.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 26 December 2013

Belajar Marah


Marah yang fitrah
 
            Setiap manusia memiliki amarah, baik dalam bentuk diam, sikap maupun kata-kata. Fitrah. Marah timbul sebagai perlindungan reflex yang dimiliki manusia apabila merasa terhina, diremehkan, atau direndahkan. Amarah, selalu digambarkan sebagai bagian dari keburukan, membuat kepala mendidih, hati berprasangka negative, dan kendali pikiran menjadi tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Bila dikaitkan dengan kehidupan keagamaan, marah adalah salah satu wujud dari setan yang hendak menggoda iman. 

            Dalam beberapa literature kuno mengenai kisah amarah, banyak ditemukan bahwa kemarahan pada akhirnya membawa seseorang pada situasi yang menyulitkan diri sendiri. Menghancurkan wibawa, dan irasional. Amarah yang tidak diolah menjadi hal positif hanya akan membinasakan. Raja Firaun yang terkenal sebagai pribadi yang sok kuasa, digambarkan dengan ciri mudah marah dan tidak mau menerima kritik saran orang lain. Baginya yang paling sempurna adl dirinya, baginya Tuhan adalah dirinya, sehingga dia tidak menerima bahwa ada Tuhan yang lebih kuasa darinya. 

            Sesungguhnya marah dapat diolah. Marah dapat kita kendalikan sebagaimana yang kita mau. Marah dapat menjadi energy paling produktif, cambuk untuk lebih baik – sukses, dan sebaliknya, marah dapat membuat anda yang tadinya rasional menjadi begitu irasional. Marah menutup semua alasan bahwa tindakan yang anda lakukan adalah salah. Salah satu alasan manusia memiliki marah adalah dugaan. Dan 9 dari 10 dugaan yang bersarang di kepala manusia hanyalah khayalan.

Berikut salah satu contoh kisah yang saya kutip dari Andriewongso.com :

            Alkisah, seekor ular memasuki gudang tempat kerja tukang kayu di sore hari. Kebiasaan si tukang kayu, membiarkan sebagian peralatan kerjanya masih berserakan dan tidak merapikannya. Nah ketika ular itu berjalan kesana kemari di dalam gudang, tanpa sengaja ia merayap di atas gergaji. Tajamnya mata gergaji, menyebabkan perut ular terluka. Tapi ular beranggapan gergaji itu menyerangnya. Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali. Serangan itu menyebabkan luka parah di bagian mulutnya.

            Marah & putus asa, ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya untuk mengalahkan musuhnya. Ia membelit kuat gergaji itu. Maka tubuhnya terluka amat parah dan akhirnya ia pun mati.[1]

Belajar Marah
            Ular tadi marah untuk sesuatu yang tidak dia tahu. Sekedar tafsir. Ular tadi, sekalipun mati, memang sedang mengupayakan harga dirinya bahwa dia sedang didzolimi. 

Kita memang diizinkan untuk berbuat apapun selama di bumi Tuhan. Berbuat sesuka hati. boleh marah, atau diam dan menunjukkan kesabaran. Ketika marah, kita terkadang ingin menyakiti orang lain, melukai, menghina, atau membelas perlakuan orang lain. Legitimasi dari posisi tertindas atau menindas. Yang satu ingin Nampak berkuasa, dan yang satu, ingin tampak bahwa dia tida serendah yang dipikirkan orang lain. 

Tapi itulah tafsir manusia, kadang salah, kadang benar. Jika saja ular tadi berbuat lebih bijak, dia akan memilih diam dan hidupnya dapat berjalan lebih panjang. Sayangnya ular itu bukan manusia, yang punya hati, akal dan pikiran. 

            Untuk marahpun  kita butuh belajar. Belajar marah bagi orang yang sabar adalah sebuah kesulitan. Dan belajar sabar bagi orang yang mudah marah seperti halnya demikian.
Kemarahan adalah produk kebiasaan. 

            Alkisah, seorang pemuda tinggal bersama ayahnya yang pemarah. Kebiasaan ayahnya yang tidak pernah puas dan selalu memarahi anaknya membuat si anak kerapkali dilanda geram. Ketika suatu hari ayahnya disuguhi makanan yang tidak sesuai selera, makanan tadi justru dibuang dan si anak bertambah geram. Alih-alih marah, si anak justru pergi ke kebun dan terus mencangkul, menanami lahannya dengan berbagai tanaman dan pepohonan. Dan selalu berulang hal yang sama ketika ia merasa geram oleh sikap ayahnya yang tidak pernah mau disalahkan.

            Dan setelah berpuluh tahun, pemuda tadi memetik hasil kemarahannya. Kemarahannya tidak hanya berbuah amarah saja. Kemarahannya berbuah lahan yang rimbun ditumbuhi pohon-pohon yang menghasilkan pundi-pundi uang dan menyejukkan sekeliling rumahnya.

            Dua kisah yang berbeda. Dua sikap yang berbeda dari rasa marah.

Semakin sering kita marah, maka semakin besar energy dalam tubuh yang kita produksi sekaligus langsung terkuras habis-habisan, tetapi dengan marah pula, kita dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar jika diolah dengan sesuatu yang lebih positif daripada sekedar memperturutkan hawa nafsu untuk melukai atau membalas perlakuan orang lain. Mengelola emosi adalah salah satu cara memperbaiki diri. 

Lalu, anda ingin yang mana? Mati sia-sia karena salah paham seperti ular tadi, atau bahagia karena mampu mengolah amarah sejak dini?



                [1] http://andriewongso.com/articles/details/12419/Pembelajaran-Tentang-Marah

Tuesday, 24 December 2013

Nyontek itu awal korupsi


Fenomena mencontek sudah ada sejak jaman dulu.  Sejak siti nurbaya masih ngotot tidak mau dinikahkan dengan datuk maringgi, atau barangkali sejak zaman nabi dan sahabatnya. Contek mencontek merupakan produk dari kebebasan bersikap yang tanpa diiringi prinsip jujur. Contek mencontek adalah hal yang diturunkan dari generasi ke generasi – tradisi - budaya. Sama seperti tradisi bully di beberapa sekolah atau universitas, hal yang buruk dan dilakukan oleh mayoritas dapat juga diturunkan pada adik-adik kita selanjutnya. Praktek ini tidak hanya terjadi dalam lingkup kecil, bahkan boleh jadi, oknum yang lebih berkuasa juga menghalalkan hal tersebut untuk tetap menjaga kredibilitas instansi yang dibawahinya. 

Contek mencontek adalah akar kebobrokan terkecil dari prinsip jujur di hati manusia.

Di negara ini, menyontek dianggap sebagai bagian dari toleransi. “kalo nggak nyontek nggak temen.” Mencontek dianggap sebagai bagian dari gotong royong, kerjasama, dan saling mengerti. Biasa banget. Wajar. Mereka yang sok idealis dijadikan minoritas, dikucilkan, bahkan dijauhi. Sebutan bagi mereka yang berusaha jujur ini berubah menjadi, pelit, sok suci, sok pinter, dan bla bla bla. Dapat kita temui dan dengar sendiri begitu banyak opini, baik yang pro atau kontra tentang tradisi contek mencontek ini.

Saya pribadi, ketika sesekali menyampaikan bahwa lebih baik berusaha sendiri daripada memiliki nilai bagus tapi hasil pikiran orang lain, mereka lebih banyak berkomentar bahwa saya ini ribet. Sok pintar. Pelit. Dan menyebalkan. Sebagian yang lain lagi, memilih opsi diam, namun ketika dipanggil saat-saat ujian pura-pura “budek” agar pertanyaan dan paksaan tidak sampai di depan mata. Saya pun melakukannya. Pura-pura budek, duduk paling depan, tidak mau tengak-tengok (focus nunduk), pura-pura nggak paham, atau jalan terakhir yang saya pilih daripada pusing di dalam ruangan, saya memilih cepat keluar dengan konsekuensi dianggap sok bisa.

Padahal yang pertama belum tentu benar semua.

Bagi beberapa orang, mencontek adalah kebutuhan, makanan pokok. Bahkan slogan kalo nggak nyontek nggak rame, atau kalo nggak nyontek nggak keren sudah biasa terdengar. Kebutuhan disini terlahir karena kebiasaan, kebiasaan yang dibiasakan sehingga berubah menjadi refleks badan melaksanakan. Sehingga tidak ada lagi rem yang mencegah perbuatan tsb. Sementara di luar sana, mencontek dianggap sebagai salah satu dosa terbesar dalam hal keilmuan. Disini, orang yang suka mencuri karya orang lain disebut plagiat, pencuri, tapi berbeda dengan pengambilan karya cipta, mencontek tidak memiliki sebutan yang jelas walaupun jelas-jelas merupakan hal yang tidak benar.

Kasus terakhir, anak sd yang tidak mau memberikan contekan pada temennya justru mendapatkan hinaan- cercaan dari satu desa. Bagi mereka, anak dan keluarga tsb adalah keluarga yang sok-sokan karena tidak mau membagikan ilmunya.

Anak sd tersebut, bahkan harus menerima sanksi atas kejujuran yang dia buat. Lalu dalam hal ini, siapa yang salah? Mereka yang teguh pada prinsip bahwa jujur lebih baik, atau kalangan mayoritas yang tetap berpegang bahwa nilai yang baik lebih bagus walaupun dengan cara yang tidak baik? Jawabannya, mayoritas memang belum tentu benar. Kadangkala minoritas benar namun tidak terdengar.

Banyak cara dilakukan oleh pelaku, mulai dari kertas robekan, kode-kodean, nyempilin di sepatu, di jendela, di papan ujian, dan kawan kawan. Cara ini beragam dari jaman ke jaman. Berubah, bertambah, dan berkembang. Hebatnya pelaku selalu menemukan celah walaupun sudah berulang kali ketahuan oleh guru pengawas.Dan inilah yang ditakutkan, pengambilan celah pada hal buruk akan menyebabkan manusia kecanduan. Ini terjadi pada korupsi, dan hal buruk lain.

Contek mencontek akan tetap ada. Terlepas dari kalian berprinsip atau tidak, perilaku ini akan terus mengelilingi kita. Pro kontra akan tetap ada, dan baik buruk akan tetap menemani manusia sampai tidak ada nyawa. Saya sedang tidak sok benar, sok suci , saya justru sedang memperingatkan diri sendiri bahwa saya pernah merasa berdosa dengan melakukan ini. Saya sadar pernah menjadi kepala suku pemberi contekan, dengan alasan yang tidak dapat diceritakan.  saya pernah menjadi pelaku, saya pernah menyepelekan efek dari mencontek, dan saya pernah menjadi candu dari hal tersebut. saya pikir hal tersebut menguntungkan, tapi nyatanya tidak. mencontek hanya membodohi saya, dan saya pikir inilah salah satu bisikan setan dari hal sepele yang dapat mengelabui kita. 

Padahal,bukan ujian sekolah yang dapat menghancurkan kita. Tapi ujian kejujuran yang sedang Tuhan berikan pada kita.  

Monday, 23 December 2013

Edisi Natal, lagi

Selamat natal. Merry christmas. Selamat hari raya …

            Semua pengucapan itu sama halnya dengan ketika kita ikut bergembira merayakan imlek, menyanyikan lagu perayaan, lihat sinterklas, atau banyaknya film kartun menjelang hari besar keagamaan banyak agama. Sama sekali tidak ada beda. Satu sisi merayakan, sedang sisi lainnya bergantian sebagai penonton. bergantian. Persis seperti yang Gus Dur lakukan untuk mendekatkan diri pada golongan Tiong Hoa, atau  menyebutkan bahwa Assalamualaikum itu sama dengan selamat pagi. Yang beda apanya dong? yang beda hanya pedoman dan cara kita menyikapinya.

islam punya quran dan hadist, yang lain juga punya. beda? pasti beda, belum tafsiran di kepala manusia. Belum cara dan bahasa kita menyampaikannya.

            Lalu kenapa fenomena ini selalu berulang, dan berulang setiap tahunnya. Jawabannya sama, karena setiap orang yang berpegang pada keyakinannya lebih memilih sibuk mengomentari orang lain dengan keyakinannya yang berbeda.

            Bagi saya, ketika saya diingatkan untuk tidak melakukan sesuatu hal yang berada di tengah-tengah antara halal dan haram, dosa dan pahala, saya sadar sedang dalam keadaan ragu, maka saya tidak akan  pernah mengambil jalan tersebut. Jangan ambil pilihan dalam keadaan ragu, dan jangan  membuat keputusan sepihak bila merusak prinsip diri. Urusan saya hidup dalam Negara yang berisi banyak agama, bukan masalah utama. Hal mendasar dalam perdebatan ini sesungguhnya tentang keyakinan dan toleransi. Mustahil bagi kita semua untuk menyeragamkan pemikiran, sekalipun kita bernaung dalam satu agama, islam.

            Ustad A boleh saja berpendapat bahwa hidup bertetangga memang harus saling menghormati, dan ketika ada perayaan yang berbeda, maka halal mengucapkan selamat hari raya pada mereka. Dan ustadz B boleh juga berpendapat bahwa dia memiliki keyakinan bahwa mengucapkan hari raya agama lain dapat menjadi sebab terkecil kita mengabaikan ajaran agama. Wajar-wajar saja. Mereka telah mengalami kisah dan ijtihad yang berbeda. Latar belakang hidupnya juga beda kan?

            Berpuluh, beratus, beribu hadist boleh kalian tunjukkan, boleh dicantumkan untuk menambah keyakinan. Bahwa ini bla bla bla … bahwa itu bla bla bla … Tapi sekali lagi, ketika bersinggungan dengan orang lain kita tidak dapat memaksakan apa yang menjadi keyakinan kita pada orang lain. Apa bisa mukena dipakai ibadah di vihara? ya jelas saltum.

Dan bagimu yakinmu, bagiku yakinku. Simple. Selesai.

Saya pribadi berpendapat, bahwa hal sekecil ini tidak boleh diremehkan. Toh saya piker, teman-teman saya yang beragama lain tidak rempong juga minta diberi ucapan. Negara sudah memberikan toleransi yang sama dengan adanya hari besar agama, libur, cuti bersama untuk menghabiskan hari bersama keluarga. Fair saja lah, bahwa hal ini bukan hal penting seperti anda harus membayar hutang ketika berhutang. Atau se-penting anda harus membuat paspor dulu ke luar negeri.

            Atau kita misalkan dalam sebuah perayaan ulang tahun teman, kita cukup datang, menyalami dan ikut memberi senyuman. Maka orang tersebut sudah  menganggap bahwa kita ikut mengamini dan mendoakan pertambahan umurnya. Dia tahu, lebih dari tahu tanpa kita perlu mengucapkan apapun. Apalagi dalam kasus yang luas seperti sekarang. Tanpa kita sibuk mengucapkan, membuat kata-kata sok manis, dan datang ke tempat mereka - tapi ikut belanja dengan diskon hari besar yang sebenarnya marketing toko besar, dan menikmati hari liburnya, kita sejatinya sudah memberikan penghargaan bagi mereka dan sudah.

            Kita memang hidup dengan beragam suku, agama, dan budaya. Maka toleransilah yang dikedepankan. Kalian mau mengucapkan? Boleh. | Kalian tidak mengucapkan? Lebih boleh. hak masing-masing orang untuk berijtihad dengan sikapnya. Tapi ngefek nggak sih ucapan kalian itu dengan perayaan yang mereka adakan? yang seagama pasti udah banyak yang ngucapin kan ya?

Maka Yang utama, adalah bagaimana kita memberikan penghargaan dalam bentuk interaksi wajar. Saling membantu, dan saling menghargai. Tidak membeda-bedakan. Memberikan waktu mereka sejenak untuk beribadah sama pencipta yang diyakini mereka.

Percuma membela-bela diri dan ngotot bahwa mengucapkan hari raya itu wajib, karena teman kita banyak. Karena teman kita dulu juga melakukan hal yang sama. Percuma. Tidak ada gunanya memaksakan apapun pada orang lain. Kan kamu nggak punya temen akrab orang non-is? | saya memang tidak punya teman akrab orang non-is. tapi itulah konsekwensi ketika kalian memilih berteman akrab dengan agama lain. Ada hal-hal yang boleh, dan ada yang tidak boleh. kita selalu punya batasan untuk berbuat sesuatu. keragaman bukan berarti kebolehan melakukan apapun.

Lantas boleh nggak sih ngucapin?

Kita terus saja berkutat dengan hal ini. Kalau kita terus bertanya dan tidak segera meyakinkan diri. Tahun depan pertanyaan ini pasti terulang lagi.

Bukan Hari Ibu

Mothers day. Hari ibu. Hari Kasih sayang …
            Amati media social hari ini, di twitter, facebook, instagram, dan semua medsos penuh dengan ungkapan  itu. Ada yang melewatinya dengan memasak bersama ibunda, ada yang meluangkan waktu sejenak pulang, pergi menghabiskan hari dengan ibundanya, sampai menghabiskan seharian penuh untuk mengambil alih pekerjaan rumah si mama, dan pilihan terakhir adalah : melewati hari yang katanya spesial ini, hanya dengan menuliskan beberapa kata di medsos, dan selesai. finish.

            Hari ibu jatuh pada hari Minggu tanggal 22 Desember. Detik-detik menjelang natal, maka timeline dan beranda saya penuh dengan kalimat perdebatan boleh tidaknya pengucapan hari natal dan selamat hari ibu bagi figure hero masing-masing hati.

            Komentar demi komentar, reply dan retweet memenuhi sudut mata saya. Kadang ingin sekali bertanya, kenapa kita terlampau latah di hadapan dunia maya? Semua seolah sibuk sedang membanggakan apa yang ibunya suka, apa yang dibanggakan darinya, hingga se-sederhana apa makanan yang sering dihidangkan di meja. Tidak peduli pro kontra (yang jelas biar nampak saya sayang ibu saya), tetapi setelah dipikir, semua hal itu tidak menuju kepada ibu …

@MelodyUnited ridho Allah adalah ridho ibu, murka Allah adalah murka ibu. jadi jangan pernah menyakiti seorang ibu.

@Riris_Kita hari ibu jangan cuma diMedsos. do'akan beliau, serta lakukan perintahnya dan jauhi larangannya.

@PutriiKartika Happy SUPER MOM's day . You're the greatest one ! Muuaacchh :*{}. Thank you very much for your love mom. Love youu

            Semua hal tadi menuju pada diri sendiri. hanya ketidakterimaan kita atas kata-kata orang lain, sehingga kita sibuk menimpali terus menerus pendapat mereka. Kita terlalu individualis hingga tidak pernah bertanya apa yang dirasa ibu. Ibu tidak disangkutpautkan dalam penilaian tadi. Kenapa tidak kita Tanya apa ibu kita bangga memiliki anak seperti kita? Kenapa tidak kita Tanya apakah ibu kita apakah bahagia memiliki penerus seperti kita? Kenapa tidak pernah terbersit pula di kepala kita untuk bertanya, apa ibu lelah mengurus kita?

            Aaah, saya takut membayangkan jawabannya. Tidak ubahnya orang yang tidak punya pekerjaan dengan ikut menampilkan diri sebagai sosok yang peduli ibu, yang sayangnya hanya sekedar dalam kata-kata saja. Maya. Topeng. Faktanya? Faktanya, banyak cerita dari mulut mereka bahwa kehadiran ibu hanya dibutuhkan saat genting saja. Mungkin saya termasuk di dalamnya. saya khawatir menjadi latah, sementara saya tahu dan yakin, bahwa cinta dan sayang ibu saya tidak latah karena orang lain.

Tepat seperti yang digambarkan salah satu cerita dari buku hikmah dari seberang tentang anak dan pohon apel.

Saat kecil, kita membutuhkan teduhnya, dan jiwanya untuk berlindung.

Ketika menjelang remaja, kita hanya butuh buahnya saja untuk menghalau lapar, atau untuk sekedar mengganti buahnya dengan pundi-pundi uang.

Sementara ketika dewasa dan beranjak tua, kita habiskan kayunya untuk membangun rumah. Dan sekalipun tubuh tua pohon apel, dia tetap bersedia diambil kayunya untuk menyenangkan si anak.

Pengorbanan yang tanpa hitungan. Tapi tetap mengharap balasan … setidaknya perhatian.

            Kehadiran dan  peran seorang ibu sangatlah penting, terutama dalam pengembangan pola piker dan pembelajaran awal. Ibu adalah kerangka berpikir anak. ibu adalah sekolah pertama anak. Jika ayah adalah kepala, maka ibu seperti leher yang menggerakkan kemana arahnya harus menengok. Sekalipun hanya itu yang bisa dipaparkan, Tuhan menempatkan ibu tepat di bawah  mentaati Allah dan Rasul-Nya. Intinya, peran ibu tiada tandingannya, hingga pesan-pesan yang diturunkan kepada umat sekalian adalah “hormati ibumu dan muliakan.

Ibu lebih tahan banting tinimbang sekedar atlit judo atau taekwondo. 


            Ibu bahkan disebutkan tiga kali dalam salah satu hadist Rasulullah untuk dihormati dan dihargai. Tanpa itu semua, ketika kita berpegang pada system balas budi, kita memang sudah hidup di bawah bayang-bayang budi ibu yang sedemikian besar. Kita ini hutang budi pada ibu. Maka ketika kita tidak tahu bagaimana menghargai posisinya, kita sejatinya adl manusia yang tidak tahu diri. Tidak dapat kita temui ganti yang sebanding dengan apa yang sudah dikorbankan oleh ibu. Mengandung, menyusui, merawat, masih ditambah dengan menanggung pedih ucapan dan sikap kita yang keras dan kekanak-kanakan.

Ibu = kata apa yang paling tepat untuk menggambarkan sosok ibu?

Perlukah kita sesumbar di dunia maya menyayangi sosok ibu tanpa realisasi di dunia nyata?

Tidak pernah ada waktu yang cukup untuk mengingat ibu. Tidak pernah ada kata yang tepat untuk menggambarkan kasih sayang ibu. Bagi saya, setiap hari adalah hari ibu .

Sunday, 15 December 2013

Potong Saja Anu-nya

Banyak cara ungkapkan zin(t)a

Kata pepatah banyak jalan menuju roma. Artinya, banyak cara untuk menggapai sesuatu yang diharapkan. Pepatah tersebut seringkali digunakan untuk menggambarkan hal-hal positif dalam kaitannya dengan pencapaian seseorang. Mimpi. Asa. Keinginan. Wajar. Sekalipun dunia memang dianggap lebih kejam daripada ibu tiri, dunia juga memberikan kemudahan bagi orang yang mudah berganti planning. Mudahnya, manusia memang wajib memiliki banyak rencana agar tidak mudah patah hati.

Plan a gagal, maka beralih ke plan b, plan b gagal maka beralih ke c, ke d, dan seterusnya. 

Tapi, bersisian dengan itu, selain banyak cara untuk menggapai harapan positif di depan kepala, ternyata masih banyak cara menghalalkan berbagai upaya demi keberlangsungan suatu program. Dengan kata lain, banyak jalan juga menuju pikiran mesum di kepala. “Pekan  kondom nasional”.
Kondom memang tidak selalu identik dengan seks bebas. Saya pribadi justru berpendapat bahwa kondom  identik dengan KB = keluarga berencana. Tapi bagi beberapa pihak yang memang cerdik, mesum, piktor, kondom adalah salah satu jalan melegalkan perzinahan. Melegalkan tuh modus cinta sucinya. Nyatanya Kondom memang berhubungan erat dengan hubungan badan. Betulkan? 

Terbukti, pembagian kondom yang diharapkan sebagai salah satu cara mengurangi HIV/AIDS bagi mereka lelaki hidung belang yang suka jajan, justru beralih diberikan gratis kepada sejumlah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi dengan embel-embel “jangan lupa dicoba ya sama pacar”.

Belum lagi banyak data menyebutkan bahwa di hari kasih saying, banyak pasangan muda mudi tanpa status indehoy dimana-mana. Statistik keperawanan menurun dari masa ke masa. Maka kesimpulannya bagi saya adalah, memang banyak cara ungkapkan zin(t)a

Bukan untuk dicoba!

Suatu program akan dikatakan sukses besar apabila ditujukan dan mengena tepat sasaran. Tepat kondisi. Dan tepat penempatan. Mungkin saja ketika bus besar dengan gambar jupe yang seksi dan berisi itu datang ke salah satu universitas,  niatannya sosialisasi menghindari hiv/aids, hanya saja cara yang digunakan membuat banyak kepala salah tafsir saja. 

kalau memang pekan kondom nasional ini ditujukan bagi para lelaki hidung belang, apa ya tepat tempatnya di kampus dan ditujukan pada mahasiswa? ini jadi kayak ngasih makan lele pake hamburger. ngasih kucing ikan pindang. salah sasaran.

Nah, sekarang, setelah melihat gambar yang tadi, dan acara pembagian kondomisasi (istilah yang keren menyerupai vickinisasi), siapa yang tidak kepingin mencobanya? Belum lagi gratis pula? Jadi, saya tetap sependapat sama iklan minyak telon itu. "penyakit kok dicoba-coba".

Seks bebas – liberal jelas. 

Di Negara-negara yang menganut paham liberalis, alias kebebasan sepenuhnya dengan tidak menganggu orang lain, seks bebas bukan lagi hal tabu. Seks seperti halnya interaksi manusia yang wajar. Biasah. Eksistensi hasrat keduniawian. Seks merupakan paket wajib hubungan antara sepasang manusia, lelaki dan wanita. Maka jangan heran, bila di Negara kita seks pra nikah sangat dijaga ketat, disana – barangkali saja kita akan dicap manusia kolot hebat. 

Maka, saya piker pelegalan kondom untuk mencegah hiv/aids bukan merupakan cara yang jitu untuk mengurangi pelaku atau penderita hiv/aids. Mahal. Ngabis-ngabisin duit. Pemerintah harus mengeluarkan APBN yang sedemikian besar hanya untuk membeli kondom, kemudian membagi-bagikannya, capek kan? Belum lagi sederet rincian tenaga manusia yang harus dikeluarkan untuk mensosialisasikannya. 

Penyakit bisa datang kapanpun. Dan pelaku, jelas tahu apa yang mengekor di belakang mereka ketika memperturutkan nafsu kelamin saja. Semua orang jelas tahu konsekwensi dari melakukan suatu hal, terkecuali mereka gila. 

Di Negara islam, hukuman bagi para pelaku pencurian adalah potong tangan, biar tidak bisa mencuri lagi. Beres. Sekali potong, blas. Maka cara paling efektif untuk mencegahnya adalah : “potong saja anu-nya, biar tidak jajan lagi kemana-mana”.

Saya suka anda, tapi nggak maksa anda suka.



bicara cinta barangkali memang tidak ada habisnya. mencintai, menyayangi, bertepuk sebelah tangan, hingga pada akhirnya muncullah beragam istilah yang menggambarkan keadaan seseorang yang sedang galau dengan hati. bimbang. salah satunya, pemberi harapan palsu, penjahat wanita, playboy, dan sebagainya. hebatnya, sekalipun banyak istilah yang menggambarkan ada bom sakit hati super besar buat beberapa orang, cinta tetap saja laris jadi bahan perbincangan dimana-mana.

di rak buku perpustakaan, di film-film jadul dan masa depan, atau hebatnya lagi cinta jadi bahan inspirasi yang menghasilkan roti dan rasa kopi. 

saya tidak sedang ingin mendefinsikan apa itu cinta. karena, memang tidak ada definisi paling tepat  untuk digambarkan. cinta tidak hanya sekedar kesenangan, maka saya tidak bisa menyimpulkan bahwa cinta itu hanya berisi kebahagiaan. cinta ya cinta. tidak perlu ditambah-tambah.

tanyakan pada semua orang, maka jawaban mereka-lah yang sejatinya benar. benar bagi ukuran individual. ukuran pengalaman diri sendiri.

hal yang paling menarik apabila dibahas dalam cinta tentunya adalah dua orang yang mengalami. sudut pandang yang berbeda dari kedua pihak. seringkali dalam setiap kesempatan, dalam setiap pengamatan, orang-orang yang sedang jatuh cinta kerap merasa dirinya adalah makhluk paling berbahagia. terlepas apakah cinta mereka itu dibalas atau tidak. murni. tanpa tendensi.

inilah cinta yang pertama. cinta yang, hanya sekedar  cinta saja. anugrah dari tuhan untuk merasakan sesuatu yang berbeda dengan manusia lain. yeah well, inilah kodrat manusia untuk berkembang. cinta yang sekedar saya suka anda, tapi anda boleh tidak suka pada saya. atau, biarin saja saya cinta anda, tapi berbahagialah dengan pilihan anda.

cinta boleh  jadi adalah  sebuah pilihan, pilihan yang bisa dilanjutkan atau dibikin game over saja. end. finish. efeknya, kalau kalian ngelanjutin cinta yang tadinya tanpa tendensi tadi, kita bakal berubah jadi manusia yang over protektif, cemburuan, bahkan ngelakuin hal yang nggak masuk akal. maksain sesuatu pada orang lain. nggak wajar.  tapi pada taraf selanjutnya, manusia memang beranjak untuk mengartikan cinta dengan tafsiran di kepalanya saja. maka semula cinta yang tanpa tendensi tadi berubah menjadi cinta yang harus memiliki.

saya suka anda, maka anda harus suka saya. wajib. paksaan. rong-rongan.

absurd.

semakin absurd.

maka cinta semakin sempit ketika dia berarti, cinta yang harus dibalas dicintai oleh orang tersebut. cinta merupakan alat  pendamai sekaligus perusak. maka, tidak ada yang tahu apa yang akan dia terima ketika menyangkut orang lain. makin lama makin banyak yang mengumbar kemesraan, mengumbar perselisihan, hingga semua alat yang ada di dunia digunakan hanya untuk interaksi cinta yang diartikan hanya untuk lawan jenis (a.k.a pacar) saja.

cinta adalah hak semua orang. Maka menerima atau menolak juga hak semua orang.

ini yang hendak saya katakan. bahwa semua hal punya paket enak dan enek. tapi pada prakteknya, hal ini sangat sulit untuk diaplikasikan. semua orang wajar jika berharap hanya yang dicintai saja yang boleh mencintainya. ada sederet alasan  mengapa tiba-tiba orang menjadi risih apabila diperlakukan berlebihan atau berlebihan dianggap special oleh orang lain yang mengaku sayang. mulai dari bukan dia yang diharapkan, tidak mau membuat salah paham, dan yang terakhir, dia memang tidak suka diperlakukan demikian.

tapi sekali lagi, memberi perhatian dan mencintai seseorang adalah di luar kendali kita. saya mungkin mengalaminya. ada paket mencintai yang diganjar sakit hati, ada paket cinta yang dibalas pertemanan saja, dan ada paket mencintai yang dibalas ikut dicintai. ketiga hal ini merupakan resiko wajib yang harus kita pertimbangkan ketika berani berkata sayang pada seseorang. sialnya, ketidaksukaan apabila didekati oleh orang yang tidak diharapkan membawa kita pada sikap tidak adil. dan dampak dari itu semua adalah:

keluhan. menjauhi. dan kata-kata tidak mengenakkan.

“udah deh gausah lebay, ngapain coba seneng gue. gue nggak suka lo kaleee”

seandainya kalimat ini tertuju untuk anda. apa jawaban yang anda berikan?

            “gue juga nggak minta seneng sama lo kaleee. tapi adanya begini. kadang emang nggak masuk akal.

siapa sih yang mau ditolak? atau siapa sih yang mau disakitin? | nggak ada laah. | makanya jangan nyakitin.

lah gue nggak suka sama dia, ngapain ditanggepin | emang dia suka sama lo minta juga ya? | geleng kepala.

bukannya dulu lo udah pernah ngrasain gak enaknya dikacangin, kenapa sekarang malah ngacangin? | eh *nelen liur.

nggak ditanggepin itu bikin setengah gila kan? | pantes sekarang lo jadi orang gila yang ganti nggak ngrespon apapun dari orang.

bukannya dulu lo udah pernah ngrasain gak enaknya h2c nunggu balesan sms, kenapa sekarang malah suka ngabaiin sms orang? eh *gigit lidah.

bukannya lo dulu juga gak pernah minta dirubah jadi alay buat nginget apa2 ttg dia tapi tetep aja ada, kenapa sekarang malah ngatain orang alay buat sesuatu yg  pernah  lo alamin juga?  | eh. *nelen gigi.

lo nggak ngarep disakitin tapi diem-diem nyakitin orang? ngaca doong sebelum ngomong.
sekali lagi kita tidak mungkin menyalahkan perasaan seseorang. 

criteria seseorang dan prinsip tidak memiliki tebak-tebakan. hingga pada akhir perenungan, barangkali kita disadarkan, kita pernah merasa tidak nyaman ketika menyukai seseorang namun berujung kekalahan, atau putus pertemanan. seharusnya kita berguru dari hal itu, bahwa, mencintai dan urusan  dicintai itu hak semua orang. syah-syah saja. dan jawabannya untuk menerima  atau menolak adalah hak bagi semua. 

kamu bisa mencintai semua orang, tapi tidak semuanya bisa membalas demikian.