.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 26 June 2014

Hamdalah

Mungkin tulisan ini tidak dapat berarti apa-apa, sebuah kedewasaan, curahan, atau apapun yang bisa kalian bayangkan. Hanya saja, lama tak menumpahkan isi kepala dalam sebuah tulisan. Dan saya rindu. Yang saya ingat …

Beberapa waktu lalu, saya masih saja mengeluh tentang banyak hal. Tentang skripsi yang tak kunjung selesai, tentang teman yang kadang datang kadang pergi, tentang hati, tentang risky.
Lebih jauh lagi, 6 tahun yang lalu - saya juga masih mengingatnya, bahwa saya mengeluh jauh lebih banyak lagi. Tentang tuhan, dan banyak hal.

Dan sekarang, keluhan itu belum juga usai. Saya masih jadi manusia labil dan penuh dengan keluhan. Tapi saya belajar. Dan saya mulai menyadari, bahwa mungkin inilah rentetan kehidupan yang harus kita rasakan. Tidak ada yang bisa melawan apapun itu, kecuali sekedar menjalani. 

Mungkin terasa belum lama ketika saya merasakan waktu-waktu sulit pertama kali masuk ke universitas. Tanpa teman, tanpa kenalan, dan tanpa pengalaman. Semua berjalan sebagaimana adanya. Teman baru, pelajaran baru, perasaan baru, dan keluarga baru. tidak akan ada yang menyangka bahwa ternyata waktu juga membuat kita melalaikan kehadirannya. Tiba-tiba saja sudah saya lewati 3x pergantian tahun bersama mereka. Nomor handphone baru, grup baru, dan rasa rindu untuk mereka yang tidak menentu. Kadang dengan kebahagiaan, kadang dengan kebosanan. Dan 26 juni 2014 detik ini, saat saya membuka portal web universitas, tertera tanggal 01 september 2010 yang tidak lain adalah tanggal pertama saya masuk kesana. 

3 tahun 9 bulan, terasa singkat sekali. Teman-teman yang lain bahkan sudah lebih dulu menyelesaikan studinya dan mulai bekerja. Yang teringat hanya saya pernah benci pada dia, suka pada dia, bentrok pada siapa, malas berangkat kuliah, sebal karena beberapa dosen memberikan nilai tidak sesuai dengan apa yang saya harap dan masih banyak lagi lainnya. Tapi sungguh, saya seperti disadarkan bahwa perasaan semenyedihkan atau sebahagia apapun akan tetap jadi kenangan, bahkan mungkin beberapa akan hilang. Setelah 22 tahun dilewati (ya, saya memang sudah se tua ini ternyata :D), saya menyadari, bahwa misteri itu justru banyak membantu.

Saya tidak tahu hidup macam apa yang akan saya jalani esok hari. Begitu menyenangan, mengagetkan, menggembirakan, menyakitkan, menyedihkan, mengecewakan, menggelikan, atau bagaimanapun rasanya. Saya hanya harus menjalani, dan itu saja. Waktu membantu saya merangkum segalanya menjadi lebih baik. Memilah mana yang buruk dan baik. Membedakan mana yang biasa saja dan yang terbaik. Dan detik ini, saya hanya ingin bersyukur.  Untuk setiap waktu yang masih penuh dengan keluhan, terima kasih Tuhan, yang masih menganugerahkan saya begitu banyak teman. 


 

Monday, 9 June 2014

Welcome Gemini



Selamat datang, gemini.

Saya pikir, waktu terlalu cepat datang dan pergi. Tiba-tiba hitungan angka saya bertambah. Dan tanpa saya sadari, setiap kali menoleh ke belakang, masih saja ada lipatan-lipatan sesal karena tidak berhasil mewujudkan/menjadikan niatan itu berhasil. Resolusi. Rekap ulang kejadian waktu di belakang.

Ya, semua pasti punya resolusi. Tahunan. Dan hitungan tahunan bisa dimulai dari awal tahun/tahun baru, atau di angka umur yang bertambah satu.  Apa saja resolusi saya tahun kemarin?
-          Menulis setiap hari. Centang (walaupun beberapa kali absen)
-     
     Langkah konkrit. Centang. Hitungan puluhan masuk, tapi ditolak = belum diterima (nggak perlu diumbar)
-        
  Nahan kestabilan emosi. Centang (belum berhasilnya)
-          Project Tahunan yang nggak ada pengawasan. Centang. (Makin lama makin entah kemana)
Ternyata resolusi saya terlalu biasa ya?
Nggak waw! Nggak bikin mata melotot! Dan yeaah, yang penting nggak bikin gila.
Pencapaian  yang sudah saya dapat?

Ah, rasanya terlalu sombong jika saya katakan saya belum dapat apa-apa. Padahal semua dalam hidup adalah nikmat dalam bentuk yang tidak serupa. Dan terlalu naif jika saya tidak mengakui ketidakberdayaan saya terhadap apa-apa yang Tuhan takdirkan pada saya. Takdir? Satu kata yang sering disalahartikan. Bikin salah kaprah. Yang lebih parah, bikin orang jadi pasrah. Setelah kemarin saya sempat melihat video singkat dari workshop ustadz felix siauw tentang hidayah menjadi lebih mudah, sedikit banyak saya jadi punya jawaban untuk kebingungan saya selama ini.

Kembali lagi ke gemini. Untuk pencapaian yang saya dapatkan, perubahan dari kesesat ke syariat ini termasuk takdir atau bukan menurut kalian? Kedalaman makna kehidupan yang bertambah sedemikian mili? Harta karun dalam bentuk tulisan super acakadut dalam blog kesayangan saya takdir atau bukan? Pencapaian yang lumayan sulit di tengah-tengah kemalasan yang menggumuli saya setiap saat. Takdir apa bukan hayo?

Jawabannya adalah; takdir. Tuhan tahu, saya tahu, hitungan takdir yang adil.
Tapi untuk umur, rezeki dan jodoh. Itu takdir apa  bukan? Iya dan tidak.
Sekalipun Allah tahu urusan lalu, sekarang dan masa depan. Hal tersebut merupakan takdir yang tidak seimbang porsinya. Karena yang maha Tahu adalah Allah, kita tidak maha Tahu. Jadi buat apa bikin hitungan takdir yang tidak bisa kita simpulkan karena ketidaktahuan? Dan. Untuk gemini tahun depan, seandainya takdir yang tidak saya tahu ini membawa penghabisan masa bagi saya – saya tetap akan berdoa dipanjangkan umurnya. Diberkahi hidupnya. Dijadikan bermanfaat bagi yang lainnya.
Seandainya saya jatuh cinta pada seorang yang tidak sesuai dengan keyakinan saya, maka takdir itu bisa saya buat – dengan memilih mengiyakan atau memutuskan. Saya akan tetap berdoa untuk kelegaan dalam hati dan kenikmatan dualitas yang Allah berikan.

Lanjuuut ...

 Yang  terakhir. Selain daftar di atas tentang “ planning, perubahan, dan pemaknaan” yang masih dangkal dan minimal ituh. Ternyata oh ternyata ... di luar dugaan yang sejujurnya merupakan rezeki tiada terduga adalah :

Saya punya tambahan teman, partner, dan lebih dekat dengan keluarga. Rasa-rasanya itulah pencapaian terhebat  yang membuat saya nampak bahagia, lengkap. Saya bisa punya tambahan baju di lemari. Tambahan buku di rak. Kesehatan dan umur panjang. Teman-teman yang baik. Tambahan  ilmu di kepala dan dalam beberapa kalimat. full. Nggak perlu ke psikiater buat cerita masalah, nggak perlu dateng sewa nanny-nanny buat ngurusin pas sakit (dirasakan sendiri saja). 

Sekalipun itu tidak memiliki piagam dan belum tentu dilirik orang. Apalagi dapet nobel perdamaian dan ditulisin di daftar orang tersukses versi majalah forbes. Inilah yang namanya pencapaian. Tidak melulu tentang harta, tidak melulu tentang tahta. Tentang kaitan takdir dan gemini? Haha, mungkin tidak ada. Tapi ini memang berkaitan dengan saya.
Welcome gemini,
Juni 2013

Sudah berganti tahun. Saya tahu rezeki Tuhan tidak pernah berhenti mengalir
Dan detik ini,
Terima kasih untuk waktu yang lalu
Untuk hari ini
Dan sampai esok kembali
Saya tahu, Tuhan selalu memberi lebih dari banyak yang saya minta.
June 2014

Sunday, 8 June 2014

Haloo 22

Saya tidak tahu apa yang harus saya tulis. Tapi kebiasaan mengarahkan saya untuk selalu mengabadikan pertambahan umur, tepat di menit awal pergantian hari. Menulis cerpen? Sudah jarang saya lakukan. Puisi? Ah, tidak ada seseorang yang membuat saya kebanjiran inspirasi. Kumpul silaturahmi? ...

Saya memang tidak diberi tahu waktu. Seperti tiba-tiba sudah muncul saat ini. Kembali lagi, pada detik-detik menunggu, siapa saja yang akan memberikan doa dan ucapan selamat pada saya.
Bagi sebagian orang pertambahan umur bukan hal aneh, mungkin bagi saya juga. Rutinitas yang akan selalu kita lewati, berulang dan terus begini. Dan tanpa ada sesuatu tujuan, kita hanya akan menjadi penikmat waktu tanpa bisa mengumpulkan kenangan dari hitungan itu.

Saya punya doa untuk tahun ini. Bahwa saya harus segera lulus, bahwa saya harus bekerja, bahwa saya harus membalas sedikit demi sedikit kebaikan mereka yang berbaik hati pada saya, terutama orang tua, atau mungkin ibu (yang tidak akan bisa sesungguhnya). Bahwa intinya, saya menghendaki kebaikan di setiap pertambahan umur saya. Detik-detik berikutnya, umur saya 22. Halo, selamat datang angka baru. Bukan hal baru bagi saya untuk mengakui bahwa saya memang sudah bertambah  tua. Sebuah hal wajar yang seharusnya diiringi dengan pembaharuan kedewasaan dan pengertian.

Ya, semuanya diberikan kemudahan oleh yang di atas sana.

Kata orang-orang, banyak yang menyayangi saya.

Kata orang-orang, banyak yang memperdulikan saya.

Dan kata orang-orang, banyak keberuntungan mengikuti saya.

Oke, tapi yang paling utama adalah, bahwa Tuhan begitu menyayangi saya.

Saya dilimpahi rezeki yang tiada henti. Umur panjang, kehidupan, orang tua yang terus menerus mengalirkan kasih sayang, saudara, teman-teman yang banyak, dan siapapun itu orang yang memberikan pelajaran berharga bagi saya. Di depan sana, semoga masih banyak rezeki yang tuhan berikan. Di depan sana, semoga jalan dimudahkan. Masih banyak yang harus dilewati, sekaligus dibenahi.

Selamat datang dua puluh dua, mari berjalan bersama menuju dewasa.