.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 8 July 2014

Salam Jempol ID

Besok tanggal 9 juli. pemilu pilpres untuk 5 tahun kemudian.

Saya ingin ikut berpartisipasi merayakan euforia demokrasi dengan menulis di blog ini. Kurang dari 60 menit tanggal akan berganti, dan saya pikir semua sudah siap dengan pilihannya masing-masing. Nomor urut 1, atau nomor urut 2.

Kedua pilihan tadi sama memiliki kelebihan dan kekurangan, kebaikaan – keburukan, di luar itu semua kewajiban kita hanya satu, meyakinkan diri sendiri – untuk lantas memberikan suara agar tanggung jawab negara berpindah kepada salah satu dari mereka. Soal kelebihan dan kekurangan, mungkin ada baiknya hanya Tuhan dan jejak rekam sesungguhnya yang tahu. Walaupun kita tidak dapat melepaskan semua hal itu untuk sebuah penilaian.

Beberapa hari lalu ...

Saya sempat muak dan enek dengan berbagai macam status membela capres cawapres pilihan orang lain yang bernada menjelekkan, merendahkan, bahkan mengkafirkan. Hal tersebut juga terjadi di dalam rumah saya sendiri (oke saya masih numpang :D). Perasaan tersebut mungkin dialami oleh beberapa orang dari saya, atau mungkin malah sebagian besar. Jika diamati di seluruh media sosial, kampanye besar-besaran sedang terjadi. Ya, saya tahu, demokrasi terjadi di semua lini. Hingga akses/sarana untuk refreshing saya ikut-ikutan dimasuki untuk berdebat hal yang setiap harinya sama. Facebook rame saling sindir, twitter apalagi, portal berita online lebih gila lagi. Semua berita serasa tidak segar kalo tidak membahas prabowo, atau jokowi.

Ya, sebagai seseorang yang memahami betul kebebasan berpendapat, saya menghargai pendapat seseorang terhadap keyakinannya. Alasan-alasan kenapa harus memilih si dia, atau apapun juga di dalam opininya. tapi, bagi saya pribadi, menuliskan pilihan dan sederet alasannya di media sosial bukanlah tempat yang tepat untuk demokrasi – apalagi dengan bau nyinyir saling menjelekkan dan merendahkan. Status atau tulisan apapun yang berbau politik di waktu yang sekarang akan sangat sensitif bila dikaitkan dengan pemilu kali ini. Lebih khusus lagi, tulisan seseorang tentang siapa yang dia sukai/tentang siapa yang dia pilih selalu berpotensi mengarah terhadap ajakan atau himbauan agar memilih si orang ini dan mengabaikan orang itu. ya, itu wajar, mengingat tulisan menjadi salah satu langkah paling efektif untuk meracuni pikiran orang. Hal tersebut dapat dilihat dari menjamurnya berita, opini, bahkan surat menyurat terbuka dari satu pihak ke pihak yang lainnya. bahkan saya tidak tahu sudah berapa teman pena yang mereka dapat dengan saling berbalas surat dan menjelekkan satu sama lain itu. 

Menulis status merupakan salah satu bentuk karakter seseorang. Kamu, adalah apa yang kamu tulis. Bahasa yang kamu gunakan, pemilihan kosakata yang dipilih menunjukkan bagaimana level seseorang dan karakternya. Maka jika ada seseorang yang berani berkata kasar/merendahkan orang lain, bisa jadi suatu gambaran bahwa – orang tersebut menjelekkan dan mengasarkan bentuknya sendiri di hadapan orang lain. Padahal, kita dapat menahan diri di berbagai situasi yang lain - tapi akhirnya harus kalah pada situasi yang mudah terpancing seperti sekarang ini.

Negatifnya, menurut saya, hal tersebut bahkan dilakukan oleh orang yang seharusnya dapat mengerem dan menjaga tingkah polahnya. Hal tersebut dilakukan oleh orang yang seharusnya bisa dijadikan panutan untuk siswanya. Oke, abaikan sikap ini. Semua orang mungkin berpeluang menjadi kekanakan dalam satu keadaan, dan berubah menjadi dewasa di keadaan lainnya. Dan saya tidak berhak ikut mengejudge siapapun yang telah melakukannya. Kedewasaan mungkin tidak berkaitan dengan usia, apalagi strata. Kedewasaan murni karena tempaan lingkungan dan teman. Apalagi hal tersebut sudah dibumbui dengan perasaan dan fanatik, kita tidak akan bisa menjamah argumennya karena hal tersebut mutlak didasari pada suka dan tidak suka, bukan fakta/opini. Maka jelas, disini berlaku hukum – siapapun yang disukai akan nampak baik, dan yang tidak disukai akan nampak buruk.

Semua bermula dari kesukaan, keyakinan, kesubyektifan seseorang memberikan suaranya. Disadari atau tidak, perasaan suka atau tidak suka itulah yang membuat kita memberikan asumsi buruk bagi yang lainnya, walaupun tidak seharusnya kita bersikap kekanak-kanakan ketika menyukai seseorang lantas menjelekkan pihak yang satunya lagi. Issue-issue buruk mulai menyerang kedua belah pihak, yang sejujurnya hanya berkutat pada hal yang itu-itu saja. Prabowo dengan issue pelanggaran ham nya, dan jokowi – dengan bonekanya mega. Yang saya sesali lagi adalah issue agama yang menyerang salah satu pihak dan hal tersebut justru dimulai oleh kalangan kita sendiri. Dengan mudahnya mengharamkan atau menghalalkan padahal mereka menjadi panutan. Inilah yang kemudian membuat saya berhati-hati, karena saya tidak tahu bagaimana cara mengkafirkan – dan mengharamkan seseorang. 

Jujur, saya malah jadi bingung untuk memilih siapa, ketika dua belah pihak justru berbalas saling menjelekkan. Menjadi tidak jelas siapa yang tidak jelek jika kedua belah pihak saling menjelekkan. Belum lagi berita semakin simpang siur. Saling meledek dalam sesi debat. Satu kesalahan menjadi fatal padahal kita adalah makhluk yang tidak pernah tidak salah. Seolah, kita menginginkan seseorang yang sangat sempurna untuk dipilih, padahal kita pun tidak akan sempurna. Maka hal yang baik di situasi demikian adalah, cukup menunjukkan kesungguhan dan niat baik, lantas seluruh warga negara indonesia akan memberikan suaranya. Masyarakat kita sudah cukup cerdas untuk memilih mana yang baik atau buruk, memilih mana yang pantas mana yang belum. Kesalahan di masa lalu mungkin pernah dilakukan salah satu pihak, tapi bukan berarti pihak lain akan menjadi lebih unggul dengan mengungkit aib masa lalu pihak lainnya. kita membutuhkan pemimpin yang saling menghargai dalam berbagai keadaan. Yang menerima dan mau berbesar hati dalam kemenangan atau kekalahan.

9 juli hanya beberapa menit lagi ...

Lakukan dengan santun untuk membela dan memilih seseorang yang kalian yakin akan membawa perubahan. Seperti ladya cheryl yang ikut membersihkan sampah setelah konser salam 2 jari untuk perubahan. Seperti ustadz salim A. Fillah yang memberikan surat demikian indahnya untuk prabowo tanpa merendahkan pihak lain, seperti darwis tere yang memilih diam untuk tidak membuat orang lain teryakinkan dengan pilihannya karena ketidaktahuan, dan beribu orang lainnya lagi yang memilih diam – namun tetap yakin untuk memilih, tanpa harus saling menjelekkan. tunjukkan kedewasaan dalam sebuah pilihan.

Kita saudara. Mau siapapun presidennya, kita tetap harus berjuang bersama.

DEADLINE!

1.       Penting nggak sih nulisin semua target yang pengen kita capai? Yang satuan, kiloan, atau bahkan ribuan? 

2.       Penting nggak sih nulisin semua itu dan semua orang bisa baca semua keinginan kita itu? duh, jangan-jangan masuk ke kategori sombong, atau sesumbar?

3.       Penting nggak sih ngayal?

Oke, setiap dari kita pasti punya pendapat yang berbeda-beda sama dua pertanyaan di atas tadi. Pro kontra sudah tentu ada. Yang kalau diringkas paling-paling cuman akan dapat kesimpulan mentok bahwa, “ya perlulah, kita kan butuh pengingat – biar selalu inget sama tujuan awal (walaupun kadang kegeser sama kerjaan, atau pacar :D)”, dan “enggak penting banget ah, takut nanti dikira sombong, mendingan dipatri aja di hati sama pahat di otak. Fokus sendiri biar nggak malu klo nggak kecapai”. 

Tapi saya nggak niat nulisin pro kontra dari pertanyaan tadi. Pertanyaan yang sebenarnya saya ajukan juga buat diri sendiri itu. itu pertanyaan umum, saya yakin semua orang pasti pernah mbatin, atau sekelebat aja kepikiran. Tapi saya cuman pengen mbahas, seberapa pentingnya membuat resolusi – sekaligus deadline buat diri sendiri. Dalam kurung sekali lagi, UNTUK DIRI SENDIRI.

Setiap manusia pasti punya yang namanya impian, harapan, asa, cita-cita, dan sederet sinonim dari harapan tadi yang pasti kalo didaftar lebih dari jumlah asli penduduk di seluruh dunia. Satu orang manusia aja bisa menyimpan seribu harapan untuk dirinya sendiri, waw kan? Maka itulah salah satu pentingnya mencatat dan membuat resolusi bagi diri sendiri. Saya? Oke, saya juga punya lebih dari sepuluh jari tangan untuk menghitung berapa banyak yang sudah saya daftar.

Refleksi keinginan kita dari waktu ke waktu selalu berubah, kadang kegeser sama hal lain klo udah nemu lingkungan dan hal lain yang baru, kadang malah sengaja dilupain karena males dan ngrasa ditinggalin, walaupun sebenernya dalam skala prioritas keinginan itu menduduki peringkat pertama. Untuk alasan kegeser hal tersebut bisa dimaafkan karena hidup kita selalu bergerak, dinamis, dan tidak pernah statis, terlebih untuk mereka kalangan “nrimo ing pandum”. Tapi untuk alasan kedua, yaitu lupa, hal tersebut bisa diantisipasi dengan me-reset ulang sistem otak kita, atau bisa sebagai tombol on jam  weker/alarm untuk mengingatkan kita kapan harus begini kapan harus begitu. Kapan harus istirahat, kapan harus maju.

Lupa adalah penyakit semua dari kita, maka wajar jika menuliskan sebuah keinginan, menuliskan cerita atau memotret kejadian dipilih menjadi salah satu alternatif membangkitkan kenangan. Kita dibantu untuk mengingat kilas balik kehidupan dengan tulisan, catatan kecil, status di media sosial, dan foto-foto. Maka, menuliskan semua yang sempat terlintas untuk menjadi harapan merupakan salah satu penggerak kita untuk terus fokus mewujudkan, walau kadang, tetap saja tidak sesuai harapan. Saya seringkali menuliskan semua keinginan saya, refleksi mimpi saya, bahwa saya ingin punya toko buku, punya swalayan, punya suami yang sabar, punya anak kembar, dan bla-bla-bla nya yang jika didaftar tidak akan muat seluruh ingatan saya mengenangnya satu persatu.

Mungkin akan hilang sebagian, mungkin akan bercampur di sebagian lainnya. Ini keterbatasan manusia.

Saya punya beberapa notes, atau lebih familiarnya semacam buku tagihan hutang untuk mencatat semua kegiatan saya dari dulu. Saya punya itu sejak mts. Mungkin ada bertumpuk-tumpuk buku. Tapi yang paling saya ingat adalah, ada 5 buku serupa yang mencatat refleksi saya itu sejak sma. Curhatan-curhatan anak labil. dan yang terakhir, harapan saya untuk bisa menyelesaikan skripsi bulan mei, les minimal dua kali seminggu, menulis blog sebulan minimal 3x, kursus bahasa inggris bulan april – juni, menabung, dan bla-bla-bla.  

Apakah semuanya sudah tercapai? Saya ingin tertawa kalau harus memberikan jawaban gamblang ini semua.

Dengan jujur, saya katakan belum.

Kenapa?

Apakah karena saya tidak pernah membaca atau membuka catatan itu?

Tidak, bahkan hampir setiap hari saya selalu membukanya dan memberinya catatan baru.

Lalu?

Alasannya lebih kepada, saya mulai sengaja melupakan deadline yang saya buat sendiri. Saya membuat janji, dan saya mengingkarinya sendiri. Dosa nggak sih?

Saya pernah menanyakan ini pada senior saya di aliyah dulu yang kuliah di negara islam sana. Dan jawaban yang saya dapat cukup menenangkan hati, walaupun tidak sepenuhnya bisa jadi pembenaran. Katanya, janji kepada diri sendiri – asal tidak berbau nadzar/melibatkan orang lain dan tidak ada yang mendengar tidak masalah ditepati atau tidaknya. Tapi sialnya, saya masih saja merasa berdosa. Sederet deadline yang saya buat tadi, tergeser dengan aktifitas saya di tempat kerja. Dan walaupun tidak pernah ada yang tau atau membacanya, SAYA MALU, SANGAT MALU. Dosa saya memang tidak dapat dihitung dengan pasti, tapi perasaan malu itu selalu ada sekalipun tidak ada yang tahu saya memiliki keinginan apa dan bagaimana caranya.

Soal catatan di buku tadi - Skripsi saya memang sudah selesai, tapi tidak tepat bulan mei. Les saya memang bisa seminggu dua kali, tapi hanya 1 anak, dan itupun kadang saya lupa menyelipkan ilmu ngajinya untuk si anak tadi. Kursus inggris? Kendala awal biaya selalu jadi alasan, ini mungkin salah saya yang lupa pada niat awal, hingga uang yang ada selalu digunakan untuk hal lainnya. Menulis di blog rutin? Puasa lagi? Itu bahkan belum bisa dimulai lagi secara rutin walaupun sesungguhnya saya merindukan hal-hal di atas tadi. Kerinduan atas hal-hal yang menentramkan memang tidak bisa disembunyikan. Saya menyukai dunia membaca, dan tulis menulis. Dan parahnya, saya mengingkari keinginan diri sendiri.

Dan inilah pointnya.

Saya akhirnya tahu persis bahwa, semua hal yang kita tuliskan memang tidak selalu jadi kenyataan. Tapi memberikan kita motivasi berlebih untuk terus diwujudkan, untuk terus dilaksanakan. Sedikit demi sedikit suatu hal yang kita lakukan akan memberikan hasil. Itu benar. Sistem tanam tuai berlaku disini. Hal ini juga bisa jadi tolak ukur perkembangan kita dari tahun ke tahun, peningkatan sekaligus evaluasi diri. Ada banyak sekali ingatan yang bisa kita kembalikan dengan selembar catatan.

Banyak dari kita yang menuliskan keinginan itu dalam huruf besar, atau bahkan font ukuran besar semua tujuan kita untuk lantas ditempelkan di seluruh sisi rumah. Di pintu kamar, di dinding, di tembok ruang tamu, dimanapun, untuk mengingatkan kita bahwa masih banyak yang harus kita capai. Masih banyak yang harus kita kerjakan. Dan untuk melupakan semua yang terlanjur kita tulis, akhirnya kita malu mengakui bahwa tekad kita tidak sebesar niat.

Pada akhirnya, ketiga jawaban dari pertanyaan di atas adalah.

Ya, penting. Menuliskan semua harapan bagi diri sendiri amat penting. Kita butuh resolusi. Untuk perbaikan diri. Untuk tidak berpasrah menerima keadaan yang sama terus menerus. Perubahan hanya kita yang dapat mengusahakannya sendiri. Terserah anda mau menuliskannya di kepala masing-masing, dalam bentuk tulisan, atau menyampaikannya pada orang lain agar ada pihak aktif yang mengingatkan– niat utama hanyalah sebagai jalan lain bagi yang sering dilanda kelupaan, dan menghindarkan kita pada malu. mendapat cap pemimpi sejati atau penghayal? hanya pemimpi yang dapat mencapai mimpinya. untuk seseorang yang tidak pernah bermimpi, bagaimana bisa dia mencapai apa yang tidak pernah diimpikannya?

Pada kenyataannya, tulisan itu mensugesti kita membuat perubahan.