.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 15 September 2014

Dendam Mince


/1/

Mince masuk ke kamar melati di hotel berbintang lima itu. Menenteng tas bermerk, mengenakan baju yang menampakkan kutang berwarna kemerah-merahannya. Sementara itu, di sampingnya lemah gemulai Pak Broto merangkulkan tangan di pinggang Mince. Pikirannya kemana-mana, memperhatikan lekuk badan Mince yang sungguh aduhai. Melihat rona merah bibir Mince, mengawasi terus menerus gunungan menjulang di balik dada Mince, sintal- padat - berisi, seperti jantan yang sedang mengawasi betinanya.

Sore ini, jam empat mereka janji bertemu di sebuah hotel. Pak Broto namanya, langganannya sejak lama. Jika harus diceritakan benar-benar fisiknya, sesungguhnya ia sudah tak bisa dikatakan muda lagi, mungkin hampir menjelang senja. Tapi mengingat uang yang akan dia dapat dari lelaki tua bangka itu dan segala upayanya membalaskan benci, Mince memilih mengiyakan ajakannya.

Tiba-tiba ia jijik melihat lelaki tua botak di sampingnya itu. Ia teringat ayahnya.

“Aku kangen kamu, Mince.!”

Tak kurang tiga butir pil kuat sudah diminum pak Broto. Bahkan hingga campuran madu dan telur mentah bersedia diminumnya setiap kali hendak bertemu dengan Mince. Mince tak perduli itu semua. Sambil melepas kancing bajunya satu persatu, Mince gemulai menghampiri. Melangkah perlahan ke arah pak Broto. Melihatnya dari jauh, pak Broto menarik paksa Mince mendekat. Memaksanya bulat-bulat memuaskan hasratnya. Hasrat yang hanya bisa bangkit karena Mince, mungkin karena usia, mungkin karena istrinya yang sudah sama rentanya. Kisut, dan tidak se sintal dulu.

Siapa yang tak kenal Mince? Gadis cerdas, elegant, dan tak suka keterikatan.

Maka itu dia memilih melakukan apapun yang jadi obsesinya. Termasuk menjadi perek simpanan om-om sekalipun.

/2/

Siapapun yang berkenalan dengannya, tak akan menyangka bahwa Mince punya cerita kelam dalam hidupnya, seorang penjaja seks, dan wanita yang tak pernah percaya bahwa pria punya ketulusan. Yang ia tahu, semua lelaki hanya punya nafsu di kepalanya. Dan lelaki-lelaki itu ia ibaratkan seperti kucing yang tak pernah bosan menanam benih ke banyak betina. Mince selalu sinis berbicara tentang lelaki, apalagi lelaki yang sudah memperkosa ibunya hingga lahir Mince ke dunia.

Dia benci lelaki! Terutama ayahnya yang bahkan tidak pernah dia lihat di dunia!

Ia tidak pernah merasa ia memiliki trauma. Ia waras, katanya. Tapi ibunya hampir selalu mengejeknya demikian. “Wanita pendendam”, itu kata ibunya selalu sebelum ibunya meninggal dunia. Mince masih ingat betul kalimat itu.

Pendendam?

Tidak. Dia hanya merasa dia perlu membalas semua tingkah ayahnya dulu yang membuat dia dan ibunya terlunta-lunta. Dan dia ingin melakukan apapun untuk bisa melampiaskan itu. mungkin dengan menjadi simpanan om-om itu, menaklukkan mereka.

Dengan bakat kecerdasan dan kecantikannya itu, ia masuk ke dalam lingkungan terlarang. Mince tahu caranya mengalihkan tatapan. Dia tahu bagaimana caranya menaklukkan orang di hadapannya hanya dengan sekali bicara. Dia punya argument yang mengagumkan. Sekali mendengar bicaranya, banyak lelaki akan tergila-gila padanya.

Pernah suatu ketika Mince didatangi lelaki soleh yang ingin melamarnya. Berdalih ingin meluruskan jalannya hanya karena melihat Mince yang berpakaian seksi dan begitu terbuka. Walau sebenarnya lelaki itu juga tersihir pesona Mince, dan dalih pertobatan itu dijadikan jalan mempermudah niatnya. Menggunakan ayat Qur’an, dalih dosa, neraka, taat, salah, setan dan berbagai ragam tipu daya lelaki soleh yang berkicau seperti burung Beo di depan rumahnya yang dipelihara Mamang Diman.

Ibunya juga pernah bilang tentang dosa. Tapi ia tak mengindahkan itu. dosa hanyalah hal absurd yang tidak bisa dia raba. Tentang dosa, neraka, balasan Tuhan. Siapa bilang Mince tidak takut? Sesungguhnya Mince teramat takut. Hingga hampir separuh dari penghasilannya ia sumbangkan ke panti yang dibuatnya, mendidik mereka, mengentaskan mereka dari kemiskinan, mengajarkan pribadi yang jangan sampai mau bergantung pada orang. Barangkali saja dosanya akan berkurang sedikit demi mengurusi anak fakir, yatim piatu di jalanan. Barangkali saja …

Hanya itu yang Mince bisa. Selebihnya, Mince akan kembali menjadi wanita penuh gairah nan menggoda. Mince, tanpa sadar tumbuh menjadi gadis yang terus menerus dibayangi dendam.

Ia belum berniat mengakhirinya.

Ia masih ingin membalaskan sakitnya.

Sunday, 14 September 2014

Buat anak yang mau kuliah, anak kuliahan, dan mau lulus kuliah.

Yang harus diingat ketika kamu mutusin buat kuliah.

Kuliah jadi ajang belajar, pamer, sok-sokan sekaligus ningkatin relasi dan kreatifitas manusia. banyak yang akhirnya terlahir menjadi generasi lebih mumpuni di umur yang segini ini, umur anak kuliahan maksudnya. (walaupun nggak semua yang kuliah mumpuni dan yang nggak kuliah nggak mumpuni) . Tapi banyak yang belum menyadari, bahwa untuk kuliah, kamu nggak cuman harus nyiapin niat dan uang buat pendaftaran masuk universitas. Ada hal lain lagi yang harus kamu siapin ketika kamu hendak, sudah masuk, dan hampir hengkang dari almamater tercinta. Banyak yang akhirnya bikin kamu nggondok dan males-malesan kalo nggak dipersiapin sejak awal.

Apa aja yang harus disiapin?

Oke, here we go.

Kuliah adalah jenjang pendidikan selanjutnya setelah kalian selesai sekolah menengah awal. Semua orang mimpi bisa kuliah, bangga bisa kuliah dan bayangin sejak dulu kalo kuliah bakalan sekeren dan se asyik yang ada di televisi ftv itu. padahal sih, boro-boro enak, kalian yang tadinya nyaman dituntun – dipapah – disuapin terus sama guru-guru di sekolah yang dulu, sekarang harus mandiri nyari materi sendiri, nyari bahan sendiri, dan bahkan nyari temen sendiri. Mental kuat adalah hal paling penting dan nomor satu saat kalian memutuskan kuliah. Ya enak sih enak aja, keliatan pinternya gitu – keliatan bebas dan asik buat diliat, karena kalian nggak harus pake seragam lagi dan ketemu sama temen-temen yang itu-itu aja. Tapi justru itu salah satu yang harus kalian persiapin.

Yang pertama, kalian harus sadar bahwa dosen di kampus itu bukan ibu bapak guru kalian waktu SD SMP SMA dulu. Yang bisa ngasih tau dan nyontohin semua materi sampe kalian ngerti, ti, ti, ti – sampe kenyang sama pelajaran itu. dosen bisa dikatakan cuman sebagai mediator ketidaktahuan kalian dan kehausan kalian akan ilmu, itupun cuman buat kalian yang ngrasa punya mental baja yang suka nanya-nanya dan debat sama dosen di kelas. Ada sih dosen yang baik dan ngasih materi lengkap sekaligus modul dan copy an file presentasi di kelas, tapi biasanya dosennya nggak bikin semangat – alias bikin ngantuk.

Berbeda 100% sama dosen yang baik ini, dosen yang bikin tegang inilah yang justru bikin kita akhirnya kepaksa belajar. Maka kalian harus pinter-pinter memanfaatkan keadaan dan carmuk sama dosen. Nah, ini point yang kedua. Buat kalian yang pengen nambah relasi dan pinter memanfaatkan situasi kondisi, pandai-pandailah cari muka sama dosen dengan sering baca materi lebih dulu, suka nanya di kelas, atau – RIBUT sama dosen di kelas (lempar pantofel). Dosen-dosen paling gampang hafal sama muka-muka yang begituan. Ada banyak manfaat yang bisa didapetin ketika kalian suka carmuk sama dosen, yang utama ya nilai bisa dikatrol. Soalnya – dosen juga manusia, punya rasa punya hati- jadi buat kalian yang suka carmuk dengan cara positif pasti nilainya bisa dipastikan banyak positifnya. (oke, carmuk disini diartikan positif karena untuk menambah relasi dan ipeka tinggi)

            Yang kedua, organisasi apa yang pengen kalian ikutin. Cara lain untuk nambah relasi dan juga daftar pengalaman organisasi di CV kalian nanti, ya dengan ikut organisasi ini. Mau nggak mau, sekarang semua instansi atau perusahaan butuh pengalaman organisasi kalian. CV TUH PENTING BANGET, MAN! Dimulai dari organisasi ini, kalian bakalan dapet kemudahan yang banyak. Banyak temen, banyak jaringan kerja, dan bisa juga – banyak pacar dimana-mana (*tepok jidat).

Dengan ikut sebuah organisasi, selain kalian melatih kemampuan bertemu dan percaya diri, kamu juga bisa punya jaring-jaring laba super besar pertemanan – dan yang paling penting, kamu punya sertifikat bukti keanggotaan yang bisa buat apply kerja atau beasiswa. Itu aja sih intinya. *ketawa puas.

            Yang ketiga, ini sebenernya point awal sebelum kamu milih jurusan di suatu universitas sih. Kalian harus ngeliatin bener apa akreditasi tuh kampus/jurusan. Jangan sampe kalian masa bodoh dan nggak peduli sama urusan sepenting ini. Jangan mentang-mentang kalian suka aja, terus kalian masuk tanpa mempertimbangkan urusan nilai akreditasi. Ya walaupun nilai bisa berubah dan penilaian setiap perusahaan bisa berbeda kalo liat human/sumber daya manusianya. Tapi nggak boong deh, sekarang semua-mua syarat kerja butuh minimal akreditasi b, dan biar kalian nggak perlu bingung atau putus asa, maka pilihlah minimal akreditasi b untuk jurusan yang akan kalian naungi – kecuali niat kalian kuliah murni ni ni ni untuk urusan cari ilmu saja.Urusan daftar cpns aja nih, kalo kalian nggak jeli sama akreditasi, baru seleksi berkas kalian udah nggak bakal lolos dan itu bikin nyesek ati.

            Yang ke empat, asahlah skill bahasa dan skill lain anda. Ini penting banget! Penting buat diketahui semua kalangan (Walaupun semua juga udah tau), kalau, bahasa adalah salah satu penilaian mutlak dari seluruh seleksi kerja dimanapun anda berada. Yang pokok sih bahasa inggris. Jadi minimal kalian harus menguasai tiga bahasa, yakni bahasa ibu – bahasa indonesia – dan bahasa inggris. Minimal anda bisa speaking lancar dan toefl 450 aja deh ya, itu baru skor minimal, tapi disarankan ya bisa di atas 500 an.  Pada akhirnya akan percuma jika anda pintar nan memiliki nilai ipeka tinggi sekaleee, tapi anda mendaftar di semua bank yang persyaratannya menggunakan test toefl dan anda tidak lolos. (sakitnya tuh diseneeeee*!) dan juga, kursus dan pelatihan tertentu juga bisa menambah nilai anda di mata orang lain. yang terpenting sih bisa meningkatkan kepercayaan diri dan pengalaman buat diri sendiri aja sih.

            Coba deh kalian sebutin perusahaan atau kerjaan apa yang nggak butuh bahasa inggris sekarang? Guru sd? Tk? Atau tukang becak? Mereka juga bisa bahasa inggris sekarang. Bahkan kalo anda nggak punya skill ini, anda akan dipermalukan oleh anak sd yang ternyata bisa cas cis cus ngomong pake bahasa bule. (gilee ini anak siape?)

Dan yang terakhir, and the last, kalian semua yang sadar pengen kerja setelah kuliah dan jadi sarjana harus punya pengalaman kerja dulu. Lucu ya?

Bahasa lainya bisa magang, bisa part time an, atau yang lain deh. Pengalaman kerja bisa jadi pertimbangan suatu perusahaan untuk merekrut kalian, di luar kemampuan management dan bahasa kalian. Banyak dari temen saya yang jadi penulis, penyiar radio, pekerja lepas, volunteer, aktivis, dll. itu semua bisa berasal dari hobi yang menghasilkan uang, atau hobi yang lantas dibayar. enak kan? Dan bukan berarti sarjana adalah semua orang yang pandai dan bisa segalanya. Bagi saya pribadi, sarjana hanya keberuntungan segelintir orang untuk menikmati ilmu dan pengalaman berbeda dalam hal teori untuk kehidupan selanjutnya. Murni bukan praktek. Gimanapun, praktek itu juga nggak kalah penting dibanding teori.

Jadi sebenernya, tips dari saya tadi murni praktek yang harus kalian laksanain sembari kuliah. Waktu yang 24 jam dalam sehari tersebut tidak akan bermakna apa-apa ketika kalian cuman kuliah dan sudah. Ada banyak hal yang bisa digali di luar sana untuk mematangkan kalian untuk kehidupan mendatang. gunain waktu yang sedikit itu untuk terus berkembang. 
 
So, biar kalian nggak rugi cuman kuliah tapi nggak bisa apa-apa, mau pilih yang mana?




Hidup memang sulit.

Orang yang sukses adalah orang yang berani mengalahkan ketakutannya.

Sukses bisa diartikan dengan segala macam ukuran di kepala masing-masing orang. Begitu banyak bentuknya, mulai dari ukuran harta, jabatan, kekayaan, bisa sering bepergian ke luar negeri, punya barang mewah dan bermerk (walaupun semua barang ada merknya), dan masih banyak lagi. Tapi sesungguhnya, definisi sukses bisa lebih sederhana dibanding semua hal tadi.

Bahwa sukses adalah, berani menjalani yang ada di depan mata. Thats it?

Hidup memang sulit. Itu fakta yang harus diterima setiap orang. Hal tersebut masih dipersulit lagi dengan komentar orang, dan reaksi kita menerima komentar tersebut. Suara-suara di kepala yang menyulitkan langkah kita, memperlambat gerak kita. Mau kesana mikir lama, mau kesitu takut dikomentarin yang sana. Begitulah hidup. Kadang-kadang agar nampak manusiawi, setiap dari kita memang sok tampil penuh pengalaman dan perhatian dengan mengomentari kehidupan orang.

Dengan menyadari hidup yang sulit, beberapa dari kita justru mempersulit diri sendiri dengan berimajinasi di luar batas, ketakutan yang tidak wajar yang justru menghindarkan kita dari kesuksesan itu sendiri. Semacam,

“buat apa nyoba, gue kan bodo banget – pasti gue nggak lolos deh”

Atau

“ah gue kan cuman lulusan ini, lulusan itu, mana bisa gue kayak mereka”

Suara-suara semacam ini yang ternyata menjerumuskan kita mengalahkan mister x untuk tampil percaya diri menghadapi dunia. Padahal, di luar suara dan ketidakpercayaan pada diri sendiri tadi, kita masih punya opsi mencoba dan jawabannya:

“Yah, coba aja dulu semampunya, barangkali rejeki gue. Iya deh, gue belajar, nyoba dulu – siapa yang tau kalo nggak nyoba?”

Atau

“Lulusan mana aja juga pasti bisa sukses asal nggak cuman ngayal aja”

Dunia, seperti kursus pada sebuah lembaga, memiliki banyak sekali tahapan yang tiada habisnya. Setelah ujian taman kanak-kanak, sekolah dasar, UN SMP, SMA, SNMPTN, ujian pendadaran, masih saja kita dihadapkan dengan serangkaian ujian lain di depan mata, mungkin ujian mencari pekerjaan, urusan percintaan, atau kematian sanak saudara. Itu level yang tidak akan ada habisnya. Bahkan sekalipun kita mati, kita akan terus menghadapi kompetisi untuk membela diri sendiri.

Jalan lain selain mengeluhkannya?

Ya, jalanin aja. Maju. Lewatin.

Dengan menjalani tahapan-tahapan tadi, kita dilatih percaya diri, belajar menghadapi dan memilih reaksi yang kita terima. Reaksi itulah yang kita butuhkan untuk tetap merasa sukses sekalipun tahapan tadi tidak sebaik yang pernah kita harapkan. Bagi sebagian orang, mungkin kesuksesan tidak diukur dari segala hal tadi, tapi berani tidaknya kita menghadapi persaingan dan belajar dari segala macam kekalahan tadi.

Bagi orang  yang telah mencoba, ada satu tingkat kesukesan yang mereka miliki karena mereka berani mengupayakan satu langkah di hidupnya dibanding seseorang yang lain yang hanya bisa meratapi nasibnya tanpa mencoba. Ada perbedaan besar bagi orang yang mau menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, dengan orang yang hanya sekedar menerima sepenuhnya tanpa berusaha.

Ketakutan dalam diri kita tumbuh berbagai macam bentuknya. Mungkin terlahir karena lingkup keluarga, teman sepermainan, orang tua, atau hanya bayangan sesaat kita yang terlalu ringkih menyadari bahwa hidup itu sulit. Hidup memang sulit. Jangan dibayangkan mudah – semudah artis di televisi mendapatkan pundi-pundi uang. Mereka juga kesulitan. Mungkin bukan dalam hal finansial, tapi di kehidupan yang lain.

Orang tua kesulitan membiayai, menghidupi, mengajari dan mendidik anak. Kita kesulitan mencari sekolah yang cocok, teman yang baik, lingkungan yang positif, kesulitan mencari penghidupan yang layak, dan anda mungkin bisa menyebutkannya lebih banyak lagi. Kesulitan dari hidup itu memaksa kita untuk terus bersaing, dan melompati tahapan agar menjadi mudah. Merubahnya menjadi lebih kuat dan mampu bertahan.

Maka bagi mereka yang tidak mengupayakan apapun bagi hidupnya, dia tidak akan mendapat apa-apa, selain hanya kesulitan itu sendiri. Hidup emang sulit, tapi lebih sulit lagi mereka yang mengingkari hidup.