.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Saturday, 30 November 2013

Makan Bangkeeee


“Ih, dia kan bekas pemabuk? Nggak usah dideketin”
“Eh, dia tu tukang nyolong lhooo. Mending jauh-jauh deh daripada barang lo ilang”

Aib. Siapa manusia yang tidak memiliki aib? 

Layangkan pertanyaan ini kepada siapapun. Niscaya jawaban yang anda temukan pasti akan serupa, seragam, sama, kompak. “Tidak ada”.

Ya, tidak ada manusia yang lepas dari aib. Sama seperti pada “kesimpulan” bahwa manusia memang tempatnya salah dan keburukan. Itu berarti bahwa manusia memang ladang aib. Tempat cela, dan kekurangan. Tapi bukan berarti satu aib mempengaruhi orang untuk terus berbuat aib yang lainnya. 

Aib sama sekali bukan takdir. Dia menempati posisi dosa namun semuanya bisa dihapuskan dengan kembali pada aturan yang disepakati oleh Tuhan dan manusia. Kebaikan

Maka tidak heran jika Allah memberikan kita pilihan. Jam kerja bagi akal dan perasaan untuk bersinergi memilih kisah dan cerita hidup yang terbaik. Jika diumpakan bahwa semua manusia punya kepala, punya mata, maka satu obyek saja dapat memancing beribu pendapat/argument/opini yang berbeda-beda pula. Dan inilah sisi lain dari aib.

Aib mengundang beribu opini. Beribu pendapat. Beribu argument yang bertempat di kepala-kepala yang berbeda. 

Keadaan ini yang kemudian memancing seseorang untuk merasa paling baik, suci, wah, dan seabrek daftar “paling-paling” dan paling lainnya. Merasa “paling” adalah satu sikap buruk yang dianugerahkan kepada manusia.  Salah satu sifat merasa paling wah, paling benar, dan paling unggul adalah “memakan bangkai saudara”. Hal ini hanya salah satu perumpamaan yang digunakan dalam al-qur’an maupun hadist untuk menggambarkan seseorang yang mengumbar, menceritakan, atau membicarakan kejelekan/keburukan orang lain. Ghibah. Nggosip. 

Tanyakan lagi kepada semua orang. Siapa yang mau makan bangkeee? Yang mentah, yang penuh darah? Jijik kan? Mual kan?

Mungkin ada beberapa gelintir manusia yang doyan memakan bangkai saudaranya sendiri dalam arti kata sesungguhnya yakni memakan daging mereka layaknya sate kelinci, sate kambing ataupun ayam. Yang bagi orang lain dianggap sebagai penyimpangan kejiwaan. Tapi di luar itu semua, lebih banyak yang jijik memakan daging sesamanya. Tapi ini hanya berlaku pada tataran teori. Mereka berkata tidak mau memakan bangkai saudara, menjijikkan. Enek. Nggilani.[1]dan komentar senada yang artinya kurang lebih adalah tidak mengenakkan.

Tapi …. 

Tuesday, 26 November 2013

Selamat Terbiasa

Belum bisa.
Tidak terbiasa.

Berlatih.
Mencoba.

Membiasakan diri.
Terbiasa.

Hal biasa.

Ada tahapan-tahapan yang membuat kita kadang menjadi anti terhadap sesuatu. Alasan-alasan yang diproduksi sendiri untuk tidak maju dengan alasan, “tidak terbiasa, belum bisa, dan semacamnya”.

Semua orang pernah melewati tahap menjadi seorang yang tidak tahu apa-apa, amatir, kacangan, junior, dan bawahan. Hal ini terjadi karena otak kita hanya menyerap apa yang diterima oleh indra kita. Pendengaran, penglihatan, perasaan, maka tidak heran jika kita menjumpai di sisi lain ada seseorang yang berada pada level tidak tahu apa-apa, level biasa-biasa saja, dan di sisi yang lain lagi ada orang yang sudah berada pada level sangat professional.

Beberapa cara mulai ditawarkan, mulai dari kursus paralel, privat, sampai pada cara otodidak. Tapi cara yang paling mudah sekaligus paling sulit untuk diterapkan adalah mengamati, dan membiasakan.

Jika kalian pernah membaca buku “How to master your habits”, karangan ustadz felix siauw. Dua hal terpenting dalam keahlian seseorang hanyalah, practice (latihan) dan repetition (pengulangan). Mungkin semua manusia dilahirkan dengan keahlian bawaan, yang biasa kita sebut sebagai “bakat terpendam”. Namun, dalam paparan selanjutnya, untuk menjadi terbiasa, seseorang hanya butuh membiasakan. Bukan 100% karena bakat terpendam yang dimilikinya.
Kita misalkan seorang anak berusia 10 tahun yang memiliki latar belakang ayah dan ibu seorang penyanyi, maka orang lain mungkin akan berpendapat bahwa si anak pastilah juga memiliki bakat terpendam yang diturunkan oleh kedua orang tuanya.

Tapi?

Thursday, 7 November 2013

Tidak 100 %


Dalam suatu system, entah system belajar, system agama, atau system pemerintahan sekalipun, saya yakin 100 % tidak ada yang salah atau benar di dalamnya. Tapi kendala demi kendala seperti tali temali yang ruwet yang tidak dimengerti sedang “mengejar” apa di dalamnya. Mengejar nilai-kah? Mengejar harta-kah? Mengejar pahala-kah? Atau memang hanya sekedar mencari penilaian dan puji-pujian di hadapan orang saja.

Persaingan yang semakin hari semakin terasa diantara para orang tua. 

Entah. Untuk hal ini Saya kurang tahu.

Hanya saja, berkutat dengan dua anak yang saya dampingi dalam proses pembelajaran. Saya tahu, ada perbandingan besar diantara keduanya. Keduanya memang sama-sama pintar. Sama-sama bersekolah di sekolah swasta unggulan. Dan keduanya, sama-sama perempuan.

Satu anak ini, sebut saja A, bersekolah di sekolah swasta yang bukan berbasic agama. Mereka menggunakan system sendiri untuk mendidik anak-anak. Dengan menitik beratkan pada minat dan pembelajaran  normal. Seimbang. Intinya 50 % - 50 % tercakup dalam sekolah ini. Meskipun sekolah ini tetap memulangkan muridnya sore hari, setidaknya pelajaran formal yang kelak akan dijadikan bahan ujian akhir tidak terlalu diforsir di masa kanak-kanak mereka. Apa yang anak-anak suka, ambil saja. Disediakan beberapa bidang seperti peneliti cilik, atau kelas melukis bagi anak. 

Dan walhasil, tiap saya bertemu anak ini, yang ada hanyalah – anak ini senang dengan metode belajar yang diselingi cerita, tebak-tebakan, dan sambil leyeh-leyeh [1]tidak karuan. Pendampingan proses belajar menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan. Dan saya tidak harus terbebani karena saya bukan memposisikan sebagai guru, mentor atau apapun. Saya memposisikan diri sebagai kakak. Dan anak ini, tentu saja merasa dia hanya sedang bermain karena di kepalanya tidak memproduksi ribuan PR dari les-les atau guru yang memforsir otak kecilnya bekerja.         

Sunday, 3 November 2013

Tongkat kayu

Eh, dia pake jilbab sekarang? Kok bisa?

Eh dia masuk islam? Kok bisa?

Eh dia pindah agama? Kenapa?

Kenapaaaaaaaaaaaaaaaaaaa? #Kenapa kita ini kepo sekali?

Apa yang terjadi dalam hati, pergulatan pemikiran, ideology, dilema ataupun segala macam yang ada di dalam perasaan, tidak ada yang pernah  tahu. Kita pasti pernah mendengar percakapan semacam di atas tadi. Mungkin saya atau  sampean. Perubahan yang terjadi pada orang-orang di sekeliling kita. Yang bikin kaget. Yang bikin terharu. Yang bikin kita kadang ikut bahagia atau malah ikut ngikik nangis ngggak terima.

Sialnya. Kadang kita nggak tahu apa yang mereka alami sampai mereka pada titik tersebut. Pencerahan. Atau kepercayaan mereka terhadap sesuatu memudar. 

Kita mungkin pernah mengaku dapat mengerti beberapa orang, mungkin orang  terdekat seperti teman, saudara, adik-kakak, orang tua, atau yang tanpa ikatan apapun yakni pacar. Mengaku tahu apa yang dia rasakan, mengaku tahu bagaimana bila ada di posisi orang tersebut, sampai mengaku bias menyelesaikan permasalahan mereka dengan ucap sok tau kita. 

Baiklah. Kita lari dulu ke pertanyaan lain. Sampean pernah mendengar hidayah?

Apa yang pikiran sampean produksi pertama kali ketika mendengar satu kata tersebut?

Keajaiban? Pencerahan? Kesadaran? 

Friday, 1 November 2013

MMS : Masa Muda Sampean



Jika sampean bertemu dengan segolongan manusia, lelaki dan perempuan, penuh canda tawa, bersemangat, hobi tongkrong-main-dan berpetualang kesana kemari serta penuh kreativitas. Apa yang sampean pikirkan pertama kali?

Anak nakal?

Anak sosial?

Anak muda?

Masa muda. Semua orang tentu akan mengalaminya. Menjalani. Dan mencari ilham bagaimana cara terbaik untuk melewati masa muda yang sangat singkat tersebut. Tentu sebagian orang tua pernah menyesali segala sesuatu yang terjadi di masa mudanya, entah waktunya yang terbuang sia-sia. Kepekaan sosialnya yang kurang tinggi. Atau pengalamannya yang hanya itu-itu saja, yang sekedar punya teman namun tidak menambah manfaat bagi orang lain dengan membagikan ilmu yang dimilikinya. 

Masa muda. Kisaran yang diberikan bagi klasifikasi muda adalah 12-30 tahun. WHO sendiri mendefinisikan anak muda adalah mereka yang berumur 12-24 tahun. Waktu yang sangat singkat jika dibandingkan dengan  rata-rata umur masyarakat Indonesia yang hanya 60 tahun. Bagi saya sendiri, masa muda adalah ketika kita masih dapat terus mengembangkan diri berpikir dewasa. Masa yang terus belajar, sekalipun kehidupan memang sebuah rentetan pembelajaran. 

Masa muda, adalah masa keemasan manusia. Masa ekslusif, produktif, sekaligus masa yang paling labil dan mudah  goyah. Bagi Sukarno, pemuda adalah tonggak sebuah bangsa. Bahkan beliau sampai mengeluarkan jargon “berikan  aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia”. Yang kemudian diplesetkan oleh masyarakat Indonesia dengan, “berikan aku 10 pemuda maka akan kujadikan boyband.”