.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 31 August 2014

Berkaca dari Flo

Kasus Flo bisa dijadikan satu contoh lagi bahan  renungan untuk semua kalangan, terutama remaja yang PALING aktif menggunakan media sosial. Semua unek-unek, keluhan, kritik, berita, curhatan bercampur baur dalam satu wadah  di dalam  ruang maya. Siapa bilang dunia maya menyuguhkan kebebasan sebebas-bebasnya dalam hal memberikan pendapat?  

Justru yang terjadi adalah, indonesia telah memiliki undang undang elektronik yang sekarang dapat dijadikan pedoman dalam bertingkah lagu di dunia maya. Dunia maya sama seperti halnya realita, memiliki batasan tersendiri dalam memberikan pendapat. Sekalipun hal tersebut merupakan suatu kenyataan, kritikan yang dialami sendiri atau fakta yang disembunyikan – tentu akan banyak pihak yang tidak terima dengan statement tersebut, apalagi dalam  kasus flo tersebut membawa nama kota.

Bertahun-tahun menjadi kota pelajar, belum sekalipun saya mendengar komentar yang sedemikian rupa tentang kota Yogya. Kota yang ramah penduduk, biaya hidup dan lingkungannya ini tentu tidak terima dengan pernyataan yang sedemikian rupa menyudutkan, apalagi masalahnya hanya sepele – antri bbm, yang semua orang sama halnya ikut merasakan. Bicara tentang bbm, saya sempat spechless karena dengan kejadian ini saya justru bisa berkaca bahwa masyarakat indonesia adalah masyarakat yang menyukai kerapihan dan kedisplinan. Terbukti bahwa tidak terdapat kongkalikong dalam antrian, semua rapih dan ikut andil untuk menjaga kesopanan sekalipun antrian panjang mengular sampai beberapa kilometer. Dengan komentar tersebut nyatanya bukan hanya orang jogja asli saja yang marah, mereka pendatang yang berdomisili di jogja juga ikut merasa tidak terima karena fakta memang tidak menyebutkan demikian.

Kebenaran bisa dilihat dari sudut manapun, tapi untuk kasus flo yang tidak mau mengantre, tidak diizinkan mengantri di tempat kendaraan roda empat dan marah atau menyatakan itu adalah sebuah diskriminasi jelas bukan kebenaran. Itu dari kacamata saya, kurang bijak rasanya jika keluhan yang tidak benar disampaikan di muka umum sekalipun itu hanya sekedar ditumpahkan di akun pribadi.

Perlu diingat lagi bahwa, akun pribadi hanya mencakup pengaturan dan tata cara masuk serta pemberitahuan saja – selebihnya, ketika anda telah menulis sesuatu hal di media tersebut, hal tersebut sudah berubah menjadi sarana umum yang dapat diawasi banyak pihak.

Kehidupan dunia maya dan realita sesungguhnya tidak jauh berbeda. Orang tidak pernah suka mendengar hal buruk, negatif atau opini yang melecehkan. Pendapat apapun yang berbau sarkas, pelecehan, pengrendahan, penghinaan dan hal berbau negatif lain pasti akan segera menyebar dengan cepat. Itu point pertama yang harus dipikirkan mengingat indonesia adalah salah satu negara yang penggunanya paling aktif di media sosial, jadi jangan heran jika hashtag bertuliskan apapun bisa jadi trending topic dalam beberapa menit saja. Banyak tangan-tangan yang siap meng capture/screenshot komentar kita di dunia maya kemudian disebarluaskan dengan sangat mudah. Semua orang bisa mengakses. Dan selesai. Belum lagi kenyataan bahwa, media sosial adalah sarana paling ampuh untuk menguntit dan menertawai kehidupan orang.

Sekalipun tulisan itu telah kita hapus, masih ada banyak bekas-bekas yang sudah kita tinggalkan dari tulisan itu.

Kasus flo tersebut sebenarnya bukan yang pertama kali. Jika saja banyak yang mau belajar dari kasus Prita, kemudian yang paling baru adalah Farhat abbas yang menggunakan twitter sebagai media penghinaan dan berakhir di ranah hukum. Masih banyak kasus serupa yang bisa dijadikan contoh, seperti pelatih sepakbola yang justru dipecat setelah menulis tweet gaji terlambat diberikan, ini pembelajaran bahwa media sosial haruslah digunakan secara bijaksana. Begitupun dengan cara kita menyikapi kemarahan flo terhadap antrian bbm yang sekarang sudah kembali normal. Ketika berita ini belum sampai ke media nasional, saya sebagai warga jogja berusaha menyikapinya dengan biasa saja walaupun tidak dipungkiri ada rasa tidak terima dilecehkan seperti itu, tapi apa gunanya anda ikut mengolok-olok flo – menggunakan gambar flo sebagai meme lantas dijadikan DP – Foto profil dan lain sebagainya, itu sama saja mengenalkan pada banyak orang bahwa anda adalah seseorang yang juga mudah terbawa emosi seperti yang kali ini sedang anda jadikan bahan lelucon.

Belum lagi turut membawa nama institusi dan mengambil background pendidikannya, toh saya pikir cara pikir seseorang tidak berhubungan banyak dengan dia kuliah dimana atau dimana. jadi jika anda tidak ingin kejadian tersebut berulang, dipecat dari pekerjaan, diputuskan pacar, dibuang dari kehidupan sosial, bertindaklah bijaksana.

Yang terakhir, ada hikmah dari kasus ini. Setidaknya kita diajak mengelola hati dan pikiran bahwa bertindak gegabah lebih banyak merugikan. Kota yogya yang berhati nyaman harusnya diilihami penuh oleh penghuninya. Kita, adalah warga yang berhati besar, sudilah kiranya jangan berlebihan  menghukum flo dengan terus mengejek (toh flo sudah cukup mendapat teror, hukuman sosial, dan juga proses hukum). Kita diberikan pelajaran, dan mungkin – bagi kalian yang masih kesulitan mencari judul skripsi, anda bisa mengolahnya untuk diteliti.
Selamat minggu siang.  Semoga semua diberi yang terbaik.

Saturday, 23 August 2014

Klik begini, Klik begitu.


Gara-gara sering liat acara sebelas dua belas di kompas tivi tiap jam sebelas malam sambil bikin donat, saya jadi tahu, kalaaau ternyata cowok-cowok menganggap bahwa ukuran “nyaman” yang jadi syarat bagi cewek itu termasuk salah satu syarat yang absurd alias sulit dimengerti. Susah aja gitu. Soalnya kepala cowok sama kepala cewek jelas beda. Padahal, bagi saya, nyaman itu gampang banget buat dijelasin, ya walaupun tingkatannya emang paling sulit dibanding ukuran beberapa cewek lain yang menjadikan mapan dan tampan jadi syarat cintanya.

Jadi hierarkinya begini, 1) tampan; 2) mapan; 3) nyaman.

Tapi mungkin bener apa kata Pandji Pragiwaksono, ukuran nyaman bagi mereka para lelaki yang jarang menggunakan signal hati emang susyah bin syulit. Sesulit mereka naklukin para wanita kalau udah bilang nggak nyaman sama mereka. Cewek itu signalnya beda sama cowok. Mereka nggak gampang geer (kecuali beberapa) sama perhatian-perhatian kecil dari cowok, karena mereka tahu bisa aja itu cuman perasaan mereka. Beda sama cowok, kalangan mereka gampang banget ke geer an, katanya.

Oke, dari kacamata cewek yang sering banget bilang kata-kata itu. Nyaman adalah suatu hal yang menjadi mediator atau penyambung antara si itu dan si anu. Itu bahasa ilmiahnya (rusak ya bahasa gue, haha). Kalo bahasa gaulnya, nyaman itu hal yang bikin si cewek bisa klik ngapa-ngapain. Enak. Aman. Dan nggak perlu pake topeng atau make up ketebelan.

Syarat utamanya adalah hati si anu dengan itu bisa “KLIK”. Mau curhat dia nggak perlu jadi siapapun buat curhat, cukup jadi diri sendiri yang bisa marah-marah lepas, ketawa puas, ngambek seenaknya sama si cowok – dan si cowok ngerti aja pokoknya. Dalam pengertian ini, si cowok adalah makhluk pengertian dan perhatian di hadapan si cewek itu (ukuran nyaman itu relatif jadi ya begitu aja)

Mau maen, si cowok lebih banyak oke atau iyanya kalo diajakin. Mau makan si cowok juga musti nurut kata cewek. Pas si cewek lagi butuh tempat ngadu, ya cowoknya bisa jadi sampah pribadi yang nggak bakal ember dan gosip aib si cewek kemana-mana. Pas butuh temen, si cowok bisa jadi tempat yang paling asyik buat bincang-bincang (di percakapan asli atau lewat gadget) Pokoknya yang bisa bikin si cewek jadi diri sendiri, nggak perlu munafik, nggak perlu jadi orang lain buat ngapa-ngapain.

Itu ribet ya emang ?

Hehe, saya akhirnya harus mengakui kalau definisi nyaman memang susah dijelaskan. Ribet juga sih. Harus bisa ini itu. harus bisa ngapa-ngapian. Tapi sebenernya nggak gitu-gitu banget kok. nyaman itu gampang buat dirasain, yang susah cuman dijelasin. Nah loh? Gimana ya.

Gini loh, setiap cewek akan selalu bilang nyaman ke cowok yang disukai. Jadi kalo dia udah bilang nyaman sama cowok, itu bisa jadi kode bahwa dia suka sama tuh cowok. Tapi perlu diperjelas bahwa, cewek yang ngomong udah nyaman temenan akan sulit berpindah dari hubungan teman ke hubungan percintaan. Mungkin kayak saya. Saya ini ngebatesin banget yang namanya temen sama cinta. Kalo udah terlanjur temen ya susah buat diotak-atik. Jadi bukan maksudnya nge friend zone in, tapi emang dari awal yang udah temenan baik ya temenan aja.

Kalo mbahas friend zone saya jadi pengen mbahas lebih panjang nih. Friend zone ini sebenernya istilah bagus buat hubungan cewek cowok. Hubungan yang akrab tanpa direcokin apapun, ya kalo mau perhatian bisa ke siapa aja kan?  Sodaraan aja gitu. Kita jadi soulmate. Best friend gitu. Cewek sama cowok yang temenan nggak harus berujung di jadian kan? Ya pyur temen aja.

Jadi seolah-olah pelaku FZ adalah jahat, sedangkan mereka polos.  Mereka aja tuh yang ngrasa di pehape in akhirnya bikin istilah ini buat membenarkan bahwa mereka adalah pihak yang terdzolimi. Kalo dari awal si cewek udah bilang temenan aja dan kekeeeeuh bilang temenan, ya harusnya nggak usah ngarep lebih dong ya? Nanti si cewek cuman nanya apa kabar dikira nge friend zone in.

Ada yang nggak tau arti friend zone? FZ ini punya beberapa arti. Bisa teman tapi mesra, temenan rasa pacaran, dan yang terakhir temenan yang diubah sendiri kayak ada hubungan. Bisa dicurigai dalam FZ ada salah satu pihak yang ke geer an pada salah satunya karna salah paham aja. Nggak mungkin terjadi FZ kalo salah satu menyadari kalo si cewek udah punya pacar, atau nggak punya perasaan, atau emang maunya temenan aja. Jadi bukan maksud tukang pehape. Cewek mana sih yang nggak suka diperhatiin? Tapi batas perhatian itu pasti ada mentoknya.

Balik lagi ke nyaman. (kapan-kapan saya jadiin judul tersendiri buat FZ ini)

 Bagi para lelaki, ukuran nyaman cewek itu nggak banget buat dijadiin bahasan. Kadang ada nyaman yang karna bisa diajak kondangan sama maen (ini pasti si cowok ganteng nan tampan), kadang ada yang nyaman karena si cowok nurut aja sama apa yang dibilang ceweknya (ini type cowok ngalahan), kadang-kadang juga karna ada yang nyaman karna si cowok bisa ngasih apaaaaa aja yang ceweknya minta alias si cowok kaya raya. Ini realistis atau idealis ya?

Saya pikir perbedaan pola pikir antara wanita dan pria yang bikin mereka susah menerjemahkan arti nyaman di kalangan mereka. Cewek itu pake "feel", pake hati, jadi tolak ukurnya ya tanya aja sama hati. Walaupun sebenernya arti nyaman itu emang nggak bisa selalu sama di kepala setiap orang. Ya pokoknya nyaman aja gitulah, nge KLIK di hati. Beda sama cowok, yang bisa sama cewek mana aja asal si cewek mau, kalo cewek harus pake seleksi hati dulu. Misal ada beberapa cowok yang nembak, yang dipilih pasti yang paling nyaman di hati.

So, saran buat para lelaki, jadilah kasur empuk yang bisa bikin para cewek nyaman sama kalian.
# penggunaan istilah kasur bukan merujuk pada hal jorok, hanya istilah yang saya sukai untuk tempat yang benar-benar nyaman untuk menghilangkan kepenatan.

Friday, 22 August 2014

Kita semua berubah

Semua yang ada di dunia akan berubah. Kaki-kaki mungil kita akan berubah, jam dinding berubah, detak waktu, ukuran, berat, idealisme, dan sederet aturan di dunia akan berubah. Perubahan akan selalu mengelilingi kita bahkan sampai kiamat nanti. Semuanya berubah. Bahkan perubahan itu sendiri. Keniscayaan membawa kita pada keharusan untuk menerima perubahan itu sendiri. Di zaman serba tekhnologi ini, yang tidak pandai menggunakan “alat” akan sulit mengemudi. Yang tidak cerdas mengelola “alat” akan dianggap kurang mumpuni. Idealisme kita akan terus berubah menyesuaikan kepentingan.

Saya hanya berasal dari embrio kecil dan kini berubah menjadi sedemikian besar.  Baju-baju yang dulu imut, sekarang sudah tidak muat lagi. Jejak tangan di tembok yang menggemaskan, kini hanya bisa sekedar jadi kenangan. Foto-foto di album yang tertata rapi di rak, akan jadi pengantar ingatan mengulang kehangatan. Lingkungan berubah. Termasuk manusia yang menjadi pelaku perubahan. Detik ini belum tentu akan sama dengan detik ke depan. Akan ada banyak hal yang berubah dan kita harus siap menerimanya.

Tentang keluarga, akan ada waktunya aku - kamu – kita pergi, saudaramu, atau orang yang kita sayangi lainnya. mungkin berpisah ruang dan waktu, mungkin harus berpisah alam.

Teman, begitu banyak teman silih berganti. Yang sejatinya kamu tau bahwa, mereka hanya sekedar titipan dan selintas lewat. Hanya sebagai teman, menemani, pendengar, bukan penyelesai apapun yang terjadi pada hidupmu. Mungkin nanti temanmu tidak akan sehangat dulu. Seramah dulu. Atau sebebas dulu. Mereka berubah karena perubahan.

Hati. Jika dipahami bahwa hati selalu bisa berubah, tentu semua orang akan menyadari dengan cepat bahwa, sesakit atau sebahagia apapun – semua itu akan berbeda di kemudian hari karna diri kita selalu senantiasa menyesuaikan diri dengan perubahan. Sakitmu dulu tidak akan sesakit sekarang. Luka yang lalu tidak akan se terluka sekarang. Semua berubah.

Bertemu teman baru, keluarga baru, partner baru, dan... cinta yang baru.

Di ruangan petak berukuran tiga kali empat ini, saya hanya sedang menikmati sebuah perubahan. Ada anak yang tumbuh besar. ayah yang tak kuat lagi menggendong tubuh kita. ibu yang tak kuat lagi terus menerus memapah kita. lingkungan yang semakin padat. Jalanan yang semakin ramai. Dan cinta yang terus berganti sampai berakhir nanti.

Saya berubah menjadi seorang kakak. Tante. Keponakan. Saya menikmati rumah yang menua. Usia yang menua. Kaki-kaki yang mulai gampang kesemutan. Badan yang tidak ringan. Perubahan yang terjadi pada saya, keluarga, dan kehidupan saya. Siapa yang tidak bersaing dengan perubahan, akan tergilas oleh perubahan itu sendiri.

Saya menikmati pemandangan ini ...

Adik saya yang beranjak remaja. Ibu saya yang semakin bijaksana. Dan saya yang tergerak untuk belajar lebih dewasa ...


Berani malu nggak?



Sial. Sori kata awalannya harus itu, tapi lagi-lagi emang harus bilang sial. Dia lagi, dia lagi. Gue bakalan keliatan bodo banget di depan temen-temen kalo ternyata mereka tau kalo gue masih suka sama orang yang sama. Cowok yang sama yang dulu pernah bikin gue sebel, dongkol, sekaligus orang yang paling ampuh bikin gue kangen dan ngecek hape sambil guling-guling. Dia ini, ouch ya walaupun gue nggak pernah sesumbar bilang kemana-mana, tapi temen yang sekaligus ngaku emak gue pasti tau gimana raut muka gue kalo merhatiin dia. Gimana lirikan mata gue kalo ngliatin dia lewat. Pliss, jangan bayangin lagunya ungu yang cinta dalam hati. Gue nggak cidaha kok, gue udah pernah bilang – tapi nggak dapet tanggepan. (Lempar bata)

Aneh kan?

Kita dikasih akal buat mikir mana yang baik mana yang enggak. Mana yang berpotensi diterima atau enggak. Biar ngurangin tuh resiko kecewa, nangis bombay, dan patah hati beserta sodara-sodaranya itu. Tapi di samping itu, kita juga dilatih sama lingkungan buat terus berusaha, pantang menyerah. Jangan ragu buat terus usaha. Maju terus pantang mundur. Bahkan banyak banget slogan yang keluar apalagi urusan percintaan.

“Cinta ditolak, dukun bertindak. (sadis!)”
“Sebelum janur kuning melengkung, masih boleh diterobos.” (ekstrem ya)
“Ditolak satu, akan tumbuh cinta seribu.” (kayak embek deh)

Ini  nih hebatnya lingkungan kita. Ngajarin semangat empat lima buat ngelawan banyak hal. Harus strong. Yang penting usaha aja, urusan ditolak atau dikata-katain ya bodo amat (oke, ini buat yang nggak punya muka dan malu aja sih) –

            Bahwa jangan berhenti sebelum perang. Jangan mau kalah sebelum bertanding. Wajar sih. Setiap orang emang harus usaha dulu, jangan lemes sebelum nyoba. Apalagi buat kalangan muda yang katanya hati dan semangatnya sekuat baja. (Lo aja kali, bukan gue)

Tapi ...

Sekali lagi, tapi gue kan cewek. Malu dong harus ngejar-ngejar cowok duluan. Malu dong harus bilang sayang duluan. Dan sederet malu-malu lainnya lagi yang kalo dilakuin bakalan bikin nama kita punya gelar baru, cewek MALU-MALUIN. Tuh kan, udah usaha ngilangin malu, ditolak, dikatain malu-maluin pula. Ini resiko awal. yaa, walaupun sekarang katanya emansipasi. cewek boleh ngapa-ngapain duluan. cewek sekarang juga banyak yang nembak duluan. tapi tetep aja, gue inget banget kata-kata dari salah satu sahabat "kalau tidak malu, berbuatlah sesukamu".  Maka atas dasar malu ini saya lebih banyak menyimpan sesuatu.

Resiko selanjutnya adalah, cerita-cerita itu bakalan nyampir di telinga cowok lain. Pertama sih ke temennya doang, abis itu ke temennya temen, terus lanjut ke temen temennya temen, jadi deh tuh lingkaran besar pertemanan yang menyebarkan aib memalukan kita yang  bakal kebuka di masa mendatang. Kalo gue sih berdoa semoga nggak bakal ada lagi cowok ember dan nyinyir yang ada di muka bumi ini. Buang jauh-jauh cowok nyinyir yang mulutnya kayak cewek, lemes dan hobi banget gosip. Udah cukup cewek aja yang kebanyakan dosa, jangan ditambah cowok yang ember juga. Ini mungkin bakal diprediksi jadi salah satu tanda kiamat oleh kiai-kiai di luar sana.

            Oke, back to theme, Kita emang bisa milih akhirnya nikah sama siapa. Hidup di masa depan sama siapa. Tapi jeleknya kita nggak bisa milih suka dan sayang sama siapa. Jahat kalo akhirnya yang kita sayangin nggak sayang kita juga, walaupun sebenernya resiko yang harus disadari dari awal adalah, mereka yang kita suka belum tentu suka balik sama kita. Itu urusan hati. Nggak bisa juga diprediksi. Mungkin juga mereka ternyata di luar sana lagi jatuh cinta diem-diem sama cewek lain. Jadi judulnya, mengejar cinta yang tak terkejar. Gue suka dia, dia suka itu, itu suka ini. Muter-muter yang nggak ada habisnya.Tapi ya mau gimana lagi, sayangnya emang udah terlanjur dia. udah terlanjur dia yang kepilih. mau sebelnya kayak gimana, mau bencinya kayak gimana, selama kita masih ngrasa suka dan gamau move on - ya akhirnya tetep bakal dia yang kita kangenin, sekaligus pengen diilangin.

Dan tulisan ini bakal saya akhiri dengan, whatever hati kita mau nemplok di siapa. ini salah satu pelajaran terbaik yang dikasih tuhan. bahwa suatu waktu nanti, ketika kita dihadapkan pada orang yang tidak kita pilih, kita bisa lebih bijak menyikapi - bahwa hati kadang emang tidak bisa diprediksi.

Ini cuman soal urusan, berani malu atau enggak kamu?