.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 20 May 2014

Curhat Mahasiswa Tua (2)


            Urusan skripsi memang gampang-gampang susah. Gampangnya karena itu hanya menunggu niat kita. Nah, inilah yang jadi bahasan. memang gampang memunculkan niat, asal ada teman, asal ada ojek, asal ada niatan lulus semua beres. tapi adakalanya niat ini mudah hilang begitu saja semudah memunculkannya apabila ternyata kenyataan tak sejalan seperti teman udah lulus duluan, nggak ada yang nemenin, narsum rese, dan yang terakhir - tempat penelitian jauh bin ribet. Jadi, jatuhnya memang nggak ada yang gampang disini. semua susah, ditambah lagi SUSAHNYA adalah? Karena harus bawa-bawa nama dosen pembimbing, sederet aturan dan janjian dengan narsum yang kadang bikin semangat kembang kempis. Dan penyatuan banyak kepala itu memang tidak mudah? Bandingkan dengan hati? Bagaimana bisa kita menyelaraskan keinginan banyak hati, kepala, sementara kepala satunya hanya menyimpan segala prasangka dan iya-iya saja – mengalah untuk tidak disebut kalah (oke fix, saya mulai melenceng dari judul)

            Tidak terhitung bulan saya mencoba mengenali satu latihan jiwa ini, ya skripsi. Mau dibilang apalagi? Ketika saya memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang ini, inilah tantangannya, inilah ujian yang saya hadapi. Tidak berat memang, tapi membutuhkan kesabaran luar biasa besar untuk melewatinya. Katakanlah hamper lebih dari 4 bulan, meskipun masa aktif mengerjakan mungkin hanya bisa dihitung dengan penjumlahan antara jari tangan dan kaki. Faktanya memang demikian. 

            Lalu dimana kelebihan waktu itu digunakkan? 

Sunday, 4 May 2014

Di hadapan cermin itu

Perselisihan biasa terjadi, dalam lingkup apapun – entah keluarga, persahabatan, partner kerja, visi misi, obrolan atau prinsip hidup. Saya yakin, bahwa saya, anda, dan kalian mengalaminya. Bagikan cerita itu di kepala anda, dan sesekali berbicaralah kepada diri sendiri bahwa “apa gunanya terus-terusan berdebat untuk sesuatu yang tidak pernah berakhir?” Manusia bukanlah makhluk yang tidak tahu mana yang salah mana yang benar, mana yang baik dan buruk, atau mana yang aib mana yang prestasi.

Di dalam diri manusia sudah tertanam insting untuk menjawab semua hal tadi, bahwa berdebat adalah sia-sia, bahwa membunuh itu salah, bahwa bergunjing dan merendahkan itu buruk.

Dan apa jawaban yang muncul pada diri anda ketika semua pertanyaan itu anda lontarkan?
       
     Saya hanya akan menceritakan sebuah kisah, jangan kaitkan dengan kehidupan keluarga, percintaan, atau hubungan professional saya.
        
    Si a dan si b memiliki strata kehidupan yang tidak jauh berbeda, mantan anggota legislative dan keluarga pemborong ini sudah nampak tidak akur sejak awal. Ihwal mengapa mereka berselisih paham dan kerap beradu mulut kita tidak tahu sebabnya. Lain lagi dengan halnya C, D dan E, ketiganya berbeda dari segi apapun  – yang satu halus dan sederhana, si D berapi-api dan nampak sinis terhadap komentarnya, dan E si lelaki egois dan tidak mau mengalah.

Sampai di suatu saat, si a dan si b terlalu sering berdebat hanya karena si a tidak suka masalah politik karena banyak jelaga hitam dengan segala intriknya – dan si b sangat peduli pada perkembangan politik karena itulah passionnnya. Maka, apa yang terjadi – segala apapun yang keluar dari a dan b hanya seperti asap yang tidak ada habisnya tanpa tahu dimana letak apinya. Mereka tidak dapat apa-apa kecuali kebencian itu sendiri.
         
   C,D dan E, bahkan sampai sekarang tidak tahu diam karena alasan apa. Ego masing-masing mengalahkan semangat bersilaturahmi dan menjalani hidup dengan damai-damai saja. Yang berbeda hanya, A dan B berselisih dengan masih berinteraksi – kerap beradu mulut dan kata pedas merupakan santapan biasa sehari-hari ketika mereka didekatkan, tapi diantara kedua orang ini – masih ditemukan interaksi yang bisa dikatakan sebagai kemunafikan/kebohongan untuk mengurangi efek buruk aksi diam dan permusuhan.
           
 Tempatkan sebuah cermin di hadapan kalian. Dan Bercerminlah … 

Apa yang kalian temukan? Wajah yang selalu sama?

Cermin selalu bisa menampilkan sisi manis dari wajah kalian, tapi tidak dengan hati. Cerminan hati hanya kita yang bisa mengetahuinya dengan pasti. Sudah layakkah kita menjadi seseorang yang angkuh?

Sudah baikkah kita saling mengolok-olok saudari sendiri?

One to two

Dunia menyimpan begitu banyak misteri, entah rezeki, jodoh, atau takdir lain ketentuan tuhan yang masih tersembunyi jawabannya. Bagi manusia sendiri, kesendirian bukan merupakan takdir – karna tuhan memerintahkan bagi setiap manusia untuk berpasang-pasangan. Seperti hidup yang berpasangan dengan mati, lelaki wanita, kaya miskin, dan masih banyak hal lain di dunia yang selalu berpasangan. Tuhan memberikan anugrah ini bagi turunnya manusia pertama di dunia, yakni adam, dengan kedatangan hawa. Salah satu kenyataan ini memberikan bukti bahwa Tuhan begitu adil dan sempurna mengatur segalanya, untuk kelangsungan dunia, alam, maupun kehidupan manusia itu sendiri. 

            Tuhan selalu berbaik hati mencukupi kebutuhan makhluknya, bahkan sekalipun tanpa diminta. Oke, kita kembali lagi ke judul. Mengapa saya memberi tulisan ini judul “one to two”. Satu, menjadi dua. Saya terinspirasi dari beberapa kejadian yang pernah saya alami, saya saksikan, dan saya ikuti - pernikahan/marriage. Dimulai dari kakek nenek saya, ayah ibu, teman-teman, saudara-saudara saya. Hingga nanti waktunya, kita akan sampai pada pertanyaan : kapan menikah? pertanyaan yang terdengar wajar namun kadang salah ditujukan.

Setiap dari kita tentu pernah melihat dua anak manusia bersanding di pelaminan, berbahagia, turut memberi doa, atau yang terakhir adalah – turut menyimpan tanya siapa kelak yang akan menjadi pendamping kita?

Pertanyaan inilah yang pada akhirnya mendorong manusia untuk terus berupaya, berusaha, berihtiar mencari pasangan hidup yang terbaik. yang seiman, yang sehati. disadari atau tidak, Tuhanlah yang menuntun jalan kita – mengarahkan kita bertemu orang ini, bertemu orang itu, merantau ke kota ini, bertemu orang baru – hingga akhirnya terbuka doa  itu.

Dari begitu banyak manusia, tuhan memberikan kejutan – jalan – takdir yang begitu indah untuk mempertemukan pasangan kita. Tidak tahu apa yang menjadi ukuran, tidak tahu kapan dipertemukan, dan tidak tahu kapan diyakinkan, pernikahan adalah salah cara yang tuhan berikan untuk mempererat kehidupan, menumbuhkembangkan keturunan, dan menyemai ibadah dalam kebersamaan. *Abaikan kata-kata anak sok tahu ini (yang bahkan belum menemukan jawaban siapa yang kelak menjadi jodoh saya). *

One to two. Betapa indahnya hidup jika kita pada akhirnya menemukan teman untuk mengarungi kehidupan? Dari yang semula resah sendirian, akhirnya mendapatkan teman untuk saling berbagi kisah/cerita/atau solusi menjalani kehidupan? Satu menjadi dua. Tentu segala sesuatu yang berdua akan nampak lebih mudah dibanding satu. Dan tentu semua yang dipasangkan akan lebih seimbang tinimbang tanpa pasangan (oke, semua juga tahu). Tapi justru karena keseimbangan inilah, manusia menjadi paham bahwa ada perputaran roda kehidupan yang membuat kita belajar banyak – bersabar – dan kemudian menyadari bahwa kita tidak bisa hidup tanpa perubahan. Maka dibutuhkan generasi penerus.

One to two. To three. To four. To … etc, manusia yang semula hanya satu, kemudian menjadi semakin banyak, bersilaturahmi, bergotong royong, dan saling erat dalam kebaikan. Betapa indahnya tuhan mempertemukan orang yang satu dengan yang lain dalam sebuah ikatan hati, kuat – sacral – dan suci.
        
    pernikahan adalah hal sacral bagi semua orang yang ada di dunia. Agama manapun menganggap upacara ini adalah upacara tuhan, dengan bukti bahwa apa yang sudah disatukan tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia (salah satu agama menyatakan demikian) – maka cerai merupakan hal yang mubah namun sangat dibenci tuhan. Kaitan lainnya adalah antara pernikahan, dan jodoh. Kebenaran pemikiran setiap insane tentang jodoh, dan waktu yang tepat merupakan kebenaran yang relative. seperti yang pernah disampaikan oleh salah satu ulama yakni Imam Syafi’i bahwa:
         
   Kebenaran dalam pandanganku mengandung kesalahan dalam pandangan orang lain. Kebenaran dalam pandangan orang lain mengandung kesalahan dalam pandanganku."
       
     Maka urusan jodoh dan tidak jodoh juga merupakan sebuah hal yang subyektif, tergantung bagaimana kita dapat mencoba memahami sudut pandang orang tersebut. Keyakinan antara seseorang yang satu dengan yang lain tidak dapat dipaksakan, itulah mengapa banyak sekali persinggungan antara anak dengan orang tua – atau anak dengan teman hanya karena tidak sejalan dengan pemikiran yang lain.