.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 23 April 2014

Kepribadian manusia berdasarkan insting


Banyak penelitian yang mencoba mengungkapkan korelasi antara kepribadian manusia dengan segala macam hal yang ada di dunia. Ilmu psikologi memberikan kemudahan bagi mereka yang menyukai kegiatan pengamatan kejiwaan manusia, baik dari segi luar, maupun kedalaman pikiran obyek itu sendiri. Ilmu ini menawarkan pemahaman kepada sifat manusia agar lebih mengerti satu sama lain, mengkategorikan mereka lewat hal yang kasat. Sifat manusia yang bermacam-macam dan kategori kepribadian itu sendiri tidak pernah mutlak hanya dimiliki satu manusia, sehingga dari waktu ke waktu semakin banyak peneliti yang tertarik mengaitkan segala hal untuk menguak kepribadian manusia. Mulai dari warna kesukaan, cara berjalan, tulisan tangan, arah mata, bentuk wajah, ekspresi, dan golongan darah.

Mungkin masih banyak obyek lain yang dapat menjadi bahan compare bagi penelitian tentang sifat manusia, tapi disadari atau tidak, setiap orang sesungguhnya adalah seorang peneliti. Setiap orang memiliki potensi untuk menjadi pengamat paling ahli untuk melihat dan membedakan bagaimana karakter orang yang satu dengan yang lain, bagaimana sifat dan kepribadian teman, keluarga, saudara, dan bahkan semua yang ada di sekelilingnya. Semua manusia memiliki insting yang kuat untuk memberikan opini bahwa mereka adalah orang yang temperamen, ramah, lembut dan sebagaimana aslinya pada waktu bercengkrama, menatap mata, atau hanya sekedar melihat dia pertama kali dalam sebuah acara.

Oke, abaikan semua kategori sifat manusia lewat semua metode tadi (es krim favorit, bentuk wajah, golongan darah, garis tangan, tulisan tangan, ekspresi, dll). Kita semua adalah peneliti bagi diri sendiri. Bahkan sebelum anda memulai suatu penelitian, anda sudah akan menemukan kesimpulan bahwa kita lah sesungguhnya obyek itu sendiri. semua sifat yang ternyata dikemukakan dalam setiap kategori selalu ada pada diri manusia, yang bercampur-campur, persis seperti kategori manusia yang tidak sepenuhnya introvert atau ekstrovert.