dia ngasih lo apaan lagi? Gak kapok-kapok ya dia makan ati?
Ini nih. Gue juga heran kenapa, padal udah gue minta buat berhenti
Itu namanya dia cinta. Yang hawanya pengeeen aja ngasih
????
Saya masih juga dibuat bingung dengan sederet manusia, minoritas, kalangan kecil dari manusia yang mau-maunya aja terus jadi sasaran pehape diri sendiri. Atau tetap bersikap baik meskipun tidak diperlakukan dengan baik. Atau dia yang terus cinta walaupun tidak dicintai. Dalam kasus paling akhir yang saya sebut, mungkin itu adalah hal yang sulit untuk dirubah – karna memang kodrat menyayangi adalah terus mencintai, dan ciri dari mencintai adalah ingin terus memberi. itu hal yang paling sulit dimengerti dari suatu hal yang disebut CINTA.

Oke, kalian boleh bilang saya absurd, aneh, dan sederet sebutan lain yang memang tidak punya definisi yang jelas seperti hal yang menjadi pertanyaan saya sendiri. Saya juga pernah di posisi itu. Posisi yang sebetulnya pingin banget berubah, lupa, ngejauh, move on, tapi akhirnya kesitu lagi kesitu lagi. Mikir sono lagi, sono lagi. Mau dia nyebelin kayak apa kek, plin plannya kayak apa kek, atau bagaimanapun bentuk rupa dia, pada akhirnya yang namanya cinta memang sulit untuk diterka perilaku untuk tiap manusia.

Ramadhan : Berkah buat siapa?

Cuman romadhon yang ada orang berjentrek-jentrek kayak shaf jamaah solat jualan tiap sorenya.
Cuman romadhon restoran, mall, bahkan kaki lima penuh sesak sama manusia.
Cuman romadhon masjid bisa penuh sampe halaman belakang.
Dan cuman romadhon juga, cuti bersama dan libur paling panjang diantara yang lainnya.
               
                Iya, romadhon adalah bulan berkah bagi semua. Khususnya umat islam di seluruh dunia. Tapi nggak dinafikan juga kalau romadhon ternyata berberkah bagi semua agama? Loh, iya. Kata siapa? Kata saya.

Oke, penjelasannya gampang. Ini jadi gambaran betapa Allah sayang sama semuanya. Nggak ngebedain dia agamanya apa. Nggak ngebedain juga dia kulitnya apa, mau puasa apa enggak, dan khususon mau tarawehan 11 atau 23. Nggak penting itu semuanya. Allah menunjukkan keadilannya bagi kita ya pas bulan romadhon itu. Semuanya rata kena rejeki. Mulai dari harta, teman, waktu, kesehatan dan keimanan. Kurang apalagi coba?

Bayangkan, di jalanan – yang banyak banget itu, dari pojok merapi sampe pojok parangtritis nggak bisa dihitung berapa banyak pedagang musiman puasa itu yang berjejer rapi saling menghormati? Hebatnya, semua laku loh. Pisang ijo yang di hari biasa harga lima ribuan di bulan puasa bisa ngelonjak jadi berapa aja. Dan itu laku. Apalagi gorengannya, duh. Saya jadi takjub sama cara Tuhan bagi rezeki ke makhluknya? Dari urusan yang sepele jualan keliling di pinggir jalan atau di lampu merah pas adek saya ada event buat Sekolahnya, tiap harinya dia bisa dapet omset 200 ribuan. Padahal dia cuman ngejualin air yang di hari biasa juga nggak bakal selaku es teh di warteg atau angkringan.

Berapa banyak masjid yang mbagiin nasi buat buka puasa? Berapa banyak orang yang dikenyangin perutnya? Berapa banyak sodaqoh dan zakat yang diterima? Berapa banyak kain yang dibeli sama kita? Berapa banyak? Paling fantastis lagi, berapa banyak perputaran duit buat makanan saja di bulan puasa? Saya yakin. Semua hal tadi meningkat drastis di bulan puasa.

Yang bukan pedagang awalnya, bersyukur bisa dapat tambahan biaya lebaran plus pulang kampung. Yang sudah asli pedagang tambah kipas-kipas karna semua harga bisa dinaikin, dan sudah barang pasti omset meningkat tajam. Urusan baju lebaran dan kue-kuenya gampanglah. Belum lagi sederet diskon di mall, baju – mukena – koko – peci – sajadah – duh apalagi yang harus saya sebut sangking banyaknya itu, habis ludes. Kejual semuanya. Laku keras.

Apa itu semua transaksi itu dilakukan oleh orang muslim? Enggak.

Apa semua yang nikmatin itu orang muslim? Enggak.