.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 26 January 2014

Persembahan


Puji syukur kepada Allah yang memberi hidayah kepada penulis sehingga cepat mendapat wangsit untuk menyelesaikan skripsi ini, walaupun harus ditinggal dulu sama bolo-bolonya sehingga saya bisa nyusul menjadi sarjana.

Disadari penuh bahwa skripsi yang bikin galau semesta ini nggak nongol tiba-tiba di bawah sajadah karna kebanyakan doa, tapi karna bantuan banyak makhluk di luar sana. So, penulis ingin sekali say thank you dan sekaligus complain-nya kepada:

1. Buat Pak Yai Internet dan Bu Nyai Gugel yang menunjukkan arah pada saya ketika tersesat, yang memberi suntikan semangat dari balik artikel dan jurnalnya. You’re my hero … saya nggak tau apa jadinya skripsi saya tanpa kalian berdua #Nangis darah

2. Orang-orang rumah, yang cuek bebek saya mau ngerjain skripsi atau nggak. Mau lulus cepet atau nggak. Yang harus ribut dulu kalo pake modem buat searching-an. Makasih, kalian sudah bikin saya memilih untuk ngungsi wifi-an di perpus saja.

3. Dosen pembimbing yang pehape-nya lebih dari sekedar gebetan, yang sms dan emailnya sempet bikin saya patah hati gara-gara coret-coret tidak pada tempatnya. Pliss pak buk, ini skripsi saya - bukan kertas gambar anak TK.

4. Bagian Tata Usaha yang setia di depan computer, ngetikin izin, dan bikin saya bolak-balik naik turun tangga gedung 4 lantai tanpa lift cuman gara-gara salah ketik satu huruf saja. Matursuwun, sanget.

5. Lelaki dan perempuan berbagai usia di banyak tempat yang bersedia saya telfon, saya sms – email – mention, saya kopi daratin, sekaligus direcoki pertanyaan klise mahasiswa yang kebingungan nyari data. 

6. Teman-teman sekaligus musuh saya yang terlalu banyak namanya. Terima kasih sudah ninggalin saya seminar proposal, sidang, sekaligus wisuda. Terima kasih sekali sudah bikin saya mikir ini persis kayak serangan fajar maha dahsyat yang ngalahin perang apapun. Buat yang belum, anggep aja kalian bukan temen. #ups!

7. Semua pihak yang telah membantu saya dalam penulisan skripsi, tukang ojek pribadi yang baik dan terutama nggak minta dibayar, mas-mas fotocopy-an, asisten dadakan, editor kacangan, dan komentator gratis yang siap sedia membenahi skripsi saya yang dulu awut-awutan. #Ngusep airmata.

8. Dan terutama, Dosen penguji saya : semoga Bapak Ibu sekalian berbesar hati tidak mengebom saya dengan pertanyaan yang membuat mules perut nantinya. Amin 99999 x.

Kata terakhir, skripsi ini jauh dari sempurna (sadar pake banget). Yang pake laptop pinjeman lah, duit utangan, sampe pulsa hasil todongan. Terima Kasih untuk kasihnya. Dari Mahasiswa, anak, adik, sodara, dan teman kalian yang harap-harap cemas jadi sarjana.

Yogyakarta, 21 Januari 2014
Yang menyatakan

SAYA




ini hanya contoh halaman persembahan yang jujur dari hati. Di halaman persembahan yang tertera di halaman awal jilid skripsi, banyak sekali ucapan terima kasih disampaikan. untuk ini, untuk itu. saya tidak tahu apakah karya akhir kelulusan di negara lain harus mencantumkan hal serupa, yang intinya, kita terlalu banyak diajarkan berterima kasih - tapi tidak diajar untuk berlatih jujur, bahkan hanya pada selembar kertas

Thursday, 23 January 2014

Curhat Mahasiswa (hampir) tua



            Oh jadi begini ya perasaannya si Sam @skripsit itu waktu dia harus nerima kenyataan bahwa dia ditinggalkan temen-temennya kabur dari kampus duluan? Kalo seandainya saya bisa nanya, pasti dia udah lupa gimana rasanya waktu itu (yang nyesek tapi dibikin biasa aja, yang nggondok tapi dibikin go with the flow) karna sekarang dia nemuin hikmah dari telatnya dia ngerjain skripsi itu dengan menghasilkan buku. *tepok tangan – saya selalu ngiri pake banget sama org yang bisa nerbitin buku. semoga saya bisa nerusin jejaknya ngasilin buku, tanpa harus telat skripsi dan wisuda. Amin 99999x 

            Rasanya kepingin ketawa, marah, sebel, sekaligus campur aduk jadi satu mungkin. Yang intinya bahwa, ditinggalkan itu sejak dulu memang tidak pernah enak, nggak pernah nyenengin. Lagipula, siapa sih yang suka ditinggalin? Kalo diumpamain sebuah bis, dan kita adalah penumpangnya. Maka ditinggal wisuda sama temen-temen itu bikin kita kehilangan arah dan tujuan. Persis kayak orang gila di perempatan yang kesana kemari nggak jelas mau kemana. Oke, mungkin saya agak lebai kali ini. 
            Oke, omong-omong tentang ditinggalin. Manusia selalu punya 2 pilihan diantara pilihan blur dan gak jelas dalam hidup, yaitu; milih untuk “meninggalkan atau ditinggalkan”. Well yeah, ini adalah dua pilihan yang sulit dan dua-duanya sama-sama nggak enak. Tapi kedua hal tersebut tanpa disengaja, tanpa disadari memang selalu terjadi diantara kita. Sadar nggak sadar, mau nggak mau, akan selalu ada perasaan kayak gitu yang dirasain orang. Kalo nggak kita yang ngrasain, brarti mereka yang ngrasain. Mau ditolak kayak gimana juga, perasaan akan tetep ada.

            Dalam kasus skripsi, perasaan ditinggalkan adalah efek lain dan resiko yang sebenarnya sudah kita pahami sejak awal bahwa, siapa yang lebih rajin, bergerak lebih gesit dan dinamislah yang akan lebih dulu capcuuus dari kampus. Bener kan? Bener dooong! Ya memang begitulah timbale balik dari yang namanya kesuksesan. Hidup emang nggak adil, jadi siapapun yang ngrasa diperlakukan nggak adil saya piker adalah hasil dari sikap dan perbuatan dia selama hidup. 

            Yang kedua, perasaan tertinggal tadi hanyalah salah satu bukti bahwa kita terlanjur masuk dalam klasifikasi defensive : yang artinya suka banget nyari alasan, atau nyari-nyari kesalahan orang lain. Merekanya rajin, udah duluan mikir judul dan bergerak secepat mungkin untuk nggak miara tuh malesnya dan sesegera mungkin ngerjain skripsi. Eeeeh dengan santainya kita, yang ngaku sobat deket dan apalah, pas dia udah selese dan kita belum sampai-sampai di garis finish, malah nyalahin mereka dan nganggep mereka nggak punya kesetiakawanan tinggi, atau nggak solider. Nah, terus salah emak gue yang ngandung? 

            Ketiga, perasaan ditinggalkan tadi berimbas pada, bikin kita semakin males ngerjain dan nyari alasan yang berabrek-abrek lagi. Ringkasnya, setelah kita ngrasa ditinggalin, kita ngrasa nggak semangat, malah bikin kita  terus-terusan nyari pembenaran bahwa bukan kita sebenernya yang salah. Salah mereka, kenapa mereka nggak fren banget ninggalin gue? Kalo kita temenan, nggak mungkin kan elo tega meninggalkan? Dan sederet kalimat alay nan tidak tahu diri yang akan meracuni pikiran kita. 

            Tidak tahu diri? Jelaaaaas. Nggak usaha kok minta hasil. 

            Walhasil, pertemanan yang sudah lama dijalin erat-erat, udah pake duit segambreng tuh buat nraktir kemana-mana harus selese sampe disini. Finish. Bikin salah paham. kira-kira begini gambaran percakapannya :

a: elo nggak temen ah, kenapa ninggal gue lulus duluan? 
b: elo yang males keles.
a : ya tapi lo sabar dikit kek.
b : terus gue suruh nunggu lo sadar? 
a : ya iyalah, kita kan temenan. harusnya barengan kan?
b: lo mau barengan sama gue sampe nikah, sampe tua, atau sampe mati? gue sih ogah jadi mahasiswa sampek ubanan. atau mau pup sama pipis barengan juga?
a : eh? nelen liur. bukan gitu maksudnya

Tentang meninggalkan. Bicara tentang siapa yang salah atau siapa yang benar mungkin sulit untuk dijelaskan. Tapi mari kita bahas bersama. Dalam hal ini, meninggalkan adalah sikap yang tidak disengaja, mereka yang sibuk dengan target - deal – deadline – goal, adalah sederet orang yang sibuk mempersiapkan masa depan sebaik mungkin dan hanya focus pada pengembangan dirinya sendiri. Bukan sengaja bikin orang lain iri atau gondokan. Mereka tidak pernah dengan sengaja memprediksi bahwa hal yang sejatinya baik ternyata tetap menyakiti dan melukai orang lain. Sedangkan ditinggalkan adalah efek samping yang sudah bisa kita tebak jauh-jauh hari sebelumnya.

            Mahasiswa, teman, keluarga, pekerjaan, adik, kakak, anak, memiliki porsi yang berbeda-beda. Sekalipun teman baik, tidak ada yg berhak memaksa atau dipaksa. Kita boleh menjadi sahabat siapapun, tapi hubungan itu tidak dapat memaksakan seseorang untuk terus memapah atau menopang keberadaan kita yang malas atau rajin. Semua kembali lagi pada usaha dan kesadaran kita. mau alasan dosen mempersulit? oh, jangan-jangan ternyata kita yg sulit menerima kritik saran demi kebaikan? mau alasan kampusku surgaku? mau sampai kapan kenyang dengan alasan-alasan? semoga curhat dengan status mahasiswa tua ini nggak bikin kita dapet predikat tambahan, "nggak dewasa". #Oh Tidak!

            So, seberapapun kita berbuat baik atau berada pada jalur yang benar, sudah merupakan hukum alam bahwa pasti tetap akan ada yang tidak suka. ini hanya soal perasaan meninggalkan dan ditinggalkan. simple, cuman perasaan kan? jadi solusinya, jangan terlalu dirasain. dan untuk sikap saya yang kekanak-kanakan akhir ini, buat teman-teman di luar sana : maafkan saya.

Thursday, 9 January 2014

Prinsip Komplementer

Alkisah, hiduplah dua orang tuli dan buta di sebuah desa. Untuk mencapai kota besar dari desa, mereka berdua harus melewati hutan yang penuh hewan buas dan sungai yang panjang.  Setiap hari keduanya selalu bersama-sama, bekerja – mencari makan – bahkan untuk berjalan sampai tempat tujuan. Si tuli bekerja dengan menjual krupuk keliling, sedangkan si buta, menjadi tukang pijat di sela-sela si tuli berjualan krupuk.

 Satu sama lain saling melengkapi, saling membutuhkan. Si tuli membutuhkan si buta untuk menjadi telinganya. Menjaga mereka berdua agar tetap waspada terhadap hewan-hewan buas di hutan, untuk mendengarkan panggilan pelanggan krupuknya di tengah jalan. Dan si buta membutuhkan si tuli untuk menjadi matanya, menjadi penunjuk jalan, sekaligus teman dari kegelapan.
             
Tapi pada suatu hari, karena berebut siapa yang lebih banyak berjasa dan lebih banyak mencari uang mereka berdua terlibat pertengkaran besar. Si tuli ngotot merasa bahwa dia lebih penting dan berjasa karena bisa menjadi penunjuk jalan bagi si buta, karena dia bisa melihat dengan jelas sekaligus menjadi tongkat untuk berjalan si buta. Si tuli ngotot berkata bahwa uang hasil pijat si buta adalah hasil usahanya juga, kalau tidak ada si tuli, si buta tidak akan bisa bekerja – apalagi mendapatkan uang sebanyak itu. Sedangkan si buta juga tetap bersikukuh, bahwa tanpa si tuli, dia bisa berjalan kemanapun dia suka. Semuanya adalah hasil kerja kerasnya sendiri, tanpa bantuan siapapun.
         
   Karena merasa paling berjasa dan bisa hidup tanpa bantuan orang lain, keduanya memutuskan untuk tidak lagi bekerja sama. Pada akhirnya, penghasilan mereka menipis. Si buta hampir saja hanyut di sungai, dan si tuli, hampir saja dimakan hewan buas yang bersembunyi di belakangnya. Sampai akhirnya mereka menyadari, bahwa hidup mereka – lengkap karena orang lain, dan tidak akan lengkap dengan hanya menyombongkan kemampuan diri sendiri. Dua, selalu lebih genap dibanding satu.

Prinsip komplementer
          
  Dalam hidup, Tuhan  memberikan begitu banyak potongan demi potongan keistimewaan. Tidak ada yang sempurna dimiliki satu bagian saja. Semua kejadian tersebut selalu berkesinambungan. Saling sambung menyambung. Tuhan menciptakan dunia dengan sempurna karena isinya yang beragam. Yang saling melengkapi, yang saling menghargai. Alam membutuhkan manusia untuk dijaga, manusia membutuhkan hewan, hewan membutuhkan tumbuhan, dan selalu berputar.

Di dalam tubuh, paru-paru membutuhkan jantung, jantung membutuhkan ginjal, ginjal membutuhkan otak, gigi, tenggorokan, tulang, dan masih banyak lagi. Ketika kita bernafas, kita membutuhkan hidung, tenggorokan, paru-paru. Betapa terasa pentingnya ketika salah satu dari bagian tersebut sedang dalam  keadaan error untuk melaksanakan kewajibannya. Dan satu hal yang error tadi, akan menyebabkan ketidaksempurnaan dalam proses yang sedang bekerja. Maka jangan heran, ketika dalam suatu pertunjukan music, kesalahan satu  not saja dari salah satu alat music, akan menyebabkan miss dan kurang pas bagi para pendengarnya. Ada sesuatu yang tidak enak, tidak pada tempatnya.  aneh.

Begitupun  ketika gigi sakit, kita baru merasakan penting fungsinya yang sekecil itu. Padahal kita butuh untuk makan, dan makanan menghasilkan tenaga juga memberikan supply bagi roda kehidupan di dalam tubuh manusia.

Semua mempunyai tugasnya masing-masing. Menggenapi. Melengkapi. Komplementer. Saya lengkap karena anda, dan anda lengkap karena mereka. Begitu alurnya. Si tuli dan si buta memiliki peran yang sama-sama penting. Alangkah lebih indahnya ketika keduanya bekerja sama, karena bukankah lebih elok dan sempurna ketika dua ide dan indra yang lengkap dijadikan satu?

Begitupun dengan interaksi antar manusia. Pengusaha membutuhkan pekerja, pemahat membutuhkan tukang kayu, tukang kayu membutuhkan petani untuk makan, petani membutuhkan pedagang untuk berjualan. Perempuan diciptakan untuk melengkapi laki-laki. Anak diciptakan untuk menghargai dan merawat orang tua, juga sebaliknya. Adik, kakak, saudara, teman, partner kerja, tetangga, mereka adalah bagian yang menyempurnakan kehidupan kita. Maka tidak ada hal yang tidak ada gunanya di dunia. Sekalipun dalam beberapa hal ada kejadian yang menyakitkan, ada orang yang menyebalkan, Semua orang adalah istimewa – semua kejadian membawa hikmahnya.

Orang yang satu berguna bagi orang lain. Barangkali bukan untuk waktu sekarang, tapi untuk waktu yang akan datang, maka sesungguhnya – ketika kita bersikeras bahwa kita adalah makluk paling hebat dan berjasa, kita hanya sedang mengurangi kesempurnaan dalam hidup kita. Selamat malam.

Monday, 6 January 2014

Ketika AT Mahmud tergeser lagu Dangdut


Dangdut memang bukan hal asing bagi telinga kita. Dangdut adalah warisan Indonesia persembahan bagi Dunia. Jika India punya lagu dan tarian ala-alanya, korea dengan gangnam style-nya, maka Indonesia punya dangdut dan goyangan yang berbeda tiap versi penyanyinya. Booming, kembali naik mengungguli semua acara yang ditampilkan media. Dari yang sekedar sriwing-sriwing membuat kuping merinding, sampai tabuhan gendang yang membuat pinggul ikut bergoyang. Refleks. 
 
Tawarannya uang. Tidak ada pilihan sulit sama sekali. Anda hanya diharuskan goyang, dan goyang. Selesai. Pertanyaannya adalah, siapa yang tidak tergiur dengan  uang? Mudah dan cepat?  Televise mana yang tidak tergiur dengan rating tinggi dengan imbal pundi-pundi uang?.

Hanya dengan menggoyangkan tangan, kepala, pinggul, kecil kemungkinan kita tidak mendapat uang. Hampir di semua televise bisa kita saksikan semua acara menampilkan goyangan dengan backsound  lagu dangdut. Yang setiap hari sama. Oplosan, kereta malam, biasanya tak begitu, pacar lima langkah, ee masbuloh (saya memang hafal, mau apalagi? Benci dan suka memang beda-beda tipis),  yang semua usia. Yang setiap waktu.

Dan yang meresahkan … semua seperti tidak peduli dengan apa yang dilontarkan para pelaku seni dengan menghina fisik, mengumbar aib (dengan banyak cara, salah satunya mengundang para pesulap/hypnotherapy), berita palsu, dan lain-lain. Kita seperti ditarik dari jurang untuk dilemparkan lagi ke rel. Sama-sama diajari hal yang tidak konkrit, tidak ada guna.

Lagu anak-anak memang masih terdengar, masih bisa kita lihat di rak-rak toko vcd/dvd/kaset dengan desain gambar warna-warni. Buku-buku bergambar dan kisah-kisah nabi juga masih pada tempatnya. Tapi televise juga tetap pada tempatnya. Yang lebih banyak mendapat perhatian, yang lebih diperhatikan anak-anak dan bagi mereka yang kekanakan.

Anak-anak kini punya kesibukan lain selain bermain, yakni menghafal lagu dangdut beserta jogetan yang tiap malam selalu diputar dan diulang. Belum lagi sifat latah media kita yang sedikit-sedikit mewajibkan diri sama dengan acara lain. Jika sekarang para pelaku seni lebih sulit mengeluarkan unek-unek dan komentar, maka crew/creative akhirnya lebih jeli dengan tekhnik relaksasi atau hypnotis untuk mengelabui mulut mereka agar membuka kisah hidupnya. Sekali tepuk jidat, terbongkarlah rahasia mereka. Hebat bukan?

Well yeah, mereka punya berita baru lagi untuk menaikkan rating acara.

Kini setelah nasi menjadi bubur. Anak-anak sudah terlanjur ngefens dengan caisar, sudah hafal goyangan oplosan, atau se-ekstrim meniru joget trio macan, hafal buaya buntungnya inul, para kakak – orang tua – simbah – guru baru sibuk berkomentar bahwa goyang oplosan tidak pantas ditampilkan. Itu terlalu vulgar. Itu saru. Tidak pantas ditiru.

Hei, kemana saja waktu dulu? Ketika acara itu belum booming dan anak-anak belum mulai sibuk dengan menghafal gerakan yang wajib untuk dipamerkan kepada teman-temannya di sekolahan?

Tidak penting pro kontra, mau ikut mencerca – protes ke KPI – atau justru tetap menjadi penonton setia acara mereka. Tidak penting pendapat Deddy dorbuzier, kak Seto, atau kritikan farhat abbas sekalipun. Jika kita masih terus menyaksikan acara itu dan ratingnya bertahan nomor satu - acara apapun itu akan tetap maju. Sementara disini kita menyalahkan televise – menyalahkan orang tua yang tidak mengawasi anaknya  atau justru menimpakan kesalahan pada pelaku seni yang tidak tahu batasan diri, nyatanya setiap hari kita masih menyalakan televise dan  tetap menunggu  mereka, ikut tertawa sekaligus menirukan gaya mereka.

Sembari saya menyanyikan medley lagu naik-naik ke puncak gunung, burung kakak tua, pelangi-pelangi, balonku, untuk meninabobokan ponakan saya - saya hanya bisa berkomentar. Semoga AT Mahmud tidak harus menangis karena goyang dangdut ...