.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 24 December 2014

Jangan sebelah mata


Mencela kekurangan orang lain bukan merupakan hal terpuji, semua tahu hukumnya, semua tahu efeknya, tapi bila berhadapan dengan kehidupan nyata – hal ini sulit sekali untuk tidak dilakukan. Contohnya mungkin saya. Meremehkan orang lain adalah penyakit yang bersumber dari kebiasaan umum, tidak jarang bagi kita mencacat, mencela, menghina, merendahkan, meremehkan, dan me-me-me lain yang berakibat pada menyakiti mereka yang kita anggap kurang.
Penilaianlah yang menjadi ukuran itulah sumbernya. Pengkotak-kotakan manusia. banyak yang berpikir bahwa nilai yang tinggi adalah ukuran sebuah kecerdasan, padahal belum tentu benar. Banyak yang berpikir bahwa kemampuan negosiasi dan berbicara di depan umum adalah takaran seseorang layak dijadikan panutan, padahal belum tentu benar. Dan semua pikiran- pikiran lain yang pada akhirnya menggolongkan yang satu tinggi yang satu rendah, yang satu salah yang satu benar, yang satu baik yang satu buruk.
            Saya punya teman yang di waktu yang lalu pernah  saya anggap “aneh” di mata saya, yang pada hari ini ternyata lebih target oriented tinimbang saya. Dia yang bersaing untuk mendapatkan s2 di luar negeri, dia yang mendapat predikat lulusan terbaik, dia yang pandai berbahasa asing, dia yang begini – dia yang begitu. Contoh lain Kumbang, sebut saja begitu, dia yang pendiam, tidak begitu mudah bersosialisasi, dan nilai yang tidak perlu disebut lebih dulu mendapat pekerjaan daripada saya (lagi-lagi nilai yang jadi takaran).

            Lagi-lagi, lagi, tidak ada yang tau bagaimana esok akan bagaimana, siapa jadi apa, apa jadi gimana, maka dari itu merendahkan orang lain hanya akan memperkecil lingkup kita mendapat bantuan dari orang lain. Sekalipun kita orang yang kuat, kita tidak akan bisa berkembang, tidak akan bisa survive tanpa bantuan orang lain.

            Orang yang detik ini kita anggap tidak berguna, bisa jadi esok akan membantu kita dan sialnya paling tulus. Tanpa imbal apa-apa. Mau saja membantu, padahal apa yang sudah kita perbuat untuk mereka?

            Dalam perjalanan ke beberapa kota yang sialnya saya dibatasi oleh biaya, saya dibantu berkali-kali oleh orang yang tidak pernah saya duga. Orang yang tadinya sama sekali tidak pernah dekat dengan saya. Orang yang saya anggap menyebalkan, sadis, dan apapun itu segala yang tidak mengenakkan. Tapi takdir menuntun saya menuju orang itu, takdir membantu saya menemukan kebaikan dari orang tersebut.
   
         Berbaik hatilah pada semua orang, bisa jadi – orang tersebut yang akan mempermudah jalanmu kelak. bantuan bisa datang dari siapa saja.



Mom - She's the one

Tahun ke dua puluh dua. Bulan dua ratus empat puluh empat. Menit ke sekian. Detik ke sekian. Tuhan masih bermurah hati menyandingkan saya dengan ibu yang luar biasa. Ibu yang selalu (lebih banyak) menjawab “ya” untuk semua permintaan yang saya punya. Ibu yang selalu memberikan saya senyuman tinimbang keluhan (kadang-kadang), dan ibu yang separuh hidupnya telah mengorbankan segala kata, tutur, dan hartanya untuk saya (yang bukan seorang saja).

            Ibu saya bukan sosok spesial. Bukan seorang wanita karier hebat ber tas mentereng. Bukan pegawai negeri sipil yang bisa menggadaikan sertifikat dinasnya untuk memenuhi setiap permintaan saya. Bukan juga ibu yang selalu tampak sempurna di mata saya. Dan  bukan ibu yang selalu bisa memberikan apapun yang saya inginkan. Dia hanya seorang wanita biasa, wanita sabar yang kadang nampak seperti lugu, yang suka bertindak bodoh, yang tidak pernah berhenti mengejek saya, yang terus-terusan berkata bahwa saya begitu menyebalkan, aneh, dan menjengkelkan. Begitu miripnya ibu dengan saya sehingga orang tak segan menuduh saya anaknya. Meskipun begitu, saya tidak tahu kenapa saya sangat sulit mengatakan untuk tidak menyayanginya.

Semua hari mengingatkan pada dia. Semua lagu, semua film, semua tingkah polah aneh yang diperankan orang lain yang tertangkap mata saya –selalu tiba-tiba mengingatkan pada ibu. Otak saya mengingatnya seperti tubuh yang membutuhkan udara. Kadangkala, sekedar membayangkan tidak memikirkan dan menjahilinya seperti saya membayangkan saya yang hidup tanpa udara. Dada saya tiba-tiba sesak, dan mata saya berkaca-kaca.

Perih. Itu saja

Ibu. Tidak cukup semua kata ditumpahkan disini. Di hari kekecewaan saya karena tidak diterima di universitas negeri yang saya coba, ibu tetap tersenyum memberikan saya semangat untuk mencoba lagi. Di hari saya gagal untuk kali kedua, ibu tetap memberikan senyum yang sama, energi yang sama, dan  perhatian yang tetap luar biasa. Di hari kekecewaan saya karena hidup kadang tidak sejalan dengan harapan kita, kita terus bergantian  memberi semangat, berkata bahwa Tuhan selalu adil, bahwa Tuhan selalu adil, bahwa Tuhan amat adil. Semangat saya tidak melulu muncul karena itu, tapi salah satunya karena itu saya tetap bertahan sampai detik ini.

Ibu, di hari kegagalan saya yang beribu kali, di hari mengecewakan untukmu yang kesekian kali, di hari menyakitimu yang kesekian kali, esok harinya kau akan tetap mengamini doaku, mendoakanku, dan berusaha memenuhi permintaanku. Seperti maaf yang tak kunjung habis, saya tahu, airmata saya tidak sanggup melunasi hutang itu, bahkan dengan apapun sampai kelak saya mati. Di balik diammu, tidurmu, ada ketakutan terbesar dalam hidup tidak dapat membahagiakanmu, atau sekedar membalas perhatian itu. 

Bu, kelak, meskipun saya tidak berhasil membuatmu bangga, membuatmu nampak bahagia dengan segala harapan-harapanmu padaku, berdoalah agar aku tetap selalu menjadi anakmu yang ingat semua jawaban “iya” untuk kukembalikan padamu. Berdoalah untukku agar aku tidak dibutakan harta dan lantas mengabaikanmu. Berdoalah agar semuanya tetap sama, agar engkau tetap jadi yang nomor satu.

Ibu, sembari menangis menuliskan dan mengingat semua yang pernah ada, tidak pernah ada habisnya harapan untuk terus bersama-sama. Tetaplah sebagai ibu, sahabat, teman, musuh, apapun, asal tetap bisa bersama bercengkrama. Berbincang tentang apa saja. Saya bukanlah anak yang manis, yang bisa bertutur kata manis, bertingkah menyenangkan dengan memeluknya dan berkata “selamat hari ibu, atau “aku sayang ibu”.

Bu, saya mungkin bukan anak yang sempurna, yang membanggakan, yang penuh dengan kesabaran, tapi berdiamlah sebentar – rayakan segala jawaban iya  dan doa-doamu padaku yang telah berubah menjadi kasih sayang tanpa takaran. Youre the best mom in my life.


Tuesday, 23 December 2014

Dialog dengan Alam

Kita butuh melepaskan sejenak rutinitas yang membosankan, waktu yang terlalu luang, dan segenap kesibukan-kesibukan yang menghabiskan tenaga serta pikiran. Kadangkala kita butuh berdialog dengan alam, mengunjungi tempat yang baru, dan orang-orang baru. Maka tidak asing bagi kita istilah travelling yang identik dengan refreshing, penyegaran. Banyak orang punya waktu luang, tetapi tidak memiliki yang untuk kesana. Ada lagi yang memiliki banyak uang, tapi tak sempat meluangkan waktu sejenak untuk sekedar menikmatinya. sampai akhirnya waktu habis, dan kita tak punya tenaga menikmati secuil dari dunia sekedar untuk menikmati apa yang Tuhan sediakan bagi kita.

Indonesia memiliki begitu banyak tempat wisata alam yang ditawarkan, dan tentunya beragam pilihan kantong. Mulai dari kantong pengusaha, kantong mahasiswa, dan yang terakhir kantong para traveler sejati yang memang merindukan ketenangan.

Dari sabang sampai merauke menawarkan pilihan yang tidak kalah eksotis satu sama lain. Alam yang hijau, alun-alun kota yang berbeda, pemandangan dan budaya baru, bahasa daerah yang asing, sampai pada makanan yang terasa asing bagi lidah kita. Herannya, dengan stigma butuh biaya yang tidak sedikit, perjalanan jiwa ini tetap saja menjadi perjalanan yang digemari banyak orang. Tidak terkecuali saya. Saya menyukai setiap inci tempat baru yang bisa memberi cerita baru bagi saya. teman baru. lingkungan baru. dan pikiran yang baru.

Setiap kali melihat tempat yang baru, jiwa bahagia saya tiba-tiba muncul, tidak harus pada tempat yang sangat indah atau mahal – tidak harus dengan langit dengan pelangi penuh, hanya dengan menatap sawah hijau dan burung-burung yang damai, tiba-tiba saya ikut ditarik ke dunia mereka yang lebih luas – dan saya? Saya semakin merasa kecil ketika tiba di suatu daerah. di satu titik, tidak mengenali siapapun membuktikan bahwa kita bukan apa-apa bagi dunia. 

Dunia sedang menunjukkan kesombongannya pada saya dengan cara yang sangat santun. Alamnya, lautnya, keberagamannya. Dan semuanya.

Tempat yang baru merefleksikan jiwa yang baru. Saya berharap saya, anda, dan kita semua selalu mendapat kesempatan melakukan dialog dengan alam, untuk kemudian kembali lagi dan lagi melakukan perjalanan. Membawa pergi kepenatan, dan kembali dengan jiwa yang segar. Tidak akan ada habisnya menjelajahi alam. Anda hanya butuh niat, dan sekembalinya dari sana, anda pasti akan rindu untuk terus berpetualang. dengan sedikit biaya yang anda sisihkan, cerita dan hikmah perjalanan yang lebih besar sudah menanti anda